Kesadaran Kesehatan Jiwa Terganjal Stigma

Ilustrasi, Kesadaran Kesehatan Jiwa Terganjal Stigma

Saya bersyukur bisa melewati masa-masa sulit yang pernah membuat saya hampir mengalami depresi. Tepatnya tahun 2017, tahun saat saya selesai menamatkan kuliah profesi ners di Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Bukannya senang, justru saya dihadapkan dengan masalah keluarga yang cukup pelik. 

Orang tua saya mempunyai utang di beberapa bank dengan jumlah besar. Mobil yang biasanya digunakan ayah untuk menarik sewa, terpaksa harus dijual karena harus melunasi sebagian utang tersebut. 

Akibatnya ayah kehilangan pekerjaannya yang membuatnya semakin kalut. Rumah dan isinya juga terancam ditarik pihak bank, karena sudah beberapa kali mereka mendatangi rumah kami dan rumah adik ayah yang sertifikat tanahnya dijadikan sebagai angunan. 

Inilah yang menjadi puncak masalahnya ketika adik ayah meminta secara paksa kepada kami, untuk mengembalikan lagi surat tanahnya yang dijadikan sebagai angunan tersebut. Walau sudah dijelaskan bagaimana terpuruknya kondisi ekonomi keluarga kami, tapi dia tetap memaksanya. Terjadilah pertengkaran hebat antara ayah dan keluarga adiknya yang membuat suasana semakin kacau. 

Pertengkaran tidak bisa terelakan ketika adik ayah beserta keluarganya datang ke rumah dan memaki-maki ibu beserta seluruh keluarga kami, hingga kabar itu sampai juga ke telinga saya yang sedang berada di ibu kota. Akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang ke kampung dan menyelesaikan persoalan ini. 

Saya melihat kondisi ayah dan ibu yang begitu tertekan, sehingga sering kali saya mendapati mereka sedang menangis dalam tidur atau duduk sendirian dengan tatapan kosong. Saya berusaha untuk menghibur dan membangkitkan semangat mereka walau saya juga dalam keadaan tertekan. 

Akhirnya saya memberanikan diri menemui keluarga adik ayah untuk menyelesaikan perkara ini dengan cara baik-baik. Berbagai upatan saya dapati akibat emosi yang memuncak dari keluarga adik ayah. Mereka terus menyalahkan ayah dan ibu serta menjelek-jelekan mereka. Anak mana yang tidak sakit hatinya ketika orang tuanya dijelek-jelekan, tapi saya berusaha untuk diam karena senjata terbaik untuk melawan perang mulut adalah diam. 

Dalam hidup saya, inilah kali pertamanya saya dipaksa untuk bersikap dewasa dan belajar menahan emosi meskipun saya ikut disalahkan dalam perkara ini. Namun, saya teringat kalimat motivasi dalam buku yang pernah saya baca, “pelajaran terpenting tentang negosiasi dengan sekelompok orang yang berada di puncak emosi ialah menghindar dari sikap konfrontatif.” 

Mengaku salah jelas langkah terpenting, walau tetap menekankan diri bukan pelaku. Memastikan akan bertanggung jawab juga sangat esensial. Namun, tidak memberikan janji palsu dan jujur apa adanya. Akhirnya saya diberikan waktu selama empat bulan untuk mengembalikan sertifikat tanah tersebut dengan saya sebagai jaminannya. Tindakan ini nekat saya lakukan untuk menyelamatkan orang tua saya dari ancaman depresi. 

Selama empat bulan tersebut saya berusaha untuk mengumpulkan uang dari hasil menulis karena saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Jalan satu-satunya ialah dengan menulis di akun steemit yang saat itu penghasilannya lumayan. Namun, hingga sampai tenggat waktu yang ditetapkan, jumlah uang untuk mengambil sertifikat tanah tersebut belum juga terkumpul. 

Saya mencoba menjelaskan bagaimana kondisi saya kepada adik ayah dan keluarganya, tapi malah saya dituduh penipu. Bahkan saya terus-terusan ditelepon dan di SMS dengan kata-kata yang mengancam hingga mengganggu psikis saya. 

Pikiran saya sudah mulai kacau bahkan saya sering menangis dalam tidur dan mimpi buruk setiap malam. Hal itu sungguh menyakitkan yang membuat hidup saya dipenuhi rasa cemas dan ketakutan. 

Puncaknya ketika saya mengalami gatal-gatal seluruh tubuh di malam hari hingga membuat badan saya memerah yang menimbulkan bentol-bentol, tapi ketika pagi gejala tersebut menghilang. Saya merasa butuh pertolongan untuk memulihkan psikis saya dan akhirnya saya menemui psikolog untuk konsultasi mengenai masalah saya. 

**** 

Saya yakin, banyak orang di luar sana mengalami masalah seperti cerita saya di atas. Hal tersebut terbukti dari banyaknya orang yang menghubungi saya via Whatsapp setelah membaca kisah pilu tersebut dari blog pribadi saya yang berjudul Gatal-gatal Karena Beban Psikologis dan Kosultasi Gratis ke Psikolog RSUD ZA. 

Mereka mengaku mempunyai masalah yang kurang lebih sama seperti saya, tapi enggan untuk memeriksakan keadaan psikisnya dan meminta pertolongan kepada ahli kesehatan mental. Alasannya tidak lain karena takut dicap sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa ketika memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan mental. 

Itulah yang terjadi di lingkunganku, kesadaran akan kesehatan mental masih terganjal dengan stigma negatif yang ada di masyarakat. Maka banyak yang enggan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental ketika mengalami masalah psikis. Seperti salah seorang pembaca blogku yang mengaku dirinya sering mengalami emosi berlebih, bahkan tidak sanggup untuk mengontrolnya. 

Namun, dia takut memeriksakan kesehatan mentalnya karena stigma negatif yang datang dari keluarga. Dia khawatir bila mendatangi pelayanan kesehatan mental akan dicap sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa. 

Masyarakat kita masih terstigma dengan isu kesehatan mental sehingga terganggu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan mental. Walaupun kesadaran akan kesehatan mental sudah ada, tapi mereka enggan untuk mencari pertolongan. 

Hal tersebut dapat dilihat dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 tentang cakupan pengobatan penderita depresi yang mana hanya 9% yang melakukan pengobatan. Mereka beranggapan masalah kesehatan mental seperti stress, depresi, dan gangguan kecemasan adalah masalah sepele yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Padahal bila masalah tersebut dipendam dan dibiarkan akan berisiko mengalami gangguan kejiwaaan. 

Akibatnya Indonesia menjadi Negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan, apabila dilihat dari data Riskesdas 2013 hingga 2018 angka prevalensi gangguan mental meningkat hingga mencapai angka 9,8 dan menjadi angka tertinggi dalam sejarah modern kesehatan Indonesia. 

Masalah Kesehatan Jiwa di Indonesia Kebanyakan Berakahir di Rumah Sakit Jiwa

Dari beberapa orang yang menghubungiku menanyakan tentang pengalamanku mencari bantuan ke psikolog, tidak ada satu pun yang benar-benar mendatangi pelayanan kesehatan mental. Padahal mereka mempunyai masalah yang kurang lebih sama seperti yang kualami, tapi mereka memilih diam karena takut terstigma dengan orang-orang di sekitarnya. 

Wajar kalau psikolog yang dulu pernah menangani masalahku terkejut dan salut kepadaku karena berani mencari bantuan kesehatan mental atas kesadaran sendiri. Ini kali pertamanya pasien yang datang atas kemauan sendiri karena menurutnya, kebanyakan pasien yang ditangani merupakan pasien rujukan bahkan ada yang dipaksa datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental. Itu pun pihak keluarga merasa canggung karena malu ada anggota keluarganya yang mengalami masalalah kesehatan mental. 

Sulit memang menghapus stigma negatif tentang gangguan mental di masyarakat, tapi bila pelayanan kesehatan mental dipermudah dan terus disosialisasikan, maka kesehatan mental tidak dianggap sesuatu yang tabu dan harus ditutupi lagi. Orang-orang pun tidak merasa takut dan malu lagi mendatangi pelayanan kesehatan mental.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !