Nasiku Tak Seenak Dulu

Kamis, April 21, 2022 0 Comments A+ a-

“Ini beras terakhir kita, semoga ayahmu mengirimkan beras besok ya!”
Ujar ibu sambil mencuci beras yang akan dimasak untuk hidangan berbuka.

Lima tahun terakhir ini, setiap bulan puasa ayah pulang ke kampung halaman untuk membantu adiknya menggarap sawah peninggalan orang tua mereka. Sawah yang luasnya tak seberapa itu, hanya panen sekali setahun. Tepatnya di bulan puasa seperti ini, para petani berbondong-bondong ke sawah untuk memanen padi.


Berbeda dengan sawah pada umumnya yang bisa 3-4 kali ditanami padi dalam setahun, sawah yang berada di kawasan Kedai Runding, Kluet Timur, Aceh Selatan itu, hanya bisa sekali tanam. Waktunya pun ditentukan saat menjelang bulan puasa. Sudah menjadi tradisi sejak dulu, panen padi di kampung ayahku bertepatan di bulan puasa.

Hasil panen padi tersebut nantinya akan dibayarkan zakat fitrah, dan bila hasil panen melimpah akan dikeluarkan zakat mal (harta). Hasil panen ini juga dijadikan sebagai bahan pangan untuk persediaan beras satu tahun ke depan. Sebab, tujuan masyarakat menanam padi bukanlah untuk dijual melainkan untuk dikonsumsi sendiri dan dibagikan ke anggota keluarga.

Beras Kiriman Ayah

Hari yang ditunggu pun tiba. Adik ayah (Bapak) meneleponku agar menunggu beras kiriman ayah di pinggir jalan. Aku dan kakak bergegas menggunakan sepeda motor, menuju jalan raya yang jaraknya 1 km dari rumah kami.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ayah mengirimkan sedikit hasil panen di pertengahan bulan puasa dan sisanya dibawa pulang nanti olehnya saat di akhir bulan puasa. Ada satu karung beras, satu karung sekam/dedak, dan satu plastik besar yang berisi sayur-mayur. Aku dan kakak mengangkutnya menggunakan sepeda motor dan membawanya pulang ke rumah. Dalam hati kecilku bersyukur karena ada beras hari ini untuk dimasak.

“Bisalah untuk beberapa hari ke depan sambil menunggu ayah pulang membawa berkarung-karung padi hasil panen,” pikirku.

Aku dan ibu begitu antusias membuka isi karung yang dikirim ayah. Begitu terkejutnya kami melihat beras yang berwarna kuning gersang, tak ubahnya seperti makanan burung. Aku dan ibu saling tatap, heran mengapa berasnya bisa begitu.


Beras Kiriman Ayah

“Mungkin tampilannya aja seperti ini, siapa tahu enak saat dimasak,” kata ibu menyemangatiku.

Dan saat dimasak pun, tampilannya mirip seperti nasi goreng. Rasanya ambar dan baunya tidak enak membuat makan pun jadi tidak berselera walau teman nasinya menggugah selera. Meskipun begitu, kami tetap memakannya karena tidak ada pilihan lain.
Namun, aku dan ibu hanya bertahan dua hari karena setelah memakan nasi itu selera makan pun jadi hilang. Begitu juga Cahya, putriku yang enggan memakan nasi dari beras yang dikirim ayah. Akhirnya aku membeli beras lain di warung untuk kami masak, sedangkan beras yang dikirim ayah kami simpan dulu.

Perubahan Iklim Bikin Gagal Panen

Tepat di hari Kamis, 14 April 2022 aku mengikuti even Blogger Gathering yang diadakan oleh Eco Blogger Squad. Tema kali ini tentang Keanekaragaman Hayati di Indonesia yang dipaparkan oleh Ibu Rika Anggraini, selaku Direktur Komunikasi & Kemitraan Yayasan KEHATI.

Setelah mendengar paparan dari Buk Rika, akhirnya aku mengerti kenapa beras yang dikirim ayah seperti itu dan nasinya tidak seenak dulu. Semuanya itu ada kaitannya dengan perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Perubahan iklim terjadi karena kegiatan manusia baik di bidang industri, transportasi, dan ekonomi yang menghasilkan emisi gas-gas karbon pencemar udara. Kumpulan gas berupa CO2, metana, CFC, dan sebagainya itu menumpuk di atmosfer. Tingginya konsentrasi gas-gas tersebut di atmosfer menimbulkan proses radiasi sinar matahari yang dipantulkan kembali ke bumi, sehingga suhu atmosfer bumi semakin panas dan terjadi proses pemanasan global.

Iklim bumi yang mengalami perubahan ini berdampak pada kehidupan manusia. Salah satunya penguapan yang tinggi dapat menyebabkan tingginya curah hujan yang berpeluang menjadi banjir. Di sisi lain, penguapan tinggi menyebabkan terjadinya kekeringan yang mengganggu produktivitas pertanian.

Itulah yang dirasakan para petani yang ada di kampung ayahku tahun ini. Padi yang ditanam mereka mengalami gagal panen karena tidak menentunya keadaan iklim. Di hari-hari tertentu panas matahari cukup terik, sehingga air irigasi yang berfungsi untuk mengairi persawahan tidak mampu mencukupi kebutuhan airnya. Bahkan menurut salah satu kakak sepupuku tanah sawahnya sampai retak sangking keringnya.

Namun, di lain hari tiba-tiba hujan turun tak berhenti-henti hingga menggenangi area persawahan. Padi yang sedang berbuah itu pun terganggu kelangsungan hidupnya, sehingga pada saat padi tersebut siap dipanen, setengah dari biji padi tersebut kosong isinya. Biasanya bulir satu biji padi utuh, tapi sekarang tinggal setengah. Saat padi tersebut dikilang, berasnya jadi patah-patah dan warnanya tidak lagi putih bersih seperti biasanya.

Padahal dulu saat panen tiba adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Biasanya ayah membawa pulang 8-10 karung padi, tahun ini hanya cuma 3 karung. Kami pun juga tidak tahu bagaimana hasil kilang dari padi tersebut. Tidak hanya kami, semua petani juga merasakan demikian.
Tahun ini hanya tiga karung dapat hasil panen

Gagal panen membuat para petani menjerit di tengah harga kebutuhan pokok yang semakin melejit. Perekonomian pun semakin sulit dan semakin hari, hidup kian terjepit. Andai saja kita sedikit sadar tentang kondisi alam, perubahan suhu global mempengaruhi keanekaragaman hayati dengan dampak dan skala kerusakan yang beragam. Baik itu terhadap gen, jenis, komunitas, dan ekosistem.

Di bidang pertanian dan pangan terjadi penurunan 10% panen padi untuk setiap kenaikan suhu 1°C suhu rata-rata bumi. Menurut Laporan yang disampaikan IPPC panas bumi meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan. Pada awal tahun 2030 nanti, suhu bumi akan naik 1,5°C dan ini merupakan batas aman suhu bumi.


Dan sekarang di tahun 2022 sudah terbukti membuat petani gagal panen dan nasi dari beras yang ditanam petani tak seenak dulu. Bayangkan bila itu terjadi 10 atau 20 tahun ke depan, masih bisakah kita tetap mengonsumsi nasi?

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Edukasi untuk Memunculkan Kesadaran

Kita bisa memunculkan kesadaran pada masyarakat dengan mengedukasikan tentang kondisi bumi saat ini. Salah satunya seperti yang aku dan teman-teman dari Eco Blogger Squad lakukan. Sedikit ilmu yang kami dapat dari ahlinya, kami tuliskan melalui blog dengan bahasa yang mudah dimengerti. Berharap orang yang membacanya bisa paham sehingga menimbulkan kesadaran untuk menjaga bumi.

Selain itu, cobalah untuk mengedukasi orang terdekat, seperti anak, pasangan, orang tua, teman terdekat agar menjaga kelestarian keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar. Kita bisa membuat tanaman obat keluarga di perkarangan rumah untuk menghijaukan lingkungan sekitar #untukmubumiku.

2. Mengubah Gaya Hidup

Kita juga bisa mengubah gaya hidup dengan menjadi konsumen hijau yang pro terhadap hutan & tanaman. Teman-teman bisa terlibat menjadi donatur untuk membiayai perawatan hutan & keanekaragaman hayati, seperti wakaf hutan, donasi pohon yang dilakukan oleh lembaga atau yayasan yang bertugas merawat hutan.

Kemudian kita juga harus mempertahankan budaya makanan lokal dan mengonsumsi pangan lokal. Meskipun kerap kali gagal panen tidak berarti kita harus berhenti, tapi mencari solusi bagaimana tanaman saat ini bisa beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini.

3. Menerapkan eco living

Eco living adalah sebuah keadaan di mana suatu tempat tinggal bukan hanya mementingkan urusan estetika saja, tapi juga memperhatikan keseimbangan dengan lingkungan sekitar.

Rumah eco living menerapkan rasio seimbang antara bangunan dengan ruang hijau sehingga pemandangan rumah, tidak melulu tembok atau semen semua. Tetapi ada ruang tertentu yang dibiarkan terbuka ditanami dengan berbagai macam tanaman, sehingga terlihat hijau.

Dengan menerapkan eco living bisa menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga bisa merasakan hidup lebih nyaman, sebab hunian yang ditempati selaras dengan alam.

4. Menjadi Agen Perubahan

Setelah kita teredukasi tentang keadaan bumi, saatnya kita menjadi agen perubahan yang lebih peduli terhadap lingkungan. Di mulai dari hal-hal kecil seperti membatasi penggunaan sampah plastik, menghemat penggunaan listrik, dan tidak boros belanja barang-barang tekstil.

Dengan begitu kita sudah melakukan perubahan kecil yang bila dilakukan secara bersama akan berdampak bagi bumi kita. #TeamUpforImpact Ajak juga orang terdekatmu untuk melakukan aksi yang serupa supaya kita bisa menempati bumi ini lebih lama.