4 Tantangan Saat Memulai MPASI Cahya

Baby Cahya Usia 6 Bulan

Senang, bahagia, khawatir, dan deg-degan bercampur aduk perasaanku saat Cahya mulai memasuki tahap makanan pendamping ASI (MPASI). Mungkin perasaan ini juga dirasakan oleh ibu-ibu muda lainnya saat memulai MPASI pertama bagi bayinya. 

Informasi seputar bahan MPASI, peralatan untuk membuat MPASI, bahkan hal apa saja mengenai MPASI menjadi topik yang menarik untuk dibaca dan dipelajari. Begitu juga dengan pengalaman orang lain, baik itu orang tua, saudara, dan teman-teman merupakan hal wajib untuk didengar. 

Aku mulai mengepoin beberapa akun Instagram yang membahas tentang MPASI, baik itu akun komunitas seperti @acehpeduliasi, @mpasi, dan beberapa influencer yang sering sharing seputar MPASI. 

Namun tahukah kamu kenyataannya di lapangan kadang jauh dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lihat dari beragai media informasi tersebut. Memang sih, ketika melihat video, membaca artikel, atau pun mendengar apa yang disampaikan oleh beberapa ahli mudah banget sepertinya memberikan MPASI tersebut. 

Nyatanya penuh berbagai tantangan dan drama. Berikut beberapa tantangan yang aku hadapi saat memulai MPASI Cahya. 

1. MPASI Sebelum 6 Bulan 

Cahya sebelum usia 6 bulan

Saat Cahya memasuki usia 4 bulan, ia sudah bisa menggenggam benda dan memasukkanya ke mulut. Setiap benda yang berhasil digapainya langsung di bawa ke dalam mulut, begitu juga dengan jari-jari tangannya sering kali diemut sambil digigit-gigitnya. 

Melihat Cahya melakukan hal itu, keluarga di sekelilingku terutama ibu menyarankan agar Cahya segera diberikan pisang atau roti. Mereka berpikir perilaku yang ditunjukkan Cahya menandakan ia lapar, padahal itu merupakan perilaku bayi saat usia tersebut. 

Untungnya aku tetap tegas untuk tidak memberikan Cahya makan sebelum usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI saja. Walaupun kadang di luar kendaliku ibu memberikan Cahya roti yang digunakan sebagai finger food. Padahal di usianya itu tidak seharusnya Cahya diberikan finger food. 

Kadang aku dan ibu sempat bersitegang mengenai hal ini. “Dulu tu, dari lahir sudah dikasih pisang. Sekarang harus ditunggu pula sampai 6 bulan,” ujar ibu. Tidak hanya ibu, beberapa kerabat ibu yang mempunyai pengalaman yang sama membenarkan hal itu. Bahkan ada yang menyarankan diberi air putih, madu, inilah, itu, dan lainnya. 


Alhamdulillah, aku sanggup juga menghadapi semua saran-saran tersebut. Tak apalah aku dikatakan pembangkang, asalkan bayiku bisa menyelesaikan ASI Ekslusifnya. 

2. MPASI Rumahan VS MPASI Pabrikan 

Saat pertama sekali memberikan MPASI, aku sempat dilema antara MPASI rumahan atau pabrikan? Ibu-ibu yang pro MPASI rumahan, menyarankan aku untuk memberikan MPASI rumahan karena lebih sehat, higenis, dan tentunya tidak mengandung pengawet, perasa, dan pemanis buatan seperti MPASI pabrikan. 

Namun, ibu-ibu yang pro akan MPASI pabrikan menyarankan aku untuk memilih memberikan Cahya MPASI pabrikan karena selain praktis, takaran gizinya sudah diatur sedemikian rupa sehingga nutrisi yang dibutuhkan bayi perharinya tercukupi. 

Aku pun jadi bingung memilih antara MPASI rumahan atau pabrikan. Setelah menimbang dan memutuskan akhirnya aku memilih MPASI rumahan. Nyatanya saat aku mulai memasak MPASI rumahan, tidak seperti yang dibayangkan. Apalagi saat memasaknya harus menggunakan api yang kecil supaya makanannya tidak gosong. 

Namun, bagi aku yang tidak begitu mahir dalam urusan masak memasak ini sangat merepotkan. Tambahnya lagi ketika Cahya tidak suka dengan masakan yang aku buat karena rasanya yang tidak menentu, akhirnya dia memilih menutup mulut dan tidak mau makan. 

Berbagai menu 4* MPASI Cahya
Empat hari pertama aku memberikannya MPASI rumahan, tapi kelihatannya tidak ada reaksi yang menyenangkan bagi Cahya saat ia makan. Ingin mencoba MPASI pabrikan, aku khawatir dengan adanya bahan pengawet, pemanis, pewarna buatan yang ada di dalam MPASI tersebut seperti yang disampaikan ibu-ibu pro MPASI rumahan. 

Aku pun mencari informasi tentang penggunaan MPASI pabrikan ini hingga sebuah video yang menjelaskan tentang MPASI rumahan VS MPASI pabrikan kutemukan. Akhirnya aku tercerahkan dengan video tersebut dan mencoba memberikan Cahya MPASI pabrikan. Ternyata dia suka dengan MPASI pabrikan. 


Simak Video Ini Bagi Ibu-ibu yang Khawatir dengan 
MPASI Pabrikan/MPASI Terforifikasi.
Sumber akun youtube; elmolen.

Sebenarnya MPASI pabrikan atau MPASI rumahan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya boleh diberikan secara bergantian supaya bayi tidak merasa bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Aku pun melakukan hal demikian tanpa harus merasa kebingungan lagi antara MPASI rumahan atau MPASI pabrikan. 

3. MPASI Tunggal VS MPASI Menu 4* 

Perkara beikutnya ialah antara MPASI tunggal dan MPASI Menu 4*. Memang benar WHO menyarankan agar bayi diberikan MPASI menu 4* yang terdiri atas karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur untuk mencukupi kebutuhan gizi perharinya. 

Namun, sayangnya tidak semua bayi suka dengan MPASI menu 4*, seperti Cahya misalnya. Saat hari pertama MPASI Cahya, aku memberikan menu 4* berupa kentang sebagai karbohidrat, kacang hijau sebagai protein nabatai, hati dan dada ayam sebagai protein hewani, dan bayam sebagai sayurnya. 

MPASI hari pertama Cahya

Saat pertama kali aku menyuapinya, Cahya mengernyitkan dahi sebagai respons tidak suka yang ditunjukkannya. Namun, ia masih penasaran dengan makanan tersebut dan membuka mulutnya, tapi setelah beberapa suap, Cahya merasa mual hingga aku menghentikan untuk memberikannya makan. 

Ketika tiba waktu makan berikutnya, ia pun tidak mau membuka mulut dan setiap MPASI menu 4* yang aku buat tersisa banyak tidak dimakannya. Bahkan sampai aku stress bagaimana caranya agar Cahya mau memakan MPASI rumahan. 

Sampai akhirnya salah satu temanku menyarankan Cahya diberikan MPASI tunggal. Aku pun memberikan Cahya nasi wortel ditambah sedikit buncis, kemudian nasi jagung kepadanya. Alhamdulillah, Cahya mau memakannya. 



4. Teori Tidak Selalu Sesuai dengan Kenyataan 

Pada akhirnya teori tidak selalu sesuai dengan kenyataan karena pengalaman setiap orang berbeda-beda. Memang bila kita lihat panduan teori bahwa MPASI terbaik ialah yang takaran gizinya cukup memenuhi kriteria MPASI 4*. Namun, tidak semua bayi berselera dengan menu 4*. 

Begitu pula dengan porsi makanan per harinya berdasarkan teori harus menghabiskan 250 ml atau 2-3 makan. Namun, tidak semua bayi bisa menghabiskan porsi sebanyak itu. Cahyaku hanya bisa menghabiskan makananya 1 sendok makan saja di awal MPASI nya. 

Awalnya aku sempat khawatir, kenapa Cahya tidak mau seperti yang disarankan teori. Kenapa ia lebih memilih MPASI tunggal bukan menu 4*, kenapa ia lebih suka MPASI pabrikan dari pada MPASI rumahan, dan mengapa makannya sedikit saja? Kalau begini bagaimana bisa naik berat badannya? 

Setelah aku renungkan, akhirnya aku sadar bahwa tidak semua teori bisa sesuai dengan kenyataan. Kita boleh saja memberikan apa yang disarankan pakar, tertulis di buku, diuji secara klinis tentang menu MPASI setiap bayi, tapi bayilah yang menentukan makanan mana yang disukai dan diminatinya. 

Nah, itulah beberapa pengalamanku ketika memulai MPASI yang menurutku tantangan dan harus diselesaikan dengan semangat dan berpikiran postif. Bagaimana dengan kamu, adakah juga menemukan tantangan saat memulai memberikan MPASI pada bayinya? Silakan berbagi pengalaman di kolom komentar.

Ini Pengalamanku Saat Pertama Kali Berbelanja dan Menyiapkan MPASI Cahaya.


SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

32 komentar:

  1. Kreatif sekali ini Bundanya Cahya...semangat persiapan MPASI nya warbiyasa.
    Dan setuju jika, kita boleh saja memberikan apa yang disarankan pakar, tertulis di buku, diuji secara klinis tentang menu MPASI setiap bayi, tapi bayilah yang menentukan makanan mana yang disukai dan diminatinya. Jadi enggak bisa dipukul rata. tetap sesuaikan dengan karakter bayi kita.
    Semoga sehat selalu ya Cahya!

    BalasHapus
  2. Amin, terima kasih ya Bunda Dian. :)

    BalasHapus
  3. Kalo kata dr Meta Hanindita MPASI pabrikan itu malah mengandung nutrisi yg dibutuhkan bayi/batita mba
    Semangaaattt, semoga si kecil senantiasa sehat yaaa, tumbuh jadi anak yg shalih(ah), baik hati, berbakti pd ortu yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar mba karena sudah terforifikasi takaran gizinya. Amin. Semoga doanya makbul. 🤗

      Hapus
  4. Ehmm.. Kayak bayiku yg nomor 2 nih udah punya selera sendiri. Klo dia gak mau ya nolak. Beda ama kakaknya yg cenderung apa aja mau. Aku setuju nih. Pada akhirnya teori tetap menyesuaikan kondisi lapangan yak

    BalasHapus
  5. Wah, luar biasa ya...harus pande2 juga si ibunya ya. Tiap ibu punya pengalaman sendiri..
    Semoga sehat selalu buat keluarganya.

    BalasHapus
  6. Sebenarnya mau MPASI homemade atau pabrikan ya gak apa2 sih. Kan yg fortifikasi juga dibuat sesuai yg direkomendasikan, jadi ya gak salah juga. Aku jg dulu wkt jaman mpasi suka ngemix, homemade and pabrikan :) yang penting anake mau makanlah :) gak fanatik semua kudu homemade :) make life easier aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kedua-duanya bisa dikonsumsi dengan aman. Prinsipnya, kita yang menyajikan MPASI, bayi yang menentukan pilihan makanan kesukaannya.

      Hapus
  7. MPASI bikin sendiri atau pabrikan gak pa2 sih menurutku. Aku dulu suka mix aja mba. Gak fanatik harus bikin sendiri atau yg instan :)
    Selalu sehat semua ya mba ❤️

    BalasHapus
  8. Keren banget deh MPASI nya.
    Saya tuh selalu salut ama ibu-ibu yang rajin banget.
    Saya juga nggak ngasih MPASI bubur instan ke anak-anak.
    Bukannya saya rajin sih, tapi keduanya kompak ga suka makan bubur instan, akhirnya rempong deh :D

    Udah gitu beli slow cooker, kok rasanya kurang mantap ya, masak sendiri deh, meski seadanya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, menjiwai banget peran ibu ya mba, walau agak rempong sih, tapi bahagia dan puas rasanya ya.

      Hapus
  9. Jadi ingat pengalaman kasih MPASI anak sendiri. Banyak gagalnya deh ketimbang anak makan lahap. Jadikan pelajaran pastinya. Salut dengan mam yg sukses memasak MPASI nya sendiri

    BalasHapus
  10. Galfok sama si kecil cantik imut yang bermata bulat yang indah.
    Aku MPASI yang bener-bener berhasil tuh anak ke-3 mbak. Pakai slow cooker bantu aku bikin macem-macem MPASI dengan mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mba. Alhamdulillah sekarang aku juga pakai slow cooker karena kalau pakai panci masaknya susah mengatur jam dan apinya. 😄

      Hapus
  11. Cahya, cantiknya kamuuu ......#kecupbasah
    Sehat dan tambah cerdas ya anak cantik
    Karena punya ibu yang kreatif dalam memberikan MPasi
    Keren MPasinya, cahya diajari makan makanan yang berbeda dan bergizi

    BalasHapus
  12. MPASI selalu punya dramanya sendiri pada setiap bayi ya mba. Saya pun masih berkutat dengan MPASI hari ini. Dan kenyataan membawa saya pada rasa berjuang mengerti kesukaan anak. Bayi saya sudah 1 tahun tapi kalau MPASI pabrikan, maunya yang lembut untuk 6+, ga mau ia sama yang 8+. Sementara kalau saya sedang bikin MPASI rumahan, alhamdulillah dia selalu mau makan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba penuh drama dalam memulai MPASI ini. Syukurlah mba ya anaknya suka MPASI rumahan, kalau Cahya masih belum doyan MPASI rumahan ini.

      Hapus
  13. Duh lucu banget Cahya. Wajahnya berseri-seri saat dipotret. Jadi gemes pengen nyubit hihihi.

    Ngomongin MPASI. Mau homemade atau pabrikan tentunya punya plus minus masing². Terkandung kebutuhan. Tapi kalau saya dulu, saya gabung aja, meskipun pemberian MPASI rumahan lebih mendominasi. Tujuannya supaya anak² bisa menikmati berbagai rasa dan mengenal banyak makanan.

    Semoga Cahya sehat terus dan berkembang dengan baik ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, makasih ya mba. Aku pun sekarang juga begitu, ganti2an antara MPASI rumahan dan pabrikan.

      Hapus
  14. Banyak banget ibu-ibu yang mengalami tantangan saat mulai MPASI ya mbak. Saya jadi penasaran dan pengen tahu juga agar nanti saat sudah punya anak tidak kebingungan lagi. Ternyata ada beberapa tantangan yang harus dipahami nih terutama untuk kandungan nutrisinya ya,hmmm jadi nambah ilmu saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, harus belajar banyak sebelum memulai MPASI biar ngga terkejut2 nantinya. 😄

      Hapus
  15. Memang susah ya menghadapi ibu-ibu generasi tua yang hanya mengandalkan pengalaman :( yang belum tentu benar. Semoga kita jadi ibu-ibu (dan nantinya jadi bumer/nenek) yang well educated, well informed.

    BalasHapus
  16. Hehe, mpasi pun punya dramanya tersendiri ya mbak..
    Klo aq dulu biar sepaham sama mamaku yg bnt jaga anak2, aq ajak mamaku ke kls edukasi mpasi, biar satu frekuensi

    BalasHapus
  17. Huhuhu jadi ingat momen momen drama MPASI saat memiliki anak pertama dan kedua. Emang tiap anak tuh beda sih ya~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, setiap anak berbeda walau terlahir dari ibu yang sama 😁

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !