Tips Menjadi Pembicara Andal di Depan Umum

Ilustrasi; berbicara di depan umum

Sebelum aku menjelaskan tentang tips menjadi pembicara andal di depan umum, aku ingin menceritakan pengalamanku saat menjadi pembicara di pertemuan ke-59 Forum Aceh Menulis (FAMe). 

Ceritanya lumayan panjang, tapi semuanya sarat akan pembelajaran. Jadi, bagi kamu yang ingin melanjutkan membaca, carilah posisi weenak (PW) supaya lebih santai saat membacanya. 



“Tiga syarat untuk menjadi pembicara andal, yaitu persiapan, persiapan, dan persiapan.” Begitulah yang disampaikan pakar public speaking Saifuddin Bantasyam setelah aku presentasi. 



Materi pada pertemuan tersebut yaitu tentang Praktik Menjadi Moderator Diskusi/Seminar dan Pembicara Andal. Aku ditunjuk sebagai pembicara yang akan memaparkan materi di pertemuan tersebut, oleh Pembina FAMe, Yarmen Dinamika. 

Walau dalam hati terasa deg-degan karena presentasiku akan dinilai langsung oleh pakarnya, aku tetap menyetujuinya karena sang guru sudah mempercayai aku sebagai model untuk pertemuan tersebut. 

Dalam perasaan yang bercampur aduk, aku mencari materi yang cocok disampaikan kepada audiens FAMe. “Anggaplah seperti persentasi benaran, jadi persiapkan materi dengan baik,” sampai Pak Saifuddin di grup whats app FAMe. 

Aku semakin deg-degan karena yang menyaksikan penampilanku bukan peserta biasa, dari kalangan mahasiswa seperti saat aku kuliah dulu. Namun, di sini hadir dari berbagai lintas sektoral dan profesional seperti dosen, guru, jurnalis, seniman, dan sebagainya. Nyaliku semakin ciut ketika membayangkan para audiensnya. 

Bukan Yelli namanya bila tidak mampu menyelesaikan tantangan dan tanggung jawab. Sesuatu yang dipercayakan kepadaku harus kulakukan dengan profesional sesuai harapan orang-orang yang memilihku. Jiwa perfeksionisku muncul, aku segera mempersiapkan semuanya secara sistematis sesuai apa yang aku konsepkan dalam pikiranku. 

1. Persiapan 

H-2 sebelum acara, aku sudah menyiapkan bahan sesuai dengan pengetahuanku. Aku membuat slide presentasi dengan judul Eksis di Dunia Blogger. Menurutku itulah materi yang cocok kusampaikan karena dua tahun belakangan, aku cukup eksis menulis di blog dan menjadi blogger. 

Slide I 

Sebelum membuat slide, terlebih dahulu aku mencari referensi dengan blogwalking ke blog orang lain. Aku mencari materi apa yang akan kusampaikan nanti dan kemudian aku buat listnya, supaya mudah membuat poin-poin. 

Coretanku sebelum membuat slide PPT

Setelah semua ide terkumpul di kertas coret moret, aku mulai mengonsepkannya di dalam pikiranku yang kemudian kutuangkan dalam bentuk slide powerpoint (PPT). 

Aku lebih suka menggunakan gambar dalam slide PPT ketimbang banyak tulisan yang membosankan. Bagiku, gambar akan memudahkanku untuk bercerita sesuai dengan karakter belajarku yang lebih ke arah visual. 

2. Berlatih 

Meskipun ini sebuah praktik, aku tetap berlatih presentasi di depan cermin dan memasang stopwatch berapa waktu yang kuhabiskan untuk menyampaikan materi. Mungkin sebagian orang menganggap aku lebay dan bahkan adikku tertawa melihat tingkahku, saat berlatih sendiri di kamar layaknya presentasi benaran. 

Lagi dan lagi, jiwa perfeksionisku memaksaku untuk melakukan itu semua karena aku ingin tampil terbaik saat persentasi. Aku juga membuat catatan kecil untuk memudahkanku mengingat kalimat yang akan kusampaikan nantinya. Satu hal yang aku lupa ialah meng-printout slide PPT ku. 

3. Tampil 

Hari yang dinantikan pun tiba, aku sudah siap tampil sesuai dengan apa yang telah kupersiapkan sebelumnya. 

Kadang, ekspektasi tidak selalu sesuai dengan kenyataan sehingga kesempurnaan hanya sebatas keinginan. Namun, Tuhan yang menentukan segalanya karena ada pesan cinta dibalik ketidaksempurnaan. 

Saat akan tampil, moderator yang telah ditunjuk untuk memanduku tiba-tiba tidak hadir tanpa ada pemberitahuan. Selanjutnya diganti dengan moderator lain yang kuyakin, dia tidak ada persiapan sama sekali sehingga Curriculum Vitae (CV) ku yang sehari sebelumnya sudah kuberikan kepada moderator utama, tidak ada pada moderator pengganti. 

CV Yelli Sustarina

Acara yang semula aku anggap berjalan aman-aman saja, nyatanya tidak seperti yang kuiinginkan. Ada sedikit miss komunikasi antara aku dan moderator pengganti yang membuat suasana diskusi sedikit canggung. 

Perasaan gundah pun mulai merasuk ke sanubari, aku mulai mengupat dalam hati kenapa kejadiannya begini. Namun, aku berusaha untuk mengendalikan diri supaya tenang agar presentasi ini bisa berjalan lancar. 

Aku segera memulai presentasi. Baru dua slide materi yang kusampaikan, tiba-tiba layar proyektor mati sehingga slidenya pun hilang. Sebenarnya aku ingin melanjutkan materi walau tanpa ada slide PPT, tapi kulihat tidak ada yang berupaya untuk membenarkannya sehingga aku harus turun tangan untuk memperbaikinya. Moderator pun juga tidak mengambil alih dalam situasi urgent seperti ini yang membuat diriku benar-benar ingin berteriak dan lari dari ruangan itu. 

Akan tetapi, aku tidak mungkin melakukan itu karena di sinilah tanggung jawabku sebagai presenter yang harus menerima semua kenyataan yang kurang menyenangkan. “Toh, aku sedang belajar dan banyak hal yang kupelajari dari kejadian ini,” bisikku dalam hati untuk memotivasi diri. 

Lima belas menit berlalu, akhirnya layar proyektor menampilkan slide kembali dan aku melanjutkan persentasi hingga selesai. Seiring berjalannya waktu, aku mulai rileks dan menikmati materi yang kusampaikan. 



Dari panjang lebar ceritaku di atas tentang pengalaman menjadi pembicara di depan umum, berikut tips yang bisa kusampaikan supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Tips ini juga yang disampaikan oleh Master Public Speaking, Saifuddin Bantasyam saat mengomentari penampilanku. 

1. Persiapkan Alat dan Bahan Presentasi 

“Jangan pikirkan it’s gonna be ok,” begitulah kalimat yang muncul dari Saifuddin Bantasyam. 

Semua bisa saja terjadi di luar kehendak kita, maka dari itu semua peralatan dan bahan harus dipersiapkan untuk mengatasi kejadian buruk saat presentasi. 

Bila slide PPT sudah dipersiapkan dengan baik, jangan lupa print hardcopy-nya, sehingga bila ada kejadian seperti yang kualami, kita bisa melihatnya di hardcopy materi yang kita print. 

Termasuk bila kamu harus menggunakan spidol dan kertas flipchart, bawalah sendiri untuk persediaan karena terkadang panitia lupa menyiapkan itu semua. 

Untuk bahan presentasi hendaknya harus memperhatikan secara jeli struktur kalimatnya, untuk menghindari typing error (typo) di dalam slide. Oleh karena itu, perlu adanya editing setelah bahan materi selesai dengan cara membacanya berulang-ulang. 

2. Penyampaian saat Presentasi 

Dalam menyampaikan presentasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu; opening, substansi, dan closing

a. Opening (Pembuka)

Saat membuka presentasi, hendaklah menyampaikan poin apa saja yang akan disampaikan sehingga audiens mempunyai gambaran apa saja yang akan mereka terima dari presentasi tersebut. Kemudian sebutkan berapa lama waktu presentasi. 

Contoh; Eksis di Dunia Blogger. 

“Baiklah Bapak /Ibu sekalian, ada empat poin yang akan saya sampaikan dalam meteri Eksis di Dunia Blogger, yaitu; 

1. Cara membuat blog 

2. Alasan dan motivasi ngeblog 

3. Tulisan di dalam blog 

4. Manfaat ngeblog 

“Saya akan menyampaikannya dalam waktu 15 menit yang nantinya Bapak/ Ibu akan termotivasi untuk menjadi seorang blogger seperti saya dan tentunya bisa terkenal dan menghasilkan uang.” 

Begitulah seharusnya saat opening dalam presentasi dan saya melupakan hal itu saat presentasi di kelas FAMe. 

“Opening merupakan pengantar sebelum masuk ke dalam isi materi sehingga para audiens bisa mengikuti materi yang kita sampaikan,” kata Pak Saifuddin. Ibarat menaiki pesawat terbang, pasti ada pemandu yang menyampaikan kepada penumpangnya saat pesawat akan lepas landas. Begitu juga dalam presentasi, harus ada pengantarnya. 

b. Substansi (Isi)

Untuk substansi hendaknya membahas sesuai dengan poin yang sudah disebutkan sebelumnya. Jangan sampai isi materi yang disampaikan melenceng dari poin dan judul presentasi. 

Berikut materi yang kusampaikan saat praktik menjadi pembicara di kelas FAMe. 

Slide II

Slide III

Slide IV

Slide V

c. Closing (Penutup)

Hal yang perlu diperhatikan saat closing ialah mengreview kembali apa yang telah disampaikan sesuai poinnya. Tujuannya untuk mengingatkan kembali apa yang telah disampaikan sehingga audiens bisa mengambil poin-poin yang kita sampaikan. 

Sampaikan juga harapan kita kepada audiens setelah mendengar materi ini. Contohnya; “saya berharap dengan penyampaian ini, Bapak /Ibu bisa terbuka pikirannya bahwa menulis di blog bisa eksis, dikenal banyak orang, dan mendapatkan uang. Jadi, Bapak/Ibu bisa melakukan seperti yang telah saya sampaikan tadi bila ingin eksis di dunia blogger.” 

3. Lakukan Engagement kepada Audiens 

Satu hal yang sering dilupakan oleh pembicara ialah engagement (pendekatan) kepada audiensnya. Saat praktik, aku masih sangat kurang dalam hal ini sehingga para audiens kurang fokus terhadap apa yang aku sampaikan. 

Engagement bisa dilakukan dengan menyapa auidiens dan mengajak berkomunikasi dua arah. Misalnya; “Siapa di antara Bapak/Ibu yang sudah punya blog? Bisa diceritakan apa yang biasanya dituliskan di blog?” 

Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa membuat dekat antara pembicara dengan audiensnya sehingga audiens merasa keberadaannya diperhatikan. 

Selain itu, intonasi dan vokal saat presentasi harus jelas sehingga para audiens tertarik untuk mendengarkannya. Untuk hal ini, aku masih perlu belajar banyak lagi karena untuk olah vokal, ada teknik khusus yang harus dipelajari dan dilatih sehingga suara yang diekeluarkan bisa bulat dan menggema seperti penyiar radio, hehe. 



Nah, itulah tips yang bisa Yell Saints rangkum dari penjelasan Master Public Speaking, Saifuddin Bantasyam tentang menjadi pembicara andal di depan umum. Kata beliau “persiapanlah yang membuat Anda menang.” Maka dari itu, syarat menjadi pembicara andal menurutnya yaitu persiapan, persiapan, dan persiapan. 

Sebuah kalimat yang sering disebut-sebut di kelas FAMe dalam kelas public speaking ialah “Orang yang tampil tanpa persiapan akan turun tanpa penghormatan.” 

Alhamdulillah, aku ada melakukan persiapan sehingga turun dengan kehormatan. Walau ada beberapa kesalahan teknis, itu hal biasa. Inilah yang disebut pembelajaran. Meskipun ini merupakan pengalaman pribadiku, apa salahnya berbagai sebelum kamu mengalami kejadian yang sama denganku. 

Bukankah kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman gagal seseorang sehingga kita bisa mengantisipasinya? 

Inilah pengalamanku yang juga menjadi pembelajaran bagiku di waktu yang akan datang. Aku yakin, pengalaman ini akan memperbaiki diriku saat menjadi pembicara berikutnya di kesempatan lain. 

Alhamdulillah, pada tanggal 16 Desember 2018, aku diundang oleh Pomaprenuer untuk mengisi materi. Semoga presentasi kali ini berjalan lancar dan sukses ya. Mohon doanya. 


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. Semoga acaranya berlangsung sukses, apalagi persiapan yang baik akan menghasilkan kesan baik buat para audiensi. Sama kayak ngeblog, nulis yang serius pasti dapat apresiasi yang serius pula.

    BalasHapus
  2. Amin, mohon doanya ya Bal.😊🙏

    BalasHapus
  3. Meskipun bekerja dari rumah, ada kalanya aku pun "terpaksa" harus ngomong di depan orang banyak alias presentasi ginilah. Aku setuju banget dengan keseluruhan persiapannya dan yang paling utama mengatasi nervous, beuh itu penting banget. Harus PD dan gak nervous. Nice sharing Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau punya ilmu pasti diajak oranglah Mas untuk sharing dan ini saatnya kita mau nggak mau harus memberanikan diri untuk tampil di depan umum, hehe. Thanks sudah berkunjung 😁

      Hapus
  4. Keren bgt ulasannya mba... Gk segampang yg di bayangkan ya. Dag dig dug der smg sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jantung berdebar-debar kayak genderang mau perang. Amin, makasih doanya.

      Hapus
  5. Keren bgt ulasannya mba... Gk segampang yg di bayangkan ya. Dag dig dug der smg sukses selalu

    BalasHapus
  6. ketakutan terbesar saya adalah berbicara di depan umum, meskipun sudah matang betul persiapannya tetap saja "hancur" ketika tampil di depan.... sudah persiapan matang, berlatih, dan segala macamnya....

    yg membuat saya gagal adalah nerveous.. gugup.... saya ga bisa menanggulangi rasa demam panggung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, berarti tingkatkan lagi jam terbangnya supaya gugup nk

      Hapus
    2. Supaya gugupnya bisa teratasi. Semoga sukses Mas saat tampil berikutnya.

      Hapus
  7. waaah keren mbaaak.. makasih banyaak tips tips yg dibagikaan, memang untuk menampilkan yg terbaik pasti membutuhkan persiapan dan perjuangaan. semogaa lancar jugaa ya mbaak mini classnya. terus semangaat berbagi kebaikaan. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak. Alhamdulillah mini classnya lancar dan pesertanya senang banget saya tampil.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !