Baju Pengantin Buatan Ibu

Baju yang kugunakan saat akad nikah
pada Kamis, 21 Februari 2019.
Saat aku memutuskan menggunakan baju pengantin dengan warna hitam, banyak yang tidak setuju. Khususnya orang-orang di sekitarku seperti saudara, teman, rekan kerja, dan para kerabatku. Mereka terdoktrin dengan kebiasaan banyak orang yang mengenakan baju pengantin berwarna putih saat akad nikah. Padahal tidak ada ketentuan khusus yang mewajibkan para mempelai yang akan melangsungkan akad nikah untuk menggunakan baju pengantin berwarna putih.

Hanya karena trend yang sering diperlihatkan di layar kaca, para artis menggunakan baju pengantin berwarna putih saat akad nikah, maka banyak yang menirunya tidak terkecuali masyarakat Aceh. Beberapa komentar datang dari orang-orang terdekatku, agar aku mengurungkan niatku itu. Hampir saja aku berubah fikiran, tapi untungnya aku membaca dan mencari beberapa sumber terkait baju pengantin Aceh pada tempo dulu.

Di tengah kegalauan itu, ibuku setuju dengan pilihanku karena dia paham betul seleraku. Setiap keputusanku dipenuhi dengan pertimbangan dan makna. Sejak kecil hingga dewasa, ibu selalu berperan menjahitkan baju untuk hari-hari pentingku. Saat aku pertama memasuki sekolah di taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi, seragam yang kupakai ialah jahitan ibu. Begitu juga saat ada acara lomba, karnaval, hari lebaran, dan wisuda semua baju yang kukenakan merupakan buatan dari tangan perempuan yang melahirkanku.



Perempuan yang menjahitkan baju pengantin untukku ibuku tersayang
Ibu memang tidak pernah sekolah kustum menjahit, sekolahnya saja hanya tamatan sekolah dasar (SD). Namun, ibu ialah pelajar yang hebat karena keahliannya yang mampu belajar secara otodidak. Tidak terhitung puluhan bajuku telah dijahitnya, maka wajarlah aku menginginkan dia yang menjahit baju pengantinku dan tidak menyewa baju pengantin sebagaimana kebiasaan kebanyakan orang.

Jadi diri sendiri


Detik-detik saat ijab qabul
Aku tidak ingin tampil sebagai orang lain di hari pernikahanku termasuk menggunakan atribut yang melekat pada tubuhku. Sebulan sebelum hari pernikahan, aku mengatakan kepada calon suamiku bahwa aku tidak akan menyewa baju pengantin, tapi akan membuatnya sendiri. 

Setelah diperhitungkan biaya untuk membeli bakal baju, ternyata harganya tidak jauh beda dengan baju pengantin yang disewa oleh jasa perias pengantin.

“Emang apa tidak masalah kalau baju pengantinnya kita jahit sendiri? Nanti menyalahi aturan pula,” katanya kepadaku.

“Tidak ada aturan baku terkait baju pengantin saat akad nikah. Aku sudah menanyakan ke pakarnya Nurdin AR. Semua itu tergantung selera,” ujarku kepadanya.

Dia pun menyetujuinya termasuk pemilihan warna hitam yang menjadi tema pernikahan kami nantinya. Namun, dia bertanya apa alasanku memilih warna hitam yang kebanyakan orang, diidentikkan sebagai warna berduka cita.

Tentu bukan perkara mudah meyakinkan dirinya yang biasa kritis agar mengikuti kehendakku. Sebelum aku beradu komentar dan argumen dengannya, aku mencari beberapa informasi dan referensi untuk menguatkan argumenku dan meyakinkan dirinya.

Aku mencari informasi tentang sejarah penggunaan baju pengantin warna putih, baju pengantin Aceh tempo dulu, dan makna serta filosofi dari warna hitam. Berikut penjelasanku kepadanya sehingga dia mantap dengan pilihanku.


Sejarah penggunaan baju pengantin warna putih

Baju Pengantin Ratu Victoria
Trend penggunaan baju pengantin warna putih bermula dari pernikahan Ratu Inggris yaitu Ratu Victoria dengan Albert of Saxe-Coburg pada 10 Februari 1840. Ratu Victoria memilih warna putih karena dia ingin membuktikan, dia dapat memimpin rakyatnya menuju penghematan karena kondisi perekonomian saat itu sedang memburuk. Sebab saat itu, putih adalah warna yang paling murah, karena tidak perlu menggunakan pewarna untuk melukis kain. Selain itu, Ratu memiliki alasan lain, yakni tidak ingin mengubah renda putih yang sudah dipesannya. 

Dia menggunakan baju pengantin berwarna putih yang dihiasi renda buatan tangan Honiton dengan hiasan bunga di kepala, di hari pernikahannya. Penampilannya itu menimbulkan kontroversi di kalangan rakyatnya dan pengamat kerjaan yang beranggapan baju pengantin itu, terlalu sederhana untuk seorang ratu. 


Padahal pada masa itu, baju pengantin umumnya menggunakan warna yang cerah dengan biaya pewarnaan yang mahal. Namun, kesederhanaannya itu menunjukkan siapa dirinya dan kondisi yang dialami rakyatnya saat itu. Dia tidak mau menghabiskan uang kerajaan untuk mewarnai baju pengantinnya. Sejak saat itulah, trend baju pengantin warna putih dimulai yang kemudian diikuti oleh banyak orang, khususnya bagi kaum kristiani pengikut ratu Inggris yang menikah di gereja. 

Aku bukanlah seorang kristiani yang harus menggunakan baju pengantin warna putih di hari pernikahanku, seperti kebanyakan orang. Aku Tidak ingin mengikuti trend tanpa mengetahui sejarah penggunaannya. Oleh karena itulah, aku tidak menggunakan warna putih pada baju pengantinku.

Warna putih adalah warna ketiadaan yang tidak mempunyai warna sama sekali, makanya saat kita dikembalikan ke tanah (meninggal dunia) dibalut dengan pakaian putih. Pengantar jenazah pun juga menggunakan pakaian putih, berbeda dengan umat kristiani yang justru menggunakan pakaian hitam untuk menunjukkan situasi berkabung. Jadi, haruskah aku menggunakan baju dengan warna putih di hari pernikahanku?


Terinspirasi dari Baju Pengantin Aceh Tempo Dulu

Dulu dan sekarang, tetap menggunakan warna hitam

Dikarenakan aku tidak ingin menggunakan baju pengantin berwarna putih, maka aku mencari baju pengantin Aceh tempo dulu. Berdasarkan hasil temuanku saat berselancar di internet, masyarakat Aceh tempo dulu banyak menggunakan pakaian berwarna gelap. Bahkan pakaian yang biasanya digunakan oleh raja-raja Aceh identik degan warna hitam yang melambangkan kemegahan, keagungan, dan kewibawaan.

Masyarakat Gayo dan Alas pun juga menggunakan pakaian dengan dasar hitam yang dihiasi karawang gayo untuk baju pengantinnya. Menurut masyarakat gayo warna hitam adalah warna tanah yang bermakna rakyat. Sebagaimana halnya rakyat dalam hal ini manusia, berasal dari tanah dan ketika meninggal dunia kembali ke tanah.

Oleh karena itu pula, pilihan baju pengantinku jatuh pada warna hitam yang merupakan warna dasar yang ada di Aceh selain hijau, merah, dan kuning. Keinginan untuk menggunakan pakaian hitam pun semakin kuat ketika aku melihat foto mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudoyono dan istrinya Ani Yudoyono menggunakan pakaian serba hitam saat mengunjungi Aceh di bulan Januari lalu.

Orang hebat akan belajar dari sejarah 


Makna Hitam Bagiku

Dari dua penjelasan di atas membuat suamiku terpengaruh untuk mengikuti keinginanku. Terlebih aku menyampaikan makna dan filosofi warna hitam menurut versiku. Seyogyanya pernikahan menjadi titik awal untuk memulai kehidupan baru, jadi kami harus menanggalkan semua atribut yang melekat pada diri kami dari masing-masing keluarga untuk membentuk konsep baru dalam rumah tangga. 

Sah, memulai kehidupan baru
Warna hitam adalah sebagai dasar kami memulai kehidupan baru yang nantinya seiring berjalannya waktu akan kami beri warna. Jadi, baju pengantin yang kami gunakan tidak semata-mata hanya pakaian untuk mempercantik dan memperindah penampilan kami karena dalam proses pembuatannya dipenuhi makna dan filosofi.

Menyulam Baju Pengantin

Kusulam baju pengantinku agar lebih bermakna
Sebagai anak yang terlahir dari keluarga pengrajin kasab sulam benang emas, aku ingin menampilkan kearifan lokal daerah di baju pengantinku. Jadi, motif pada bagian dada dan ujung tangan baju yang kukenakan disulam dengan benang mas motif situnjung


Motif bunga situnjung yang merupakan ciri khas Aneuk Jamee 
Motif ini mempunyai makna keagungan hati nurani masyarakat aneuk jamee Aceh Selatan. Aku sendiri yang menyulamnyanya menggunakan tangan. Makanya, aku pulang kampung sebulan lebih cepat sebelum hari pernikahku untuk membuat baju pengantinku.

Setelah selesai disulam, ibuku yang menyelesaikan pengerjaannya hingga menjadi baju pengantin sesuai yang kuinginkan. Awalnya, aku ingin mengenakan kain songket dengan motif yang dipakai Pak SBY dan istrinya. Songket itu aku pinjam dari komunitas I Love Songket Aceh (ILSA) yang merupakan komunitas yang kubentuk pada tahun 2015 lalu.

Namun, ibuku menyarankan untuk menggunakan kain rok dari kain bajunya yang berusia lebih dari 20 tahun. Aku masih ingat saat ibu menggunakan pakaian tersebut, dia kelihatan sangat cantik. Sayangnya baju tersebut tidak bisa lagi digunakannya.

“Pakai saja kain ini, ibu pun juga tidak pernah lagi menggunakan pakaian ini. Meskipun usia kain ini sudah puluhan tahun, tapi masih bagus dan bisa digunakan,” kata ibu kepadaku.

Aku sangat bahagia mendapatkan kain dari baju yang pernah digunakannya puluhan tahun yang lalu. Kemudian ibu merombak pakainya itu menjadi bagian bawahan dari baju pengantinku dan suamiku. Kami sangat bangga menggunakan baju buatan ibu yang bahannya juga bagian dari baju ibu yang pernah digunakannya puluhan tahun yang lalu. 



Foto bersama dengan teman-teman suamiku.

Meskipun baju tersebut bagian dari baju bekas ibu, tapi hasilnya sangat memuaskan. Apresiasi pun datang dari teman-temanku yang melihat baju pengantin yang aku pakai. Apalagi saat aku menceritakan proses pembuatan baju dan bahan yang digunakannya. Tidak perlu harus menghabiskan banyak uang menyewa baju pengantin yang hanya sehari saja digunakan, kemudian digunakan lagi oleh pengantin yang lain.



Foto bersama dengan teman-temanku.

Manfaatkan kreativitas yang kamu punya, semua akan menjadi lebih menarik dan membuat hari pernikahanmu kelihatan berbeda, apalagi dibalut dengan cerita. Peran ibu sangat besar bagi kehidupanku, bahkan saat statusku berganti menjadi seorang istri, dia tetap memberikan yang terbaik untukku. Baju pengantin ini akan menjadi sejarah bagiku yang menjadi cerita hebat bagi generasiku.






SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

20 komentar:

  1. Youp .. warna hitam itu memberi warna yang elegan, btw...ku selalu suka lihat pengantin pakai baju hitam... Selamat ya Kak Yell dan Bg Sudar... pasangan fenomena tahun ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih. Semoga bisa menjadi inspirasi buat pengantin lain.😊

      Hapus
  2. Baju pengantinnya cantik. Saya suka banget sama sulamannya bikin bajunya elegan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, yang dibuat dengan cinta dan ketulusan akan tampak elegan mbak.😁Terima kasih sudah berkunjung.😊

      Hapus
  3. Cantik sekali mbak, baju pengantinnya.

    Memang tidak ada keharusan untuk menggunakan baju pengantin dengan warna tertentu ya, jadi bebas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Semua tergantung selera masing-masing pengantin.

      Hapus
  4. Wah bagus ini mbak bikin sendiri bajunya. Saya aja masih dibelikan sama ortu. Salam dari Bengkulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Alhamdulillah. Untungnya ibuku bisa menjahit dan kami buat bersama bajunya. Ibu yang menjahit, aku yang menyulamnya.

      Hapus
  5. Saya setuju menikah nggak harus pakai baju berwarna putih. Saya dulu kebaya dan hijabnya warna ungu. Kata orang masak mau nikah pakai warna janda. Bodo amat, hehe. Untungnya keluarga saya paham banget karena saya emang suka warna ungu. Selamat ya mbak atas pernikahannya, semoga diberkahi ALLAH SWT dan bahagia selalu 😍.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, yang penting tergantung selera dan nyaman kita memakainya. Apalagi disertai dengan makna.

      Hapus
  6. Disulam sendiri pula.. mkin bernilai baju oengantin tersebut. Lagi lagi Barakallah yell

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah,mendayagunakan kreativitas yang ada sama kita.😁

      Hapus
  7. hebaaat sih mba. dgn begini, pernikahanmu jd lebih berkesan krn bajunya dijahit sendiri ;). wrnany bukan wrna yg biasa pula .. tp jujurnya, aku jg ga suka wrna putih. pas nikah dulu akupun lbh milih merah utk resepsi, dan abu2 utk ngunduh mantu. pokoknya ga pgn aja putih :p. krn buatku, putih itu ribet dan gampang kotor :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semua tergantung selera bukan apa yang harus dikatakan orang.😁

      Hapus
  8. Hebaaat! Berani mengemukakan pendapat lengkap dengan data di baliknya. Aku baru tahu lho kalau pakaian pengantin berwarna putih itu berasal dari masa Ratu Victoria. Duh, pinter banget sih mencoba melirik ke belakang. Aku mah iya iya aja warna putih. Sulamannya cantik banget, lho. Ini nih beneran pengantin Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak, yang di gambar samping diriku itu perempuan Aceh dengan pakaian tempo dulu.

      Hapus
  9. Warna baju pengantin sebenernya relatif sih suka atau tidak suka. Terlepas dari semuanya yg penting nyaman dan kdan kalau buatan ibu terdapat kesan sentimentil yg mendalam jd berkesan seumur hidup. Anyway happy wedding buat kalian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,makasih sudah berkunjung. Baju ini bisa jadi cerita buat anak dan cucu aku ke depan.😊

      Hapus
  10. Selamat ya Mbak Yelli :D

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !