Begini Prosesi Khanduri Laot 2019 yang Dipertujukkan di Sabang



Pulau kecil di ujung Sumatra ini mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak hanya dikenal dengan pesona alam bawah lautnya yang mendunia, keberagaman budayanya juga menjadi atraksi yang kerap mengundang decak kagum para wisatawan yang datang kemari. 

Setiap akhir pekan atau di musim liburan, pulau ini selalu dipadati wisatawan sehingga wajah-wajah asing terlihat jelas menempati setiap sudut kota berpenduduk 40.040 jiwa itu.

Keindahan Sabang memang sudah menjadi buah bibir bagi para pelancong yang datang ke Aceh. Keelokan alamnya membuat para turis betah berlama-lama untuk bersantai. Tidak ada polusi udara, suara, atau kemacetan di sini seperti di kota pada umumnya. 

Tempat ini begitu tenang, hanya ada desiran ombak dan suara angin yang menjadi musik alam. Malah terkadang sebagian orang membuat kepanjangan Sabang dengan "santai banget".

Suasana Pulau Sabang

Saya yang sudah berkali-kali datang ke Sabang tidak pernah merasa puas menikmatinya. Adrenalin saya selalu terpacu untuk menjelajah ke berbagai tempat, sambil menyaksikan berbagai atraksi budayanya. 

Tahun 2017, saya dari Generasi Pesona Indonesia (GenPi) ditugaskan meliput kegiatan Sail Sabang 2017. Namum, kali ini saya mendapat tugas dari GenPi untuk meliput kegiatan Khanduri Laot Festival yang berlangsung pada 30 Maret-1 April 2019.

Sensasinya tetap sama, bila dulu saat Sail Sabang 2017 menampilkan atraksi tarian kolosal Laksamana Malahayati yang menceritakan sosok perempuan tangguh, berperang melawan Portugis, di Khanduri Laot Festival 2019 menampilkan atraksi tentang kehidupan masyarakat pesisir. 


Prosesi khanduri laot

Syair-syair Aceh yang diiringi dengan rapa-i

Lantunan syair berbahasa Aceh mendayu-mendayu diiringi dengan pukulan rapa-i, saat saya tiba di Dermaga CT-3 BPKS Sabang. Di tempat inilah acara pembukaan Khanduri Laot Festival 2019 berlangsung, yaitu di Gampong Kota Ateuh, Kecamatan Sukakarya. Setiap ada perhelatan besar di Sabang, tempat ini selalu digunakan untuk pembukaan acara, termasuk saat acara Sail Sabang 2017 lalu. 

Lokasinya sangat strategis, berada di pusat kota dengan dermaga yang cukup luas, sehingga memungkinkan kapal-kapal besar sandar di sana. Dermaga itu ramah pula bagi kaum disabilitas, termasuk mereka yang menggunakan kursi roda. 

Lokasi acaranya bisa diakses oleh pengguna kursi roda

Begitulah yang saya lihat saat seorang ibu paruh baya membawa anaknya menggunakan kursi roda untuk menyaksikan pertunjukan ini. Selain itu, terdapat tanah lapang yang digunakan sebagai tempat pameran stan dari setiap gampong atau daerah.

Saya begitu menikmati suara pukulan rapa-i yang ditabuh oleh beberapa pria dewasa, mengenakan pakaian serbahitam. Para pengunjung mulai berdatangan dan terlihat wajah-wajah asing, dengan warna kulit dan rambut yang berbeda dari penduduk setempat. 

Saya mengira mereka adalah para turis yang sedang berlibur di Sabang. Kepada pengunjung laki-laki dibagikan kain pengikat kepala yang biasa digunakan para nelayan saat melaut. Seorang turis laki-laki terlihat begitu senang saat menerima kain tersebut dari panitia dan langsung mengikatkan di kepalanya.

Tiba-tiba, suara rapa-i berhenti dan massa berbondong-bondong menuju gerbang dermaga. Rupanya rombongan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI bersama para pejabat Kota Sabang memasuki lokasi acara. Kedatangan mereka dihadang oleh beberapa pria yang mengenakan pakaian serbahitam dengan kopiah meukeutop khas Aceh. 

