Banda Aceh dari Gelap Menjadi Gemilang

Kompleks Masjid Keuchik Leumik yang berada di Gampong Lamseupeung,
Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Foto : Taufan Mustafa.


Tahun 2008, pertama kali saya menginjakkan kaki ke Kota Banda Aceh, empat tahun setelah tsunami memporak-porandakan isi kota ini. Saya melihatnya melalui siaran televisi, di saat kota yang menjadi ibukota propinsi ini terpuruk akibat dampak bencana yang maha dahsyat tersebut. Puing-puing bangunan menyatu dengan tumpukan mayat, setelah gelombang besar berwarna hitam menyapu badan jalan kota ini. Bahkan, Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh tak luput dari hantaman tsunami pada tahun 2004. 

Sebanyak 110.229 jiwa meninggal dunia, 12.132 orang hilang, dan 703.518 orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana tersebut (Data dari Bappenas). Berbagai fasilitas umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah penduduk hancur menimbulkan luka dan pilu bagi setiap mata yang menyaksikannya di layar kaca. Semua orang terhenyuh menyaksikan peristiwa itu karena inilah bencana terbesar sepanjang sejarah Aceh modern. 

Saya begitu takut melihat kejadian itu, meskipun saya tidak mengalaminya secara langsung karena di daerah saya Aceh Selatan tidak terkena tsunami, tapi pemberitaan di televisi terus menghantui saya hingga saya tidak ingin mengunjungi Kota Banda Aceh. Saat itu, saya berusia 12 tahun. Namun, saya cukup mengerti tentang kejadian yang melanda Banda Aceh. Kejadian tsunami tahun 2004, secara tidak langsung membuat saya menjadi trauma karena informasi yang saya terima melalui televisi terus-menerus berisi tentang pemberitaan kengerian tsunami. 

Empat tahun setalah tsunami, saya diutus oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh Selatan untuk menghadiri kegiatan kepemudaan di Banda Aceh. Saya tidak bisa menolak tawaran itu karena saat itu, saya bagian dari anggota Palang Merah Remaja (PMR). Dari pihak sekolah pun juga meminta saya ikut serta sehingga saya harus berangkat ke kota bekas hantaman tsunami ini. Ada perasaan cemas dan was-was ketika pertama kali datang ke Banda Aceh, apalagi orang tua saya tidak mengizinkan mengunjungi kota ini. Namun, saya melawan rasa cemas dan takut itu dengan memutuskan pergi ke Banda Aceh, agar informasi negatif yang saya terima selama ini lewat pemberitaan televisi, bisa terbantahkan. 


Optimisme Kota Banda Aceh 

Saya saat pertama kali datang ke Banda Aceh tahun 2008.
Foto dokumen pribadi.

Sesampainya di Banda Aceh, saya tertegun melihat kota yang empat tahun silam diluluhlantakkan oleh tsunami optimis keluar dari keterpurukan. Tidak seperti yang saya saksikan di televisi di mana banyak mayat bergelimpangan dangan puing-puing bangunan. Nyatanya, kota ini mampu bangkit kembali menata kehidupan dengan membangun kembali fasilitas yang hancur karena gempa dan tsunami. 

Lapangan Blang Padang yang sempat saya saksikan di layar kaca dipenuhi tumpukan sampah tsunami, nyatanya begitu bersih dengan Aceh Thanks the Word di sepanjang lintasan lapangan tersebut. Itulah baru pertama kali saya melihat lapangan seluas itu dengan ucapan terima kasih dari seluruh dunia. Di sebelahnya dibangun gedung yang diperuntukkan sebagai Museum Tsunami yang saat itu tahun 2008 masih dalam tahap pembangunan awal. 

Masjid Raya Baiturahman yang sering ditayangkan di televisi dengan gambar perempuan berjilbab menutup mulut dan hidungnya, berdiri di depan masjid bersama tumpukan sampah tsunami, nyatanya sudah kembali bersih saat saya datang kemari tahun 2008. Padahal sebelum ke Banda Aceh gambar tersebut seperti kaset yang diputar terus menerus dalam ingatan saya, sambil terdengar sayup-sayup lagu Badai Pasti Berlalu yang ditayangkan di layar kaca saat memberitakan situasi tsunami di Banda Aceh. 

Foto Banda Aceh yang digambarkan oleh berbagai media saat itu.
Sumber foto dari google.

Sembilan tahun kemudian, setelah saya menetap di Banda Aceh tepatnya tahun 2017 Masjid Raya Baiturrahman mempunyai wajah baru sebagai icon Kota Gemilang. Masjid ini dibugarkan dengan penambahan 12 unit payung elektrik bak masjid yang ada di Kota Madinah. Lantai marmer yang kini melapisi halaman masjid menjadi taman keluarga bagi para jamaah dan wisatawan yang datang berkunjung kemari. 

Keoptimisan pemerintah Kota Banda Aceh untuk membuat kota yang dulunya gelap karena gempa dan tsunami menjadi kota yang gemilang terlihat jelas dari berbagai program yang dijalankan. Salah satunya program pemantapan sektor pariwisata sebagai upaya membangkitkan ekonomi rakyat. Pemikiran saya yang dulu hanya terfokus pada tsunami saat berada di Banda Aceh, kini 100% berubah menjadi kota untuk mencari kehidupan yang gemilang. 

Bagaimana tidak, di Banda Acehlah tempat berkembangnya berbagai komunitas sehingga saya bisa menyalurkan bakat dan hobi yang saya geluti. Dari hobi menulis dan bergabung dengan beberapa komunitas kepenulisan di Aceh, saya bisa membiayai kehidupan tinggal di Banda Aceh sehingga memutuskan untuk tinggal di sini. Begitu juga dengan teman-teman saya yang mempunyai hobi bernyanyi atau desainer, lewat komunitas dan jejaring yang ada di Banda Aceh, membawa kariernya melejit sehingga asap dapurnya bisa tetap mengepul. Ini bisa dibuktikan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Banda Aceh 83,95, lebih tinggi dari IPM nasional yang hanya 70,81 di tahun 2017 (Data dari Pemerintah Kota Banda Aceh). 

Begitu juga dengan pelaku usaha kreatif yang tergabung di Usaha Kecil Menengah (UKM). Melalui program pembiayaan untuk UKM dalam bentuk modal usaha yang diberikan Pemerintah Banda Aceh, UKM yang ada di Banda Aceh bisa berkembang sehingga banyak gerai usaha kreatif yang muncul di kota ini. Seperti pembentukan lembaga keuangan mikro PT Mahirah Muamalah yang telah mempunyai 30.000 nasabah dari berbagai kalangan seperti pedagang kecil menengah, industri rumah tangga, kelompok ekonomi perempuan, dan bisnis ekonomi masyarakat perorangan. 

Tidak hanya itu, pelaku usaha kreatif ini dibekali dengan berbagai ilmu seperti teknik pemasaran melalui media sosial, pelatihan UKM, dan kegiatan-kegiatan yang memungkinkan para UKM turut serta dalam menjual produk-produk mereka di event yang diadakan pemerintah. Saya pun merasakannya saat bergabung dengan UKM, banyak pelatihan yang diberikan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan UKM di Banda Aceh. 

Berbagai kegiatan pun sering digelar, baik itu budaya, kreativitas, keagamaan, dan acara untuk kaum milenial pun menjadi tempat yang tepat bila digelar di Banda Aceh. Bahkan kelompok disabilitas pun mendapat tempat di Kota Gemilang ini. Begitu juga bagi non muslim bisa melakukan aktivitasnya tanpa terusik oleh umat muslim yang mendominasi kota ini. Beberapa kali saya mengadakan kegiatan di Banda Aceh mengundang teman-teman disabilitas dan non muslim, semua berjalan baik sehingga terlihat jelas kota ini begitu toleran. 

Disabilitas pun bisa berkreativitas di Banda Aceh. Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman
mendorong kursi roda salah seorang disabilitas daksa. Foto dokumen pribadi.


Saya Banda Aceh 

Ingatan saya tentang Banda Aceh memang belum terlalu banyak karena saya bukanlah orang yang lahir dan besar di Banda Aceh. Namun, saya memilih tinggal di Banda Aceh setelah bertahun-tahun menetap di sini karena alasan pendidikan. Namun, selepas pendidikan saya enggan untuk pulang kembali ke kampung halaman saya. Bukan karena saya bersuami dengan orang Banda Aceh dan mendapatkan pekerjaan di sini, toh suami saya juga orang yang asalnya sama dengan saya. 

Saya tinggal di Banda Aceh karena kenyamanan dan berbagai fasilitas yang ada di kota ini membantu meningkatkan karir saya. Akses transportasi, kesehatan, dan pelayanan publik dapat diperoleh dengan mudah sehingga beberapa penghargaan telah diterima oleh pemerintah Kota Banda Aceh. Seperti Kota Referensi Layanan Pendidikan Aceh, Predikat Kepatuhan Tinggi Terhadap Standar Pelayanan Publik, Piala Adipura, dan berbagai penghargaan lain telah diperoleh Banda Aceh. 

Di usia Banda Aceh yang ke-814 ini tentunya telah banyak terobosan baru yang membuat kota ini semakin gemilang. Kota yang dulu sempat gelap karena hantaman tsunami kini terus menjadi Kota Gemilang. Pemikiran saya terhadap kota ini yang semula hanya terfokus tsunami pun juga berubah. Namun, ingatan itu tentu tidak pernah terlupakan mengingat kota ini merupakan basis tsunami dan menjadi kota yang paling rawan terhadap bencana. 

Pesan saya kepada Pemerintah Kota Banda Aceh jangan pernah lupakan sejarah karena menurut sejarahnya kota ini sudah tiga kali terkena hantaman tsunami selama satu abad terakhir. Bahkan pusat pemerintahan kota pun beberapa kali berpindah dari Lamuri, Kampung Pande, hingga ke tempat yang sekarang ini. Belajar dari sejarah, hendaknya dalam membangun kota ini harus ada perencanaan untuk mitigasi bencana agar kota yang sudah gemilang tidak akan redup dan kemudian tenggelam.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 komentar:

  1. Jadi galfok sama pose Yelli yang masih unyu dulu, what? 12 tahun? Seusia Akib masih Yel pas tsunami yaaa...hahahaha....

    Sukses ya Yelli, semoga menanggg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, maklum kak masih cabe-cabean waktu tuh.

      12 tahun, sudah paham betul tentang apa yang terjadi walau sempat trauma melihat pemberitaan di televisi.

      Hapus
  2. baca ini jadi keinget sama cerita orang sekitar tentang tsunami. Sungguh Allah Maha Berkehendak terhadap sesuatu ya Yell

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, peristiwa ini perlu diingat sebagai edukasi buat generasi mendatang

      Hapus
  3. Keren nih yel..
    Dokumentasi 2008 msh disimpan rapi
    Btw, imut bgt ye saat itu
    😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya. Masih cabe-cabean tuh 😄
      Coba lihat gayanya alay banget 😆

      Hapus
  4. wah kalau aku masih punya ciat2 ke aceh tp belum kesampaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kesampaian tahun ini karena banyak event yang menarik di lebaran kali ini.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !