Traveling Sambil Kerja, Kenapa Tidak? Ini Tipsnya

Tangse, Kabupaten Pidie

Yang namanya hobi tetap harus disempatin, walaupun sedang ada kerjaan. Beruntung pekerjaanku sebagai penulis membuatku leluasa untuk menyalurkan hobiku yaitu traveling. Desember 2018 lalu, aku terikat kontrak dengan Forum Bangun Aceh (FBA) untuk menulis success story beneficiaries (penerima manfaat) dampingan mereka. Khususnya untuk penyandang disabilitas dan disabilitas psikososial. 

Aku harus mendatangi satu persatu untuk mewawancarai beneficiaries dari FBA di wilayah Aceh Besar dan Pidie. Meskipun harus masuk dan keluar kampung yang tidak kukenali, tapi itu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Apalagi mendengar kisah dari beneficiaries yang membuatku mengurut dada bersyukur atas apa yang aku miliki saat ini. 

Saat berkunjung ke salah satu KSM di Pidie

Bukan perkara mudah menghadapi mereka karena aku harus memilih kata yang tepat saat berkomunikasi dengan mereka. Tambahnya aku baru pertama kali berjumpa dengan mereka sehingga hubungan kepercayaan dan keterbukaan tidak sepenuhnya terjalin. Aku harus pandai-pandai menggali informasi agar mereka mau menceritakan tentang kisahnya. 

Kata-kata seperti ‘cacat, gila, gangguan, rumah sakit jiwa, dan tidak berguna’ harus diganti dengan kata-kata yang lebih halus sehingga tidak membuat mereka tersinggung. Aku selalu berhati-hati bertanya dan menghindari pertanyaan yang membuat mereka emosi. Namun, ada juga di antaranya yang meneteskan air mata saat bercerita kepadaku atas luapan emosi yang dirasakannya. 

Saat mewawancarai benefeciaries

Kemudian aku arus menuliskan kisah mereka tersebut untuk dibukukan, termasuk kisah sukses Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dampingan FBA. Itulah pekerjaanku selama satu bulan, bertemu dengan orang-orang luar biasa dan mengunjungi berbagai tempat yang tidak biasa. 

Kadang, aku juga jenuh dengan semua itu, menjadi pendengar lalu berkutat dengan kata-kata yang harus kurangkai menjadi sebuah tulisan supaya enak dibaca. Aku pun mencari cara agar bisa traveling membunuh rasa jenuhku itu di sela-sela pekerjaanku. Targetku ialah di daerah penghasil emping melinjo, yaitu Kabupaten Pidie. 

Manfaatkan Teman untuk Diajak Traveling

@riosphotos (Bang Rio) pengelola akun youtube Rio De Jak Siuroe

Saat berada di daerah orang, inilah pentingnya punya teman. Tentunya teman yang bisa diajak jalan menikmati daerahnya. Selesai mewawancarai narasumber di beberapa daerah yang kutuju, aku mempunyai waktu luang setengah hari. Dari pada hanya berdiam diri di kamar hotel, aku pun membuat status ajakan di snapchat whats app (WA) berharap ada yang mau menemaniku traveling

“Yang sedang di daerah Pidie dan sekitarnya, jalan yuk. Aku butuh traveling ni di tempat menarik dan instagramable daerahmu.” Tulisku di WA.

Tidak butuh waktu lama, langsung ada yang membalas snap-ku. Asyik ya, punya teman yang mempunyai hobi yang sama. Aku langsung ‘dijapri’ oleh @riosphotos dan @akbarrafs, lalu setelah memberi tahu posisiku mereka pun menjemputku di penginapan. Mereka berdua adalah teman steemitku yang suka banget traveling dan sebelumnya aku pernah pergi traveling dengannya. Jadi, tidak ada rasa khawatir saat mereka membawaku pergi untuk menjelajah daerah mereka. 

Benteng Peninggalan Jepang 

Akbar yang sedang mencoba mengambil foto terbaikku.

Tujuan kami ialah ke Benteng Peninggalan Jepang di daerah Mantak Tari, Simpang Tiga, Sigli. Kami membutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor dari tempatku menginap di pusat kota. Aku begitu menikmati perjalanan ke daerah pantai ini karena emang aku suka banget dengan pantai. 

Di sepanjang jalan aku melihat beberapa gubuk berdiri di tanah berpasir yang dipenuhi sampah.

“Itu rumah orang miskin,” ujar Bang Rio kepadaku. 

“Benaran? Bagaimana mereka bisa tinggal di rumah itu?” jawabku. 

Salah satu tempat yang terbidik oleh kameraku

Bang Rio yang suka bercanda membuat perjalanan kami terasa menyenangkan, walau kadang perkataannya sulit dibedakan antara serius atau candaan. 

Kami pun tiba ke lokasi benteng yang dimaksud. Di sana ada beberapa kios kecil tempat orang berjualan, terlihat beberapa warga yang sedang asyik duduk menikmati keindahan pantai di sore itu. 

Pantai tersebut ditanggul dengan bebatuan besar sehingga menghalangi pandangan. “Kok sudah berubah tempatnya ya? Dulu nggak kayak gini,” kata Akbar. 

Pantai yang kini bertanggul batu

Benteng yang kami tuju pun kini terendam air laut, beberapa di antaranya memang tidak kelihatan lagi temboknya. Kami mendekat dan memerhatikan benteng yang katanya peninggalan tentara Jepang tersebut. 

Awalnya aku mengira benteng ini hanya ada di Sabang, rupanya Kabupaten Pidie juga mempunyai beberapa benteng peninggalan Jepang. Sama halnya dengan benteng Jepang di Sabang, benteng di Pidie terbuat dari beton cor bertekstur kasar dengan ketebalan sekitar 50-100 cm. 

Di sekelilingnya terdapat lubang pengintai yang berfungsi sebagai tempat meletakkan meriam. Selain itu, benteng ini juga digunakan sebagai tempat berlindung tentara Jepang dari serangan lawan. Begitu penjelasan yang kudapat dari Akbar dan Bang Rio. Sayangnya benteng-benteng ini tidak terawat seperti di Kota Sabang karena banyak sampah di sekitarnya. 

Benteng peninggalan Jepang yang kini terendam air laut

Pantainya yang landai berwarna kehitaman dicemari oleh sampah botol plastik, bungkus makanan, dan sebagainya sehingga terkesan jorok. Pemerintah di sini abai dengan tempat ini sehingga hanya sebagian orang yang tahu tempat ini mempunyai nilai sejarah dan indah bila dibersihkan. 

Jam sudah menujukkan pukul 18.09 WIB pertanda hari sudah petang. Aku merasa aneh mataharinya tidak tenggelam di seberang lautan, tapi bersembunyi di balik gunung. Sangat berbeda di daerahku Aceh Selatan yang bila matahari tenggelam selalu masuk ke dalam lautan. Namun tidak untuk di sini, cukup unik. Saat sunrise mataharinya malah keluar di balik lautan, lucu ya? 

Arah matahari tenggelam

Setelah puas menikmati pantai sambil mengabadikan beberapa foto diri di tempat tersebut, kami pun pulang. Pemandangan sore itu semakin indah dengan cuaca yang sangat cerah. Rasa lapar pun menghampiri kami dan aku hawa makan mie kepiting. 

Bang Rio mengajakku singgah di sebuah kios tempat menjual kepiting hidup dan aku bebas memilih kepiting yang kusuka. Sedangkan Akbar dan Bang Rio lebih memilih udang dan kami membawanya ke sebuah warung untuk dimasak. 

Kepiting pilhanku

Tiba di Kota Sigli, hari pun sudah gelap dan kami singgah ke sebuah masjid untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah. Setelah itu, barulah kami pergi ke warung untuk menunggu sajian mie kepiting dan udang yang kami beli sebelumnya. 

Meskipun perjalanannya singkat, tapi aku sangat menikmati kebersamaan dengan mereka. Aku tidak merasa sendiri ketika berada di daerah lain, selama ada teman yang mempunyai hobi sama denganku. Setelah makan malam dengan menu berat, Bang Rio pun mengantarkanku ke penginapan. 

Besoknya aku diajak lagi untuk pergi memancing ikan ke tengah laut menggunakan rakit buatan yang dibuat warga Gampong Mantak Tari. Namun, sayangnya aku harus menyelesaikan perkerjaanku dan kembali lagi ke Banda Aceh. Semoga di lain waktu aku bisa traveling lagi bersama Bang Rio dan Akbar ya. 

Tips traveling sambil kerja 

1. Manfaatkan media sosialmu untuk menyasar teman-temanmu yang berada di kota yang kamu tuju. 

2. Cari teman yang mempunyai hobi sama denganmu dan sudah kamu kenali sebelumnya. 

3. Selesaikan dulu pekerjaanmu sehingga tidak membuatmu kepikiran tentang pekerjaan. 

4. Baiknya dilakukan di hari terakhir setelah perkerjaan utamamu selesai. 

5. Berbagi rezekilah dengan teman-temanmu dari uang jalan yang kamu terima, paling tidak traktir mereka makan dan uang bensinya. 

6. Pastinya saat kamu kunjungan kerja berikutnya akan banyak yang menunggu kedatanganmu. 

Itu tips dari Yellsaints. Perlu dicatat, traveling tidak sekadar hanya menikmati keindahan tempat yang kita tuju, tapi juga melihat keadaan sosial di sekitarnya sehingga menjadi pembelajaran buat kita. Selamat mencoba.


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar:

  1. Mbak itu sebenernya bentengnya tingginya berapa sih?
    Ya ampun, kena abrasi sampai kelihatan kecil begitu. Sedih lihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak tahu sih berapa persis tingginya. Yang jelas benteng itu bisa dimasuki oleh beberapa untuk berlindung. Sekarang nampak rendah karena sudah terendam air laut. Tidak cuma itu mbak,di sekitarnya juga ada benteng lainnya yg sudah tenggelam.

      Hapus
  2. walo pernah lama di aceh utara, aku blm prnh ke sigli :). lewatin doang, tp berhenti utk eksplor daerahnya blm.. ternyata bagus juga yaaa. dan aku lgs bayangin mie aceh kepitingnya mbaa :D. kangen banget ma aceh. thn 2002 aku ninggalin aceh.. baru sekali bakik pas 2016 kmrn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk berikutnya boleh lah mbak kunjungi Aceh lagi dan eksplor wilayahnya sampai ke Sigli.

      Hapus
  3. Seru bangeeet.. Saya pernah juga tuh, jalan2 sambil tetep mantau kerjaan. Trus kalo pas susah sinyal malah pusing karena harus kirim dokumen haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, itu salah satu tantangannya mbak ๐Ÿ˜…

      Hapus
  4. Wah mantab betul tipsnya, ibarat sambil menyelam minum air nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya. Biar kenyang. Makasih sudah berkunjung๐Ÿ˜Š

      Hapus
  5. Sayang sekali ya pantainya kurang terawat, padahal pemandangannya bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itulah lemahnya pemerintah setempat kurang perhatian dengan aset yang ada. Coba dibagusin dan dirawat, pasti mendatangkan manfaat dan meningkatkan pendapatan daerah karena banyak pengunjung.

      Hapus
  6. Wow..ada bg Rio juga di blog yelli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, abang tu ada di mana2 kak๐Ÿ˜…

      Hapus
  7. kayaknya bentengnya mulai tenggelam karena volume air laut naik terus... keliatah di sepanjang bibir pantai dipasangi batu2 sebagai tembok agak abrasi ga semakin mejadi... saya sekali, padahal bernilai sejarah namun tidak terawat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga ada pemerintah Pidie yang baca tulisan saya sehingga mereka merawat benteng peninggalan sejarah tersebut.

      Hapus
  8. Yadong ak juga selalu membawa laptopku kemanapun ak pergi, sekalian menulis perjalanan dan membagikannya di blog :D menyenangkan sekali wuehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,traveling dan menulis dua hobi yang membuatku terus bersemangat.๐Ÿ˜Š

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !