Hubungan Pandemi dengan Kebakaran Hutan dan Lahan


Dua tahun sudah kita dijerat oleh Pandemi Covid-19. Jadwal traveling yang biasanya dilakukan setiap akhir pekan, terpaksa harus dihilangkan. Acara seminar atau pelatihan yang biasanya di gedung mewah atau bertingkat, sekarang hanya bisa dinikmati di depan laptop sambil dasteran dan makan gorengan.

Jika pun harus ke luar rumah, wajib mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker, cuci tangan, menjaga jarak, dan sebagainya. Bila hendak ke luar kota, harus melakukan prosedur swab dulu untuk memastikan diri tidak terkonfirmasi positif Covid-19. Jujur, aku mulai lelah dan bosan dengan semua ini. Bagaimana dengan kamu?

Semua kita pasti ingin pandemi ini cepat berlalu. Kehidupan bisa berjalan normal dan kita kembali ke rutinitas seperti sebelum pandemi menyerang. Namun, tahukah kamu adanya pandemi saat ini merupakan sebuah siklus?

Siklus yang terus berulang ketika hutan ditebang, lahan dirusak, hingga menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Yang sebenarnya rumah bagi para binatang dan hewan, tapi terpaksa diusir pergi hingga akhirnya mendatangkan pandemi. Kenapa bisa? Simak penjelasan selanjutnya.

Online Blogger Gathering


Jumat, 4 Juni 2021 aku mengikuti Online Blogger Gathering dalam rangka menyambut peringatan Hari Lingkungan Hidup yang diperingati setiap tanggal 5 Juni. Seperti online gathering sebelumnya, para Eco Blogger Squad diberikan pengetahuan isu lingkungan oleh para pakarnya.

Dalam online gathering kali ini, tema yang diangkat ialah Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Cegah Pandemi. Ada dua narasumber yang begitu kompeten mengulik kedua isu ini, yaitu Karhutla dan Pandemi.

Materi pertama disampaikan oleh Mas Dedi Sumara yang merupakan Direktur Informasi Auriga Nusantara. Ia membahas tentang Bencana Tahunan Kebakaran Hutan dan Lahan. Dalam penyampaiannya, Mas Dedi menyebutkan bahwa Karhutla di Indonesia dua tahun lalu adalah salah satu kebakaran yang begitu mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah, ada sekitar 1,6 juta hektar lahan hangus dilalap si jago merah. Sehingga tahun 2019 merupakan tahun terparah sejak bencana asap tahun 2015.

 Slide Power Point Dedi Sumara

Dampak Karhutla


Akibatnya, pemerintah Indonesia rutin menjadi sorotan masyarakat dunia karena tidak mampu menangani kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut, kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan lainnya. Sebab, Karhutla menjadikan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Kemarau panjang (El Nino) selalu dituding sebagai pemicu kebakaran. Namun, faktanya kebakaran terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa El Nino. Jadi, besar kemungkinan faktor lain lebih tepat dianggap sebagai penyebab dari Karhutla, salah satunya disebabkan oleh tangan jahil manusia.

Kebakaran berulang terus terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Tengah, Papua, dan seterusnya. Kebakaran ini terlihat berpola seperti ada unsur ketersengajaan di dalamnya. Sehingga Indonesia tidak putus-putusnya dengan persoalan Karhutla. Dampak yang ditimbulkannya juga beragam.
Slide Power Point Dedi Sumara

Dampak yang paling signifikan ialah hilangnya habitat dan penurunan populasi tumbuhan dan satwa liar. Sebab rumah yang menjadi tempat tiggal mereka musnah dibakar oleh kejahilan tangan manusia. Mau tidak mau, satwa liar yang masih tersisa dan mikroorganisme di dalamnya harus berpindah mencari habitat baru. Inilah awal dari pemicu adanya wabah yang kemudian menjadi pandemi. Untuk penjelasan tentang hal ini akan disampaikan oleh pemateri yang kedua.

Selain itu, dampak Karhutla juga mempengaruhi kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Masih ingat tentang kabut asap yang sering diberitakan televise? Di mana untuk mengantisipasi gangguan kesehatan, anak-anak usia sekolah terpaksa harus diliburkan. Penerbangan harus ditunda, dan tranportasi jenis apa pun terganggu akibat kabut asap dari Karhutla.

Pemanasan global dan perubahan iklim pun terjadi. Bahkan kerugian Indonesia akibat dampak Karhutla sepanjang tahun 2019 ini, mencapai US$5,2 miliar atau setara dengan Rp72,95. Nah, sebegitu besarnya dampak dari Karhutla ini.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah Karhutla berlanjut?

1. Memperluas moratorium hutan dan gambut

2. Meningkatkan Pengeakan Hukum

3. Restorasi Hutan dan gambut terdegradasi

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastrukur hidrologis dan mendorong kapasitas respons dini

6. Memberi isentif ekonomi untuk tidak membakar hutan dan lahan

Kenapa Muncul Pandemi?

Mungkin banyak yang masih bertanya apa hubungan pandemi dengan kebakaran hutan dan lahan? Bukankah pandemi yang kita ketahui sekarang disebabkan oleh Corona Virus (Covid) 19? Lantas bagaimana Karhutla bisa memicu munculnya pandemi seperti sekarang ini?

Penjelasan bagian ini disampaikan oleh dr. Alfi Murdani selaku Direkrtur Yayasan Asri Indonesia. Lebih lanjut ia menjelaskan tentang Penyakit Zoonosis karena Deforestasi.
Slide Power Point dr. Alvi Murdani

Zoonesis muncul ketika area hutan berubah menjadi lahan tidak berhutan secara permanen yang diperuntukkan sebagai aktivitas manusia. Istilah ini disebut dengan deforestasi. Ketika terjadi deforestasi, beberapa spesies menurun, bahkan punah. Namun ada juga yang bertahan dan beradaptasi. Spesies yang beradaptasi inilah yang meningkatkan risiko penyakit zoonosis.

Hampir penyakit infeksi baru merupakan zoonosis yang awalnya berasal dari hewan, kemudian berpindah kepada manusia yang disebut sebagai wabah. Selanjutnya penyakit tersebut dari manusia berpindah ke manusia lainnya yang meningkatkan potensi pandemi.

Misalnya saja Human immunodeficiency virus (HIV) yang begitu meresahkan karena belum ditemukan obatnya, ternyata pemicunya berasal dari seokor kera. Virus ini pertama kali muncul di Afrika, di mana masyarakat di sini memburu kera yang kemudian dimakan dagingnya. Kemudian virus yang ada ditubuh kera tersebut berpindah ke manusia yang kemudian ditularkan ke manusia lainnya.

Begitu pula dengan virus nipah yang muncul di awal 1998, awalnya berasal dari air liur kelelawar buah yang hidup di kawasan Asia Tenggara. Akibat deforestasi yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan memunculkan kabut asap yang begitu tebal. Hal ini rupanya mengganggu habitat kelelawar buah. sehingga menginfeksi buah-buahan,

Di tubuh kelelawar memiliki banyak patogen (agen penyebab infeksi virus), tapi ia dibekali dengan sistem imun yang kuat. Meskipun di tubuhnya tidak berefek apa-apa, tapi akan berbahaya bagi makhluk lainnya bila patogen di tubuh kelelawar berpindah. Tambahnya lagi, kelelawar merupakan mamalia yang bisa terbang, sehingga perpindahan kelelawar tersebut akan berdampak pada spesies yang diinfeksinya.

Dampak dari virus nipah mengakibatkan kematian mencapai angka 75% kasus. Di Malaysia infeksi virus nipah disebabkan oleh kontak langsung manusia dengan babi atau jaringan yang terkontaminasi. Sedangkan di Bangladesh, wabah ini timbul dari konsumsi liur dan kencing kelelawar.

Selanjutnya ada Yellow Fever yang terjadi pada tahun 1990 di Amerika Selatan. Virus ini bermula dari tubuh primata yang ditranmisikan oleh nyamuk sebagai vektornya. Pada saat itu, ada sekitar 200.000 orang yang terjangkit virus ini, 1/3nya meninggal dunia, terutama di bagian Afrika Barat.

Kemudian di tahun 2016 dan 2018, wabah ini pun berulang di Amerika Selatan. Ada sekitar 2000 kasus yng terinfeksi virus ini dan rutusan orang meninggal akibatnya. Berdasarkan penelitian, kedua kasus tersebut disebabkan karena habitat hewan liar terganggu karena lahan tempat tinggalnya menyempit. Akibatnya hewan-hewan liar akan mencari makanan ke permukiman warga. Jika manusia kontak degan hewan liar, maka akan semakin tinggi terjadi risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Kontak yang dimaksud bukan saja bersentuhan langsung dengan hewan liar, tapi bisa lewat gigitan nyamuk atau makanan yang diinfeksi oleh hewan yang membawa patogen tersebut.
Slide Power Point dr. Alvi Murdani

Terlalu banyak penyakit yang disebabkan oleh Zoonesis ini. Bahkan dua tahun ini yang paling gempar dan menjadi pandemi dunia ialah Virus Corona. Menurut dr. Alvi asal Covid-19 memang belum ditemukan secara pasti, tapi besar kemungkinan penyebabnya dari Pangolin, hewan yang mirip trenggiling.

Di Malaysia dan Vietnam hewan ini diimpor secara illegal untuk dimanfaatkan daging, kulit, dan sisiknya. Bila hewan ini bersinggungan erat dengan manusia bahkan dijadikan sebagai bahan makanan, maka akan berpotensi menyebabkan zoonosis.

Jadi, dapat diimpulkan bahwa deforestasi hutan yang menimbulkan kebakaran hutan dan lahan telah menjadi faktor utama pemicu penyakit zoonosis. Bila ini berlanjut maka akan menjadi wabah dan pandemi.

Cara untuk mencegah pandemi ada dua, pertama mencegah wabah dengan membiarkan bakteri atau virus berada di habitatnya. Kedua, mencegah pandemi itu sendiri agar penyakit yang mewabah tidak menular kepada orang lain yang berpotensi mengakibatkan pandemi.

Oleh karena itu, ayo kembali berpikir ribuan kali ketika hendak merusak hutan atau membakarnya. Sebab, hilangnya rumah pada binatang atau spesies tertentu dapat memicu pandemic seperti saat ini. Bila kita merusak hutan dan lahan, maka bersiaplah menerima konsekuensinya diserang penyakit zoonosis karena antara Kar
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

20 komentar:

  1. Ya Allah,baru sadar saya. Ternyata ada hubungannya ya berkurangnya hutan sebagai habitat hewan dengan kemunculan berbagai macam penyakit. Kayaknya ini fakta yang nggak banyak orang tahu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar Mba. bila habitat hewan liar terusik, akhirnya juga mengusik kehidupan manusia, seperti sekarang ini.

      Hapus
  2. Bravo Eco Blogger Squad!
    Mantab banget istiqomah menggali pengetahuan seputar isu lingkungan, ya.
    Apalagi disampaikan oleh para pakarnya.

    temanya juga super relatable, lah Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Cegah Pandemi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga semakin banyak lagi tulisan tentang isu lingkungan ini, jadi semakin banyak yang tahu bagaimana menjaga alam dengan baik dan benar.

      Hapus
  3. Menurutku relate banget sih klo pandemi dengan akibat tindakan manusia pada alam, n g sekedar pandemi aja, banyak permasalahan alam yang terjadj karena ulah manusia, emang kita perlu lebih bijak bersikap sama alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, benar. Semua tergantung manusianya bagaimana memperlakukan alam ini.

      Hapus
  4. Sayangnya sering nyeselnya belakangan ya, Kak...seperti kejadian berbagai penyakit yang timbul akibat merusak hutan atau membakarnya. Maka sebelum kejadian lain bermunculan kita mesti lebih peduli. Kalau tidak mau menerima konsekuensi diserang penyakit zoonosis ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah manusia Mba, sadarnya ketika sudah ada dampaknya. Semoga ke depan kita semua bisa lebih baik lagi dalam menjaga alam.

      Hapus
  5. Asli aku juga rindu kak event-event blogger yang offline, bisa ketemu, makan bareng, seru2an bareng. Tapi yaa mogimana lagi kan yaa, pandemi belum juga pergi huhu.

    Iyaa, kak aku ngerasain banget bukan hanya pandemi yang diakibatkan oleh kerusakan liingkungan seperti kebakaran hutan tapi juga banyak. Aku yg tinggal di kalimantan ngerasain betul, kayak asap, banjir, pemanasan suhu. Sediihhh, yuk ah sebagai generasi baru kita sama2 kembalikan hutan dan cegah kebakaran hutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pandemi ini cepat berlalu ya Mba, dan moga kita bisa jumpa dalam satu event, hehehe.

      Hapus
  6. alam selalu menyediakan apa yang kita butuhkan setiap saat, tapi kalau manusia suka merusak dan mengeksploitasi seenaknya jangan salahkan alam kalo balik murka ke manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sekarang alam sedang murka dengan adanya pandemi ini. Semoga kita semua insaf dan sadar akan semua kejadian ini, sehingga ke depan kita menjadi manusia yang lebih baik menjaga alam dan lingkungan.

      Hapus
  7. Ya begitulah manusai, seakan ga ada habisnya menggunduli hutan. Akibatnya datang bencana banjir, ada juga kebakaran hutan dll. Berbagai penyakit pun menghampiri duuuuh menyeramkan sekali. Ternyata ada hubungannya ya antara pandemi dengan kejadian alam yang disebabkan oleh manusia. Mesti berbenah diri nih. TFS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, semoga Pandemi ini benar-benar menjadi pelajaran buat kita semua agar lebih berhati-hati lagi dalam mengelola hutan, jangan sampai akhirnya dirusak karena ingin memanfaatkannya.

      Hapus
  8. Informasi yang menarik sekali, menjadikan pengetahuan baru mengenai sejarah penyakit dan bagaimana prosesnya mengapa bisa sampai ke manusia.
    Ya semoga pandemi segera berlalu, dan manusia segera disadarkan dengan keharusan dalam melestarikan hutan.

    BalasHapus
  9. Sedih sekali tiap baca berita tetang kebakaran hutan
    Dan ternyata kebakaran hutan ini berefek panjang pada kehidupan kita juga
    Termasuk salah satunya pandemi yang kita alami bersama ini
    Suka gak suka kita harus mengakui pandemi ini hadir karena ulah kita sendiri juga

    BalasHapus
  10. Nggak menyangka deh kalau penyakit dari hewan ini ternyata ada andil manusia juga di dalamnya karena merusak lingkungan termasuk hutan ya.. Beneran deh apa yang kita tabur, kita tuai sekarang...

    BalasHapus
  11. Hmm iya ya kalau dipikir lebih runut dengan pola pikir yang terpetakan. Bakalan ketemu bahwa sejatinya apapun yang terjadi di dunia tidak lain karena ulah manusianya sendiri

    BalasHapus
  12. Memang miris menyaksikan kebakaran hutan baik yang terjadi karena iklim maupun ulah tangan manusia. Ya faktor iklim pun sebenarnya juga akibat perilaku manusia yang berlebihan dalam mengeksploitasi alam. Ga heran kalau virus zoonosis yg tadinya ada di hewan jadi berpindah ke tubuh manusia kayak sekarang. Mereka butuh inang baru buat bertahan. Sayangnya kita masih memandang hutan sebagai bagian pasif dalam berbagai penyakit berbahaya di dunia. Syukurlah makin banyak organisasi yang peduli hutan, moga makin dapat dukungan dari masyarakat utk sama-sama melestarikan hutan sebagai ikhtiar melestarikan kehidupan kita sendiri.

    BalasHapus
  13. Bagus banget artikelnya mba, kayaknya semua cycling dlm ekologi kita saling terstruktur deh,, elnino adalah salah satu faktor yg sudah lama telah ada, lah pandemi skrg. Mudah2an kita semua diberi kesehatan.

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !