Bumi Semakin Panas, Haruskah Kita Peduli?


“Ah, kan ada AC. Jadi tetap adem dong.” Jawaban nggak peduli.

“Iya sih, buat kita makin gerah.” Jawaban prihatin.

“Terus kalau bumi panas, emang kenapa?” Jawaban penasaran.

“Makanya itu, aku mau lakukan sesuatu supaya bisa menstabilkan panas bumi.” Jawaban solusi.

Nah, kalau kamu masuk golongan mana? Biar kita sefrekuensi agar sama-sama peduli tentang kondisi bumi, mari simak ulasan berikut.

Jumat, 15 Oktober 2021 aku kembali mengikuti Online Gathering keempat yang dibuat oleh ECO Blogger Squad bekerjasama dengan Blogger Perempuan Network. Tema yang diangkat yaitu, “Bumi Semakin Panas, Kode Merah untuk Kemanusiaan.”


Mba Anggi

Webinar ini menghadirkan narasumber, perempuan cantik bernama Anggalia Putri Permatasari (Knowledge Manajer Yayasan Madani Berkelanjutan). Mba Anggi begitu sapaannya, menyampaikan laporan keenam Intergovermental Panel on Climate Change (IPPC) yang berjudul Code Red for Humanity.

IPCC merupakan panel ilmiah yang terdiri atas para ilmuwan dari seluruh dunia dan didirikan oleh dua organisasi PBB, yaitu: World Meteorological Organization (WMO) dan United Nations Environment Programme (UNEP) pada 1988. Komunitas ilmuan ini setiap tahunnya mengeluarkan laporan tentang krisis iklim yang terjadi di dunia. 

Di tahun ini, laporan yang disampaikan IPPC sempat menjadi sorotan di berbagai media belahan dunia, termasuk Indonesia. Isi laporan tersebut tentang rangkuman keadaan iklim dunia saat ini, di antaranya yaitu.

1. Panas bumi meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan. Pada awal tahun 2030 nanti, suhu bumi akan naik 1,5°C dan ini merupakan batas aman suhu bumi.


2. Kenaikan suhu yang melampaui batas tersebut akan membuat es di kutub mencair, sehingga akan menenggelamkan beberapa kota yang ada di seluruh dunia.

3. Terjadinya krisis iklim yang semakin cepat dan kian meluas, mengakibatkan muncul beberapa fenomena alam yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Misalnya tidak menentuknya musim hujan dan kemarau, bisa jadi di suatu daerah merasakan hujan berkepanjangan yang mengakibatkan banjir. Namun, di daerah lain justru dilanda kekeringan sehingga banyak spesies hewan yang mati.


4. Bumi semakin panas tidak lain karena ulah perbuatan manusia. Hutan dan lahan gambut sengaja dibakar untuk dijadikan lahan produktif yang mengakibatkan pelepasan karbon di udara sehingga memperparah kondisi panas bumi.

Setelah mengetahui laporan tersebut, masihkah kita abai dengan kondisi bumi? Lanjut kita bahas yang lebih spesifik lagi, tempat tinggal kita yaitu Indonesia. Apa dampaknya untuk Indonesia?

Dampak yang paling memungkinkan ialah sekitar 115 pulau di Indonesia terancam tenggelam. Tahu kan bahwa Indonesia daerah kepulauan? Jangan-jangan pulau di tempat tinggalku yang tenggelam atau mungkin saja di tempat kamu. Semua itu mungkin saja terjadi, bila kita tidak peduli dengan keadaan bumi saat ini.



Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebelum semua itu terjadi?

1. Stop penggunaan batu bara dan beralih ke energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, air, dan sebagainya. Intinya jangan terlalu banyak bakar-membakarlah, kasihan karbon yang dihasilkan bisa jadi pencemaran lingkungan dan juga efek rumah kaca.



2. Lindungi hutan alam yang tersisa dan lakukan deforestasi. Kalau yang ini aku bisa sarankan setiap di hari ulang tahunmu, tanam satu pohon kalau lebih tambah bagus. Pohon yang kamu tanam bisa menjadi tempat penyerap karbon, paling tidak untuk di sekitar tempat tinggalmu. Yang jelas kita bisa lebih adem bila banyak pohon tumbuh di sekeliling tempat tinggal.

3. Jangan usik lahan gambut dan cegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Untuk perihal ini, aku sudah bahas di postingan sebelumnya yang berjudul 6 Fakta tentang Lahan Gambut Indonesia yang Harus Kamu Tahu.

4. Restorasi dan rehabilitasi ekosistem alam, termasuk hutan, mangrove, dan gambut. Ini lebih memungkinkan kerjaan pemerintah atau lembaga yang fokus pada restorasi dan rehabilitas. Namun, biasanya mereka akan mengajak masyarakat untuk melakukan sumbangsih dengan cara donasi, seperti hutan wakaf, adopsi hutan, sumbang pohon, dan sebagainya.

5. Adaptasi, terutama untuk kelompok rentan.



Bagi kamu generasi muda bisa apa?

Hal utama yang bisa dilakukan ialah degan mengurangi emisi dan jejak karbon. Sebab dengan begitu dapat membantu memperbaiki lapisan bumi dan mengurangi pencairan gletser yang berdampak bagi bumi.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi jejak karbon yaitu;

1. Tidak menyisakan makanan.

2. Tidak tergiur untuk mengikuti tren (fast fasion). Sebab, industri fashion adalah salah satu yang paling mencemari lingkungan dan penyumbang polusi terbesar di dunia, seperti air, tanah, maupun pengahasil gas emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim.

3. Tidak menggunakan kantong plastik.

4. Tidak meggunakan angkutan pribadi.

5. Gunakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar ikut beraksi melakukan hal yang sama. Seperti aku misalnya seorang blogger dengan membuat postingan ini untuk membuat kamu yang semula tidak peduli mau berempati. Yang mulanya tidak mengerti bisa lebih mengetahui sehingga akan mengubah perilaku yang merusak akhirnya mengajak mengurangi emisi dan jajak karbon.

Semoga dengan postingan ini menambah kepedulianmu terhadap bumi yang semakin panas. Mungkin bumi akan baik-baik saja tanpa manusia, tapi kita selaku manusia tidak bisa tentram bila bumi dalam keadaan teranyam. Upaya penyelamatan bumi adalah cara untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia, cukup dinosaurus saja yang punah jangan aku, kamu, dan kita semua. So, makanya harus peduli dengan tempat yang kita tinggali ini.

SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !