Belajar dari Pengalaman Terburuk, Kita Bersama Melangkah Lebih Baik



Akumulasi kesedihan dan kemarahan memuncak di dalam jiwa, saat aku mengetahui mobil ayahku terpaksa dijual demi melunasi kredit di bank. Padahal mobil itu adalah sumber mata pencaharian ayahku satu-satunya. Terjualnya mobil itu berarti hilanglah pekerjaan ayahku. Ia akhirnya pensiun dini setelah berpuluh-puluh tahun berprofesi sebagai sopir angkutan umum. 

Resah menggelantung dalam benakku. Sebab, ada kredit di bank lain yang juga sudah menunggak pembayarannya. Sedangkan kami terjepit dalam situasi yang sangat sulit, di mana saat itu usaha orang tuaku kolaps dan kami terus didesak untuk membayar utang tersebut. Bagaimana mungkin orang tuaku bisa membayarnya dalam situasi yang penuh tekanan seperti itu? 

Untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja susah, apalagi untuk membayar utang. Terlebih usia yang tak muda lagi membuat ayahku kesulitan mencari pekerjaan. Sedangkan ibu, berusaha semampu mungkin membuka jasa jahitan dan berjualan pisang goreng di depan rumah demi tetap mengepulnya asap dapur. 

Akhirnya terpaksa tanggung jawab itu kuletakkan dipundakku. Padahal saat itu, aku belum mempunyai pekerjaan tetap yang bisa menggajiku. Hanya dengan menulislah kadang aku mendapatkan pemasukan, entah itu hadiah menang lomba menulis, honor tulisan di media, atau pun reward yang kudapat dari menulis di steemit. Namun, aku berani lebih baik dengan menjadi penjamin dari semua utang orang tuaku. 

Ilustrasi; utang menumpuk

Hal pertama yang aku lakukan ialah mendata berapa jumlah utang orang tuaku di bank. Kemudian memprioritaskan kredit mana yang harus dilunasi terlebih dahulu. Setelah mengetahui jumlahnya, aku meminta tenggat waktu untuk bisa melunasi semuanya. Memang terlihat mustahil aku melunasinya degan kondisiku saat itu. Namun, aku yakin Allah swt pasti tunjukkan jalan bagi orang yang mau berusaha. 

Beruntung aku mempunyai teman-teman yang begitu loyal padaku. Ketika mereka mengetahui kondisi orang tuaku saat itu, mereka membantu semampunya dengan meminjamkan uang tanpa harus ada jaminan apapun dan tenggat waktu. Kapan ada kemudahan bagiku mengembalikannya, maka aku bayar. Utang orang tuaku di bank pun akhirnya terbayar. Alhamdullilah, dua tahun setelah kejadian yang memilukan itu, aku bisa mengembalikan utang kepada teman-temanku. Kecuali pada satu teman yang kini telah berganti status menjadi suami. 

Cinta Harus Ikut Terlibat 


Itulah saat kondisi terburuk di dalam hidupku dan juga orang tuaku. Saat di mana orang tuaku harusnya menikmati hasil jerih payahnya bertahun-tahun, tapi terkuras untuk melunasi kredit di bank. Kondisi keuangan orang tuaku berada pada titik minus, padahal sebelumnya kami selalu berkecukupan. 

Dengan situasi seperti itu, aku mengira teman dekatku (kekasih) akan meninggalkanku. Siapa pula yang mau ikut berlumpur di tengah kubangan kemelaratan keluarga. Aku sengaja menceritakan semua masalah keluargaku supaya ia berpikir ulang untuk melangkah bersamaku. Berharap ia akan mundur teratur sebelum lebih jauh masuk ke dalam masalahku. 

Rupanya, ia memilih untuk terus maju dan menerima semua kondisiku. Atas nama cinta ia ikut terlibat membersihkan kubangan lumpur kemelaratan itu. 

“Bukankah cinta harusnya memberikan rasa nyaman dan saling pengertian? Aku cukup mengerti dengan masalah keluargamu, maka izinkan aku ikut terlibat dalamnya,” lelaki itu menghapus air mataku yang sudah puluhan kali tumpah karena menahan luka. 

Bersamanyalah aku mencari solusi untuk membayar utang orang tuaku. Termasuk memberikan semua uang tabungannya untuk menutupi utang tersebut. Padahal, tabungan itu ialah bekalnya untuk melamarku, tapi ia relakan dipakai demi melunasi kredit orang tuaku. 

Laki-laki itu akhirnya menjadi suamiku

Kondisi ini tidak seharusnya terjadi bila orang tuaku mempunyai asuransi kredit dan penjaminan. Seperti halnya asuransi kredit dan penjaminan dari Tugu Insurance yang akan melindungi tertanggung apabila terjadi hal-hal buruk sehingga tidak mampu membayar pinjaman yang dimiliki. Dengan adanya asuransi ini akan memberikan jaminan perlindungan agar tertanggung tidak semakin dirugikan atas biaya-biaya yang ditimbulkan dari kemungkinan buruk tersebut. Namun, hal itu sudah terjadi. Aku jadikan sebagai pengalaman ke depan agar tidak terulang lagi kesalahan yang sama pada diriku dan keluarga baruku. 

Bersama Menjaga Masa Depan 


Belajar dari pengalaman buruk orang tuaku, aku dan suami mulai menata keuangan untuk menjaga masa depan. Kami tidak ingin kesalahan yang sama terjadi pada kami sehingga kami berkomimen untuk berani lebih baik. Hal pertama kami lakukan ialah membuat anggaran perencanaan belanja rumah tangga. 

Setiap kali menerima gaji bulanan, maka kami menganggarkan untuk sedekah 2,5%, untuk orang tua 7,5%, investasi 10%, membayar utang 30%, dan kebutuhan sehari-hari 60%. Persentase itu kami ambil dari total pemasukan setiap bulannya. 


Selain itu, kami juga memprioritaskan kebutuhan yang benar-benar diperlukan, bukan karena keinginan belaka. Sebisa mungkin kami hidup dengan gaya minimalis dan tidak menurutkan budaya konsumtif. Pasalnya dulu di keluarga orang tuaku, budaya konsumtif sangat kentara. 

Ibu sering melakukan kredit barang demi memuaskan kebutuhan konsumtifnya, seperti beli baju atau pun barang-barang yang dianggap sedang ngetrend. Hal itu karena budaya konsumtif di lingkungan tempat tinggalku sudah membudaya. Akibatnya banyak yang terlibat utang kredit baik itu di bank atau pun di tukang kredit. 

Aku tak ingin hal itu terjadi pada keluarga baruku yang baru jelang dua tahun berjalan. Sehingga untuk urusan keungan kami dinilai sedikit pelit karena tidak seperti yang dilakukan orang-orang di sekelilingku. Beruntung, pascamelahirkan kami pindah menyewa rumah sendiri dan mulai mengatur keuangan sendiri tanpa intervensi. 

Untuk ke depan kami mulai memikirkan perkara asuransi, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Selagi aku dan suami masih diberikan kesehatan dan kemampuan untuk bekerja, kami ingin menjaga masa depan dengan berinvestasi, salah satunya dengan membuat asuransi. 

Beberapa informasi terkait asuransi sudah kami ketahui dan pelajari. Namun, ada salah satu produk asuransi yang menurut kami cocok untuk keluarga kecil kami, yaitu asuransi korporasi dari Tugu Insurance yang memberikan jaminan perlindungan yang ditujukan untuk korporasi. 


Produk yang ditawarkan pun beragam, seperti asuransi energi, kebakaran dan properti, kelautan, penerbangan dan satelit, rekayasa, kredit dan penjaminan, aneka, dan kesehatan. 


Begitu pula dengan produk asuransi retail yang ditawarkan Insurance Tugu yang dapat melindungi berbagai aset berharga, seperti rumah, kendaraan bermotor, serta keselamatan diri. Tentu ini membuat sedikit lega bagi kita bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan adanya asuransi, kita berupaya bersama menjaga masa depan. 

SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

20 komentar:

  1. Kisah Mba Yelli sungguh menginspirasi. Insya Allah kehidupan rumah tangga kalian selalu dinaungi kebahagiaan oleh Yang Kuasa ya mba. Masya Allah, suaminya tulus banget. Kompak sekali kalian suami istri. Gak ada yang mubazir jika itu tujuannya berbakti pada orang tua mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba, semoga Allah memberkahi keluarga kecil kami. Saya sangat bersyukur diberikan pendamping yang mau menerima saya apa adanya. Berharap ke depan akan terus begitu untuk selamanya. Terima kasih atas doa dan supportnya mba.

      Hapus
  2. Setuju banget dengan keputusannya
    Punya polis asuransi bak menyiapkan parasut saat terjun payung
    Parasut yang harus dijaga, agar saat terjun parasut nya terbuka dan kita bisa landing dengan aman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, supaya nggak terjun bebas nanti ke jurang kemelaratan hehehe. Terima kasih mba sudah mampir.

      Hapus
  3. Pengalaman memang guru terbaik ya Mba, dan asuransi itu ibarat payung di saat kita kehujanan.

    Btw, ceritanya sangat menginspirasi Mba, jadi kangen ortu deh, insha Allah semua usaha Mba ke ortunya berbuah lebih banyak keberkahan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Apa yang saya lakukan ke orang tua nggak sebanding dengan apa yang telah dilakukan orang tua ke saya sejak kecil. Jadi, ini merupakan salah satu kewajiban anak untuk menyelamatkan orang tuanya. Alhamdulillah pasangan saya juga memahami prinsip tersebut.

      Hapus
  4. Jadi mbrebes mili baca postingan ini.
    Semoga mba Yelli dan keluarga makin berkaaahh, rezeki melimpah ruah ya
    Aku kangen bgt nih sama almarhum Ibu Bapakku.
    Makasiii artikelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, makasih doanya mba. Semoga ibu dan bapaknya Mba mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah, swt.

      Hapus
  5. Sungguh mulia hati suami kakak ya, mau membantu melunasi utang orang tua. Insyaallah Allah SWT akan menggantinya dengan rezeki yang lebih banyak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba, Allah pilihkan dia untukku.

      Hapus
  6. Salut banget ya dengan sosok kekasih yang mau ikut membantu kesulitan yang orang tua Mbak alami. Sedangkan yang sudah jadi mantu saja masih banyak yang masih mikir2 kalau mau bantu mertuanya tapi syukurlah masa pelik itu sudah terlewati dan Mbaknya juga sudah nikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba. Semua sudah berlalu dengan baik. Ujian itu telah menemukan aku dengan laki-laki yang terbaik.

      Hapus
  7. Menginspirasi tangguh di tengah perjuangan dan akhirnya semua bisa dilalui, selamat

    BalasHapus
  8. Sangat menginspirasi. Sekarang memang sudah saatnya untuk mengubah mindset. Sudah saatnya sejak dini mempersiapkan masa depan jauh lebih siap lagi. Siapin dana darurat dan kebutuhan mendadak lainnya juga sangat perlu dilakukan dan disadarkan sejak dini.

    Thanks for sharing mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Terima kasih sudah singgah dan membaca artikel ini. 😊

      Hapus
  9. Ikut haru bacanya. Sungguh beruntung, ternyata di tengah kesulitan kita jadi bisa melihat orang2 yg tulus ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, di situlah kita bisa melihat mana teman yang tulus mana teman yg hanya di waktu senang saja.

      Hapus
  10. sangat menyentuh dan menginspirasi bagaimana masa depan begitu tertata dengan baik.terima kasih mba atas sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2. Terima kasih sudah berkunjung ke rumah saya mba. 😊

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !