Gunongan, Cagar Budaya Indonesia yang Berwujud Pembuktian Cinta


Bila di India kita menyaksikan kemegahan Tajmahal sebagai bukti cinta Kaisar Shah Jahan kepada istrinya, Mumtaz Mahal, di Aceh juga terdapat bangunan sebagai perwujudan pembuktian cinta sultan kepada permaisurinya. 

Bangunan itu berada di tengah Kota Banda Aceh, Aceh dan ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Taman Sari Gunongan pada 12 Januari 1999. Maukah kalian aku ceritakan bagaimana sejarah dan kisah dari Gunongan ini? Bacalah hingga selesai supaya memori kolektif generasi sekarang terawat dan tidak musnah. 

Cerita ini bermula dari peristiwa heroik yang menakjubkan, hingga menjadi kisah cinta yang begitu romantis. Sebuah bukti cinta dari seorang sultan Aceh kepada permaisurinya yang didapat dengan jalan penaklukan perang. 

Narasi visual mural di bantaran sungai Krueng Daroy tentang kisah pembangunan Gunongan.
Sumber foto: www.aimbudimanblogspot.com

Alkisah, pada tahun 1613 M Malaka diserang dari berbagai arah. Bangsa Portugis yang telah menduduki Malaka, didesak oleh kekuatan baru yang berasal dari Aceh. Kesultanan Aceh yang saat itu dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), terus melakukan ekspansi wilayah kekuasaan dengan menaklukkan beberapa kawasan Melayu dan mengambil alih jalur pelayaran di Selat Malaka. Akibatnya wilayah di Semenanjung Malaya, termasuk Johor, Malaka, Pahang, Keudah, Perak, hingga Patani di Thailand takluk pada kekuatan perang anak muda Aceh ini. 

Berbeda dengan penakluk lain seperti Kaisar Mongol yang pernah menguasi Asia dan Eropa, Genghis Khan membumihanguskan dan membantai penduduk wilayah taklukannya. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda. Dia membawa orang-orang dari daerah taklukannya itu ke Aceh dan menjadikan wilayah tersebut menjadi bagian dari kerjaan Aceh. 

Apakah mereka ditawan, disakiti, atau dihabisi ketika sampai di Aceh? Tidak. Malah mereka dijadikan saudara sama halnya saat Nabi Muhammad saw membawa Kaum Muhajirin hijrah dari Mekkah ke Madinah dan dijadikan saudara di sana oleh Kaum Anshar. 

Bahkan Sultan Iskandar Muda sendiri mempersunting Putri Khamalia dari Kerajaan Pahang yang dibawanya setelah penaklukan Pahang, Malaysia kemudian dijadikannya sebagai permaisuri sultan. Oleh masyarakat Aceh, mereka menyebutnya Putroe Phang (Putri Pahang) karena berasal dari negeri Pahang. 

Gambar Putri Khamalia atau yang dikenal Ptrroe Phang

Tidak sekadar hanya menikahi, Sultan Iskandar Muda berusaha mengambil hati Putroe Phang sepenuhnya dan membuatnya merasa betah tinggal di Aceh. Sultan memerintahkan kepada bawahannya (utoih-utoih Aceh/ tukang-tukang Aceh) untuk membuat sebuah bangunan berbentuk gunung buatan kecil yang disebut sebagai Gunongan. 

Gunongan ini berada tidak jauh dari istana dan dibuat dengan kontur menyurapai daerah asal Putroe Phang, yaitu Pahang. Bentuknya bergunung-gunung dan dilengkapi dengan taman indah dengan berbagai macam tanaman bunga dan buah-buahan. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Bustanus’s-salatin, karangan Nuru’d-din ar Raniry dalam bab XIII buku kedua kitab tersebut menyebutkan taman ini menyerupai taman dalam Surga Firdaus. 

Tinggi Gunongan ini sekitar 9,5 meter, bercat putih yang terdiri atas tiga tingkat dan berbentuk oktagonal (bersegi delapan) seperti bunga yang sedang mekar. Bila Sultan sedang melakukan tugasnya di luar daerah, Putroe Phang menghibur diri dengan bermain di Gonongan ini bersama dayang-dayang kerajaan. 

Di samping Gunongan mengalir sungai Darul Asyiqi yang airnya sangat jernih dan biasanya digunakan Putroe Phang sebagai tempat pemandian. Ibarat surga, di dalam taman yang disebut sebagai Taman Sari Gunongan atau Taman Gairah ini semua kebutuhan permaisuri terpenuhi sehingga ia lupa akan kerinduan terhadap kampung halamannya. 
Penampakan gunongan dari atas
Sumber dari gettyimages.co.uk

Gunongan dalam Memori Kolektif orang Malaysia dan Aceh 

Bila kita tilik cerita sebelumnya, Putroe Phang berasal dari wilayah taklukan perang Sultan Iskandar Muda. Bisa saja dia melakukan sekehendak hati untuk menuruti nafsu seperti sultan atau raja pada umumnya, tapi bukan itu yang dicari Sultan Iskandar Muda karena ia mengubah perang dengan cinta dan kekerabatan. 

Perasaan cinta Sultan Iskandar Muda tidak saja dibuktikannya melalui bangunan bersejarah Taman Sari Gunongan. Ia juga menikahkan putrinya Putri Sri Alam Safiatud-din Tajul-Alam dengan Sultan Iskandar Tsani yang merupakan putra Sultan Pahang bernama Ahmad Syah. Kemudian Sultan Iskandar Tsani diangkat menjadi sultan untuk menggantikan Sultan Iskandar Muda setelah dia mangkat. 

Sumber foto: instagram @rey_awek

Memori kolektif itulah yang membuat para pelancong Malaysia menyempatkan diri berkunjung ke Taman Sari Gunongan untuk melihat bukti sejarah masa lalu. Hal ini karena ada kedekatan sejarah masa lalu mereka dengan objek cagar budaya yang dituju.

Namun, sayangnya bagi warga Aceh sendiri tidak menjadikan cerita itu sebagai memori kolektif yang dapat menjaga dan merawat identitas bangsa Aceh. Itulah yang aku temukan saat berkunjung di Taman Sari Gunongan, Jalan T. Umar nomor 1 Banda Aceh, pada Minggu (17/11/2019). 

Di Minggu pagi itu, tidak banyak yang mengunjungi tempat ini, hanya aku dan dua wisatawan dari Bandung dan Cirebon yang kutemui di sana. Namanya Pak Aang dan Pak Didi. Mereka takjub dengan penataan dan keindahan dari Taman Sari Gunongan. Namun, mereka tidak mempunyai memori kolektif terhadap bangunan ini, hanya sekadar tahu melalui papan informasi yang dituliskan di sekitar taman. 

Kemudian ada dua orang remaja Aceh yang berstatus sebagai siswa di salah satu sekolah di Banda Aceh yang datang ke Gunongan dalam rangka membuat tugas sekolah. Namanya Riska dan Hasnani. Mereka baru pertama kali datang ke Gunongan dikarenakan tugas tersebut. Sebelumnya mereka tidak tertarik untuk datang walau sudah sering melewati kawasan Taman Sari Gunongan. 


Menurut satpam yang menjaga situs cagar budaya Taman Sari Gunongan, Pak Muslim, bahwa wisatawan Malaysia yang biasanya sering mengunjungi tempat ini, lengkap dengan pemandunya. Mereka mempunyai ketertarikan khusus karena ada memori kolektif yang tergambar dalam perjalanan sejarah pembangunan Gunongan. 

"Orang Aceh sendiri datang ke Gunongan hanya sekadar untuk foto-foto dan menikmati keindahan yang ada di sekitar Gunongan. Bangunan ini memang terawat secara fisik, tapi memori kolektifnya musnah sehingga perlu dibangun kembali", kata Pak Muslim kepadaku. 

Pesan Pelestarian Cagar Budaya 

Perlu diketahui bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya terkait dengan objek dari cagar budayanya saja. Tetapi, meliputi aspek lain seperti pemanfaatan untuk ilmu pengetahuan, sejarah, agama, jati diri, kebudayaan, maupun ekonomi melalui pariwisata yang keuntungannya dapat dirasakan oleh masyarakat. 

Namun kenyataannya, selama ini pelestarian lebih ditekankan pada perlindungan dan pendokumentasian seperti memugar atau melindungi dari kerusakan dan kehancuran. Pemanfaatan sebagai salah satu aspek lain dari pelestarian belum mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai strategi untuk mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat seperti mengemas informasi tentang sejarah cagar budaya tersebut seindah dan semenarik mungkin. 

Misalnya menyajikan informasi cagar budaya tersebut dalam bentuk visual seperti video dan audio melalui musik khas dari daerah tersebut beserta dengan penjelasan dari objek cagar budaya. Sehingga saat pengunjung datang tidak hanya melihat objek dari cagar budaya itu saja, tapi juga mendapatkan pengetahuan tersebut dan sensasi yang memunculkan memori kolektif pengujung ketika memasuki kawasan situs cagar budaya tersebut. 

Bila semua cagar budaya Indonesia disajikan dalam bentuk menarik seperti itu, aku yakin cagar budaya tersebut akan terawat tidak hanya bentuk fisiknya, tapi juga sejarah yang menyertainya sehingga tidak ada cagar budaya yang musnah baik dalam bentuk fisik maupun dalam memori kolektif masyarakat itu sendiri. 

Masyarakat pun akan tertarik mengunjungi cagar budaya yang dapat memacu pengembangan ekonomi, sehingga hasilnya bisa digunakan untuk pemeliharaan cagar budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penutup 

Mengingat cagar budaya dapat berfungsi untuk memperjelas identitas suatu bangsa, maka mari kita rawat bersama cagar budaya Indonesia. Salah satunya dengan berpartisipasi menyumbangkan ide dan pemikiran melalui tulisan seperti ini, agar para pemerintah dan pengambil kebijakan bisa menjadikan solusi terbaik dalam menjaga, merawat, dan memanfaatkan cagar budaya Indonesia. 

Bagi kamu yang mempunyai cerita menarik tentang cagar budaya Indonesia di sekitarmu, ayo ikut berpartisipasi dalam lomba blog "Cagar Budaya Indonesia; Rawat atau Musnah”. Kamu bisa menjelaskan kondisi cagar budaya yang ada di daerahmu seperti dalam tulisanku ini dan menyampaikan pesan untuk merawatnya agar tidak musnah ditelan zaman. 


Referensi 

1. Alfian, T.H.I. (2005). Aceh Kembali ke Masa Depan. Jakarta: IKJ Press. 

2. Emtas, M.U. (2009). Sejarah dan Kebudayaan Aceh. Banda Aceh: Yayasan Busafat. 

3. Rusdi, Salya. (2017). Situs Cagar Budaya Komplek Taman Sari Gunongan dalam Catatan Sejarah. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh: Buletin Arabes. 

4. Sudirman. (2017). Strategi Pengemasan Informasi Benda Cagar Budaya dalam Rangka Pembelajaran Sejarah. Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh: Buletin Arabes. 

SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. Cagar budaya emang kudu dijaga dan dirawat. Jika tidak maka bisa hancur dan hilang jejaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya butuh kerjasama untuk menjaga dan merawatnya. Terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus
  2. setlah baca artikel ini, saya bersykur bisa menjadi salah satu memori kolektif dibalik Taman Sari Gunongan ini mbak. Agak sedih memang, Turis Malaysia tertarik dengan sejarahnya sementara masyarakat sekitar sendiri tidak lebih dari sekedar objek berfoto saja.

    Informasi seperti harus banyak dibagikan, agar sejarah cagar budaya tetap terawat dalam momeori masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, semoga semua milenial Aceh mempunya memori kolektif tentang Gunongan ini.

      Hapus
  3. wah jadi penasaran ingin ke sana

    BalasHapus
  4. Masih miris melihat cagar budaya yang ada dinegara kita, beberapa minim perawatan dan lainnya minim informasi keberadaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, antara ada dan tiada. Objeknya ada, tapi sejarahnya pudar bila tidak diperbaharui dengan melakukan berbagai strategi perawatan dan pemanfaatan.

      Hapus
  5. Isi dalamnya nggak bisa masuk ya mbak? Aku pengen lihat bentuk dalamnya.

    Soal anak-anak yang juga tidak ada alasan untuk datang, benar aku pun menemukan hal yang sama karena tidak ada alasan untuk datang ke cagar budaya. Agak miris cuma itulah yang terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa Mas, masuk ke dalam bahkan bisa kita naik sampai ke atas Gunongan.

      Semoga Mas Deddy bisa ke Aceh dan berkunjung kemari dengan alasan mengenang bukti cinta Sultan Iskandar Muda pada permaisurinya.

      Hehehe

      Hapus
  6. Bagus banget tempatnya. Jujur baru tahu kalau ada yang namanya gunongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa datang berkunjung kemari ya mba.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !