Selimut Polusi dan Keresahan Para Emak-emak

Rabu, Oktober 26, 2022 0 Comments A+ a-

Cucian menumpuk karena cuacanya buruk

Ngerasa gak, sepertinya cuaca sedang mempermainkan penduduk bumi. Sebentar panas terus hujan, panas lagi, eh diguyur hujan lagi. Cuaca seperti ini sangat meresahkan emak-emak kerena cucian menumpuk, baju yang sudah dicuci pun gak kering-kering. Bahkan yang udah hampir kering pun jadi basah lagi karena diguyur hujan tiba-tiba. Huuuh, sakit hati gak tuh?

Itulah yang aku rasakan beberapa hari terakhir di Banda Aceh ini. Matahari bersinar tak menentu kayak hidup segan mati tak mau. Aku yang ngebet pengen nyuci karena cucian sudah menggunung harus bolak-balik angkat jemuran, lantaran matahari bersinar, lalu redup terus hujan. Terhitung 4-5 kali aku mengangkat dan menjemur kain dalam sehari.

Awalnya langit terlihat cerah, tiba-tiba saja mulai gelap terus hujan. Aku buru-buru mengangkat jemuran, takut kain yang sudah dijemur basah lagi, belum habis jemuran diangkat, eh udah cerah lagi. Bahkan sempat aku hitung, cuaca bisa berubah setiap 10 menit sekali. Bingungkan jadinya, kok bisa begitu ya cuaca sekarang ini?

Usut demi usut, ternyata bumi kita sedang ditutupi oleh selimut polusi. Aku baru tahu saat mengikuti online gathering Eco Blogger Squad pada Selasa, 18 Oktober 2022. Tema yang diangkat kali ini tentang Transmisi Energi dan Selimut Polusi yang disampaikan oleh Fariz Panghegar, Manager Riset Traction Energy Asia.


Bagaimana Selimut Polusi Itu?

Selimut polusi muncul karena aktivitas manusia yang mencemari bumi. Hasil dari asap kendaraan bermotor, pembangkit energi listrik berbahan batubara, kebakaran hutan dan lahan yang polutannya membentuk sebuah selimut yang menutupi bumi sehingga peningkatan gas rumah kaca (Penebalan selimut bumi).

Padahal sebenarnya gas rumah kaca inilah yang menjadi selimut bumi secara alami sehingga menjadi hangat. Jika tidak ada gas rumah kaca kita kedinginan dong, tapi kalau terlalu banyak bisa menyebabkan efek rumah kaca. Selain itu, juga berdampak pada perubahan iklim. Jadi, cuacanya sulit diprediksi seperti sekarang ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bahwa bencana terkait efek rumah kaca adalah bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Diantaranya yaitu banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim, dan juga kebakaran hutan, bahkan di daerah-daerah tertentu mengalami kekeringan yang mengakibatkan gagal panen.


Lantas kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi selimut polusi? Terutama untuk emak-emak ini yang merepet karena cuaca gak menentu. Daripada mengeluh dan ngomel, yuk lakukan aksi sederhana penyelamatan bumi dengan cara-cara berikut.

1. Terlibat dalam pengumpulan limbah rumah tangga untuk bahan baku energi non fosil (biodiesel dan biogas)

Nah, Emak-emak bisa mengumpulkan minyak jelantah alias minyak sisa untuk dijadikan biodiesel. Bagaimana caranya? Bisa searching sendiri di internet inovasi minyak jelantah yang bisa diolah sesuai kebutuhan. Berikut beberapa inovasi biodiesel dari minyak jelantah yang sudah berhasil dikembangkan.


2. Ceritakan praktik baik inovasi pemanfaatan energi terbarukan/non fosil. Nah, di sini Emak-emak bisa sharing baik ke tetangga maupun ke sosial media tentang kegiatan pemanfaatan energi terbarukan. Misalnya emak sudah menggunakan panel surya di rumah untuk kebutuhan energi listriknya. Atau paling sederhananya bisa ceritakan tentang pengalaman emak menggunakan transportasi umum ketika berpergian, sehingga membantu pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor berkurang.


3. Menghemat penggunaan listrik. Meskipun listrik tidak menghasilkan asap dalam penggunaannya, tapi energi listrik yang kita gunakan itu sumber dari pembakaran batu bara. Nah, asap dari pembakaran batu bara inilah yang menjadi polusi. Jadi, kita jangan boros menggunakan listrik, semakin banyak kita menggunakan listrik, semakin banyak batu bara yang dibakar, artinya semakin banyak polusi yang dihasilkan.

4. Mengampanyekan penggunaan produk energi terbarukan. Salah satu yang bisa dilakukan ialah seperti saya ini, menulis tentang betapa pentingnya kita melakukan transisi energi ke energi terbarukan.

Transisi energi upaya pengurangan penggunaan energi fosil ke energi non-fosil karena energi non fosil karena lebih rendah emisnya dan menghindari efek rumah kaca. Khususnya di sektor transportasi dan listrik. Dengan begitu kita bisa membantu mengurangi selimut polusi yang menutupi bumi, bahkan bisa mengikisnya karena sumber polusi berkurang.

Jadi, emak-emak jangan sekadar resah saja melihat keadaan bumi yang ditutupi dengan selimut polusi. Ayo lakukan gerakan sederhana dalam upaya pengikisan selimut polusi. Memang terlihat kecil, tapi bila dilakukan bersama akan berdampak besar ke depannya.