Kenali Perkembangan Psikososial Anak saat Memasuki Usia Toddler

Cahya di usia 14 bulan

Jelang usia dua tahun, anakku Cahya mulai menunjukkan tingkah perilaku temper tantrumnya. Ia bisa menangis sejadi-jadinya bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Begitu pula saat diminta melakukan sesuatu, seperti diajak mandi, makan, atau sebagainya. Secara spontan langsung mengatakan tidak.

Moodnya pun sering kali berubah-ubah, bahkan dalam hitungan menit. Bila sedang bermain atau memusatkan diri pada suatu aktivitas, beberapa menit kemudian ia bisa sangat marah karena tidak mampu memanupulasi suatu mainan entah itu menutup atau membuka kotak mainan atau menata rapi mainannya.

Dengan teriakan disertai tangisan, ia melempar mainan tersebut. Namun, beberapa menit kemudian ia tertawa kembali ketika berhasil dibantu untuk membuka atau menutup kotak mainannya. Jangan tanya bagaimana kondisi rumah saat dia sedang bermain, semua berantakan bagai kapal pecah yang tak terurus. Walau sudah dibereskan di saat ia sedang tidur, kondisi semula kembali lagi setelah ia bangun dan mulai membuat isi rumah amburadul.

Jangan coba-coba dilarang atau dimarahi saat ia mulai beraksi, bisa-bisa ia bertambah marah dan menjadi temper tantrum yang kemudian cepat-cepat menarik kaki kita untuk minta digendong. Bahkan tidak peduli kita sedang memasak, mencuci, atau sedang di kamar mandi, ia terus berteriak untuk dipeluk atau sekadar digendong.

Cahya dengan semua kreativitasnya

Pernah sewaktu aku hendak memasak makanannya, mangkok kaca yang kuletak di samping meja makan diambilnya menggunakan sebelah tangan. Saat itu aku sedang memegang gayung yang berisi air. Melihat Cahya memegang mangkok kaca dengan sebelah tangan, aku pun berlari ingin mengambilnya, takut mangkok tersebut pecah di depannya.

Rupanya saat aku berlari, air di dalam gayung tersebut tumpah ke lantai dan aku terpeleset setelah berhasil mengambil mangkok kaca dari tangan Cahya. Badanku terhempas ke lantai, untung kepalaku tidak terbentur hanya saja seluruh bajuku basah terkena air.

Badanku terasa remuk dan kepalaku pusing karena tubuhku terhempas terlalu keras membentur lantai. Aku terdiam beberapa saat, sambil meringis kesakitan. Melihat aku yang tergelatak di lantai, Cahya langsung histeris menangis sejadi-jadinya, takut aku kenapa-kenapa. Aku memeluknya, tapi tubuhku tidak sanggup menggendongnya karena pinggangku terasa ngilu saat bangun.

Saat itu, hanya aku dan Cahya yang tinggal di rumah karena Abahnya sedang ada keperluan di luar. Jadi, aku biarkan semua kekacauan yang ada di dapur itu sambil berpindah untuk mengganti pakaianku yang basah. Rupanya, Cahya kembali lagi ke dapur dan bermain air bekas tumpahan yang belum sempat kubereskan tadi. Dia pun akhirnya ikut basah karena bermain air, padahal sebelumnya dia sudah rapi.

Melihat tingkahnya itu, aku pun jadi emosi dan memarahinya. Aku benar-benar dipenuhi rasa amarah saat itu dan tak sengaja memukul kakinya hingga ia menangis. Namun perasaan bersalah muncul setelah itu yang membuatku sadar bahwa tak seharusnya aku melakukan hal seperti itu. Aku bertanya, apakah anak seusia Cahya ini memang seperti ini tingkahnya, atau justru anakku saja yang begini?

Masa Toddler

Cahya sedang mengamati gambar di buku favoritnya


Masa toddler sering diistilahkan dengan terrible two, di mana anak masih bersifat egosentris dan semua hal berpusat pada dirinya. Periode ini mulai dari usia 12 – 36 bulan, Masa ini merupakan masa eksplorasi lingkungan yang intensif karena anak berusaha mencari tahu bagaimana semua terjadi dan bagaimana mengontrol orang lain melalui perilaku temper tantrum, negativisme, dan keras kepalanya.

Temper tantrum adalah keadaan ketika anak meluapkan emosinya dengan cara menangis kencang-kencang, berguling-guling di lantai, hingga melempar barang. 

Di massa terrible two ini merupakan benar-benar sesuatu yang sangat menantang bagi orang tua. Apalagi bagi orang tua pemula yang belum berpengalaman mengasuh anak sepertiku. Kadang, emosi bisa mengusai diri karena tingkah laku si anak. Namun, perlu diiingat ini masa yang sangat penting untuk pencapaian perkembangan dan pertumbuhan anak.

Mereka ibarat mesin fotokopi dari orang tuanya. Sebab, apa yang ditunjukkan orang tua itulah yang menjadi perilakunya ketika dewasa sehingga bila kita membesarkan anak dengan bentakan dan penuh emosi maka ia akan tumbuh menjadi individu yang emosional dan penuh amarah.

Untungnya aku cepat-cepat kembali membuka buku lama yang pernah kupelajari selama di perkuliahan tentang tumbuh kembang anak. Jadi, aku bisa bersikap lebih positif terhadap tingkah laku negatif yang ditunjukkan anak sehingga aku tidak salah mengambil sikap selama periode toddler ini.

Merawat anak harus punya ilmu, makanya harus sering baca buku. Untung masih ada buku pertinggal saat aku kuliah di keperawatan dulu. Ini buku wajib bagi kami yang mengambil mata kuliah keperawatan pediatrik (anak)


Sebenarnya ada beberapa perkembangan yang terjadi di masa toddler ini, yaitu perkembangan biologis, psikososial, kognitif, spiritual, citra tubuh, seksualitas, dan sosial. Namun, di tulisan ini aku akan membahas tentang perkembangan psikososial toddler saja karena ada kaitannya dengan ceritaku di atas. Semoga saja di lain waktu aku mengulas tentang perkembangan toddler lainnya.

Perkembangan Psikososial



Menurut Erikson (Bapak pencetus teori perkembangan psikososial) tugas perkembangan pada masa toddler adalah menguasai sensasi autonomi (mandiri) VS mengatasi sensasi ragu dan malu-malu.

Perkembangan autonomi selama periode toddler berpusat pada peningkatan kemampuan anak untuk mengendalikan tubuh, diri, dan lingkungan sekitarnya. Mereka ingin melakukan hal-hal untuk diri mereka sendiri, menggunakan keterampilan motorik yang baru mereka peroleh seperti berjalan, memanjat, dan memanupulasi, serta menggunakan kekuatan mental mereka dalam memilih dan membuat keputusan.

Pembelajaran yang mereka peroleh sebagian besar didapat dari meniru aktivitas dan perilaku orang lain. Wajar bila Cahya saat ini, cukup cepat meniru apa pun yang kita kerjakan atau yang ia lihat. Entah itu pekerjaan sehari-hari yang kita lakukan, seperti menyapu, mencuci, dan memasak atau suara-suara yang ada di sekitarnya seperti suara binatang atau orang-orang terdekatnya.

Sedangkan perasaan negatif seperti ragu dan malu muncul ketika anak diremehkan atau ketika pilihan-pilihan mereka yang kita anggap membahayakan dilarang oleh orang tua. Kemudian kita memaksakannya untuk bergantung kepada orang tua, walau padahal sebenarnya mereka mampu melakukannya.

Di usia toddler, Cahya mulai meniru perilaku orang lain di sekitarnya

Misalnya saat anak ingin sendiri mengambil air di atas meja, makan sendiri, atau menaiki dan menuruni tangga. Peran orang tua di sini harusanya hanya mengawasi atas tindakan yang mereka lakukan karena bila dilarang, sudah tentu mereka menangis dan bersikeras untuk melakukannya. Jadi, tugas kita hanya memantau tindakan yang dilakukannya dengan cara tetap berada dekat di samping anak, sehingga ketika dia jatuh atau lepas kendali, orang tua bisa cepat membantunya.

Namun, jika di masa toddler anak kebanyakan dilarang, jangan salahkan dirinya bila anak akan menjadi individu yang ragu-ragu dan pemalu. Sebab, ia merasa ada yang mengontrol dirinya sehingga muncul keraguan dan malu pada dirinya walau sebenarnya ia mampu melakukannya.


Karakteristik utama yang ada pada toddler dalam pencarian autonomi mereka ialah negativisme dan ritualisme. Ketika toddler berusaha mengekspresikan keinginannya, mereka sering bertingkah negativisme, yaitu respons yang selalu negatif terhadap permintaan.

Seperti cerita saya di atas, ketika Cahya diajak makan, mandi, tidur, atau sebagainya ia langsung mengatakan tidak. Begitu pula saat ada sesuatu barang baru yang ada di tangannya atau makanan, ketika diminta ia langsung mengatakan tidak dan menarik benda tersebut. Ini bukan berarti anak pelit, tapi karena sedang masanya ia berperilaku seperti itu, yaitu perilaku negativisme.

Saat Cahya kesal tidak bisa menghidupkan kipas angin

Beberapa orang tua menganggap perilaku ini menjengkelkan dan bukannya menangani secara konstruktif, tapi malah marah dan emosi. Bila respons itu yang diperlihatkan orang tua, maka akan mengancam anak dalam pencarian mereka untuk mempelajari metode berinteraksi dengan orang lain secara baik dan benar.

Perlu orang tua ketahui bahwa negativisme bukanlah suatu ekspresi keras kepala atau perilaku kurang ajar, melainkan pernyataan tegas akan kebutuhan mengontrol diri. Metode yang bisa dilakukan orang tua untuk menghadapi perilaku ini ialah dengan mengurangi kesempatan anak dalam memberi jawaban tidak.

Bertanya kepada anak “Apakah kamu mau tidur sekarang? atau mau mandi?” merupakan pertanyaan yang pasti jawabannya “tidak” dengan tegas. Orang tua harusnya mengubah pola komunikasi mereka dengan mengatakan “sudah waktunya jam tidur dan langsung bertindak sesuai dengan perintah.”

Orang tua juga bisa membuat pertanyaan pilihan untuk menghindari anak mengatakan tidak. Misalnya, “kamu mau makan dulu atau mandi terlebih dahulu?”. Mungkin orang tua juga bisa menyodorkan langsung pilihannya, seperti “Kamu boleh memilih roti isi selai kacang dan jeli, atau mi ayam untuk makan siang.” Dengan begini, anak cenderung akan memilih satu pilihan daripada mengatakan tidak.

Lawan dari negativisme ialah ritualisme, yaitu upaya dalam membentuk sikap seseorang dengan cara menperkenalkan perilaku dalam rutinitas tertentu, sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Todler berani menghadapi bahaya dengan rasa aman jika mereka tahu bahwa orang, tempat, dan rutinitas yang telah dikenalkannya dengan baik masih ada.

Misalnya saat anak akan tidur, orang tua membaca cerita atau menyanyikan lagu terlebih dahulu sehingga anak memahami ini sebuah ritual sebelum tidur. Tanpa ritual yang nyaman, hanya ada sedikit kesempatan untuk menggunakan autonomi. Konsekwensinya, anak menjadi ketergantungan dan regresi.

Kembalinya pola fungsi seseorang saat ini ke tingkat perilaku sebelumnya dinamai regresi. Misalnya anak kembali menghisap jempol atau ngompol di celana padahal sebelumnya ia sudah bisa melakukan toileting dengan baik. Hal ini terjadi bila anak dihadapkan dalam situasi yang tidak nyaman atau stress.

Apabila regresi terjadi, pendekatan terbaik yang bisa dilakukan orang tua ialah mengacuhkannya dan memuji pola perilaku benar yang sudah ada. Regresi adalah cara anak mengatakan, “Aku tidak dapat menghadapi stress pada saat ini dan menyempurnakan keterampilan ini dengan baik, tetapi aku akan dapat menghadapinya jika ayah dan ibu sabar dan mengerti tentang sikapku ini.”

Pada masa Toddler inilah perlu pendampingan dari orang tua dengan benar

Nah, begitulah perkembangan psikososial yang terjadi saat anak memasuki usia toddler. Memang berat fase ini, tapi sebagai orang tua cobalah untuk mengerti keadaan anak di masa terrible twoe ini karena masa ini menentukan kehidupan anak selanjutnya.

Sebab keberhasilan pencapaian tugas di massa toddler tergantung orang tua, maka sudah saatnya ayah dan bunda untuk memahami setiap pertumbuhan dan perkembangan anak dengan belajar ilmunya.

Untuk lebih mudahnya, ayah bunda bisa belajar tentang anak dengan membuka website https://www.ibupedia.com/. Di sini terdapat berbagai informasi yang disajikan dalam bentuk artikel yang mudah dibaca dan dipahami, seperti 9 Faktor yang Dapat Mempengaruhi Jenis Temperamen Anak.

Jadi, tidak perlu balik-balik buku Keperawatan Pediatrik yang beratnya hampir satu kg itu. Cukup aku saja yang melakukannya, karena ayah bunda bisa mendapatkan semua informasi tentang anak dengan mengklik Ibupedia.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 komentar:

  1. Dari kecil harus sudah dibiasakan dengan pemilihan suatu hal dengan kata kata yang memotivasi ya
    Dan anak seumuran Cahya rentan meniru tindakan orang dewasa, makanya kalau disekitarku ada keponkaan kudu hati hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mba, mereka ibarat mesin foto copy dari apa yang dilihatnya sama orang dewasa.

      Hapus
  2. Berasa bealajar kembali pas kuliah dulu tentang teori dasar perkembangan anak dan remaja, thanks kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau udah punya anak, harus kita ulang lagi pelajaran yang kita dapat semasa kuliah supaya bisa kita terapkan di dalam kehidupan.

      Hapus
  3. Sedang mengalami hal sama juga ini, Yel. Terrible two si Qaulan Kareem, malah Jerry Seindfeld: "having a two year old is like you have a blender and you don't have a top for it." Hahhaha

    BalasHapus
  4. Benar banget ya Yel, perkembangan anak memang sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar dan apapun yang dicontohnya. Pintar-pintar kita memilah ya mana yag bisa dikasih mana yang nggak. Makasih ya Yel udah berbagi.

    BalasHapus
  5. Wah... Cahya mulai belajar meniru ya. Sehat-sehat terus ya.

    BalasHapus
  6. Masa-masa toddler ini, parah ayah dan emak harus lebih esktra sabarnya haha
    Tulisan yang menarik Yel

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !