Kisah Anak Pantai


Sebagai daerah pesisir, Aceh Selatan sangat terkenal dengan pantainya yang indah dan mempesona. Apalagi aku yang pernah tinggal di tepi pantai saat mengunsi dahulunya akibat konflik Aceh. Pada tahun 2003, saat diberlakukannya darurat militer di Aceh, kampungku yang berada di kaki gunung, harus segera dipindahkan penduduknya ke daerah yang berada di kota dan dekat dengan jalan raya. Situasi tersebut mengharuskan kami meninggalkan kampung dan mencari rumah di sekitar jalan raya. 
Ayah menyewa rumah yang berada di dekat pantai sekitar jalan raya. Tepatnya di Sawang Bunga, masih di kecamatan yang sama, yaitu Samadua. Rumah kami berada di antara pegunungan dan pantai, hanya sebuah jalan raya yang memisahkan jarak antara pantai dan pegunungan. Rumah yang berukuran 8x3 m itu, cukup untuk menampung 6 orang keluarga kami. Meskipun banyak yang mengatakan hidup mengunsi itu pedih, namun tidak untukku. Malah aku merasa senang dengan rumah baruku dan suasana pantainya.
Awalnya memang susah untuk beradaptasi. Aku yang awalnya tinggal di kaki gunung, dengan suasana tenang dan sejuknya udara pegunungan, harus tinggal di tepi pantai yang diributkan oleh suara hempasan ombak. Hari pertama di rumah baruku, kami semua tidak bisa tidur, karena bunyi hempasan ombak yang begitu dekat, persis di belakang rumah kami. Tapi setelah beberapa hari, kami pun terbiasa dan sudah menjadi nyanyian pengahantar tidur.
Dibelakang rumahku terdapat pantai berpasir dan batu karang. Air lautnya hanya setinggi paha anak-anak seusiaku, yang saat itu berusia 10 tahun. Di pasir ini ku temukan lubang-lubang kecil. Di lubang itu keluar hewan bercangkang seperti kepiting, tapi mempunyai rumah keong. Aku perhatikan satu persatu hewan yang keluar masuk dari lubang kecil itu. Mereka terlihat sama, tapi yang membedakannya ialah rumah atau cangkang yang di bawanya.
Aku menanyakan kepada ayah tentang hewan yang barusan aku lihat. Ayah menyebut hewan itu umang, tapi aku lebih senang menyebutnya hewan pembuat lubang. Setelah jenuh memperhatikan umang yang keluar masuk dari lubang kecil itu, ayah memanggilku. Beliau memberikanku keong, yang ku kira itu batu. Ayah menyebutnya  siput dan isinya bisa di makan. Mereka hidup menempel di bebatuan sekitar pantai. Aku lansung pergi mencari siput itu, yang ternyata sejenis  hewan moluska.
Selain itu ada juga jenis hewan yang mempunyai rumah seperti siput dan menempel di bebatuan. Ayah menyebutnya  cilakek. Sebutan itu diberikan karena dia menempel sangat kuat dibebatuan, dan susah untuk diambil tanpa menggunakan alat. Cilakek ialah sebutan aneuk jame untuk jenis hewan tersebut, yang artinya sangat lengket.
Sekitar 20 m dari tepian pasir, terdapat batu karang yang di tumbuhi oleh berbagai tumbuhan laut. Saat pasang air laut surut, banyak orang datang ke batu karang untuk mencari lolak (sejenis siput, tapi sedikit lebih besar) dan mengambil bunga karang. Aku pun juga ikut turun ke laut untuk melihat apa yang mereka cari. Bunga karang yang bewarna kecoklatan dan menempel kuat di batu karang, rupanya bisa di makan. Mereka mengolahnya menjadi bahan makanan ringang seperti agar-agar.
Awalnya saya tidak mengetahui cara mengolahnya, tapi untunglah ada tetangga yang baik hati mengajarkan cara pengolahannya hinga menjadi sebuah agar-agar. Biasanya ada waktu-waktu tertentu pengambilan bunga karang, yaitu saat surutnya pasang air laut. Masyarakat yang tinggal disekitar pantai tersebut, pergi beramai-ramai untuk mencari bunga karang. Saya yang penasaran melihat orang tersebut, akhirnya ikut untuk melihat apa yang sedang mereka cari. Ternyata mereka mengikis-ngikis batu karang untuk mencabut bunga karang yang menempel di karang tersebut.
Aku yang melihat kejadian tersebut, langsung melaporkan kepada ibu. Aku mengajak ibu untuk mengambil bunga karang seperti orang-orang yang berada disana. Ibupun juga tertarik untuk mencoba mengambil dan memasak bunga-bunga karang tersebut. Dan akhirnya saya berhasil membuat agar-agar bunga karang. Butuh kesabaran dalam membuat agar-agar ini, karena pengolahannya yang dilakukan secara manual.
Pantai Sawang Bunga, Samadua, Aceh Selatan
Pantai bagiku adalah tempat bermain dan belajar. Biasanya aku bermain di sungai ataupun di sawah, tapi saat mengunsi mainku di sekitar pantai. Walaupun ada sesekali mengambil buah jamblang ke gunung. Akan tetapi aku lebih suka bermain di pinggiran pantai dan menemukan hewan-hewan unik yang menurutku itu sesuatu hal yang baru.
Setelah pulang sekolah, aku langsung bermain di pantai. Walau terkadang ibu sering memarahiku karena terlalu sering bermain di laut, apalagi di tengah terik matahari membuat kulitku menjadi gelap. Ayahku sering bilang “kamu anak permpuan, jadi jangan terlalu sering bermain di laut, nanti nggak da yang mau sama gadis ayah yang sudah hitam”. Aku hanya tersenyum mendengar kata yang diucapkan ayah. Tidak ada yang bisa melarangku, apalagi mencegahku untuk tidak bermain di pantai. Bagiku ada atau tidaknya teman yang menemaniku di pantai tidak lah menjadi masalah, aku tetap bermain disana. Pantai sudah menjadi temanku, batu karang tempat bermainku dan hewan-hewan laut yang terdapat di sekitar pantai menjadi sahabatku.
Bulan Juli 2003, kami diizinkan pulang kembali ke kampung halaman. Aku merasa sedih karena harus meninggalkan kehidupan pantai. Situasi darurat militer sudah sedikit mereda di kampung kami. Pejabat pemerintahan setempat sudah menginstruksikan agar penduduk yang mengunsi, kembali lagi ke kampung halamannya masing-masing. Dengan berat hati aku harus berpisah dengan rumah baruku, teman-teman pantaiku. Ayah berjanji akan membawaku lagi kemari saat liburan sekolah.
Setiap libur sekolah aku pergi kesana untuk bermain laut dan mencari bunga karang. Hingga pada akhir tahun 2004, bencana maha dahsyat yaitu tsunami menghantam Aceh. Ribuan orang meninggal dunia, bangunan dan rumah rusak berat yang meninggalkan luka mendalam bagi masayarakat Aceh. Walaupun Aceh Selatan tidak berdampak besar terhadap tsunami Aceh, tapi rumahku hanyut di bawa pasang besar air laut.
Setiap hari, jam, menit dan bahkan detik aku melihat berita yang ditayangkan televisi tentang dampak bencana tersebut. Korban meninggal dan hilang terus bertambah, kota dan perkampungan hancur, meninggalkan puing-puing bangunan yang hanyut karena derasnya air tsunami. Ditambah lagi dengan diputarnya lagu-lagu sedih tentang tsunami, membuatku merasa takut pergi ke pantai.
Bukan hanya aku, tapi teman-teman, keluarga dan bahkan semua orang merasa takut dengan kehidupan pantai. Tetangga-tetanggaku saat aku tinggal di tepi pantai dulu, mengunsi ke tempat kami, karena takut nantinya laut akan memuntahkan isinya lagi. Semua orang takut pergi ke laut, bahkan laut dianggap sesuatu yang mengerikan. Sampai-sampai orang-orang yang ada di kampungku tidak mau memakan ikan laut, yang katanya ikan-ikan laut telah memakan mayat dari orang-orang korban tsunami.
Gempa susulan terjadi, tepatnaya di bulan Mei 2005. Terdengar isu akan terjadi tsunami besar. Jarak pantai dan perkampunganku hanya 1 km, bayangkan kalau benaran terjadi tsunami, maka kami semua habis tenggelam karena daerahku memang daerah pesisir pantai. Ketakutan itu membuat masyarakat berinisiatif untuk menanggul pantai. Namun mereka tidak membuat perncanaan secara matang, sehingga semua pantai ditimbun dengan batu-batu besar. 
Penanggulan bibir pantai sepanjang 5 km
Ketakutan akan gelombang besar tsunami telah menutup bibir pantai sepanjang 5 km. Pantai yang dulunya berpasir dan terdapat barbagai macam hewan laut, sekarang tertutup oleh tanggul batu besar. Tidak ada lagi hewan pembuat lubang di pasir, dan tidak terdapat lagi siput ataupun cilakek yang bisa dimabil. Pantaiku dulu yang indah dan berpasir sekarang berubah menjadi tanggul batu.
*****
Sepuluh tahun sudah tanggul itu di buat sejak 2005 silam. Sekarang aku kembali lagi untuk menikmati keindahan pantaiku dulu. Sayangnya tidak seindah dulu, yang masih berpasir. Disepanjang mata memandang hanyalah tanggul batu di sekitar bibir pantai. Hanya tersisa sekitar 200 m pantai yang masih berpasir digunakan untuk pangkalan kapal kecil penangkap ikan.
Ingin aku melihat hewan pembuat lubang itu lagi, dan mengambil siput dan cilakek, tapi sayang, pantaiku sudah hilang digantikan oleh tanggul batu. Ketakutan akan gelombang tsunami, membuat orang tidak memikirkan efek dari pnimbunan pantai tersebut. Berapa banyak biota laut disekitar pantai harus kehilangan tempat tinggalnya? Perencanan yang kurang matang mengancam kelestarian lingkungan pantai, padahal sampai detik ini tsunami yang ditakutkan itu tidak pernah datang.
Mungkin bisa jadi bahwa penanggulan pantai sebagai salah satu cara mitigasi bencana tsunami, namun apakah cara tersebut merupakan hal yang tepat? Pantai yang dari dulu sudah ada sejak zaman nenek moyang kita, hilang karena generasinya takut akan bencana dari Tuhan.
Pantaiku, tempat bermainku dan sahabat-sahabat lautku, semua hilang karena ketakutan orang-orang sebangsaku. Hanya sekitar 200 m yang tersisa, aku berharap tidak ada orang yang menanggulnya, karena itulah pantaiku yang tersisa.

SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !