Tradisi Memberi Makan Bidan (Mablien) dalam Budaya Aceh



Usia kehamilanku baru saja beranjak enam bulan, tapi ibu sudah sibuk merencanakan persiapan untuk kenduri memberi makan bidan (jok bu mablien). Dia menghubungi bidan kampung atau yang biasa disebut mablien atau mak blien. Ibu menanyakan kesediaan mablien tersebut untuk datang ke rumah kami karena akan dilakukan kenduri jok bu mablien

Mablien merupakan sebutan untuk dukun beranak bagi masyarakat Aceh.
Tradisi memberi makan bidan merupakan tradisi masyarakat Aceh untuk meminta bantuan secara hormat kepada mablien dalam membantu proses persalinan perempuan yang sedang hamil. 

Jadwal jok bu mablien pun ditentukan, yaitu jatuh pada hari Jumat, 4 Oktober 2019. Setelah mendapat persetujuan dari mablien, mertua dan keluarga dari pihak suamiku pun diundang ke rumah untuk melakukan prosesi jok bu mablien

Keluarga besarku akan mengadakan kenduri, tapi bukanlah kenduri secara besar-besaran seperti pernikahan. Hanya melibatkan beberapa keluarga intiku dan suami, serta seorang mablien yang nantinya membantu proses persalinanku. Kemudian beberapa rantangan nasi beserta lauknya di antar ke rumah para anak yatim sebagai sedekah yang merupakan bagian dari kenduri ini. 

Makanan yang dibawa untuk perempuan hamil

Dalam tradisi jok bu mablien yang sebenarnya, pihak keluarga laki-laki akan membawa idang/talam yang berisi berbagai makanan untuk perempuan hamil tersebut. Hanya saja, saat proses jok bu mablien pada kehamilanku, mereka menggantinya dengan sejumlah uang. Jadi, keluargakulah yang menyiapkan hidangan untuk disantap bersama-sama. 

Mablien dalam Sebuah Tradisi 

Keberadaan mablien dalam budaya Aceh seperti sebuah mata rantai kepercayaan adat bagi masyarakat. Khususnya bagi masyarakat di perkampungan yang masih menjunjung tinggi adat dan budaya Aceh. 

Meskipun sekarang sudah banyak persalinan perempuan hamil dilakukan di rumah sakit dengan pertolongan dokter dan bidan, tapi keberadaan mablien ini tetap tidak bisa ditinggalkan. 

Seperti aku misalnya yang setiap bulan melakukan pemeriksaan kehamilan ke bidan klinik dan sesekali ke praktik dokter kandungan. Namun, aku tetap menggunakan jasa mablien dan mengikuti proses jok bu mablien sesuai dengan tradisi yang berlaku. 

Menurut kepercayaan masyarakat Aceh, ritual yang dilakukan oleh mablien dirasakan mempunyai nilai lebih untuk memberikan keselamatan bagi calon ibu dan anak yang dilahirkan. Selain itu, juga terdapat hubungan emosional yang begitu kuat antara mablien dengan perempuan hamil tersebut, suaminya, ibu dan ibu mertuanya, serta keluarganya. 

Ilustrasi saat mablien melakukan tugasnya 

Hal itu dikarenakan saat proses jok bu mablien semua keluarga dari perempuan hamil tersebut berkumpul dan dilakukan serah terima antara mertua dan mablien

Proses Serah Terima 

Jadi, waktu itu setelah kami makan bersama dengan mablien dan keluarga dari pihak suamiku, mablien yang telah dipilih oleh ibuku memeriksa kandunganku. 

Kami pun menuju ke kamarku dan si mablien mulai melaksanakan tugasnya. Dia memeriksa perutku dengan sangat hati-hati menggunakan minyak zaitun. Awalnya aku ragu dengannya karena takut perutku dipijat atau diurut seperti kebanyakan diomongin orang. Ternyata dia hanya mengoleskan minyak zaitun sembari meng-palpasi (meraba) perutku. 

Sentuhan tangannya sangat lembut, lebih lembut dibandingkan bidan klinik saat memeriksa kandunganku. Meskipun kerutan tangannya begitu jelas terlihat karena usia yang tak lagi muda, pengalaman membuktikan bahwa ia memang terbiasa melakukan pekerjaan ini. 

“Bayimu cantik benar, Nek. Jaga dia baik-baik dan jangan melakukan pekerjaan berat untuk sementara waktu ini,” ujarnya kepadaku sambil tersenyum. 

Entah dari mana dia tahu jenis kelamin bayiku, padahal dia cuma memegang perutku tanpa menggunakan alat ultrasonografi (USG) seperti dokter kandungan pada umumnya. Aku membalas senyumnya sambil mengucapkan hamdallah. 

Sebelumnya, aku memang sudah pernah USG ke dokter kandungan dan hasilnya bayiku perempuan. Namun, aku dan ibu tidak pernah mengatakan kepada mablien tersebut jenis kelamin bayiku. Ternyata dia mengetahuinya sendiri dengan cara meraba perutku. 

Setelah itu, mablien tersebut keluar dan menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada keluarga besarku. Terutama kepada ibu mertua dan suamiku. Dia juga menyampaikan bahwa bayi yang kukandung cantik dan kondisinya dalam keadaan sehat. 

Seusai serah terima antara mertuaku dengan mablien

Terlihat wajah-wajah senang saat mablien tersebut menyampaikan kabar itu. Rasa syukur dan bahagia menyelimuti seluruh keluarga besarku. Kemudian, barulah dilakukan proses serah terima antara ibu mertuaku dengan mablien

Sebelumnya ibuku sudah menyediakan satu rantangan nasi lengkap dengan lauk paukya, beras satu bambu, dan dua buah kelapa yang diserahkan kepada mablien untuk dibawa pulang. Sedangkan ibu mertuaku memberinya sejumlah uang yang diisikan di dalam amplop dan saat itulah terjadi proses serah terima atau yang disebut peunulang

Artinya hidup dan mati perempuan hamil tersebut diserahkan kepada mablien selama proses persalinan. Mablien setelah menerima peunulang itu menjadi kewajiban baginya untuk menjenguk setiap saat perempuan hamil tersebut dan melayani sepenuhnya bila ada keluhan yang terjadi pada perempuan hamil itu. 

Proses Peunulang

Begitu juga setelah melahirkan, mablien akan datang untuk mengurusi pasiennya. Mulai dari memandikan, meramu dan meracik obat, memijat, dan hal-hal lainnya seperti layaknya seorang pelayan. 

Hal inilah yang membuat peran mablien tidak bisa digantikan oleh dokter atau pun bidan sehingga hubungan emosional antara mablien dengan pasien dan keluarganya terjalin dengan sangat baik. 

Oleh karena itulah, banyak masyarakat Aceh lebih suka menggunakan jasa mablien ketimbang pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan. Nah, bagaimana dengan kondisi sekarang? Tunggu tulisanku berikutnya tentang Keberadaan mablien di zaman milenial.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

59 komentar:

  1. wah saya baru tau mbak
    keren loh budaya aceh ini
    saya lihatnya juga sebagai supprot bersama keluarga besar jadi enggak hanya suami
    si ibu yang akan melahirkan juga akan lebih semangat
    apalagi bidannya sudah berpengalaman
    di jawa malah jasa ini sudah jarang saya temukan

    ulasan yang sangat menarik mbak

    salam kenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas. Tradisi seperti ini masih dijalankan oleh masayarakat Aceh di perkampungan. Kalau yang tinggal di kota sudah jarang melakukan tradisi ini, makanya saya lebih memilih untuk melahirkan di kampung orang tua karena banyak dukungan dari keluarga. Selain itu, dokter dan bidan juga bisa berkolaborasi dengan bidan kampung ini.

      Salam kenal, terima kasih sudah datang ke blog saya.🙏😃

      Hapus
  2. Terimakasih sudah berbagi informasi. Saya baru tahu tradisi ini. Btw dalam foto ilustrasi saya kok jadi gagal fokus sama ranjangnya. Itu kalau untuk pemeriksaan wanita hamil ranjangnya apa harus miring gitu ya?
    Apakah semua orang di rumah punya ranjang khusus seperti itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mesti seperti itu sih. Itu hanya foto ilustrasi saja karena nggak ada foto yang lain. 😁
      Kalau melahirkan di rumah biasanya di lantai yang dilapisi oleh tikar pandan, begitu kalau orang zaman dulu.

      Hapus
  3. Tradisi yang sangat baik mbak. Saya baru tahu ada tradisi jok bu mablien ini,menarik sekali mengingat mablien selayaknya keluarga yang menjaga kehamilan kita 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hanya saja sekarang tidak sesakral dulu. Malah sebagian masyarakat Aceh yang tinggal di Kota seperti Banda Aceh, sudah jarang melakukan tradisi ini.

      Hapus
  4. Sungguh, bidan di Aceh mendapatkan penghargaan yang tinggi ya?
    tapi, ya pastilah tugasnya berat banget. Delivering nyawa manusia ke dunia dan berhadapan juga dengan keselamatan nyawa sang Ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, tapi itu berlaku untuk bidan kampung saja. Kalau bidan klinik nggak ada seperti itu 😅

      Hapus
  5. Wah, jumpa yelly disini haha. Aceh emang keren. Banyak hal menarik baik budaya apalagi alamnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari steemit, pindah ke blog kita ya. Hahaha
      Kalau hobinya sama, kemana pun kita akan jumpa lagi kwkwkw

      Hapus
  6. Di Jabar sebutannya paraji, saya juga menggunakan jasa paraji untuk memandikan bayi,hingga lepas tali pusar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda daerah, beda sebutannya ya Mba. Memang sih rata-rata masyarakat Nusantara dulunya menggunakan jasa dukun beranak saat melahirkan. Hanya saja sekarang nggak dibolehkan lagi karena melahirkan harus di pelayanan kesehatan.

      Hapus
  7. tradisi seperti ini emang sebaiknya di lestarikan ya mbak, biar nanti anak cucu kita tau dan meneruskan tradisi daerah masing2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, semoga saja pemerintah lebih terbuka dengan kearifan lokal di setiap daerah. Bukan menghapuskan, tapi diperbaharui dengan ilmu kesehatan sehingga budaya dan kesehatan berjalan seimbang.

      Hapus
  8. Meskipun jaman semakin modern bukan berarti tradisi dan adat ditinggalkan. Salute buat orang-orang yang masih melestarikan tradisi daerah masing-masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga banyak yang kembali melakukan tradisi ini sebagai upaya untuk menjaga budaya.

      Hapus
  9. saya terharu bacanya mba.. Ah, melting saya. Di zaman modern sekarang ini peran mablien tetap tdk tergantikan ya.. Belum lagi dukungan semua keluarga terhadap ibu hamilnya, sungguh sebuah support system yang baik dari keluarga.

    Saya sendiri 2 anak semuanya hamil di rantau, sehingga semua pakai jasa dokter. Tp masih alhamdulillah, pas lahiran ibu saya dtg menemani

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,alhamdulillah tradisi seperti ini masih lestari di Aceh.

      Hapus
  10. Bacanya takjub..
    Betapa di era modern ini ternyata posisi mablien tak tergantikan ya mbak..
    Apalagi baca ttg dukungan semua keluarga besar..
    Ini ni yg bikin ibu hamil jadi rileks dan bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku lihat sih mba, peran mablin ini mirip seperti Doula di zaman sekarang. Jadi, dukungan emosionalnya emang penuh sekali, bukan saja hubungannya dengan ibu hamil tersebut, tapi seluruh anggota keluarganya.

      Hapus
  11. Bersyukur membaca artikel ini, dapat pengetahuan baru tentang adat istiadat yang sarat makna bernama mablien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membacanya mba. Inilah Indonesia yang sangat kaya akan tradisi dan budaya.

      Hapus
  12. nambah lagi ilmu tentang budaya di Indonesia, kalo di Aceh ada Mablien di Jawa ada Mitoni heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sebutannya beda-beda ya. Jadi, bangga tinggal di Indonesia dengan keragaman budayanya.😁

      Hapus
  13. Wah, menarik. Mablien ini sepertinya sebuah profesi yang turun-temurun gitu ya, Kak. Seperti tukang pijat yang biasanya kemampuan pijatnya akan menurun juga kepada anak atau cucunya.

    Eh, aku penasaran juga, kalau mablien ini mulai menerima tugas saat calon ibu mengandung di usia berapa bulan, sih? Apakah sejak awal atau gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang sejak memasuki enam bulan, ada juga tujuh bulan. Namun, paling umumnya saat ibu hamil memasuki usia kandungan tujuh bulan. Saat itulah peran mablin dibutuhkan untuk memberi dukungan kepada ibu hamil beserta keluarganya.

      Memang sih, mablin ini sebuah profesi turun temurun, tapi tidak semua keturunan mablin akan menjadi mablin. Hanya orang yang mempunyai jiwa melayani dan ingin belajar bisa menjadi seorang mamblin. Sekarang ada profesi pendamping ibu hamil yang namanya doula. Konsepnya kurang lebih sama seperti tugas mablin. Hanya saja dikemas dalam cara modern dan mengetahui banyak tentang ilmu kesehatan.

      Hapus
  14. Saya baru tau tentang Mablien ini, ah ilmu baru ya dan ternyata adat budaya Indonesia kita kaya sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget mba. Jadi tambah bangga kan kita jadi warga negaranya.😊

      Hapus
  15. Wah, terima kasih untuk sharingnya, Mbak. Saya jadi tahu ada budaya demikian di Aceh. Ah, jika ada adat seperti itu tentu akan menambah keakraban antar keluarga dan mablien ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, status mablin di masyarakat Aceh begitu dihormati, sampai dibuat acara kenduri seperti itu.

      Hapus
  16. MasyaAllah..ternyata beragam ya tradisi menyambut buah hati. Harus dilestarikan ya mbak.. senang sekali bisa berdampingan dengan medis modern

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Semoga saja tradisi ini menjadi salah satu cara untuk mempersatukan dunia medis dengan budaya sempat.

      Hapus
  17. Wah, Yell, kakak baru tahu jika tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat kita. Sehat-sehat untuk Yelli dan si dede bayi, yaaa. Jaga kesehatan dan semoga nanti si cantik lahir sehat dan sempurna. Ah iya, berarti, selain periksa ke klinik, Yelli juga akan diperiksa oleh mablien setiap bulan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, masih ada tradisi ini. Makanya sebelum balik ke Banda kemarin tu "jok bu mablin" dulu, baru berangkat ke Banda. Ni akhir bulan mau balik lagi ke kampung melahirkan di sana dan otomatis mablinnya nanti cukup berperan pasca persalinan sampai turun tanah si baby nanti. Mohon doanya ya kak, semoga persalinan Yel nanti lancar.🙏😃

      Hapus
  18. Ilmu baru mbak, aku baru tau tentang tradisi ini di Aceh 😍 sangat menarik dan penuh makna dalam tradisi ini. Membuatku ingin mengunjungi Aceh dan melihat berbagai tradisi lain yg ada disana ❤️ nice share mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga suatu saat bisa datang ke Aceh ya dan melihat tentang tradisi, adat, dan budaya yang ada di sini.😊

      Hapus
  19. Saya baru tau banget mba soal tradisi mablien ini. Ternyata tradisi budaya setiap daerah itu unik ya. Hal kaya gini memang hrs terus digaungkan biar ga termakan jaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kalau bukan kita yang melestarikan nya, maka akan punah tradisi seperti ini.

      Hapus
  20. Dulu waktu melahirkan anak pertama aku pun pakai jasa bidan meski di bawah pengawasan dokter. Ini tradisinya unik, tapi juga merawat budaya lokal. Gak apa sih melahirkan dengan bantuan bidan atau mablien, asal mereka memiliki keahlian dari pendidikan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, di kombinasikan. Alhamdulillah di tempat kami nggak masalah seperti itu karena tradisi seperti ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat Aceh.

      Hapus
  21. Tradisi yg luhur sekali ya Kak... selain menjalin silaturahmi dg Mablien nya, berbagi juga dan secara gak langsung kayak menguatkan psikis si ibu saat melahirkan nnti. Ada bidan yg baik, berpengalaman dg sentuhan tangan yg lembut yg siap membantu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, Alhamdulillah semoga nanti waktu saya melahirkan bisa nyaman dan aman. Mohon doanya ya mba.🙏

      Hapus
  22. Iya, di kampung saya pun peran dukun bayi sangat besar. Sekarang justru pihak layanan kesehatan bersinergi dengan dukun-dukun bayi dengan memberi pelatihan tentang kesehatan, keselamatan, dan keterampilan pertolongan pada ibu dan bayi pasca melahirkan tanpa mengesampingkan cara-cara tradisional yang mereka pegang turun temurun.
    Menurut saya tradisi dan kearifan lokal seperti jok bu mablien ini sangat bagus untuk dilestarikan. Orang Jawa bilang sebagai unggah ungguh pada orang tua :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, inilah yang membuktikan bahwa Indonesia mempunyai keberagaman budaya yang tidak bisa terpisahkan dari masyarakatnya.

      Hapus
  23. Kolaborasi antara paraji (dukun beranak) dengan rumah sakit sudah digalakkan untuk menolong ibu melahirkan agar bayi sehat dengan pertolongan para medis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba. Dan ini hanya ada di Indonesia 😁

      Hapus
  24. Wah gak sabar nunggu kelanjutannya mbak. Jujur baru denger soal mablien gini :D
    Penasaran kalau di era sekarang bagaimana, apakah masih banyak yang melestarikannya ataukah ke dokter kandungan atau jangan2 ada mablien era modern? :D

    BalasHapus
  25. Tradisinya unik. Di jawa juga ada tapi masih unik di Aceh. Kalau tradisi kayak Mablien gini dilestarikan bisa menjadi warisan budaya anak cucu di era modern ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Alhamdulillah kalau di kampung2 masih dilakukan tradisi ini, hanya saja kalau di kota sudah jarang dilakukan karena hanya terfokus sama bidan klinik dan dokter kandungan saja.

      Hapus
  26. wag, aku baru tahu meblian kaya begini. bukan khasanah baru tentang budaya aceh. makasi ya mba. budaya seperti ini perlu banget di angkat. biar semua orang tahu. aku baru baca lho blog2 teman2 aceh. ternyata banyak hal baru yang aku ketahui. thank ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau untuk tradisi dan budaya memang banyak di Aceh.

      Hapus
  27. Menarik banget ya kak kalau mengenal budaya dari daerah lain. Aku tertarik bgt dengan konsep "bidan keluarga" ini. Konsepnya lebih personal ya kak. Apalagi dengan proses serah terima secara adat, artinya saling ada tanggung jawab moral ya. Pihak keluarga juga merasa lebih tenang menghadapi kelahiran jabang bayi. Kerennn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah sejak dulu budaya Aceh sudah mengaturnya sedemikian rupa.

      Hapus
  28. Jadi tahu istilah Mablien di Aceh, nih mbak. Sebuah acara untuk merayakan kesediaan bidan kampung membantu persalinan hingga melahirkan dan urus si baby juga. Senang ya jika ada Mablien ini di berbagai daerah.

    Bisa jadi kasus baby blues makin berkurang krn terbantu dg jasa Mablien ini.

    Btw dulu waktu lahiran si kecil saya juga pakai jasa dukun bayi kampung mbak. Sangat membantu kami yg kerepotan mengurus bayi pertama kali.
    Nice sharing mb.
    Sukaa dg artikelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia itu lebih masuk dan dekat dengan budaya dibandingkan dengan para medis. Namun, bila itu dikombinasikan akan jauh lebih baik pelayanan kesehatan saat ini.

      Hapus
  29. Waahh ternyata kalau di Aceh ada tradisi mablien. Dalam artian persiapan untuk sang jabang bayi lahir nanti.😄😄

    Banyak juga syarat yang berlakunya yaa..

    Bisa buat pengalaman nih jadi tahu tradisi persiapan untuk menyambut jabang bayi khas tradisi Aceh.😄😄

    BalasHapus
  30. Waahh ternyata kalau di Aceh ada tradisi mablien. Dalam artian persiapan untuk sang jabang bayi lahir nanti.😄😄

    Banyak juga syarat yang berlakunya yaa..

    Bisa buat pengalaman nih jadi tahu tradisi persiapan untuk menyambut jabang bayi khas tradisi Aceh.😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, begitulah tradisinya orang Aceh dalam menyambut kelahiran bayinya.😊

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !