Dilema Imunisasi di Tengah Pandemi Covid-19

Foto doc pribadi; Cahya imunisasi campak di saat kondisi pandemi Covid-19

Saat semua orang disibukkan dengan isu virus corona, seluruh dunia menjadikannya sebagai fokus utama. Pemberitaan media massa pun tidak jauh-jauh tentang corona. Masyarakat dunia dibuat resah olehnya sehingga badan kesehatan dunia, World Health Orgnization (WHO) secara resmi mendeklarasikan virus corona (Covid-19) sebagai pendemi pada tanggal 9 Maret 2020.

Setiap hari ada saja kasus yang terkena Covid-19, baik itu yang terinfeksi positif, dirawat atau pun yang meninggal karena virus corona. Mulanya kita hanya mendengar pemberitaan dari media massa tentang korban-korban yang terus berjatuhan karena virus ini di kota asalnya Wuhan, Cina. Namun, seiring berjalannya waktu virus tersebut akhirnya sampai juga ke Indonesia. 

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dalam siaran persnya, Senin (2/3/2020) bahwa dua warga Indonesia yang berdomisili di Depok diketahui positif mengidap Covid-19, setelah berinterkasi dengan warga Negara Jepang yang diketahui lebih dulu menderita penyakit tersebut.

Tidak butuh waktu lama, Covid-19 pun menyebar cepat ke seluruh penjuru Indonesia. Tidak terkecuali Aceh, daerah paling Barat Indonesia. Bahkan Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat, Aceh sebagai provinsi dengan peningkatan kasus kematian akibat virus corona tertinggi dalam periode 12-18 Oktober. Kondisi itu sekaligus menempatkan Aceh di posisi teratas kenaikan kasus kematian Covid-19 dari provinsi prioritas penanganan, (CNN Indonesia, 22/10/2020).

Siapa yang tidak resah dan khawatir melihat kondisi tersebut? Setiap kali ada pemberitaan tentang kematian akibat Covid-19, masyarakat dibuat cemas terlebih pusat pelayanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit menjadi tempat yang rawan dalam penyebaran virus ini. 

Jumlah kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan pun menurun drastis karena khawatir tertular Covid-19. Tambahnya lagi ada petugas kesehatan yang positif terkena Covid-19 membuat masyarakat merasa was-was, bahkan ada beberapa pelayanan kesehatan yang tutup selama 14 hari karena petugasnya dinyatakan postif Covid-19.

Imunisasi Tetap Harus Diberi

Foto ilustrasi; imunisasi tetap harus diberi walau di tengah pandemi Covid-19


Di situasi yang begitu pelik ini, ada pelayanan yang tidak boleh berhenti walau dalam keadaan pandemi, yaitu pelayanan imunisasi. Sebab, imunisasi sangat berguna untuk mencegah anak dari berbagai macam virus lain yang masih tetap mengancam. 

Mungkin saat ini, kita semua takut dengan virus corona, tapi bagaimana dengan virus lainnya seperti hepatitis, difteri, tuberculosis, campak, polio, dan lainya? Bisa saja itu lebih mengancam dari pada virus corona yang sedang menjadi topik pembicaraan saat ini.

Imunisasi merupakan proses penyuntikan vaksin (virus yang sudah dilemahkan) bersifat non-infeksi, ke dalam tubuh untuk membentuk sistem kekebalan tubuh terhadap virus tersebut. Melalui cara ini terbukti dapat menurunkan penyakit infeksi yang disebabkan virus selama massa abad dua puluh, di mana sebelumnya banyak kematian pada bayi akibat penyakit infkesi yang disebabkan virus. Oleh karena itulah, imunisasi sangat dianjurkan sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit walau di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini.

Di Indonesia, ada lima imunisasi dasar yang wajib diberikan untuk bayi usia 0-24 bulan. Imunisasi tersebut, pertama ialah Hepatitis B (Hb-0) untuk mencegah virus hepatitis yang tepat diberikan pada usia 0-1 bulan. Kedua imunisasi Bacillus Calmatte-Guerin (BCG) yang berfungsi untuk mencegah penyakit tuberkulosi (TBC) yang tepat diberikan saat bayi berusia 1 bulan. Ketiga imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio atau lumpuh layu yang bisa membuat kelumpuhan bahkan berpotensi menyebakan kematian. Imunisasi ini diberikan sebanyak empat kali di usia 1, 2, 3, 4 bulan melaui obat tetes mulut dan injeksi di bagian lengan atas sekali (IVP) pada usia 8 bulan.

Keempat imunisasi Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT) yang berfungsi mencegah tiga penyakit, yakni difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Pemberiannya dilakukan sebanyak tiga kali di usia 2, 3, dan 4 bulan. Terakhir adalah imunisasi campak (rubella) untuk mencegah penyakit campak dan diberikan saat usia bayi tepat 9 bulan.

Pelayanan imunisasi tersebut biasanya tersedia di Puskesamas, klinik swasta, atau pun rumah sakit. Namun dengan keadaan yang sekarang ini, di mana pandemi Covid-19 sedang merajalela membuat orang tua enggan untuk membawa anaknya ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi. Mereka takut anaknya akan terinfeksi virus corona karena kebanyakan pemberitaan di media massa, lebih ke arah yang menimbulkan ketakutan masyarakat.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Unicef Indonesia, cakupan imunisasi rutin dalam rangka pencegahan penyakit anak seperti campak, rubella, dan difteri semakin menurun sejak Indonesia melaporkan kasus Covid-19 pertama pada bulan Maret 2020.

Hasil penilaian cepat melalui survei online dari tanggal 20 sampai 29 April 2020, di mana ada 5.329 dari 9.993 puskesmas yang berpartisipasi dalam survey tersebut yang mencakup 388 dari 540 kabupaten dan kota di 34 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa 84% dari semua fasilitas kesehatan melaporkan layanan imunisasi terganggu di kedual level yaitu Puskesmas dan Posyandu. Gangguan sangat besar dan langsung dirasakan, yaitu hambatan akses akibat penghentian layanan disertai dengan menurunnya permintaan yang disebabkan masyarakat takut tertular Covid-19.

Dari survey tersebut juga ditemukan kendala bahwa petugas pengelola program imunisasi dan sumber daya imunisasi dialihkan ke penanganan Covid-19. Selain itu keterbatasan alat pelindung diri untuk imunisasi yang aman dan kekurangan komoditas menjadi masalah dalam pemberian imunisasi semasa Covid-19.

Saya yang saat itu mempunyai bayi berusia satu bulan ketika Covid-19 datang melanda, begitu dilema dengan keadaan ini. Pasalnya saya begitu khawatir membawa bayi saya ke Puskesmas untuk diimunisasi. Terlebih saat itu sedang memuncaknya isu Covid-19 di Aceh. 

Beruntung petugas Puskesmas yang ada di daerah saya, Samadua, Aceh Selatan mau datang ke rumah untuk memberikan pelayanan imunisasi. Bayi saya pun mendapat imunisasi lengkap, mulai dari HB-0 saat lahir, BCG dan polio di usia satu bulan, DPT-HB-Hib 1 dan polio 2 di usia dua bulan.

Namun, selama tiga bulan vaksin DPT tidak tersedia di Puskesmas karena kehabisan stok obat. Saya pun sempat resah karena jadwal tepat pemberian imunisasi sudah lewat dari waktunya. Bahkan saya sempat beberapa kali bertanya kepada petugas Puskesmas, tapi memang untuk daerah Aceh Selatan vaksin DPT sedang tidak ada. 

Akhirnya di usia bayi saya yang keenam bulan, barulah ada vaksin DPT sehingga jadwal pemberian DPT-HB-Hib 2 diberikan pada usia tersebut walau jadwal yang tepatnya di usia tiga bulan. Selanjutnya DPT-HB-Hib 3 di usia 7 bulan dan IVP di usia 8 bulan serta campak di usia 9 bulan.

Selama masa pandemi ini petugas Puskesmaslah yang datang ke rumah-rumah masyarakat untuk memberikan pelayanan imunisasi. Para petugas puskesmas mengetahui semenjak adanya pademi covid-19, masyarakat enggan untuk mendatangi pelayanan kesehatan karena merasa takut. 

Jadi, merekalah yang datang untuk memberikan pelayanan imunisasi kepada bayi yang ada di wilayah kerja mereka. Saya sangat mengapresiasi kerja mereka karena mau melakukan sistem jemput bola seperti ini. Sebab, tidak semua petugas puskesmas mau melakukan hal seperti itu.

Namun, beberapa teman yang berada di daerah lain tidak seberuntung saya. Para petugas Puskesmas tidak memberikan pelayanan imunisasi di rumah, melainkan tetap di rumah sakit atau Puskesmas. Akhirnya mereka memilih untuk tidak mengimunisasikan anaknya karena takut tertular Covid-19. Sungguh disayangkan karena menghindari satu virus yang bernama corona, imunisasi untuk menghindari virus lain terabaikan.

Cara Aman Imunisasi saat Pandemi



Meskipun di tengah pandemi Covid-19, imunisasi tetap bisa dilakukan dengan mengikuti protokol kesehatan yang telah disusun oleh Kementerian Kesehatan. Protokol tersebut antara lain pengaturan kedatangan penerima imunisasi untuk mencegah kerumunan, kewajiban menggunakan masker, menjaga jarak, dan petugas kesehatan selalu menggunakan alat pelindung diri (APD).

Agar masyarakat mau membawa anaknya ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan imunisasi, maka fasilitas kesehatan harus menjamin bahwa tempat yang digunakan aman dari risiko penularan Covid-19. Maka dari itu, fasilitas kesehatan harus menyediakan ruang khusus untuk imunisasi, supaya orang tua dan anaknya yang hendak mendapatkan pelayanan imunisasi tidak tercampur dengan pasien sakit yang mungkin juga sedang mencari pelayanan kesehatan. Tempat imunisasi yang digunakan tersebut hendaknya cukup luas dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Kemudian ruang imunisasi tersebut harus secara rutin dibersihkan dengan disinfektan. Hal ini bisa dilakukan sebelum dan setelah pelayanan. Di tempat tersebut juga tersedia tempat cuci tangan yang mudah diakses lengkap dengan sabun cuci tangan atau hand sanitizer. Setiap pasien diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mendapatkan pelayanan imunisasi.

Meja pelayanan hendaknya diberikan jarak sekitar 1-2 meter, baik itu antara petugas kesehatan dan pasien atau pun antara pasien dengan pasien yang lainnya. Lalu terdapat petunjuk arah tentang pengaturan pola jalur awal masuk sampai keluar sehingga dapat menghindari kerumunan. Dengan adanya peraturan yang jelas seperti ini, masyarakat akan merasa lebih aman dan nyaman ketika hendak membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan imunisasi.

Selain itu, pelayanan imunisasi juga bisa dilakukan di rumah, di mana para petugas kesehatan mendatangi rumah keluarga yang jadwal imunisasi bayinya sudah tiba. Atau kita bisa juga meminta petugas kesehatan datang ke rumah untuk memberikan pelayanan imunisasi. Inilah yang saya lakukan selama pandemi Covid-19 ini.

Saat tiba jadwal imunisasi bayi saya, maka saya segera menghubungi petugas kesehatan yang membidangi pelayanan imunisasi untuk mengingatkannya. Alhamdulillah, selama pandemi berlangsung di Aceh, imunisasi dasar bayi tetap bisa dilakukan secara lengkap. Tidak ada kata berhenti meskipun di tengah pandemi Covid-19, sebab virus yang mengancam bukan saja corona tapi banyak yang lainnya. Imunisasi adalah salah satu cara untuk membentenginya.

SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

18 komentar:

  1. aku kok malah fokus ke busana dokter anaknya ya, unik dan lucu. Emang bagusnya dokter anak itu pake beginian ya mbak. biar anak-anak suka dan gak takut dibawa ke sana. BTW semoga kita semua selalu sehat terutama anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya mba. Dokternya ramah, sampai pakaian dan peralatannya juga ramah, jadi nggak membuat anak takut.😁

      Hapus
  2. saya kok ga tau perkembangan di komplek ya.. apa imunisasi sdh berlangsung lg apa blm. krn dr kapan bulan itu diliburkan. semoga bisa dilakukan lagi ya krn pasti butuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang pastinya harus tetap berlanjut.

      Hapus
  3. Panduan dari nakes untuk imunisasi menjadi pilihan pas kemudian memutuskan. Literasi edukasi kesehatannya bermanfaat.

    BalasHapus
  4. wah, benar. dilema banget ya mbak.. saat pandemi, ananda baru berumur 1 bulan.
    Pasti sangat2 khawatir. Padahal bayi kita butuh imunisasi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, untunglah bidannya datang ke rumah untuk melakukan imunisasi.

      Hapus
  5. Alhamdulillah banyak sekali sekarang jalan buat kita atau anak-anak kita imunisasi di rumah. Saya senang dengan berbagai inovasi yang bermunculan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Semoga ke depan pelayanan kesehatan kita semakin baik ya.

      Hapus
  6. Nah, iya ya, bingung banget gimana cara vaksinasi anak saat pandemi. Alhamdulillaah ada jasa vaksin yang datang ke rumah. Petugasnya lucu bener ini, maksudku pakaiannya hihihihi anak ga takut deh melihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya kak. Anakku aja enteng2 aja lihat jarum suntik didekatkan ke tangannya. Baru nangis saat jarumnya ditusukkan ke tangan.

      Hapus
  7. Karena ketemu postingan ini aku jadi kembali mengecek buku imunisasi anak aku mba..
    ternyata aku masih ada yang kurang nih huhu ::(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alhamdulillah kak, kami berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan imunisasi Cahya.

      Hapus
  8. Semoga pandemi segera berakhir ya mba, agar beraktifitas seperti sediakala.
    Memang kalau pandemi gini para ibu khawatir terhadap balita mereka tuk imunisasi atau nggak.
    Tapi biasanya ada petugas dari puskesmas setempat yang memberi gimana solusi terbaik terlebih lagi yang berada di perdesaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya di tempat kami petugasnya datang ke rumah. Seperti yang aku tuliskan di atas.

      Hapus
  9. Beruntung ya mbaak petugas kesehatannya bisa dateng kerumah, patuh prokess jugaa jd kitanyaa juga tenang. Huhu pandemi semoga segera berakhirr. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga segera berakhir ujian pandemi Covid-19 ini.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !