Bangga Menjadi Bagian Masyarakat Adat yang Menjaga Alam dan Budaya


Di pertemuan online gathering #EcoBloggerSquad kali ini, kami diajak mengenal tentang masyarakat adat oleh kak Mina Setra, selaku Deputi IV Sekjen AMAN Urusan Sosial dan Budaya. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 12 Agustus itu mengangkat tema, “Indonesia Bikin Bangga: Masyarakat Adat yang Kaya Tradisi dan Budaya.”



Sebagai pengantar, Kak Mina yang berasal dari Wilayah Kalimantan Barat dan termasuk suku Dayak Kompang banyak mengisahkan tentang masyarakat adat yang ada di wilayahnya. Beberapa diantaranya mengenai kearifan lokal masyarakat dalam membuat kerajinan tangan, baik itu berupa kain tenun yang membalaut kulit mereka, maupun peralatan yang digunakan saat berladang dan berburu seperti keranjang, tas anyaman yang begitu kokoh, bahkan bisa digunakan untuk membawa hewan buruan sebesar babi hutan. Sungguh menakjubkan bukan?


Begitu pula dengan kain tenun yang mereka hasilkan dibuat dengan pola-pola indah dan begitu rumit kita pahami. Namun, mereka membuatnya dengan cukup lihai di sela-sela kegiatan bertani dan berladang. Buatnya pun bukan dengan teknologi modern, tapi dibuat secara manual dengan tangan.

“Salah satunya kain tenun yang sampai ke tangan kalian sekarang itu adalah hasil buatan masyarakat adat,” ujar Kak Mina sambil menunjuk kami yang tergabung dalam zoom meeting.

Masyarakat Adat di Aceh

Mendengar cerita Kak Mina, ingatanku langsung tertuju pada masyarakat adat suku Gayo yang ada di daerahku, Aceh. Mereka juga membuat kain indah yang disebut dengan Kerawang Gayo. Bahkan kain itu digunakan saat acara-acara sakral, seperti pernikahan, sunatan, dan juga digunakan oleh para penari Saman.

Tarian Saman sendiri merupakan tarian yang sangat terkenal di Aceh, bahkan sudah ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Masyarakat adat Gayo menggunakan tarian saman sebagai cara untuk menyampaikan nasihat tentang alam kepada anak-anak keturunan mereka.


Tarian ini dimainkan oleh laki-laki dalam bilangan ganjil, menggunakan syair Gayo, memakai baju adat Gayo dengan motif kerawang. Setiap gerakan yang ditampilkan dalam tarian saman mempunyai makna dan filosofi tertentu. Begitu juga syair yang dilantunkan dalam Bahasa Gayo tersebut mempunyai pesan dakwah Islam dan nasihat untuk menjaga alam, khususnya hutan Leuser yang menjadi penyangga hidup bagi empat juta masyarakat Aceh dan Sumatera Utara.

Tidak hanya masyarakat adat suku Gayo, masyarakat adat suku Aceh juga mempunyai tenunan khas yang disebut dengan songket. Begitu pula dengan masyarakat adat suku Aneuk Jamee yang tinggal di Aceh mempunyai kain kasab yang disulam menggunakan benang bewarna emas. Hasil sulaman itu biasanya digunakan di upacara adat seperti pertemuan orang penting, pernikahan, sunatan, dan peringatan-peringatan khusus lainnya.

Pengrajin Kasab Sulam Benang Emas di Masyarakat Adat Aneuk Jamee

Uniknya motif-motih yang tergambar, baik itu di kerawang, songket, atau kasab, kebanyakan bermotif alam, dan tumbuh-tumbuhan, seperti awan berarak, pucuk rebung, bunga situnjung dan sebagainya. Setiap motif mempunyai filosofi yang mempresentatifkan kehidupan dalam bermasyarakat yang harus dijunjung tinggi. Semua telah diatur sedemikian rupa dalam masyarakat adat.

Walaupun Masyarakat Adat Beragam tapi Tetap Menjaga Alam

Seperti yang dijelaskan oleh Kak Mina bahwa tidak ada definisi khusus tentang masyarakat adat karena banyaknya budaya yang ada di Indonesia. Apa yang Kak Mina sampaikan itu berdasarkan wilayah tempat tinggalnya. Kemudian menjadi ikatan yang kuat sehingga terbentuklah hukum adat dan aturan yang berlaku. Dilaksanakan oleh perangkat adat yang erat kaitannya dengan spriritual dan kepercayaan masyarakat setempat.

Begitu pula apa yang aku tuliskan merupakan gambaran dari masyarakat adat yang ada di wilayahku. Keberagaman dari berbagai masyarakat adat yang ada di seluruh wilayah Indonesia ini mempunyai tujuan satu yaitu menjaga alam. Mereka menggunakan alam seperlunya, bukan mengksploitasinya layaknya pemerintahan dan perusahaan. Sebab, ada aturan khusus yang dibuat oleh masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan.

Aku bangga menjadi bagian dari masyrakat adat ini karena dengan tantanan seperti inilah alam bisa terjaga secara alami.




Dengar Alam Bernyanyi Tumbuhkan Kesadaran Diri


Pandanglah Indahnya biru yang menjingga

Simpanlah gawaimu hirup dunia

Sambutlah mesranya bisik angina yang bernada

Dengar alam bernyanyi……”

(Laleilmanino)



Coba jawab kapan terakhir kali kamu melihat indahnya langit biru yang terilhat begitu cerah seperti foto di atas? Dan ketika musim panas, langit selalu cerah?

Sulit rasanya sekarang kita melihat pemandangan seperti di atas, apalagi yang tinggal di daerah perkotaan yang selalu diselimuti dengan asap kendaraan bermotor. Penentuan musim tidak berlaku lagi sekarang. Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, kita mengenal dua musim yaitu hujan dan panas.

Aku ingat betul dulu ketika masih sekolah dasar, saat memasuki bulan yang berakhiran “ber” seperti September, Oktober, November, dan Desember ditandai sebagai musim penghujan. Payung selalu sedia di dalam tas. Masuk di awal tahun mulai musim panas, waktu yang tepat untuk merencanakan piknik dan jalan-jalan.

Namun, saat ini patokan musim berdasarkan bulan tidak berlaku lagi. Bahkan kita tidak mengetahui kapan musim panas dan musim hujan. Sebentar panas, tiba-tiba saja hujan, dan panas lagi. Begitulah kondisi cuaca saat ini. Kenapa semua ini bisa terjadi?

Lihatlah Kondisi Bumi

Sumber foto : https://bobo.grid.id/

Perlu disadari bahwa bumi yang kita tempati ini sudah sepuh. Bila diibaratkan dengan manusia, bumi sudah bungkuk, rapuh, dan renta karena termakan usia. Kita tidak tahu kapan ia tutup usia. Namun, melihat perilaku manusia yang penuh sesak di atasnya sepertinya bumi mati dengan dipaksa.

Lihatlah hutan yang menjadi paru-paru dunia ditebas hanya untuk kepentingan manusia. Mereka lupa banyak satwa, flora, dan fauna yang tinggal di dalamnya. Dengan egonya manusia, pulosi udara saban hari terjadi merusak lapisan ozon yang melindungi bumi. Bahkan baru-baru ini tersiar kabar Arab Saudi akan membangaun gedung-gedung pencakar langit yang melintasi gurun sepanjang 120 km dan terbuat dari kaca cermin. Bagaimana nasib bumi ke depan bila ini terus terjadi?

Ilustrasi pembangunan kota di Arab Saudi. Sumber foto Sindonews.com


Sekarang saja keadaan cuaca sulit diprediksi akibat perubahan iklim bumi. Secara alami, iklim akan berubah terus menerus karena adanya interaksi antara komponen-komponen dan faktor eksternal seperti erupsi gunung berapi, variasi sinar matahari, dan kegiatan manusia seperti, perubahan penggunaan lahan, pembangunan, dan penggunaan bahan bakar fosil.

Kegiatan manusia yang sangat berkontribusi besar dalam perubahan iklim ialah efek rumah kaca. Keadaan di mana ketika panas bumi (radiasi matahari) terperangkap di atmosfer (lapisan atmosfer) sehingga membuat suhu permukaan bumi menjadi lebih hangat. Fenomena ini disebabkan oleh gas rumah kaca yang dihasilkan alam maupun aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan fosil, asap kendaraan bermotor, limbah pertanian dan peternakan, serta limbah gas industri.

Perubah Iklim Jadi Pemanasan Global

Mungkin sebagian orang menganggap hal biasa perubahan iklim karena kondisi bumi yang sudah tua. Tapi, wait…! Tahukah kalian bahwa perubahan iklim akan berdampak pada pemanasan global?

Bisa rasakan sendiri kan bumi ini semakin panas, bahkan  di daerah pegunungan saja tidak terasa lagi sejuknya. Es di kutub yang disebut sebagai es abadi (gletser) kini mulai mencair yang mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut sehingga banyak pulau-pulau yang berpotensi tenggelam. Di antaranya 115 pulau sedang dan kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam. Demikian yang disampaikan Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ini bukan untuk menakut-nakuti teman-teman semua, tapi inilah kenyataannya bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Bila bumi terancam, manusialah yang paling berdampak. Kita mau tinggal di mana kalua bumi tidak kondusif lagi untuk ditempati. Masak sih, hijrah besar-besaran ke planet lain yang belum tentu cocok untuk kita tempati.

Oleh karena itu, mari bersama kita jaga bumi dengan menjaga pondasinya, yaitu hutan demi mencegah dampak perubahan iklim yang semakin parah. Seperti lirik lagu yang dinyanyikan …. di atas, “……dengar alam bernyanyi….”

Dengan menjaga hutan dan membiarkannya tumbuh di alam akan mensterilkan polusi udara dan efek rumah kaca, sehingga langit pun akan terlihat indah dan biru. #EcoBloggerSquad


Dengarkan alam bernyanyi, ayo dengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi di platform music favorit teman-teman karena dengan mendengarkan lagu ini, bisa berkontribusi untuk bumi. Sebab, sebagian royalty akan disumbangkan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan.




Haircare Scarlett Perawatan Rambut Anti Lepek



Bisa dikatakan aku salah satu orang yang paling malas keramas. Alasannya karena kepalaku terasa sakit setelah keramas, terlebih menggunakan sampo yang tidak cocok di kepala. Kedua, setelah keramas rambut yang basah terasa lepek di kepala.

Walaupun sudah dikeringkan pakai handuk, diapa-apain serba nanggung, mau diikat rambutnya masih lepek dan lembab, kalau diuraikan terasa gerah. Ketika rambutku sudah kering semua, bikin susah disisir dan diatur. Jadinya rambut bakalan rontok saat disisir karena terlalu kering.

Biasanya aku keramas jika butuh saja, seperti saat mandi junub atau selesai menstruasi, hehehe. Namun, dengan cuaca sekarang yang begitu panas ini, nggak tahan kalau lama-lama tidak keramas. Sebab, rambut semakin lepek akibat keringat berlebih di kepala. Selain itu, bau yang tidak sedap membuat kita tidak nyaman saat berada di samping orang lain, apalagi di samping suami, auto jauh-jauh deh. So, harus sering-sering keramas kalau ingin menciptakan kedekatan antara suami istri.

Perawatan Rambut dari Scarlett


Setelah mencoba paket bodycare dan facecare beberapa bulan yang lalu, aku jadi candu dengan produk Scarlett. Sebab wangi produk dan tingkat kecocokannya pada kulit membuatku bertahan untuk terus menggunakan produk ini.

Nah, rupanya sekarang ada produk terbaru yang baru saja launching, yaitu haircare terdiri atas shampoo dan conditioner. Aku baru menerima paketnya dua hari yang lalu dan langsung mencobanya saat itu juga. Maklumlah udara di Banda Aceh begitu panas yang membuatku ingin keramas setelah tiga hari yang lalu keramas di kampung. Kwkwkw.

Botol samponya berwarna biru dan conditioner berwarna merah jambu. Saat pertama kali melihat kemasannya, aku teringat model kotak sampo jaman dulu, kurang lebih begitulah tempatnya yang berbentuk kotak persegi panjang. Berbeda dengan sampo jaman now yang kebanyakan berbentuk silindris seperti tabung.

Di kemasan sampo tersebut tertulis Yordanian Sea Salt Shampoo dengan wangi Magnolia. Sedangkan di conditionernya dengan wangi Evening Primrose (bunga sedap malam). Wangi ini membuatku dejavu, sepertinya dulu pernah familiar dengan wangi ini. Terasa begitu sedap untuk dicium berlama-lama.

Saatnya Keramas


Hal yang paling aku nggak suka saat keramas ialah busa yang terlalu banyak. Apalagi sampai masuk ke mata dan membuatnya jadi perih. Waduh, kalau begini acara mandi pun jadi terganggu. Pengalaman itu membuatku menuangkan sedikit saja sampo dari Scarlett ini, takut nanti busanya melimpah. Eh, ternyata kok nggak ada busa ya? Justru wanginya yang semerbak.


Aku menuangkan sedikit lagi sampo, tapi busanya tidak seberapa, nyamanlah saat memijat-mijat kepala. Apalagi wanginya bikin kita rileks. Setelah itu, aku membilasnya pakai air bersih. Samponya benar-benar tidak membuat mata perih, jadi gak ada lagi drama kucek-kucek mata saat keramas, hahaha.

Lanjut menggunakan conditioner yang tak kalah wanginya dengan sampo. Setelah meratakannya ke seluruh rambut, aku diamkan beberapa saat. Sambil menunggu, aku membersihkan badan pakai sabun. Setelah itu, barulah aku bilas rambut pakai air bersih dan ritual mandi pun selesai.



Ketika aku keluar dari kamar mandi, semerbak wewangian pun mengikutiku. Bahkan wanginya bertahan sampai seharian. Rambut pun juga tidak lepek setelah keramas yang membuat diriku begitu nyaman setelah menggunakan sampo dari Scarlett ini. Aku suka banget memegang rambutku yang lembut dan mencium wanginya, begitu juga dengan Pak Su yang sebentar-bentar mencium kepalaku. Kalau begini, kayaknya setiap hari bakalan keramas deh. Kwkwkw.


Kandungan & Manfaat Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

  1. Menyerap minyak berlebih pada kulit kepala.
  2. Membantu mengatasi penumpukan kotoran yang melekat pada kulit kepala.
  3. Membantu membuka kutikula rambut sehingga perawatan selanjutnya akan menyerap dengan baik.
  4. Mengontrol kadar minyak pada kulit kepala.
  5. Menguatkan akar rambut.
  6. Memberikan volume pada rambut.
  7. Mencegah rambut rontok dan bercabang.
  8. Menyehatkan folikel rambut & kulit kepala.
  9. Membuat rambut lebih berkilau.
Nah, rupanya perawatan rambut dari Scarlett ini mengandung banyak manfaat seperti yang kutuliskan di atas. Wajar aja deh kita diberikan kenyamanan saat menggunakannya. Harga cukup menentukan kualitas ya, gak kaleng-kaleng rupanya. Terbukti dengan hasilnya. Selamat mencoba.

Bagi teman-teman yang menginginkan produk hair care Scarlett terbaru ini atau produk Scarlett lainnya bisa langsung beli di sini ya!

Nasiku Tak Seenak Dulu

“Ini beras terakhir kita, semoga ayahmu mengirimkan beras besok ya!”
Ujar ibu sambil mencuci beras yang akan dimasak untuk hidangan berbuka.

Lima tahun terakhir ini, setiap bulan puasa ayah pulang ke kampung halaman untuk membantu adiknya menggarap sawah peninggalan orang tua mereka. Sawah yang luasnya tak seberapa itu, hanya panen sekali setahun. Tepatnya di bulan puasa seperti ini, para petani berbondong-bondong ke sawah untuk memanen padi.


Berbeda dengan sawah pada umumnya yang bisa 3-4 kali ditanami padi dalam setahun, sawah yang berada di kawasan Kedai Runding, Kluet Timur, Aceh Selatan itu, hanya bisa sekali tanam. Waktunya pun ditentukan saat menjelang bulan puasa. Sudah menjadi tradisi sejak dulu, panen padi di kampung ayahku bertepatan di bulan puasa.

Hasil panen padi tersebut nantinya akan dibayarkan zakat fitrah, dan bila hasil panen melimpah akan dikeluarkan zakat mal (harta). Hasil panen ini juga dijadikan sebagai bahan pangan untuk persediaan beras satu tahun ke depan. Sebab, tujuan masyarakat menanam padi bukanlah untuk dijual melainkan untuk dikonsumsi sendiri dan dibagikan ke anggota keluarga.

Beras Kiriman Ayah

Hari yang ditunggu pun tiba. Adik ayah (Bapak) meneleponku agar menunggu beras kiriman ayah di pinggir jalan. Aku dan kakak bergegas menggunakan sepeda motor, menuju jalan raya yang jaraknya 1 km dari rumah kami.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ayah mengirimkan sedikit hasil panen di pertengahan bulan puasa dan sisanya dibawa pulang nanti olehnya saat di akhir bulan puasa. Ada satu karung beras, satu karung sekam/dedak, dan satu plastik besar yang berisi sayur-mayur. Aku dan kakak mengangkutnya menggunakan sepeda motor dan membawanya pulang ke rumah. Dalam hati kecilku bersyukur karena ada beras hari ini untuk dimasak.

“Bisalah untuk beberapa hari ke depan sambil menunggu ayah pulang membawa berkarung-karung padi hasil panen,” pikirku.

Aku dan ibu begitu antusias membuka isi karung yang dikirim ayah. Begitu terkejutnya kami melihat beras yang berwarna kuning gersang, tak ubahnya seperti makanan burung. Aku dan ibu saling tatap, heran mengapa berasnya bisa begitu.


Beras Kiriman Ayah

“Mungkin tampilannya aja seperti ini, siapa tahu enak saat dimasak,” kata ibu menyemangatiku.

Dan saat dimasak pun, tampilannya mirip seperti nasi goreng. Rasanya ambar dan baunya tidak enak membuat makan pun jadi tidak berselera walau teman nasinya menggugah selera. Meskipun begitu, kami tetap memakannya karena tidak ada pilihan lain.
Namun, aku dan ibu hanya bertahan dua hari karena setelah memakan nasi itu selera makan pun jadi hilang. Begitu juga Cahya, putriku yang enggan memakan nasi dari beras yang dikirim ayah. Akhirnya aku membeli beras lain di warung untuk kami masak, sedangkan beras yang dikirim ayah kami simpan dulu.

Perubahan Iklim Bikin Gagal Panen

Tepat di hari Kamis, 14 April 2022 aku mengikuti even Blogger Gathering yang diadakan oleh Eco Blogger Squad. Tema kali ini tentang Keanekaragaman Hayati di Indonesia yang dipaparkan oleh Ibu Rika Anggraini, selaku Direktur Komunikasi & Kemitraan Yayasan KEHATI.


Setelah mendengar paparan dari Buk Rika, akhirnya aku mengerti kenapa beras yang dikirim ayah seperti itu dan nasinya tidak seenak dulu. Semuanya itu ada kaitannya dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Perubahan iklim terjadi karena kegiatan manusia baik di bidang industri, transportasi, dan ekonomi yang menghasilkan emisi gas-gas karbon pencemar udara. Kumpulan gas berupa CO2, metana, CFC, dan sebagainya itu menumpuk di atmosfer. Tingginya konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer menimbulkan proses radiasi sinar matahari yang dipantulkan kembali ke bumi, sehingga suhu atmosfer bumi semakin panas dan terjadi proses pemanasan global.


Iklim bumi yang mengalami perubahan ini berdampak pada kehidupan manusia. Salah satunya penguapan yang tinggi dapat menyebabkan tingginya curah hujan yang berpeluang menjadi banjir. Di sisi lain, penguapan tinggi menyebabkan terjadinya kekeringan yang mengganggu produktivitas pertanian.

Itulah yang dirasakan para petani yang ada di kampung ayahku tahun ini. Padi yang ditanam mereka mengalami gagal panen karena tidak menentunya keadaan iklim. Di hari-hari tertentu panas matahari cukup terik, sehingga air irigasi yang berfungsi untuk mengairi persawahan tidak mampu mencukupi kebutuhan airnya. Bahkan menurut salah satu kakak sepupuku tanah sawahnya sampai retak sangking keringnya.

Namun, di lain hari tiba-tiba hujan turun tak berhenti-henti hingga menggenangi area persawahan. Padi yang sedang berbuah itu pun terganggu kelangsungan hidupnya, sehingga pada saat padi tersebut siap dipanen, setengah dari biji padi tersebut kosong isinya. Biasanya bulir satu biji padi utuh, tapi sekarang tinggal setengah. Saat padi tersebut dikilang, berasnya jadi patah-patah dan warnanya tidak lagi putih bersih seperti biasanya.

Padahal dulu saat panen tiba adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Biasanya ayah membawa pulang 8-10 karung padi, tahun ini hanya cuma 3 karung. Kami pun juga tidak tahu bagaimana hasil kilang dari padi tersebut. Tidak hanya kami, semua petani juga merasakan demikian.
Tahun ini hanya tiga karung dapat hasil panen

Gagal panen membuat para petani menjerit di tengah harga kebutuhan pokok yang semakin melejit. Perekonomian pun semakin sulit dan semakin hari, hidup kian terjepit. Andai saja kita sedikit sadar tentang kondisi alam, perubahan suhu global mempengaruhi keanekaragaman hayati dengan dampak dan skala kerusakan yang beragam. Baik itu terhadap gen, jenis, komunitas, dan ekosistem.

Di bidang pertanian dan pangan terjadi penurunan 10% panen padi untuk setiap kenaikan suhu 1°C suhu rata-rata bumi. Menurut Laporan yang disampaikan IPPC panas bumi meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan. Pada awal tahun 2030 nanti, suhu bumi akan naik 1,5°C dan ini merupakan batas aman suhu bumi.


Dan sekarang di tahun 2022 sudah terbukti membuat petani gagal panen dan nasi dari beras yang ditanam petani tak seenak dulu. Bayangkan bila itu terjadi 10 atau 20 tahun ke depan, masih bisakah kita tetap mengonsumsi nasi?

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Edukasi untuk Memunculkan Kesadaran

Kita bisa memunculkan kesadaran pada masyarakat dengan mengedukasikan tentang kondisi bumi saat ini. Salah satunya seperti yang aku dan teman-teman dari Eco Blogger Squad lakukan. Sedikit ilmu yang kami dapat dari ahlinya, kami tuliskan melalui blog dengan bahasa yang mudah dimengerti. Berharap orang yang membacanya bisa paham sehingga menimbulkan kesadaran untuk menjaga bumi.

Selain itu, cobalah untuk mengedukasi orang terdekat, seperti anak, pasangan, orang tua, teman terdekat agar menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar. Kita bisa membuat tanaman obat keluarga di perkarangan rumah untuk menghijaukan lingkungan sekitar #untukmubumiku.

2. Mengubah Gaya Hidup

Kita juga bisa mengubah gaya hidup dengan menjadi konsumen hijau yang pro terhadap hutan & tanaman. Teman-teman bisa terlibat menjadi donatur untuk membiayai perawatan hutan & keanekaragaman hayati, seperti wakaf hutan, donasi pohon yang dilakukan oleh lembaga atau yayasan yang bertugas merawat hutan.

Kemudian kita juga harus mempertahankan budaya makanan lokal dan mengonsumsi pangan lokal. Meskipun kerap kali gagal panen tidak berarti kita harus berhenti, tapi mencari solusi bagaimana tanaman saat ini bisa beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini.

3. Menerapkan eco living

Eco living adalah sebuah keadaan di mana suatu tempat tinggal bukan hanya mementingkan urusan estetika saja, tapi juga memperhatikan keseimbangan dengan lingkungan sekitar.

Rumah eco living menerapkan rasio seimbang antara bangunan dengan ruang hijau sehingga pemandangan rumah, tidak melulu tembok atau semen semua. Tetapi ada ruang tertentu yang dibiarkan terbuka ditanami dengan berbagai macam tanaman, sehingga terlihat hijau.

Dengan menerapkan eco living bisa menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga bisa merasakan hidup lebih nyaman, sebab hunian yang ditempati selaras dengan alam.

4. Menjadi Agen Perubahan

Setelah kita teredukasi tentang keadaan bumi, saatnya kita menjadi agen perubahan yang lebih peduli terhadap lingkungan. Di mulai dari hal-hal kecil seperti membatasi penggunaan sampah plastik, menghemat penggunaan listrik, dan tidak boros belanja barang-barang tekstil.

Dengan begitu kita sudah melakukan perubahan kecil yang bila dilakukan secara bersama akan berdampak bagi bumi kita. #TeamUpforImpact Ajak juga orang terdekatmu untuk melakukan aksi yang serupa supaya kita bisa menempati bumi ini lebih lama.