Mi Aceh, Makanan Favorit yang Melegenda di Kotaku

Tampilan Mi Aceh basah.
Sumber foto dokumen pribadi.


Siapa yang tidak kenal dengan mi Aceh? Makanan yang melegenda dari Tanah Rencong ini menjadi incaran favorit bagi setiap pelancong yang datang ke Aceh. Rasa pedasnya yang gurih dan nikmat, dipadukan dengan bumbu yang khas memperkuat rasa bagi siapa saja yang menikmatinya.

Namun, jika di Aceh tidak disebut lagi dengan mi Aceh, karena bila memesan mi di lapak penjual mi di Aceh, sudah tentu barangnya mi Aceh. Penyebutan mi Aceh hanya untuk mereka yang membuka usaha jual mi Aceh di luar Aceh, seperti Mi Aceh Titi Bobrok di Kota Medan atau Mi Aceh Seulawah di Malaysia.

Bila ada yang memesan mi Aceh saat hendak makan mi di lapak penjual mi di Aceh, bisa dipastikan itu adalah tamu. Sebab, hanya tamu yang menggunakan penyebutan tersebut. Kalau orang Aceh memesan mi tanpa harus menyebutkan lagi mi Aceh karena hampir setiap kota hingga pelosok desa di Aceh terdapat warung penjual mi Aceh. Hanya saja tidak lagi diberi nama Mi Aceh, tapi dengan nama penjualnya seperti Mi Ayah, Mi Midi, Mi Razali, Mi Abi, dan sebagainya.

Bentuk lapak penjual Mi Aceh sangat khas seperti Mie Abi yang berada di Gampong Peulanggahan, Kutaraja, Kota Banda Aceh ini. Sumber foto dokumen pribadi.


Lantas, apa yang menjadi ciri khas dari mi Aceh? Salah satu ciri khas dari mi Aceh ialah terletak pada penggunaan bumbunya yang kental karena dirancik menggunakan bumbu rempah. Adapun bumbu rempah yang digunakan seperti, cabai, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, jahe, dan rempah-rempah lainnya. Semua bumbu tersebut dihaluskan hingga bewarna merah menyala.

Sebagian orang ada yang menyebut kelezatan bumbu mi Aceh, karena ditambahkan biji ganja di dalamnya sehingga rasanya begitu khas dan nikmat. Namun, ini cuma orang tertentu saja menggunakan resep seperti itu. Memang dulu masyarakat Aceh sering menggunakan biji ganja yang disebut sebagai lada Aceh untuk pemberi rasa nikmat dalam makanan berkuah. Akan tetapi sekarang sudah jarang yang menggunakan biji ganja karena satu dan lain hal. 

Jadi. bila kamu ingin makan mi Aceh di Aceh tetap aman tanpa ada penggunaan biji ganja. Namun, bila kamu tetap penasaran bagaimana rasa mi Aceh yang menggunakan biji ganja, juga ada kok di warung tertentu dengan kode tertentu pula.

Sebenarnya bumbu dengan berbagai macam rempah inilah yang membawa citra rasa unik dalam mi Aceh, sehingga oleh pelaku UMKM di Aceh dibuatlah bumbu mi Aceh dalam bentuk kemasan.Tentunya ini tidak menggunakan biji ganja seperti yang dipikirkan orang-orang. Hanya bumbu rempah dihaluskan menjadi bumbu warna merah menyala sebagaimana ciri khas bumbu mi Aceh. Jadi, bagi siapa saja yang ingin memasak sendiri mi Aceh, bisa menggunakan bumbu kemasan tersebut.

Bumbu mi Aceh dalam kemasan.
Sumber foto dari Bumbu Mie Aceh



Selain itu, penggunaan mi yang digunakan untuk mi Aceh juga berbeda dengan mi pada umumnya. Mi yang digunakan untuk membuat mi Aceh hanyalah jenis mi kuning dengan tekstur lembut dan ukurannya lebih besar dibandingkan mi telur. Sebab, mi jenis seperti ini tidak mudah lembek meskipun dimasak dengan penambahan air atau kuah.

Asal Mula Mi Aceh


Tidak ada lietarur yang menjelaskan tentang asal mula dari mi Aceh. Namun, masyarakat Aceh meyakini bahwa mi Aceh sudah ada sejak lama, bahkan sejak zaman kejayaan kesultanan Aceh. Kebiasaan masyarakat Aceh menggunakan masakan berbumbu rempah juga berpengaruh pada jenis mi yang disajikan. Apalagi dulunya Aceh dikenal sebagai daerah penghasil sumber rempah-rempah sehingga Aceh banyak didatangi oleh bangsa asing melalui jalur rempah.

Berbagai bangsa asing seperti Arab, cina, India, dan Eropa pernah datang ke Aceh dalam misi dagang. Kehadiran pedagang antarbangsa ini memiliki peranan penting terhadap perkembangan budaya pada masyarakat Aceh, termasuk dari segi makanannya. Sebab, adanya komoditi rempah yang berasal dari Aceh menjadikannya dulu sebagai rute perdagangan masa lampau sehingga munculah asimilasi budaya yang mempengaruhi masakan Aceh.

Mi Aceh yang dipadukan dengan kepiting.
Sumber foto dokumen pribadi.

Kuah mi Aceh yang kental seperti kari tidak terlepas dari pengaruh masakan India. Konon dulu katanya pernah orang India bekerja sebagai juru masak di kesultanan Aceh. Ciri khas masakan India yang menggunakan paduan rempah dan bumbu yang banyak seperti kuah kari mempengaruhi masakan Aceh kala itu. Sebab, baik dari pihak Kesultanan Aceh maupun masyarakat biasa menyukai masakan seperti itu, hingga akhirnya keterusan sampai sekarang.

Sedangkan untuk penggunaan mi sendiri berasal dari masakan Cina atau Tiongkok yang dipopulerkan oleh pedagang Cina yang datang ke Aceh. Hanya saja bentuk dari mi di Aceh sudah berasimilasi dengan budaya lokal sehingga bentuknya seperti yang terlihat di mi Aceh sekarang.

Mi kuning yang digunakan untuk membuat mi Aceh.
Sumber foto dari cibuka.com

Dalam penyajiannya, mi Aceh biasanya ditambahkan dengan irisan daging sapi atau kambing yang menjadi ciri khas masakan Aceh. Sebab dua jenis daging ini, selalu ada di hidangan masyarakat Aceh dalam menyambut hari-hari besar Islam, seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, acara maulid Nabi Muhammad saw, dan dalam beberapa kenduri besar di Aceh.

Selain daging, mi Aceh juga disajikan dengan berbagai jenis seafood seperti udang, kepiting, cumi, dan berbagai jenis ikan seperti ikan tongkol (ungkot sure sebutan orang Aceh). Hal ini karena Aceh daerah bahari yang mempunyai kekayaan hewan laut, sehingga mudah ditemukan jenis makanan seafood.

Jenis Mi Aceh


Ada dua jenis model penyajian mi Aceh, yaitu dalam bentuk kering dan basah. Penyajian mi Aceh kering disebut juga sebagai mi Aceh tumis karena memasaknya dengan cara menumis. Saat memasak mi, air yang dimasukkan hanya sedikit sehingga terlihat kering. Rupanya memasak dengan cara seperti ini justru membuat citra rasa mi Aceh semakin kuat karena bumbunya meresap ke dalam mi kuning tersebut.

Sedangkan jenis penyajian mi Aceh basah menggunakan air sedikit lebih banyak saat proses menumis bumbunya. Jadi lebih menyerupai mi tumis yang ada kuahnya. Kalau orang Aceh menyebutnya kuah becek karena kuahnya terlihat sedikit yang menyatu dalam balutan mi.

Untuk toping pelengkap dari mi Aceh ini ditambahkan kerupuk emping atau muling sebutan orang Aceh. Kerupuk ini merupakan kerupuk khas yang wajib ada di setiap hidangan masakan Aceh. Namun, bagi yang tidak menyukai kerupuk muling bisa juga menggunakan jenis kerupuk lain.

Ciri khas lainnya lagi dari penyajian mi Aceh ialah adanya taburan bawang merah cincang. Biasanya penjual mi memang sudah menyediakan irisan bawang merah yang dicincang halus dalam sebuah toples yang dicampur dengan air dan cabe rawit utuh. Jadi, saat akan menyajikan mi Aceh baik dalam piring atau bungkusan, penjual hanya menambahkan sedikit di atas mi Aceh irisan bawang tersebut, mirip seperti menambahkan sambal hijau pada masakan nasi padang.

Begini tampilan mi Aceh bila dibungkus untuk dimakan di rumah yang selalu menggunkan alas daun pisang. Sumber foto dokumen pribadi.


Toping pelengkap lainnya yaitu, irisan mentimun dan jeruk nipis yang dilitekkan di piring kecil terpisah dari mie Aceh. Namun, bila mi Aceh yang kita pesan untuk dibawa pulang atau dibungkus, semua toping pelengkap itu dimasukan dalam bungkusan mi yang dialas menggunakan daun pisang. Inilah yang menjadi ciri khas lainnya dari mi Aceh karena setiap penyajiannya diberikan alas daun pisang untuk penguat aroma.

Untuk satu porsi mi Aceh dijual mulai dari harga lima ribuan dan ada yang sampai lima puluh ribuan. Tergantung apa yang menjadi isi dalam mi Aceh tersebut. Aku pernah membeli mi Aceh yang harganya lima ribu satu bungkus, isinya hanya mi saja dan toping pelengkapnya. Namun, aku juga pernah memesan mi Aceh isi kepiting, dengan harga Rp56.000 satu porsinya. Sebab, dalam mi Aceh tersebut ada 1 kg kepiting seharga Rp50.000 per kg-nya.

Makan mi Aceh kepiting bareng teman-teman lebih seru. 
Sumber foto dokumen pribadi.

Dan bila kamu datang ke kotaku, Aceh, maka tidak perlu khawatir untuk mencari mi Aceh karena hampir semua warung di Aceh menyediakan mi Aceh. Hanya saja tinggal pilih mau yang kering atau yang basah, mau isinya kepiting, udang, daging, atau minya saja. Sebab semua tergantung selera dan isi kantong.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Universitas EsaUnggul. Bagi yang ingin ikut berpartisipasi dalam lomba blog EsaUnggul, yuk langsung aja tulis aja ceritamu dengan tema Ini Kebanggaan Kota Ku

Kalau aku, Mi Aceh yang menjadi makanan favorit di Kotaku, kalau kamu?

#inikotaku #esaunggul
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !