Kamis, 30 Maret 2017

E-Commerce Solutions untuk Shopee Indonesia

Lagi Belanja ShopeeIndonesia
Sumber Foto : www.yellsaints.com
“Aku kesal sama Shopee itu” dengan rawut wajah sendu.

“Lo, kenapa kak? Pagi-pagi udah marah-marah, dan cemberut kek gitu?” Tanyaku kepada kak Hanum.

“Gimana aku nggak kesal, ongkirnya dipotong nggak sesuai persyaratan yang berlaku. Harusnya ongkir Rp. 45.000,- tapi dipotong sama Shopee cuman Rp. 30.000.- Seharusnya Rp. 15.000,- lagi harus bayar, tapi nggak dibayar lagi. Terus ketika kita email, nggak ada respon. Aku kesal, kesal, kesal, kesal!”

Kak Hanum terus merepet menumpahkan kekesalannya dan aku saat itu hanya bertindak sebagai pendengar yang baik.

Shoppe yang merupakan salah satu E-Commerce berbasis aplikasi mobile ini, memang menawarkan gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Hal ini pula yang membuat orang-orang seperti Kak Hanum yang suka berbelanja online via mobile, tertarik untuk menggunakannya. 

Apalagi ketika mendengar kata “gratis”. Tidak hanya kak Hanum, semua orang khususnya pembeli Indonesia suka yang namanya diskon dan gratis. Selain itu mereka juga tidak sabaran dan ingin serba cepat dalam mendapatkan respon dari customer service jika ada masalah atau keluhan. 

Ilustrasi Fenomena Orang Indonesia Suka Gratisan dan Harga Diskon 

Ternyata bukan cuman Kak Hanum saja yang mengalami masalah dengan Shopee. Aku sempat mencari beberapa pelanggan Shopee yang mengeluhkan tentang pelayanan di Shopee.

Bahkan ada yang menuliskan di blog pribadinya tentang “Pengalaman Belanja di Shopee, Mudah Tapi Lama”. Penulis juga menyebutkan tentang lambatnya respon yang diberikan oleh Customer Service Shopee.

Klik disni untuk membaca tulisannya.

“Respon yang diberikan layanan Shopee super lambat dalam menanggapi keluhan buyer, termasuk saat menanyakan status pesanan, butuh waktu minimal 24 jam untuk mendapatkan jawaban”

“Tidak ada fitur khusus untuk berinteraksi dengan Shopee”

“Banyak juga buyer-buyer yang belanjaannya dicancel akibat stok habis”

Begitulah beberapa kutipan yang aku ambil dari tulisan tersebut.

Kemudian aku juga menemukan keluhan para pelanggan Shopee, terkait dari segi pelayanan Customer servicenya yang ditulis di kakus. Berbagai komentar tentang keluhan Shopee dituliskan disitu.



keluhan para pelanggan ShopeeIndonesia
Sumber Foto : Kaskus 

-- Karakter Konsumen Online di Indonesia --

Masalah-masalah seperti yang dikemukakan di atas, tentunya tidak harus terjadi mengingat ini akan berpengaruh pada tingkat kepercayaan pembeli untuk melakukan transaksi berikutnya.

Nah, untuk itu kita perlu mengetahui karakter pembeli yang ada di Indonesia. Berikut ini beberapa perilaku belanja online di Indonesia menurut pengamatan saya yaitu : 
  1. Tergiur dengan promo dan harga miring
  2. Penyuka gratisan dan diskon
  3. Malas membaca aturan main yang dibuat pelaku E-Commerce
  4. Banyak bertanya 
  5. Ingin praktis, dan mudah
  6. Tidak sabaran atau ingin cepat-cepat
Ilustrasi Karakter Pembeli Online Indonesia
Sumber Foto : www.yellsaints.com
 
-- Analisa Permasalahan di ShopeeIndonesia --
Permasalah di ShopeeIndonesia 
Dalam amatan saya terkait perilaku belanja online di Indonesia, ada beberapa masalah yang bisa dianalisis mengenai marketplace ini, yaitu pertama mengenai promo yang pernah diadakan Shopee pada tanggal 1-12 Desember 2016 lalu.

Promo yang bertajuk “Midnight Mobilephone & Accessories Flash Sale” ini dibuka pada pukul 00.00-02.00 wib, selama 12 hari berturut-turut. Berbagai harga miring, dan diskon ada disini, sehingga membuat para penggila online shop rela bergadang untuk mendapatkan harga semurah-murahnya.

Akibatnya apa? Jutaan pengunjung bertarung untuk mendapatkan barang-barang dengan harga diskon tersebut, sehingga banyak para pembeli yang belanjaannya di cancel karena kehabisan stock barang.

Untuk mendapatkan destinasi online shopping premium temukan di iPrice

Mestinya Shopee harus melampirkan stock barang yang tersedia dan menglist barang-barang yang sudah terjual, sehingga tidak membuat para pembeli berharap, dan menunggu. 

Menunggu itu memang menyebalkan, apalagi harus rela bergadang dan rebutan dengan pembeli lainya. Terus kalau tiba-tiba belanjanya di cancel, sakit banget tahu. Tentunya ini akan membuat para pembeli kecewa dan tidak mau lagi menggunakan marketplace ini ke depannya.

Masalah yang kedua ialah lambatnya respon yang diberikan layanan Shopee. Mengingat kembali karakter pembeli online di Indonesia yang ingin serba cepat dan tidak sabaran, tentunya peran customer service-nya harus ditingkatkan lagi.

Banyak konsumen yang dibuat cemas barangnya tidak sampai karena lambatnya respon layanan Shopee. Mungkin ini terkendala oleh terbatasnya admin dalam menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pembeli.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Vice President Marketing JNE, Eri Palgunadi, bahwa Shopee melakukan transaksi pengiriman barang mencapai 13 juta pesanan setiap bulan. Artinya ada sekitar 300 kiriman barang / detiknya. 

Nah, ketika ada kendala atau masalah yang dialami pembeli terutama berkaitan dengan keterlambatan barang, harusnya layanan shopee harus mampu menjelaskan ini. Dengan memberikan edukasi dan sentuhan yang bersifat personal kepada pembeli, sehingga dapat mengurangi rasa khawatir pembeli atas keterlambatan barangnya.

Bukannya malah mendiamkan pertanyaan-pertanyaan pembeli tersebut. Maklumlah karakter para pembeli online Indonesia ini banyak nanyanya, jadi dengan melayani keluhan dan pertanyaan mereka berarti kita memberikan perhatian lebih kepada mereka. 

Cara seperti ini akan membangun kedekatan emosional yang akan memunculkan yes effect. Maksudnya apa pun yang kita katakan mereka akan mengiyakan dan memakluminya. Karena sekitar 80% pembeli dipicu oleh emosi, jadi kita harus mampu mempengaruhi emosinya.

Dalam permasalahan ini hendaknya Shopee menyediakan berbagai akun media sosial yang mudah digunakan pembeli untuk menanyakan hal-hal terkait barang belanjaan mereka. 

Untuk lebih mudahnya customer service Shopee punya akun di berbagai wilayah. Misalnya untuk pembeli Aceh, ada customer service khusus untuk wilayah Aceh. Jadi nomor order barang untuk pembeli wilayah Aceh bisa ditanyakan ke customer service Aceh jika ada kendala atau masalah. Responnya pun juga lebih cepat karena lingkupnya skala kecil.

Mungkin untuk hal teknisi, bisa disesuaikan dengan peraturan-perturan yang ada di Shopee. Ini hanya masukan untuk memperbaiki layanan customer service di Shopee.


Manfaat Penyelesaian Masalah di Atas

Solusi untuk Menyelesaikan Masalah
Kenapa dua masalah ini harus diselesaikan dengan segera? Hal ini tentunya untuk keberlangsungan E-Commerce ini berikutnya.

Sebuah E-Commerce akan tetap hidup dan bertahan lama jika pasarnya masih ada. Selanjutnya yang perlu diperhatikan ialah pembeli. Inilah yang harus kita pertahankan. 

Jika kepuasan para pembeli ini tidak terpenuhi, akibat ada hal-hal yang membuat pembeli merasa tidak enak seperti yang disebutkan di atas, maka dia akan mencari marketplace yang lain. 

Dan yang lebih parahnya lagi, dia akan menceritakan pengalaman buruknya saat berbelanja di Shoppe, sehingga dapat mempengaruhi pembeli lain untuk menggunakan jasa Shopee.

Seperti contoh yang saya sebutkan di atas, banyak rupanya yang mempunyai pengalaman buruk yang sama saat berbelanja di Shopee. Bayangkan jika dia mempunyai ribuan followers dan setengahnya terpengaruh dengan ceritanya dia. Maka tentunya akan berpengaruh besar bagi konsumen Shopee lainnya.

Oleh karena itu, masalah-masalah yang disebutkan di atas, hendaknya segera dikaji ulang oleh E-Commerce Shopee, supaya marketplace ini bisa bertahan dan menjadi aplikasi mobile yang tidak saja mudah digunakan, tapi cepat dalam menanggapi berbagai respon yang dibutuhkan klien.


Sabtu, 25 Maret 2017

Melihat Isi Kapal PLTD Apung yang Terdampar Saat Tsunami Aceh



Sudah hampir 7 tahun lamanya aku tinggal di Banda Aceh, namun baru kali ini ada kesempatan untuk masuk ke dalam badan kapal PLTD Apung 1.

Dua tahun yang lalu, para pengunjung hanya diizinkan naik ke bagian atas kapal yang berbobot sekitar 2600 ton ini. Tapi kali ini bagian dalam kapal sudah dibuka untuk pengunjung, dan tidak ada biaya apapun untuk bisa masuk ke dalamnya.

Baik bangetkan orang Aceh, memberikan wisata gratis padahal banyak ilmu, dan pelajaran yang dapat diambil di dalamnya. Khususnya tentang pengetahuan tsunami, dan sejarah dari kapal PLTD Apung itu sendiri.

Sedikit aku  jelaskan tentang cerita PLTD Apung 1. Pada saat tsunami Aceh tanggal 26 Desember 2004, kapal ini sedang mendarat di pelabuhan Ule Leu. Setelah terjadinya gempa, air lautpun surut.

Para awak kapal panik dengan kejadian langka itu, dan lari pergi meninggalkan kapal. Sesaat itu pula gelombang tsunami yang maha dahsyat datang, dan menghanyutkan kapal ini ke tengah kota hingga 5 km jauhnya.

Kapal tersebut terdampar di permungkiman rumah warga kampung Punge Blang Cut. Pasca tsunami kapal milik PLN ini, direncanakan untuk ditarik kembali ke laut. Namun sayangnya kondisi mesin mengalami kerusakan parah, dan itu memerlukan biaya yang cukup besar untuk menarik kapal ke laut.

Sehingga pemerintah Kota Banda Aceh menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata sejarah, untuk mengenang kedahsyatan yang diakibatkan oleh tsunami Aceh.

Jembatan merah yang harus dilalui untuk menuju badan kapal PLTD Apung 

Untuk bisa melihat isi kapal, kita harus melewati jembatan papan merah yang menghubungkannya ke dalam bagian kapal. Atau jalan pintasnya kita juga bisa menaiki tangga dari bekas rumah reruntuhan tsunami.

Jalan pintas menuju badan kapal PLTD Apung
Lebih dekat menggunakan jalan pintas ini sih, dibandingkan melewati jembatan merah tersebut.

Selanjutnya kita masuk ke dalam bagian kapal. Disini ada petugas kapal yang bisa memandu perjalan kita menelusuri isi kapal. Tanpa pemandupun sebenarnya kita sudah terbantu dengan video, dan poster-poster yang berisi penjelasan tentang kapal tersebut.

Pintu masuk ke badan kapal PLTD Apung

Di tingkat pertama terdapat berbagai penjelasan tentang tsunami, penyebab tsunami, sejarah PLTD Apung 1 yang diputarkan melaui video. Kita cukup mudah memahami isi penjelasannya, karena disertakan dengan gambarnya.

Tingkat pertama di dalam kapal PLTD Apung

Kemudian jika ingin naik lagi ke atasnya, kita harus melalui 2 buah tangga kuning. Di bagian teratasnya terdapat penjelasan mengenai struktur bangunan Rumoh Aceh. Yang mana struktur bangunan seperti itu, mampu menahan goncangan gempa.


Gambar ornamen Rumoh Aceh yang dipajang di lantai 2 

Terdapat juga penjelasan tentang filosofi dari ornamen yang terlukis di rumoh Aceh. Selain itu juga ada video edukasi tentang apa yang harus kita lakukan saat tsunami datang. Videonya cukup menarik, disajikan dalam cuplikan yang mudah untuk dimengerti, termasuk untuk anak-anak.

Gambaran isi dalam kapal PLTD Apung 1

Setelah puas menjelajah bagian dalam kapal, aku melanjutkan perjalanan menuju bagian atas kapal. Kita harus melalui 4 tangga untuk bisa mencapai bagian teratas kapal.

Diatas ini kita bisa menyaksikan hampran kota Banda Aceh, dan melihat jarak lautan dengan kapal PLTD Apung yang terdampar.

Kayak di film Titanic aja, hehehe

Tersedia juga teropong yang bisa digunakan untuk melihat pantai, dan permukiman penduduk di sekitar pantai. Tapi, harus diisi dengan koin dulu supaya teropongnya bisa berfungsi.

Setelah puas menyaksikan pemandangan kota Banda Aceh di atas kapal, kita akan menuruni tangga yang berbeda dengan tangga naik. Sehingga orang yang naik, dan turun tidak betabrakan, karena satu jalur.

Nah, begitulah isi bagian kapal PLTD Apung ini, banyak pelajaran yang bisa diambil. Selain ceritanya yang menarik, informasi yang dipajangkan melalui video, dan photo dapat menambah pengetahuan kita mengenai tsunami. 

Senin, 20 Maret 2017

Mencari Benang Merah Tamaddun Islam Aceh dan Malaysia

Abu Rahman Kaoy, dan Radzi Sapiee saat penyerahan buku Berpetualang ke Aceh karya Radzie Sapiee.
Photo Doc Yell Saints
Minggu pagi biasanya aku ke Blangpadang untuk mengikuti senam jantung sehat. Tapi minggu ini aku memutuskan untuk ikut kegiatan diskusi budaya yang diadakan di Rumoh Cut Nyak Dien di Kampung Lam Pisang Kec. Peukan Bada, Kab. Aceh Besar.

Dalam pikiranku acara tersebut hanyalah diskusi biasa yang membahas tentang kebudayaan. Meskipun agak sedikit berat untuk menghadirinya, tapi aku memutuskan untuk pergi karena tidak enak sama teman yang sudah janji duluan.

Sesampai ke acara tersebut, aku melihat banyak wisatawan Malaysia lengkap dengan pakaian melayu, dan pernak perniknya. Tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak. Selain itu juga ada beberapa anak yang menggunakan pakaian adat Aceh, dengan membawa rapai. Aku yakin mereka adalah para pemain rapai.

Para pemain rapai dari Aceh yang siap untuk tampil
Photo Doc Yell Saints

Tapi, yang membuat aku gemas, ialah anak-anak yang menggunakan pakaian melayu dengan bahasa Upin Ipin itu. Mereka sangat nyaman menggunakan pakaian adat seperti itu.
Orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan juga menggunakan pakaian Melayu. Hanya aku, dan dua orang temanku yang menggunakan batik dalam acara itu.  Aku merasa seperti tamu di rumah sediri, malu rasanya salah kostum seperti ini.

Tapi aku tidak mau meninggalkan tempat ini, meskipun terlihat asing diantara mereka aku tetap berusaha ramah, dan PDKT alias pendekatan dengan mereka. Ternyata mereka ramah banget, meskipun ada beberapa penggalan kata yang aku tidak mengerti maksudnya. Pusenglah aku ni, ndak tahu apa yang mereka cakap. Lol :D

Aku terus mengikuti acara ini sampai selesai. Sungguh sangat menarik suasana diskusi kali ini, terasa berada di zaman kesultanan. Betapa tidak, kami diskusinya tepat di bawah rumah panggung Cut Nyak Dien, dengan menggelar tikar duduk lesehan. Disekelilingnya ada orang-orang yang menggunakan pakaian adat melayu, dan Aceh. 

Suasana acara diskusi di bawah Rumoh Cut Nyak Dien
Photo Doc Yell Saints
Pembahasan di Majelis

Kegiatan ini atau yang mereka sebut dengan majelelis mengangkat tema tentang “Muhibbah Tamaddun Islam Aceh-Malyasia”. Acaranya dimulai dari pukul 09.30 wib sampai tengah hari, dan dilanjutkan dengan makan siang, serta shalat dzuhur berjamaah.

Kegiatan HIKMAH yang ke 20 di Rumoh Cut Nyak Dien
Photo Doc Yell Saints

Diawal acara dibuka dengan seremonial berupa sambutan dari pihak panitia, dan  persembahan tarian Aceh, pembacaan puisi Cut Nyak Dhien, hikayat Aceh, serta pergelaran mini silat Aceh.

Persembahan Tarian Rapai
Photo Doc Yell Saints

Selanjutnya persentasi tentang sejarah Aceh-Malaysia yang disampiakan oleh Radzi Sapiee yang merupakan Presiden HIKMAH Malaysia. Beliau menjelaskan tentang benang merah antara Aceh dan Malaysia yang merupakan satu rumpun, yaitu rumpun melayu.

Beliau juga memperlihatkan letak geografis Aceh, dan Malaysia dengan bantuan Google Map untuk menjelaskan persebaran dunia islam di tanah Malaka, dan Aceh. Beliau menghubungkan antara Aceh, dan Malaysia yang mempunyai banyak persamaan.

Persentasi dari presiden Hikmah Razie Sapiee
Photo Doc Yell Saints

Dalam pikiranku, sosoknya mirip sultan-sultan melayu. Dengan rambut panjang sebahu, menggunakan pakaian melayu, lengkap dengan topi pada bagian kepala, sungguh unik, dan menarik menurutku.

Begitu juga dengan para audiensi yang menghadiri acara itu juga menggunakan pakaian tersebut. Mereka berdiskusi dengan khidmat membahas tentang benang merah Aceh dan Melayu.

Setelah pemaparan beliau, selanjutnya ada 3 orang panelis muda Aceh yang mebahas tentang Manuskrip Aceh oleh Herman Syah, M.Th.MA, Songket Aceh dari komunitas I Love Songket Aceh oleh Azhar Ilyas, SE, dan Ragam Batu Nisan Aceh dari Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) oleh Mizwar.

Panelis muda Aceh photo Doc Yell Saints

Sayangnya diantara tiga panelis itu satupun tidak menunjukkan identitas ke Acehannya dari segi pakaian. Meskipun itu bukan permasalahan sih, tapi jika ingin mengangkat tentang budaya, hendaknya kita membiasakan diri untuk mengenakan benda-benda yang melekat dengan budaya tersebut.

Benang Merah Tamaddun Aceh-Malaysia

Kuliah Penggulung yang disampaikan oleh Abu Rahman Kaoy
Photo Doc Yell Saints

Diakhir majelis ada kuliah penutup atau yang mereka sebut dengan kuliah penggulung yang disampaikan oleh Abu Rahman Kaoy. Beliau adalah sosok pendakwah Aceh yang kharismatik, dan sejarahwan Aceh yang juga merupakan mantan Dekan Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

Terbukti dengan pembahasan beliau tentang Aceh Pusat Tamaddun Islam di ASEAN, mampu menghipnotis para audien yang sedang lapar menunggu waktu jam makan siang.

Dakwahnya begitu berapi-api dalam menjelaskan sejarah Aceh yang sebenarnya, karena banyak sejarah Aceh yang ditulis oleh orang-orang belanda namun salah, dan meyesatkan tentang keberadaan Islam.

Beliau menjelaskan bahwa Islam pertama kali datang dibawa oleh Said Maulana Abdul Aziz Syah, yang merupakan keturunan Ali bin Abi Thalib pada tahun 225 H. Tepatnya berada di Perlak.

Kedatangan mereka awalnya hendak menuju negri China, namun ketika singgah di Perlak, dilihatlah hutan, dan tanahnya yang begitu subur dan indah, sehingga mengurungkan niat mereka untuk melanjutkan perjalanan ke China, dan tinggal di Perlak.

Masyarakat Perlak yang awalnya beragama Hindu tertarik dengan kebiasaan, dan kehidupan kafilah ini. Mereka sangat ramah, dan bersahabat, tidak hanya satu orang saja, tapi semuanya seperti itu, dan perlakuannya sama meskipun dengan mereka beragama Hindu.

Akhirnya mereka masuk agama Islam secara beramai-ramai, dan kerajaan Islam pertama ialah berada di Perlak. Selanjutnya Islam menyebar sampai ke daerah Pase sehingga terbentuklah kerajaan islam kedua di Pase.

Singkat cerita, berkat agama Islam yang bisa diterima oleh berbagai pihak dan kalangan, terbentuklah 7 kerajaan Islam, yaitu Perlak, Pase, Tamiang, Pidie, Lingga, Daya, dan Darussalam.

Sosok laki-laki yang sudah sepuh ini terus becerita dengan semangat, meskipun usianya sudah lanjut, gaya berceritanya mampu membangkitkan amarah, dan semangat kaum muda.

Beliau tidak ingin generasi sekarang buta terhadap sejarah, karena banyak sejarah Aceh yang dimanupulasi oleh orang-orang yang pernah menjajah Aceh. Salah satunya tentang permaisuiri Sultan Iskandar Muda.

Beliau menyebutkan ada sebuah buku yang ditulis oleh orang Belanda, dan menjadi buku acuan sehingga menjadi buku best seller di seluruh dunia. Dalam buku itu menyebutkan bahwa Ratu Safiatuddin ialah permaisurinya Sultan Iskandar Muda.

Ini ialah jelas pembodohan, karena Ratu Safiatuddin adalah anak Sultan. Sedangkan permaisurinya ialah Putri Kamaliah, atau yang biasa dikenal dengan Putroe Phang yang berasal dari Negri Pahang Semananjung Malaya.

Anak Sultan Iskandar Muda yaitu Ratu Safiatuddin kemudian nikah dengan Sultan Iskandar Sani yang juga berasal dari Malaysia. Jadi cukup terlihat jelas benang merah antara Aceh, dan Malaysia ini sebagai saudara satu bapak, dan ibu. Karena leluhur kita berasal dari kedua negri tersebut.

Penyelenggara Majelis

Photo bersama dengan pihak panitia Aceh-Malaysia selepas acara
Photo Doc Yell Saints

Aku banyak mendapatkan informasi tentang sejarah, dan budaya di majelis ini, terlebih suasana keakraban sangat terjalin. Namun aku masih penasaran dengan pihak penyelenggara acara ini, dan orang-orang yang bertindak dalam kegiatan ini.

Lantas aku menelusuri pihak panitia penyelenggara yang diketuai oleh Fadhlan Amini, untuk mendapatkan penjelasan terkait event tersebut.

Rupanya event ini merupakan event yang ke 20, berarti sudah banyak event lain yang dilakukan sebelumnya di Malaysia. Dan di Aceh merupakan kali keduanya dari agenda HIKMAH, setelah event yang ke 10 diadakan pada tahun 2014 di Rumoh Aceh.

HIKMAH yang merupakan singkatan dari Himpunan Kedaulatan Melayu Akhir Zaman, adalah kumpulan orang-orang pecinta sejarah, dan budaya Islam terkait negara-negara Melayu.

Cek Nor Afidah Yusuf yang sedang memaparkan isi buku Berpetualang ke Aceh
Photo Doc Yell Saints

HIKMAH ini mulanya terbentuk di tahun 2012, yang diketuai oleh Radzie Sappie alumni University College of London, yang juga mantan dari wartawan The New Straits TimesTujuan acara ini ialah sebagai media silaturahmi antar masyarakat melayu dalam dakwah Islam. Mereka yang tergabung dalam komunitas ini ialah voluntering yang berasal dari berbagai daerah dalam rumpun melayu.

Konsepnya ialah mereka mengadakan mejelis atau pertemuan diberbagai daerah untuk membahas seputar Tamaddun Islam, dan budaya melayu. Kegiatannya sharing tentang sejarah dengan mendatangkan pakar sejarah, dan budaya dari daerah dimana tempat mereka buat acara.

Seperti kegiatan di Aceh ini misalnya, mereka menghadirkan para penggiat budaya, dan sejarah Aceh untuk memperkenalkan budaya, dan sejarah kepada generasi muda, dan para pengunjung yang datang.

Mereka hijrah ke berbagai daerah untuk mensosialisasikan tentang hal ini, Dan yang membuat unik ialah mereka menggunakan pakaian melayu kemanapun mereka pergi.

Mereka sangat cinta dengan budaya mereka, dan mereka juga cinta Aceh yang merupakan bagian dari keluarga mereka kata Kak Nor Afidah Yusuf, anggota HIKMAH dan juga istri dari Mohd Fahrrulrazie, persiden HIKMAH.

Menurutku kegiatan seperti ini sangat menarik, dan unik, bahkan di Aceh sendiri tidak ada hal yang seperti ini. Mereka benar-benar ingin menunujukkan jati diri mereka sebagi bangsa Melayu yang merupakan bangsa yang pernah berjaya pada masa lalu, bahkan melebih bangsa barat.

Nah, kenyataannya generasi sekarang tidak mengenal hal itu bahkan lebih bangga mengikuti trend dan budaya bangsa barat. Padahal kita dari bangsa melayu mempunyai budaya yang besar.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai generasi akhir zaman menghidupkan kembali budaya melayu yang pernah gemilang. 

Cek Nor Aidah Yusuf dengan Aku Yelli yang menggunakan batik :D Lol

Sabtu, 18 Maret 2017

Cara Menjadikan Hobi Jadi Pekerjaan Ala Donna Imelda Travel Blogger


Yang namanya hobi tentu menyenangkan bukan? Bahkan kita mengerjakannya tanpa beban, dan mendapatkan kepuasan batin tersendiri. Betul?

Nah, bagaimana kalau hobi ini dijadikan sebuah pekerjaan yang mendatangkan uang? Tentu ini sebuah hal yang didambakan semua orang. Bebas secara finansial dengan pekerjaan yang disenangi, dan diminati.


Inilah yang dirasakan oleh Travel Blogger yang bernama Donna Imelda. Namanya tidak asing lagi di telinga para blogger lokal, dan nasional, bahkan dia tetap eksis berkarya diusia yang tidak lagi muda. Namun semangatnya masih anak muda banget.

Aku (yellsaints) dan Mbak Donna. Kita bedanya 20 tahun-an,
tapi semangatnya tetap anak muda dong!

Kedatangan blogger yang akrab disapa Mbak Donna ini ke Aceh, untuk mengingat kenangan masa kecilnya yang pernah bersekolah tingkat dasar di Banda Aceh. Meskipun sebenarnya tujuan awalnya ialah untuk mengikuti Rentak Selangor ke Malaysia.

Dikarenakan jarak Malaysia, dan Aceh dekat, dia memutuskan untuk mampir ke Aceh selama dua hari. Tentunya kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para Gam Inong Blogger (GIB) Aceh.

Jadilah meet up dengan Mbak Donna dengan bahasan tentang “Blogger; Hobi atau Pekerjaan?”.

Saat acara Meet Up dengan Mbak Donna di Banda Aceh
Cerita-cerita Mbak Donna diawal karirnya dalam dunia blogging begitu dramatik, dan inspiratif. Dia memutuskan untuk resign dari dunia akedemisi sebagai seorang dosen, dan memilih untuk menekuni hobinya yaitu menulis di blog.

Tidak mudah lo memutuskan hal ini, karena jika dia berhenti menjadi dosen, otomatis pemasukannya berkurang. Namun semua itu tidak menjadi masalah bagi kedua orang anaknya, dan mereka mendukung keputusan Mbak Donna untuk menekuni dunia blogging.

Akhirnya beliau memulai dari nol. Apasih yang dilakukan Mbak Donna sehingga menjadi blogger ternama, dan mendapatkan keuntungan besar dari pekerjannya?

Ok, disini saya akan menjelaskan cara Mbak Donna dalam menekuni hobinya ini sebagai sebuah pekerjaan.

1.  Tulislah apa yang menjadi minat, dan kesukaanmu

Awalnya Mbak Donna sering menulis tentang apa saja di blognya (www.donnaimelda.com). Apapun ditulis, meskipun tidak banyak. Dia berkomitment untuk mengisi konten blognya setiap hari.


Blog Donna Imelda
Mbak Donna lebih sering menulis tentang traveleing, dan ternyata tulisan Mbak Donna sering dijadikan referensi oleh para traveler. Akhirnya Mbak Donna membuat satu blog lagi khusus membahas tentang traveling (www.ayopelesiran.com).


Blog Mbak Donna yang membahas tentang Travelling 

2.  Bergabung dengan komunitas

Selanjutnya Mbak Donna bergabung dengan berbagai komunitas blogger. Selain untuk menabah teman, dan jejaring, komunitas dapat meningkatkan motivasi kita untuk menulis.

Mbak Donna bersama para Blogger Aceh yang tergabung
dalam komunitas Gam Inong Blogger (GIB)   

Adanya komunitas blogger ini juga memudahkan untuk melakukan perjalanan kemanapun, karena banyak teman-teman kita yang terdapat di berbagai nusantara. Buktinya Mbak Donna langsung disambut oleh para GIB ketika datang ke Aceh.

3.  Cetak kartu nama

Supaya nama kita dikenal sama orang, maka harus ada kartu nama yang menunjukkan identitas kita, supaya orang mudah mengingat kita. Lampirkan juga photo dan alamat media sosial.

Itulah yang dilakukan Mbak Donna, bahkan dia bertekat menghabiskan satu kotak kartu nama perbulannya untuk dibagikan kepada orang.

Meskipun nanti kartu namanya dibuang, yang penting kitakan sudah usaha”.  Ujar Mbak Donna dengan semangat yang menggebu-gebu.

4.  Hadiri event

Mbak Donna itu sering banget hadirin event, dibayar nggak dibayar tetap aja pergi. Bahkan dia sangat rutin untuk mencari list event yang diadakan setiap bulannya.

Selanjutnya beliau menulis event yang diikutinya, dan tulisannya dikirimkan kepada panitia penyelenggara event. Ini usaha mbak Donna supaya diingat oleh pihak panitia, jadi ketika ada acara berikutnya pasti yang dihubungi pertama Mbak Donna.

Dari sinilah berawal terbukanya peluang Mbak Donna. Banyak para sponsor acara mencari Mbak Donna, bahkan ditawarin untuk jadi pemateri lagi, karena dianggap produktif.

5.  Lakukan lebih untuk membuat orang senang

Cara Mbak Donna dengan menulis tulisan dari event yang diikutinya, merupakan usaha Mbak Donna untuk melakukan lebih buat orang lain. Buktinya Mbak Donna dicari-cari oleh para sponsor.

Habis kerajinan banget sih nulis meskipun tidak diminta pihak panitia. Ya, itulah salah satu usaha untuk mengenalkan diri, yaitu dengan cara memberikan dulu kepada orang, nanti pasti akan ada feedback nya.

Ibarat bola yang dilemparkan ke dinding, pastinya akan memantul lagi ke si pelempar. Jadi kalau mau dikenal, ya lakukanlah seperti yang Mbak Donna lakukan ini.

6.  Brandingkan nama

Mbak Donna itu brandingin namanya lewat akun media sosial. Dia membuat  berbagai akun dengan nama yang sama, kemudian tulisannya itu dikirimkan ke berbagai media sosioal tersebut.

Mbak Donna punya dua nama akun, satu menggunakan Donna Imelda, satunya lagi menggunakan nama ayo pelesiran. Jadi baik IG, FB, Twiter, Path, G+, dan lainnya, tetaplah menggunakan nama yang sama supaya mudah orang mencarinya.

Nah, itu dia teman-teman cara Mbak Donna untuk menjadikan hobi ngeblog ini sebagai sebuah pekerjaan.

Jauh-jauh dia datang ke Aceh untuk menyampaikan ilmu yang bermanfaat ini, sungguh luar biasa dapat membangkitkan motivasi kami para blogger Aceh. Semoga pahalanya terus mengalir ya Mbak!

Sekarang Mbak Donna yang membagikan tips seperti ini, mana tahu nanti saya pula yang seperti ini, semoga saja ya Allah Amin. Atau mana tahu kamu yang membaca artikel ini, bisa berbagi kepada teman-teman lainnya.

Sungguh menulis ini banyak manfaatnya, dan amalannya akan terus mengalir selama masih ada orang yang membaca tulisan ini.

Jika tulisan ini bermanfaat, dan bisa dipraktekkan, mohon berikan komentarnya ya!

Terima kasih