Kedatangan rombongan Kemenpar beserta para pejabat Kota Sabang

Seorang laki-laki dari rombongan Kemenpar yang bertindak sebagai pemandu, memberi salam sembari mengucapkan beberapa pantun dalam bahasa Aceh. Kemudian disambut oleh tim penghadang, sehingga terjadi saling berbalas pantun. Rombongan Kemenpar meminta izin kepada masyarakat setempat agar acara ini dibuka oleh Staf Khusus Kemenpar bidang Percepatan Calender of Event, Tasbir Abdullah.

Setelah mendapat izin dari panglima laot, mereka disambut menuju ke tempat duduk yang telah disediakan. Rapa-i pun kembali dimainkan sehingga kemeriahan menyelimuti seluruh tempat ini. Tidak hanya itu, dua paralayang dari TNI angkatan udara mengitari angkasa Sabang, sambil membawa bendera yang bertuliskan Khanduri Laot Festival 2019. 

Kemeriahan semakin bertambah ketika tim dikie geleng Laskar Ababil dari Gampong Blangblahdeh, Meukek, Aceh Selatan, menampilkan tarian dikie geleng. Ada sekitar 70 orang yang mengenakan pakaian merah putih duduk melingkar, membentuk bundaran berlapis-lapis saat memainkan dikie geleng. Syair yang dibawakan oleh syeh berisikan zikir-zikir, sedangkan para pemainnya menggeleng-gelengkan kepala secara serentak membentuk formasi yang begitu indah dilihat. 

Penampilan tim dikie geleng Laskar Ababil

Para pengunjung terpukau melihat tarian ini, bahkan Staf Khusus Kemenpar begitu takjub melihat kekompakan para pemain dike geleng yang didatangkan dari Aceh Selatan. 

"Luar biasa budaya di Aceh. Saya begitu menikmati dike geleng tadi. Apabila pemainnya lebih banyak lagi, ini menjadi sesuatu yang sangat menarik ditampilkan menjadi event besar seperti tari saman di Gayo," ujar Tasbir Abdullah saat menyampaikan sambutannya ketika membuka acara.

Tarian tron laot 

Para penari menarikan tarian tron laot

Setelah acara pembukaan yang ditandai dengan pukulan rapa-i oleh Kemenpar dan beberapa petinggi Kota Sabang, barulah masuk ke acara inti. Beberapa perempuan memakai baju serbakuning, membawa keranjang dan kain sarung, menarikan tarian tron laot

Tarian ini menceritakan tentang tradisi saat turun ke laut untuk menarik pukat, di mana para istri para nelayan sibuk memersiapkan peralatan yang akan dibawa suaminya untuk melaut. Syair-syair yang berisikan kisah kehidupan masyarakat pesisir membuat hati luluh bagi yang mengetahui maknanya. 

Saya meresapi cerita yang dilantunkan dalam bahasa Aceh itu, tanpa sadar air mata pun jatuh membayangkan kehidupan para nelayan yang berjuang mencari nafkah di laut lepas. 

Selanjutnya para nelayan turun ke kapal yang kemudian di-peusijuek oleh panglima laot. Tujuannya agar hasil tangkapan ikan dan jala yang dibentangkan diisi oleh ikan-ikan segar yang menjadi rezeki dibawa pulang untuk keluarga tercinta.

Prosesi penerikan pukat

Melihat prosesi itu, membuat hati saya berdecak kagum akan budaya yang ditinggalkan oleh para leluhur kita. Khanduri laot merupakan sebuah cara untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah Swt atas rezeki yang diberikan kepada masyarakat pesisir. 

Dalam khanduri laot ini tidak hanya sarat dengan tradisi, tapi juga sebagai ajang untuk memperkuat silaturahmi karena para pengunjung dijamu makan siang secara gratis.

Tulisan ini sudah pernah diterbitkan di Serambi Indonesia, edisi 8 April 2019 dengan judul Pesona Sabang di 'Khanduri Laot 2019.'
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !