Cara Membuat Narasi untuk Konten Media Sosial


Pembahasan tentang judul di atas aku sampaikan saat menjadi pemateri Diskusi Millenial Toleransi (Dimensi) 2 yang dibuat oleh Indonesian Millenial of Change (IMC), pada Jumat 26 Februari 2021.

Saat aku mendapatkan undangan dari Ermita Fatimah Hasibuan yang merupakan Founder IMC, muncul perasaan ragu di hati. Pasalnya aku sudah lama banget tidak pernah mengisi materi tentang kepenulisan.

Ya, semenjak hamil sampai pascasalin aku menolak semua tawaran untuk menjadi pemateri dalam berbagai kegiatan. Sebab, kondisi tubuhku saat itu tidak memungkinkan karena morning sick yang kualami selama hamil begitu parah. Jadinya, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk meredam rasa mual dan pusingku akibat morning sick tersebut.

Hingga akhirnya Mita pun memintaku mengisi materi tentang cara membuat narasi di konten media sosial untuk disampaikan ke para peserta IMC. Sempat bingung juga sih, karena berbicara tentang media sosial cakupannya sangat luas.

Namun, dalam hal ini aku mengkerucutkannya ke media sosial berupa website, baik itu blog, wordpres, facebook note atau yang sejenisnya. Pada intinya media sosial ini bisa digunakan untuk menulis narasi.

Tentang Narasi

Narasi berasal dari Bahasa latin, yaitu narre yang artinya memberi tahu. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), narasi ialah cerita atau deskripsi suatu kejadian atau peristiwa,

Perlu dipahami di sini bahwa di dalam tulisan narasi terdapat cerita dengan runtutan waktu dan kejadian yang dimulai dari awal sampai akhir. Di dalamnya juga terdapat tokoh dan konflik yang menjadi ciri khas tulisan narasi. Biasanya terdiri atas tiga atau lebih paragraf yang menjelaskan cerita tersebut.



Oleh karena itu, tulisan narasi ini sangat cocok digunakan untuk konten media sosial yang berupa blog atau fecebook note. Sebab, orang yang mengakses dua media sosial ini, pastinya ingin menikmati deskripsi dari sebuah cerita.

Beda halnya dengan media sosial berupa Instagram misalnya yang lebih menonjolkan segi visual seperti foto atau video. Begitu pula dengan youtube yang kontennya berupa video. Meskipun dalam video tersebut ada dijelaskan deskripsinya, tapi rata-rata orang yang mengakses youtube langsung melihat video di dalamnya tanpa membaca lagi deskripsi yang menyertainya.

Sebuah narasi bisa dituliskan berdasarkan fakta yang ada dan sesuai dengan apa yang terjadi saat itu serta di dalamnya terdapat data. Narasi jenis ini disebut dengan narasi ekpositoris. Selain itu, narasi juga dapat ditulis berdasarkan khayalan atau imajinasi penulis, seperti cerita fiksi dan bersifat subjektif. Jenis narasi ini disebut narasi sugestif.

Berikut saya berikan contoh dari kedua jenis narasi tersebut.





Setelah kamu mengenal tentang tulisan narasi, ayo kita lihat bagaimana cara menulis narasi yang menarik? Berikut lima langkah agar narasi yang kamu tulis bisa menarik pembaca dan membacanya sampai selesai.

Step 1; Tentukan sudut pandang dari tulisan yang akan kamu tulis. Kamu bisa menggunakan sudut pandang orang pertama atau ketiga seperti aku, saya, gua, ana, atau dia, dan mereka. Sudut pandang ini sangat penting untuk memberikan ruh bagi tulisanmu.

Step 2; Gunakan bentuk waktu yang konsisten. Maksudnya ialah ketika kamu menuliskan cerita bahas satu persatu waktu kejadiannya, bisa menggunakan waktu sekarang atau lampau. Jangan mencapur aduk keduanya, kecuali ada korelasi antara waktu sekarang dengan waktu dahulu.

Step 3; Buatlah topik yang menarik dengan menuliskan kalimat pembuka yang membuat pembaca penasaran. Biasanya orang akan tertarik membaca tulisan tersebut bila empat baris pertama dari tulisan tersebut mampu memunculkan rasa penasaran dari pembaca.

Step 4; Tampilkan karakter utama. Hidupkan dan munculkan karakter tokoh di dalam tulisan tersebut, misalnya periang, ramah, cuek, lucu, egois, dan sebagainya. Pembawaan dari tokoh dalam cerita bisa menghidupkan cerita tersebut sehingga enak saat dibaca.

Step 5: Menentukan suasana kisah. Kamu bisa mendeskripsikan tempat, waktu, atau suasana dari cerita tersebut, seolah-olah pembaca juga ikut berada di dalamnya.


Itulah cara membuat narasi yang menarik. Nah, narasi untuk konten media sosial, kamu bisa mengkombinasikan semuanya. Misalnya membuat narasi di blog, kemudian di share ke facebook atau Instagram. Bisa juga membuat video tutorial di youtube kemudian penjelasannya ada di blog. Intinya semua media sosial ini bisa saling terhubung, jadi pandai-pandailah kamu menggunakannya.

Walaupun demikian, kamu juga harus berhati-hati dalam menulis narasi di media sosial karena bila kamu menuliskan narasi yang salah atau yang mengandung sara dan ujaran kebencian, bersiaplah bersangkutan dengan undang-undang ITE.

Oleh karena itu, kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengomunikasikan isi pesan media harus dimilik oleh para millennial. Atau istilah kerennya literasi media.
Begitulah kurang lebih materi yang aku sampaikan di Dimensi 2. Selama hampir dua jam kami berdiskusi tentang narasi ini. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta yang membuatku begitu bersemangat berbagi cerita.

Rupanya menjadi pemateri melalui zoom meeting sangat berbeda dengan memberikan materi secara ofline. Aku merasa seperti ngomong sendiri di depan laptop dan bila dipotret dari luar, beginilah tampilannya.


Namun, kalau ditilik ke dalam banyak mata yang tertuju padaku dan puluhan telinga mendengar penjelasanku. Penyampaianku ini ternyata tidak hanya sekadar tinggal di ruang zoom meeting saja. Sebab ada di antara peserta menghubungiku melalui pesan whatsaap dan Instagram untuk menanyakan lebih lanjut tentang materiku tersebut.



Ah, rasanya senang benget bisa berbagi di tengah kesibukan menjadi full time mom ini. Aku bersyukur bisa sedikit bermanfaat untuk orang lain karena manusia yang berguna ialah manusia yang mendatangkan manfaat untuk manusia lainnya.


SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

15 komentar:

  1. Kadang saya suka tidak menerapkan yang mba tulis nih. Padahal seharusnya sebuah cerita punya sudut pandang alur dan lain sebagainya ya mbakm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, harusnya sih mba. Namun, itu tergantung penulisnya juga. Selama pembaca suka walau ngga ada sudut pandang dan alur, is fine. Namun, kalau ikut lomba buat narasi, wajib ikut syaratnya hehehe.

      Hapus
  2. waw keren bangetttt materi " Diskusi Millenial Toleransi (Dimensi) 2" nya

    saya jadi ikutan belajar lagi, karena proses menulis nggak boleh asal tulis

    Ada ilmu yang mendasari

    Selalu sukses yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makasih Mba. Saling berbagi juga sih ilmu yg didapat biar nggak lupa. :)

      Hapus
  3. Wah asyik nih... keren. Jadi penasaran dengan sosmed dirimu deh pengen banyak belajar. Tulisannya informatif sayang untuk pemaparan membuat narasi tidak diberi contoh di masing-masing point nya...hehe .supaya lebih jelas maksudnya. Btw makasih ilmunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, oke Mba. Ntar di postingan berikutnya akan ditulis cara membuat narasi dengan contoh masing-masingnya. Terima kasih ya sarannya.

      Hapus
  4. Kalau baca tentang narasi seperti ini, jadi inget pelajaran bahasa Indonesia SMU hehe.
    Buat konten kreator, memang perlu mengembangkan narasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups benar banget mba. Pelajaran SMU yang terus kita lakukan sekarang bagi yg berprofesi sebagai penulis.

      Hapus
  5. Dengan narasi maka kita bisa membuat orang betah baca tulisan kita dan tidak langsung check out

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, benar banget. Jadi ada alurnya sehigga tidak kemana-mana ceritanya.

      Hapus
  6. kontennya high class dan sangat bermanfaat yelly.
    Akan kakak pelajari ilmu narasi ini untuk konten medsos terutama di IG

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, maksih kak Fida. Kalau lihat konten IG kakak, wow udah jauh banget high classnya. :D

      Hapus
  7. membuat konten kreator memang diperlukan pengembangan narasi, terima kasih infonya akan saya pelajari ilmu narasi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar mba. Semoga bermanfaat ya postingan ini. Terima kasih udah berkunjung.

      Hapus
  8. Diskusi Millenial Toleransi? Kok saya ga dengar yaaa Yelli, kapan kapan kalo ada plis colek aku ya, suka dengan cara sudut pandang narasi

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !