Aku, Leuser, dan Adopsi Hutan untuk Masa Depan

Penampakan Gunung Topi dari tempat tinggalku
Aku sangat beruntung tinggal di daerah yang berdekatan dengan pegunungan, tepatnya di Gampong Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Setiap pagi aku bisa menghirup udara segar sambil menikmati hamparan sawah yang di seberangnya terdapat gunung yang menjulang tinggi. 

Gunung itu dinamai oleh masyarakat setempat sebagai Gunung Topi karena bentuknya yang mirip seperti topi bundar. Gunung ini juga menjadi iconic di daerahku, karena memang dialah yang terlihat paling tinggi di antara gunung-gunung lainnya. 

Memang di daerahku ini di kelilingi oleh pegunungan, sehingga pegunungannya terlihat sambung menyambung. Mungkin karena dekat dengan gununglah daerahku memiliki banyak sumber mata air. Di kampungku saja misalnya, terdapat tujuh telaga yang airnya begitu jernih, mirip seperti air dari merek ternama yang dijual dalam kemasan. 

Telaga tersebut bisa dinikmati oleh siapa saja secara gratis, jadi tidak perlu membelinya di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Tidak hanya telaga, di daerah Aceh Selatan ini juga banyak terdapat sungai dan air terjun yang sebagian dijadikan sebagai objek wisata, seperti Sungai Sikabu, Sungai Lubuk Layu, Air Terjun Air Dingin, Air Terjun Tingkat Tujuh dan masih banyak air terjun lainnya bila ditelusri lebih jauh ke dalam hutan. 
Air Terjun Air Dingin


Tidak hanya dari segi air saja yang diuntungkan, pegunungan yang ada di sekitar tempat tinggalku itu mempunyai keanekaragaman hutan lebih dari sekadar pohon. Selain tempat menghasilkan kayu, damar, getah rotan, buah-buahan liar, madu, dan sebagainya, di hutan tersebut juga terdapat orangutan, harimau, badak, dan gajah yang sesekali menampakkan diri kepada masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tinggalku.

Aku pernah melihat langsung harimau yang ditangkap warga dan dikerangkeng karena dianggap meresahkan warga. Namun menurut cerita ibuku, orang-orang zaman dahulu berteman dengan harimau. Mereka memberikan sebutan 'nenek' kepada harimau tersebut, bahkan kakek dari ibuku punya peliharaan harimau yang diberi nama Si Pincang. 

Harimau itu sering berkeliaran di kolong rumahnya di waktu malam, tapi tidak mengganggu masyarakat setempat. Justru ketika ia hendak ke gunung dan memasuki hutan belantara, harimau tersebut malah menjadi pengawalnya sehingga hubungan manusia dan harimau begitu baik saat itu. 

Tidak pernah ada kejadian bahwa harimau memakan manusia, tapi entah kenapa ketika di zamanku, harimau sosok yang menakutkan. Terlebih ketika semakin banyak kejadian bahwa harimau memakan manusia sehingga harimau pun menjadi buruan dan berakhir ke dalam kerangkeng seperti yang pernah kulihat di tahun 2005 lalu. 

Entah apa yang terjadi di hutan tersebut sehingga harimau begitu dimusuhi manusia, sehingga diburu dan jumlah populasinya pun semakin berkurang. Aku sempat berpikir, pasti ada yang salah di hutan, sehingga harimau menjadi musuh bagi manusia. Namun, sejauh mata memandang gunung di sekitar tempat tinggalku masih terlihat hijau, walau ada sebagian menghitam karena pembukaan lahan dengan cara dibakar. 

Pegunungan itu Bagian dari Leuser


Aku baru menyadari bahwa pegunungan yang mengeliling tempat tinggalku itu adalah bagian dari Leuser, setelah aku mengikuti pelatihan Perempuan Peduli Leuser tahun 2017. Hutan inilah yang berkontribusi memberikan sumber air bersih kepada 6 juta masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Tak heran bila di tempat tinggalku air bersih tidak perlu dibeli, seperti halnya di perkotaan. 
Para Perempuan Peduli Leuser sedang mengamati salah satu sumber mata air di daerah sekitar tempat tinggalku

Selain itu, hutan Leuser ini menjadi penyumbang terbesar oksigen bagi masyarakat dunia sehingga oleh UNESCO ditetapkan sebagai warisan dunia (World Heritage) pada tahun 2004. Bayangkan bila hutan ini rusak, masyarakat dunia mau menghirup udara di mana? Aku yang dulunya cuek dan menganggap sebuah keberuntungkan karena terlahir dan tinggal di daerah yang berbatasan dengan Leuser, kini semakin peduli saat mengetahui lebih jauh tentang pentingnya hutan ini. 

Baca juga artikel terkait tentang Who Care Leuser? 

Banyak informasi yang aku dapat ketika menjadi mahasiswa Perempuan Peduli Leuser. Aku bersama 22 perempuan lainnya yang tinggal di daerah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dibekali ilmu tentang keanekaragaman yang ada di hutan Leuser lebih dari sekadar pohon. Berikut beberapa hal penting yang perlu kamu ketahui tentang Leuser. 

1. Sebagai Sumber Penggerak Ekonomi di Dua Provinsi 

Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ini terletak di dua propinsi, yaitu Aceh dan Sumetera Utara. Sekitar 624.913,81 ha atau 75,27% luas TNGL berada di Aceh yang meliputi Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan. Selebihnya sekitar 205.355,14 ha atau 24,73% TNGL berada di Sumatera Utara yang meliputi kabupaten Langkat dan Karo. 

Tempat tinggalku yang berbatasan langsung dengan TNGL memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya, terutama dalam memanfaatkan hutan. Dulu tepatnya di tahun 80-an, Aceh Selatan dikenal sebagai daerah penghasil tanaman pala terbaik di dunia. Hampir setiap warga Aceh Selatan mempunyai hutan (gunong dalam Bahasa Aceh). Kepemilikan gunong ini diperoleh melalui pembukaan lahan di daerah buffer zone atau zona pemanfaatan dari zonasi TNGL melalui adopsi hutan. 
Pala salah satu komuditi utama penggerak ekonomi masyarakat di sekitar Leuser daerah Aceh Selatan
Di situlah masyarakat memanfaatkan hutan tersebut dengan menanam pala, durian, atau tanaman musiman lainnya. Bila pala mulai berbunga, maka banyak yang menaruh harapan karena ketika telah berbuah hasilnya bisa dijual. Inilah sumber pergerakan ekonomi saat itu sehingga Mantan Bupati Aceh Selatan, periode tahun 1988-1993, Sayed Mudahar Ahmad pernah menuliskan cerita dari hutan ini melalui bukunya yang berjudul Ketika Pala Mulai Berbunga

Tidak hanya pala yang merupakan bagian kecil dari pemanfaatan hutan, tapi gunong bagi masyarakat Aceh Selatan sudah menjadi tempat untuk menggantungkan hidup karena di sana bisa menghasilkan segala hal, dari sanalah pergerakan ekonomi bisa berputar. 

2. Sistem Penyangga Kehidupan Banyak Orang 

TNGL sudah menjadi penyangga kehidupan banyak orang, khusunya dalam menyediakan suplai air bagi 6 juta masyarakat yang tinggal di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Hampir 9 kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL, yaitu berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah,mengendalikan banjir, dan sebagainya. 

Terdapat 8 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dilindungi oleh TNGL dan Ekosistem Leuser, yaitu DAS di wilayah Aceh meliputi DAS Jambo Aye, DAS Tamiang-Langsa, DAS Singkil, DAS Singkil, DAS Sikulat-Tripa, dan DAS Baru-Kluet. Sedangkan yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah DAS Basitang, DAS Lepan, dan DAS Wampu Sei Ular. 

Hal ini menunjukkan bahwa peran dan fungsi kawasan hutan di TNGL sangat besar dalam mendukung sistem penyangga kehidupan banyak orang karena kebutuhan air bersih hal mutlak demi kelangsungn kehidupan. 

Sumber Youtube Aceh Asia

3. Laboratorium Alam 

Terdapat berbagai macam jenis flora dan fauna di TNGL yang dapat dijadikan sebagai laboratorium alam. Di sini terdapat satwa kunci berupa orang utan sumatera (Pongo abelii), harimau sumatera (Panthera tigris), badak sumatera (Dicerrorhinus Sumatrensis), dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) serta banyak spesies lainnya. 

Di TNGL ini merupakan kawasan dengan daftar burung terpanjang di dunia dengan 380 spesies. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari 205 spesies mamalia besar dan kecil di Sumatera tercatat ada di tempat ini. 
Cempala kuneng (Trichixos pyrropygus) salah satu burung yang terdapat di kawasan hutan Leuser

Selain rumah bagi fauna, di TNGL juga bisa ditemukan lebih dari 4.000 spesies flora. Bahkan di sini ditemukan 3 jenis dari 15 jenis tumbuhan parasite Rafflesia dan tempat berbagai jenis tumbuhan obat. Dengan begitu, tak heran TNGL dijadikan sebagai laboratorium alam bagi para peneliti. 

4. Sebagai Cagar Biosfer 

TNGL ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh Program Man and the Biosphere UNESCO (MAB-UNESCO) pada tahun 1980, Sebagai cagar biosfer TNGL melayani perpaduan tiga fungsi yaitu (1) kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, spesies, dan plasma nutfah, (2) menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya, dan (3) mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan, dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global. 

Adopsi Leuser untuk Masa Depan 

Begitu banyak keanekaragaman yang terdapat dalam hutan Leuser, tidak hanya sekadar pohon sebagai tampak luarnya saja. Akan tetapi, lebih dari itu sehingga kelangsungan hidup manusia sangat bergantung padanya. 

Sayangnya, ada saja manusia-manusia serakah yang membabat hutan tanpa mempertimbangkan kelangsungan hidup di masa depan. Akibatnya banyak bagian dari hutan Leuser yang rusak termasuk keanekaragaman yang terdapat di dalamnya. 

Bayangkan bila ini terus terjadi, dapatkah generasi ke depan menikmati apa yang diberikan Leuser pada kita hari ini? Bagaimana bila kerusakan itu mengakibatkan terhentinya suplai air bersih bagi 6 juta penduduk Aceh dan Sumatera? Aku yakin kehidupan masa depan sungguh mengerikan tanpa air. Oleh karena itu, kita perlu melakukan gerakan Adopsi Hutan untuk menyelamatkan Leuser.

Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong menjaga hutan yang masih ada, mulai dari pohon tegaknya, hewannya, flora eksotisnya, serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun di mana pun bisa terhubung langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya. 

Ibarat lidi tidak akan berarti apa-apa jika hanya sendiri, tapi akan sangat bermakna bila disatukan menjadi sapu lidi sehingga bisa dijadikan sebagai alat untuk menyapu sampah. Nah, begitu pula dengan menjaga hutan. Mungkin kita akan kesulitan menjaga Leuser yang luasnya ratusan ribu hektar seorang diri, makanya butuh gerakan bersama agar bisa menjaganya.

Nah, dengan melakukan gerakan adopsi hutan kamu sudah ikut berpartisaipasi dalam melestarikan hutan Leuser dan juga hutan-hutan lainnya yang ada di Indonesia. Caranya ialah dengan melakukan donasi melalui kitabisa.com. Donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada organisasi pendamping masyarakat sekitar hutan untuk membiayai kegiatan patroli hutan agar para manusia serakah tidak bisa seenaknya membabat hutan.

Forum Konservasi Leuser dan Yayasan HAkA di Aceh salah satu penerima dari donasi Adopsi Hutan ini. Merekalah yang akan menjaga kelansungan hidup dan keanekragaman yang terdapat di hutan Leuser. Begitu pula Yayasan HAkA yang sangat pro aktif melawan diktator, cukong-cukong, dan manusia serakah yang ingin mengusai hutan Leuser.

Adanya aksi berupa adopsi hutan ini dilakukan dalam momentum perayaan Hari Hutan Indonesia 2020 yang diadakan setiap 7 Agustus. Tahun ini adalah tahun pertama diperingatinya Hari Hutan Indonesia. 

Dengan adanya Hari Hutan Indonesia, maka akan ada satu hari khusus dalam setahun di mana semua mata, pikiran, dan usaha masyarakat Indonesia tertuju pada hutan (hujan tropis) Indonesia dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya, meliputi air, udara bersih, habitat berbagai flora dan fauna, sumber pangan, bahan obat-obatan, penyerapan karbon, hingga akar kebudayaan.

Yuk, tunggu apalagi, segera berpartisipasi melakukan adopsi Leuser untuk masa depan melalui Adopsi Hutan. Kamu tinggal pilih donasi dan metode pembayarannya dengan masuk ke link donasi yang bisa diakses melalui situs harihutan.id.



SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

14 komentar:

  1. Yes, You are lucky person yang bisa tggal dan masih bisa menikmati alam yang begitu natural.....seharusnya memang kita manusia saling menjaga dan melestarikan alam ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba. Alhamdulillah aku sangat bersyukur dengan itu semua.

      Hapus
  2. Jadi pingin ke hutan Leuser deh...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja ya mba bisa kemari dan menikmati keanekaragaman yang ada di hutan Leuser.

      Hapus
  3. Aduh pingin banget ke Leuser, cantik ya?
    Pasti asri dan nyaman banget seharian di sana
    Bandung udah parah. Bukit Dago utara yang jadi daerah resapan air malah dijadikan perumahan, ngga heran setiap musim hujan banjir, kalo kemarau air PDAM ngga mengalir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, di Aceh masih bagus hutannya mba, semoga bisa ke Leuser ya mba.

      Hapus
  4. Selamat hari hutan Indonesia, mari kita sukseskan program pohon asuh untuk turut menjaga hutan2 kita yaa. Di provinsiku hutan2nya Bukit Lawang, hutan sekitar Gunung Sibayak, Tahura Tanah Karo, dan sekitar Danau Toba (Desa Silalahi III), dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga banyak yang tergerak hatinya untuk melakukan Adopsi Hutan untuk kelangsungan hidup masa depan. Selamat hari hutan.

      Hapus
  5. ya ampun itu sumber airnya kelihatan segar banget yaa.. jadi pengen jalanjalan ke Leuser nih. Senangnya Mbak bisa menikmati alam Leuser di sana.

    BalasHapus
  6. mata airnya di Leuser bening banget yaa mba, duh enak tuh udara di pegunungan segar karena ada hutan kan, makanya memang kita harus jaga hutan kita yaa mba

    BalasHapus
  7. Aku belum pernah ke aceh tapi seprttinya alam aceh bagus banget ya jadi pengen kesana

    BalasHapus
  8. Kangen banget dengan alam terbuka dan udara segar. Kangen Aceh jugaaaa....Sejak pindah dari Aceh, belum pernah ke sana lagi. Berdonasi buat mengadopsi hutan aja dulu kali ya. Biar jauh di mata, tapi dekat di hati :)

    BalasHapus
  9. Kelestarian hutan tetap bisa kita upayakan meski tinggal di kota, meski sedang pandemi. Dengan donasi ini semoga hutan kita semakin lestari ya. Aamiin.

    BalasHapus
  10. salut deh dengan kepedulianmu pada tempat tinggalmu say..Semoga makin banyak yang berdonasi lewat adopsi hutan ya agar hutan kita makin lestari dan terjaga

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !