Kenali Jenis Alergi pada Bayi

 


Alergi? Tentu kata ini bukan sesuatu yang asing lagi terdengar bagi kita. Namun, bagaimana alergi ini terjadi pada bayi mungilmu yang baru beberapa hari atau beberapa bulan melihat dunia ini? 

Ibu mana yang tidak khawatir bila melihat bayinya ditumbuhi bintik-bintik merah di wajah dan di seluruh tubuh, atau menangis terus menerus karena sakit perut akibat kolik. Reaksi yang ditunjukkan bayi pun bermacam-macam dan ia hanya bisa mengomunikasikannya lewat tangisan. 

Mengenai alergi ini, aku mempunyai pengalaman ketika anaku, Cahya muncul bintik-bintik merah di wajahnya. Bintik-bintik ini bukan karena gigitan nyamuk, tapi karena alergi makanan. 



Aku mengingat-ingat kembali apa terakhir dimakan oleh Cahya, sebab sebelumnya tidak pernah kejadian seperti ini. Pikiranku langsung terpaku pada MPASI pabrikan rasa ayam bawang yang dikonsumsi Cahya. Memang saat itu kondisinya aku tidak sempat membuat MPASI rumahan karena sedang berada di rumah mertua yang kebetulan sedang ada kenduri pesta pernikahan adik Abah Cahya. Jadinya saat itu aku memberikan MPASI pabrikan dari merk yang biasa dikonsumsi Cahya. 

Namun, sebelumnya tidak ada reaksi apa-apa karena yang dikonsumsinya rasa beras merah dan kacang hijau. Entah kenapa saat itu aku ingin menggantinya dengan rasa ayam bawang, berharap Cahya lahap memakannya. Rupanya malah muncul bintik-bintik merah di wajah Cahya setelah dua kali memakan bubur MPASI tersebut. 

Usut demi usut, ternyata Abah Cahya juga mempunyai alergi ketika memakan yang banyak kandungan protein hewaninya, seperti ayam, udang, dan kerang. Kaki dan tubuhnya bisa muncul bintik-bintik merah ketika mengkonsumi makanan tersebut. Nah, alergi ini rupanya bisa diturunkan dari orang tua ke anakanya. 


Aku pun segera menghentikan memberi bubur MPASI dari pabrikan tersebut. Namun, bintik-bintik merah tidak juga menghilang, justru bertambah banyak. Kadang Cahya menggaruk-garuk mukanya karena gatal. 

Walaupun suhu tubuhnya stabil, tapi melihat kondisinya seperti itu membuat rasa khawatir kami bertambah. Terlebih abahnya Cahya karena dia bisa merasakan bagaimana ketika alergi tersebut menyerang tubuhnya. Kami pun segera membawa Cahya ke klinik bidan untuk memeriksakan kondisinya. 

Bidan yang bernama Yulisnaini itu terlihat kesal ketika aku menjelaskan bahwa Cahya diberi MPASI pabrikan. Ia menyarankan aku agar memasak MPASI sendiri dari bahan-bahan alami karena lebih sehat dan aman dari pengawet dan pewarna. 

Saat konsultasi dengan Bu bidan

Bidan yang juga menangani proses kelahiran Cahya ini tidak memberikan obat apa-apa, hanya menyarankan untuk menyetop pemberian MPASI pabrikan dan diganti dengan MPASI rumahan. Katanya alergi itu akan hilang sendirinya bila tidak ada lagi zat atau allergen yang menyebabkan alergi tersebut muncul. 

Sebab, kasus alergi yang terjadi pada bayi kebanyakan karena faktor makanan yang tidak tepat dan sehat. Oleh karena itu, setiap makanan yang diberikan kepada bayi harus dikontrol karena tubuh bayi belum membentuk antibodi secara sempurna. Seiring waktu hipersensitivitas pada bayi akan berkurang saat bertambah usia. 

Upaya Pencegahan Alergi 

Setelah kejadian alergi pada Cahya, aku pun sangat berhati-hati dalam memilih makanan yang diberikan kepada Cahya. Aku juga banyak membaca tentang informasi alergi agar bisa melakukan upaya pencegahan. 

Perlu diketahui ya para ibu, bahwa kebanyakan kasus alergi makanan dikarenakan sistem imun mengalami gangguan dan salah mengidentifikasi beberapa komponen makanan tertentu sebagai sesuatu yang berbahaya. 

Sistem imun tersebut akan memicu sel produsen untuk memproduksi antibodi dari jenis immunoglobin E untuk berhadapan dengan komponen-komponen makanan (alergen), berupa protein yang tidak rusak pada saat proses memasak dan tidak rusak ketika bereaksi dengan asam lambung. 

Akibatnya, alergen tersebut dapat melenggang mulus dalam tubuh, lalu masuk ke peredaran darah mencapai organ yang menjadi targetnya sehingga menimbulkan reaksi alergi. Reaksi yang muncul bisa cepat ataupun lambat. 



Oleh karena itu, perlu diketahui beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menghambat alergi tersebut. 

1. Usahakan menunda memberikan MPASI sampai usia bayi 6 bulan ke atas. Sebab, bayi muda sangat rentan terhadap alergen karena sistem oragannya yang belum berfungsi secara sempurna. 

2. Bila ingin memberikan jus pada bayi, sebaiknya hindari proses pemberian minuman jus dalam kemasan atau yang dijual di pasaran. 

3. Perlambat pemberian telur pada bayi. Sebaiknya jangan berikan telur utuh (putih dan kuningnya) sebelum bayi berusia 10 bulan. 

4. Mengatur pola makan bayi secara baik. Usahakan untuk makan pagi karena dari hasil penelitian menyebutkan bahwa anak yang makan pagi secara teratur lebih sedikit menderita alergi daripada yang tidak makan pagi. 

5. Berikan makanan dengan gizi seimbang, di antaranya berupa sayur, daging, telur, dan bahan-bahan lain. 

6. Pada anak orang tua alergi, maka akan mudah terkena alergi juga. Jadi, lebih baik sedini mungkin dilakukan pencegahan, bahkan sejak bayi di dalam kendungan sedapat mungkin ibu menghindari makanan yang bisa menyebabkan elergi. Perhatikan juga saat pembrian ASI dan pada masa awal pemberian MPASI. 

7. Hindarkan bayi dari binatang peliharaan, seperti kuncing, anjing, atau sejenisnya karena pada binatang tersebut sering kali terdapat bibit penyakit yang bisa menimbulkan alergi berbahaya bagi bayi. 

Nah, itulah sekelumit curhatanku tentang alergi pada bayi. Alangkah lebih baiknya para ibu dan calon ibu mengetahui tentang alergi pada bayi, apakah alergi makanan atau mungkin alergi lainnya. Lebih cepat tahu, maka kita bisa mengantisipasinya dengan sigap. 

Btw, bagimana denganmu? Pernah mengalami hal yang sama nggak sepertiku, mungkin ada pengalaman lainnya tentang alergi pada bayinya. Silakan berbagi pengalaman dengan menuliskannya di kolom komentar.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 komentar:

  1. dulu anak semata wayang sempat alergi laktosa, pada saat dia berumur 0 bulan-6 bulan, namun skg syukurlah sdh tidak ada lagi..worry juga pada saart itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, susah juga ya mba kalau alergi laktosa itu. Kudu hati2 benar kasih makanannya.Alhamdulillah,alerginya bisa hilang seiring bertambahnya usia.

      Hapus
  2. Alhamdulillah anak-anakku belum pernah mengalami alergi seperti yang mbak ceritakan. Syukurlah mbak Yeli sudah mengetahui penyebabnya, dan sudah melakukan penanganan yang tepat untuk putrinya. Semoga setelah ini tidak ada alergi, sehat selalu buat anandanya. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga saja ya mba. Memang kita harus ekstra hati2 kasih makanan kalau bayinya punya riwayat alergi.

      Hapus
  3. Syukurlah penyebab alergi Cahya cepet diketahui ya, Mbak. Anak saya dulu juga alergi ayam dan seafood. Jadi saya nggak bisa makan dua protein itu karena lewat ASI aja bisa bikin dia alergi. Alhamdulllah setelah lebih besar semakin kuat daya tahan tubuhnya alerginya berkurang dan hilang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya alerginya bisa hilang seiring waktu.

      Hapus
  4. Masya Allah Tabarakallah sehat dan soleh ya, Cahya
    Alergi perlu diwaspadai dan memang ada faktor genetik...
    Suamiku punya riwayat alergi, jadi deh kedua anakku sejak bayi rada-rada sama makanan...gejala yang serupa dengan Cahya. Si sulung lebih berat dari si bungsu/
    Agak gede, dibilang asma...kambuh berulang sampai stok obat dan nebulizer.
    Sekarang sudah kela X dan VI..Alhamdulillah dah sangat berkurang alerginya

    BalasHapus
  5. Syukurlah alerginya bisa hilang. Semoga ntar alergi Cahya juga hilang seiring bertambahnya usia.

    BalasHapus
  6. ya ampun cantiknya Cahya, pasti sedih banget lihat dia alergi
    sebaiknya emang MPASI diberikan yang bukan pabrikan mbak
    Anak anak saya juga sering rewel jika diberi MPASI pabrikan
    Alhamdulilah Cahya sudah sehat lagi, semoga semakin pintar ya

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !