Untukmu Agamamu Untukku Agamaku, Tapi Aku Belajar Banyak Darimu

Perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur dari Jakarta.

Oktober 2018 adalah pertemuan pertamaku dengan Melin, gadis dari suku Dayak Kalimantan beragama kristen. Dia seorang kristiani yang taat beragama, begitulah yang kulihat dari kepribadiannya sehari-hari. Kami dipertemukan dalam sebuah perjalanan menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. 

Aku dan Melin adalah pemenang dari lomba video dan vlog yang dibuat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Selain kami, ada dua orang lagi yang juga sebagai pemenang yaitu Mas Catur dan Saliyo yang berasal dari Jakarta dan Yogyakarta, sedangkan aku berasal dari Aceh. Kami semua berangkat dari Jakarta menuju bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur. 

Sebelum ke Malang, Aku, Melin, dan Mas Saliyo menginap satu malam di Blue Sky Hotel, Jakarta. Saat itulah aku berada satu kamar dengan Melin, gadis bermata sipit yang baru kukenal. Mulanya aku tidak menyangka Melin seorang kristiani, memang sih dia tidak menggunakan hijab (penutup kepala), tapi banyak juga muslim yang tidak menggunakan hijab. Barulah aku sadar ketika waktu masuk salat, dia tidak ikut salat denganku. 

Saat berada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

“Aku beribadah di hari minggu,” katanya dengan senyum, ketika aku mengajaknya salat. 

Aku baru ingat saat bersalaman tadi dengannya, dia tidak menjawab salamku dengan mengucapkan waalaikumusalam, tapi salam sejahtera. Betapa lugunya aku menyamakan semua orang dan mengucapkan Assalamualaikum pada setiap orang. 

“Inikan Jakarta, bukan Aceh,” cercaku dalam hati. 

Belajar Toleransi 

Sebagai seorang muslim, aku selalu menjaga waktu salat. Namun, ada yang menggugah hatiku ketika Melin mengingatkanku salat dan langsung mematikan televisi yang sedang menyala. Hal yang jarang kutemukan meskipun sesama kawan muslim, biasanya mereka hanya mengecilkan suara televisi yang menyala saat aku sedang salat, tapi Melin langsung mematikannya. 

Aku sadar betapa indahnya toleransi itu bila kita saling memahami. Setiap kali aku salat di kamar, Melin tidak pernah menghidupkan televisi atau berbicara melalui telpon. Bahkan ketika kami menginap di Bukit Lawang, Melin mengizinkanku salat di tempat tidur karena kondisi kamar kami yang sempit dan penuh dengan tumpukan barang. 

Pada malam itu, aku dan Melin memutuskan untuk makan di sebrang hotel karena ingin melihat suasana Jakarta di malam hari. Lalu lalang kendaraan bermotor cukup padat sehingga kami kesulitan untuk menyebrang. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti dan memberikan jalan untuk kami menyebrang. Sesampainya di sebrang Melin menundukkan kepala sambil menyatukan dua tangannya kepada pengemudi mobil tersebut sebagai ucapan terima kasih. 

Aku sedikit kaget dengan perilaku yang ditunjukkan Melin, jarang-jarang ada orang yang melakukan hal ini layaknya orang Jepang. Kemudian kami pun masuk ke salah satu restauran untuk makan malam. Ketika makanan dihidangkan kepada kami berdua, aku membaca bismillah dan langsung menyantap makanan dengan lahap. Sedangkan Melin berdoa dengan caranya sambil menutup mata dan menggenggam kedua tangannya. 

Melihat dirinya yang begitu khusyuk berdoa sebelum makan, aku pun teringat pelajaran saat duduk di bangku kanak-kanak dulu. Sebelum makan kami diwajibkan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua tangan, tapi ketika dewasa jarang aku lakukan. Biasanya hanya dengan membaca bismillah, aku langsung makan bahkan ketika sangat lapar aku lupa membaca bismilllah. Betapa malunya aku dengan sikapku yang sangat terburu-buru saat makan. Sedangkan Melin membaca doa sesuai agamanya lalu mengucapkan selamat makan kepadaku sebelum menyantap makananku. 

Ketika berada di Bukit Cinta TNBTS, Jawa Timur.
Betapa indahnya toleransi itu.

Selama perjalanan kami hingga sampai ke Bromo setiap waktu makan, Melin melakukan hal yang sama. Berdoa dengan waktu yang lama dan mengucapkan selamat makan ketika hendak makan. Aku pun termotivasi untuk membaca doa makan sebagaimana yang kupelajari dulu saat kecil. Kebiasaan Melin, berimbas kepadaku sehingga setiap kali hendak makan, aku berdoa dulu dengan membaca doa makan sambil mengadahkan kedua telapak tangan seperti ajaran agamaku. 

Pelajaran lainnya yang kudapat dari Melin ialah membaca kitab. Biasanya seusai salat subuh aku membiasakan diri membaca satu halaman Al-quran, tapi saat melakukan perjalanan tersebut aku lupa membawa Al-Quran. Sedangkan Melin membaca Al-kitab setiap subuh sebelum ia beraktivitas. Dari situ aku muncul perasaan malu, kenapa benda yang seharusnya ada menyertai perjalananku justru aku melupakannya. 

Selama empat hari perjalananku keliling Kota Malang dan TNBTS, Melin teman yang sangat menyenangkan bahkan dia mau menungguku salat ketika hendak bepergian. Dia orang yang pertama kali mengucapkan Puji Tuhan ketika melihat indahnya sunrise di Bukit Cinta dan alam TNBTS. Perjalananku saat itu adalah perjalanan terjauhku dan terkenang selama masa hidupku.

Sama-sama baru pertama kali datang ke ibukota Jakarta, begitu excitednya kami mengunjungi Monas
Walau hanya bisa foto doang yang cuma beberapa menit.

SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. Mantrap taglinenya kak > Untukmu agamamu untukku agamaku , keren bingit. btw cakep lo perjalanannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, sesuai apa yang difirmankan dalam Alquran.
      Terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !