#CerdasDenganUangmu, Enam Tips Cara Melunasi Utang yang Mendesak

Ilustrasi/pixaby.com

Pernahkah kamu terlibat utang yang penagihnya mendesakmu terus-menerus hingga menjadi teror bagimu? Meskipun kamu telah berupaya menjelaskan kondisimu, tapi dia tidak mau mengerti dan ngotot agar kamu melunasinya segera. Bahkan dia tidak mau bila utang tersebut, dicicil pembayarannya. 

Aku pernah mengalami hal demikian yang membuatku benar-benar stres dibuat oleh penagih utang seperti itu. Utang tersebut sebenarnya ialah utang orang tuaku kepada adik kandungnya sendiri, tapi perilakunya lebih dari rentenir yang kehausan uang. Namun, beruntung aku mempunyai cara agar bisa melunasi semua utang itu kepadanya. Berikut yang bisa kubagikan dari pengalamanku cara melunasi utang yang mendesak. 

1. Cobalah bernegosiasi dengan si penagih utang 

Biasanya si penagih utang berada di puncak emosi yang bila dipancing, tidak akan menemukan titik solusi. Cara yang paling baik dilakukan ialah bernegosiasi dengan si penagih utang. Tawarkan waktu tenggang atau cara pengembalian uang yang disepakati oleh dua belah pihak. 
Ilustrasi negosiasi/pixabay.com

Pada kasus yang pernah kualami, aku mencoba bernegosiasi dengan penagih utang yang akhirnya mendapat kesepakatan. Jumlah utang tersebut Rp25.000.000 dan aku harus membayarnya dalam waktu enam bulan. 

Sebelum adanya negosiasi ini, orang tuaku dan adiknya sempat bertengkar hebat sehingga memperenggang hubungan keduanya. Akhirnya tidak ada solusi apa pun hingga aku masuk terlibat untuk menyelesaikannya. 

“Pelajaran terpenting tentang negosiasi dengan orang yang berada di puncak emosi ialah menghindar dari sikap konfrontatif (mengacu ke arah konflik).”

2. List sumber pemasukan 

Berikutnya kamu harus menglist sumber pemasukan yang dapat membayar utang tersebut. Setiap pemasukan yang ada, prioritaskanlah untuk membayar utang. Sisihkan 30% setiap kali ada pemasukan yang bersumber dari mana pun. 


Prioritaskan untuk membayar utang/pixabay.com

Sumber pemasukan untuk membayar utang orang tuaku ialah dengan cara menulis. Aku aktif menulis di berbagai media cetak dan online, mengikuti lomba menulis, dan kerja part time untuk membayar utang tersebut. Maklumlah saat itu aku baru saja tamat kuliah dengan kondisi keuangan yang belum stabil. Aku harus bekerja keras untuk bisa membayar semua utang orang tuaku dalam waktu enam bulan. 

3. Diam lebih baik daripada berdebat 

“Senjata terbaik untuk melawan perang mulut adalah diam.” 
Kadang ada kala kita tidak mampu melunasi utang sebagaimana kesepakatan yang dibuat saat negosiasi. Mengutarakan alasan hanya membuat si penagih utang semakin kesal terhadap kita, sekalipun kita telah berupaya menjelaskannya dengan baik. Oleh karena itu, hindari perdebatan dan lebih baik diam. 


Ilustrasi/speakingmagz.com

Beruntung bila si penagihnya baik dan mau mendengar alasan yang disampaikan. Namun, bila si penagihnya ngotot dan tidak mau mendengar alasan yang disampaikan, lebih baik diamkan saja. 

Seperti yang kualami dulu, si penagih terus mendesakku untuk membayar utang. Dalam tempo yang disepakati uang yang kukumpulkan belum mencapai Rp25.000.000, tapi hanya setengahnya. Aku menawarkan untuk membayarnya setengah dulu, tapi dia menolaknya dan malah mengancamku. 

Padahal aku sedang berupaya mengumpulkan uang untuk membayar utang tersebut, tapi dia tetap menelponku dan mengirimkan pesan dengan nada yang mengancam. Manusia mana yang bisa tenang dengan kondisi tertekan seperti ini? 

Akhirnya aku putuskan untuk tidak mengangkat telpon dan membaca sms dari si penagih utang tersebut. Bukan berarti aku menghindar dari tanggung jawab, tapi aku butuh ketenangan agar konsentrasiku fokus dalam mengumpulkan uang untuk membayar utang. 

4. Minta pinjaman ke teman-teman baikmu 

Hanya teman baik yang mau membantumu melepaskan dari kesulitan. Saat itu aku menyadari, bukan hubungan darah yang menjadi andalan untuk bisa membantu kita dari kesulitan. Meskipun teman bukanlah keluarga yang mempunyai hubungan darah, tapi teman yang baik lebih dari saudara kandung sendiri. 
Ilustrasi/99.co

Aku mencoba meminta bantuan seikhlasnya bagi teman-teman yang mau meminjamkan uangnya kepadaku. Alhamdulillah, berkat beberapa temanku terkumpul sekitar Rp10.000.000 dan aku berjanji akan menyicilnya nanti. 

Aku pun bisa membayar utang orang tuaku walau dua bulan lebih dari waktu yang ditenggatkan kepadaku. Delapan bulan berlalu, aku melunasi utang orang tuaku, satu persatu utang dari teman-temanku pun bisa kubayar. 

5. Bantu orang lain yang berutang 

Meskipun kamu terlilit utang lebih besar, bantulah mereka yang ingin berutang kepadamu. Atau mereka yang berutang kepada orang lain dalam jumlah lebih kecil, tapi tidak mampu melunasinya. Kamu juga tidak perlu menagih utang dengan sadis kepada orang yang pernah berutang kepadamu. Tuhan akan mempunyai cara melunasi semua utang-utangmu. 
Ilustrasi/google.co.id
Seperti yang disampaikan Dewa Eka Prayoga yang pernah terlilit utang sampai miliaran rupiah. “Jika seseorang memiliki utang kelas paus, maka carilah orang-orang yang mempunyai utang kelas kakap. Jika utangmu terbilang kelas kakap, cari mereka yang utangnya kelas teri. Kemudian bantu mereka untuk melunasi utangnya." 

6. Percayakan kepada Allah swt 

Bila semua hal di atas sudah kamu lakukan dengan baik, sekarang serahkan kepada Allah swt biar Ia yang melakukan semuanya. Berserah diri adalah cara terbaik saat doa dan usaha telah dilakukan. 


Ilustrasi berserah diri kepada Allah swt/pixabay.com
Inilah yang aku lakukan saat aku terdesak harus membayar utang orang tuaku. Meskipun utang orang tua, aku merasakan bagaimana stresnya harus berhadapan dengan si penagih utang. Oleh karena itulah, aku menyadari betapa perlunya literasi keuangan supaya tidak terlilit utang. 

Supaya kamu tidak didesak seperti kejadian yang pernah aku alami, sebaiknya #cerdasdenganuangmu dan kelolalah dengan cara baik. Namun, bila kamu ingin melunasi utang dengan cepat bisa ikuti berbagai tips dari Money Smart. Berbagai referensi tentang solusi melunasi utang dapat kamu temukan di sini.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Money Smart dengan tema #CerdasDenganUangmu.



SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. sebisa mungkin sih aku memang menghindari hutang. dulu itu pas msh blm terlalu paham cara mengatur keuangan, sempet juga punya banyak cicilan di kartu kredit. memang siih ga sampe di telin, krn semuanya masih bisa aku cicil. tapi gara2 itu tabunganku bisa dibilang nil. gajian, byr utang, gituuu trus. makanya pas ad rezeki bonus, semua hutang cc aku lunasin, trus aku tutup. skr ini aku hanya pakai 1 cc, itupun hanya utk jaga2. ga pgn lg terlibat hutang. ya tapi kalo adekku mau pinjam duit, itu sih aku kasih aja. selagi aku mampu, ga akan aku tagih lah.. kec utk teman yg aku tau dia hutang hanya utk gaya hidup, aku males ngasih hutangan utk org begitu. ada 1 org temen yg gitu mba. sedih skr hidupnya. demi lifestyle, ga mau liat kemampuan diri..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Sekarang aku juga sangat menghindari yg namanya utang. Sebisa mungkin kalau nggak terjepit sekali, aku nggak ngutang.

      Hapus
  2. Semoga jadi pelajaran ya Yel, semoga ke depannya dihindari dari segala jenis utang-piutang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah. Makasih bg, ini cobaan dan juga pembelajaran.

      Hapus
  3. Sedekah bisa jadi salah satu solusinya kak, emang kalo dipikir2, kita lagi butuh uang, tp kok sedekah?
    Karena sedekah itu akan Allah balas 10x lipat.. Initinya Allah maha Kaya, Allah yg akan turun langsung utk melunasi hutang kita .
    Semangat ya kak, semoga jadi pembelajaran ke depan, buat kami juga biar lebih hati2 ya... Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar banget. Sedekah dapat mempermudah kita dalam membayar utang, apa lagi kalau kita sedekah kepada orang yg sangat membutuhkan.

      Iya, makanya pengalaman ini kk sharing supaya jadi pembelajaran buat kita.

      Hapus
  4. Masya Allah utang itu benar2 ngeri yah kak, smg qt terjauh dari yg namanya utang amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ya Allah. Minta2 dijauhkan dengan semua itu. Cukup itu sajalah menjadi pengalaman.

      Hapus
  5. meskipun belum pernah mengalami kejadian seperti mbak, saya bersyukur sih... tp membaca ini jadi paham kondisi sipemilik utang ... ga semua yang berutang lari tanggungjawab, tp karena keadaan dan terus berusaha untuk melunasi utang... mana tau kedepannya saya mengalami masalah yang sama saya bisa belajar dari tips diatas... oh, kalau posisi saya yang punya banyak piutang mbak... dan sudah mengikhlaskan saja kapan mereka mau bayar... habis ditagih juga ga dibayar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semua yg saya tuliskan adalah untuk diambil pelajarannya. Bukan maksud untuk menjelek2an si penagih utang, tapi hanya ingin menjelasakan tentang bagaimana kondisi orang yg berutang tersebut meskipun bukan saya langsung yg berutang. Namun, dari kejadian ini saya berharap ke depan tidak mau lagi terlibat dalam utang.

      Hapus
  6. Tulisan ini menjadi pelajaran untuk kita semua. Semoga kita semua terhindar dari yang namanya utang. Pokonya minta bantuan Allah apapun itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semoga Allah melindungi kita dari lilitan utang.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !