Empat Hal yang Ditakuti Orang Luar Ketika Datang ke Aceh

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Bulan lalu, aku membawa mbak-mbak wartawan dari Majalah Kina yang berasal dari Pulau Jawa untuk mengunjungi pengrajin songket di Lamno, Aceh Jaya. Ketiga mbak tersebut Sella, Desti, dan satu lagi aku lupa namanya, belum pernah sekali pun datang ke Aceh. 

Dalam bayangan mereka, Aceh itu cukup mengerikan bahkan saat dipaparkan apa yang menjadi asumsi mereka tentang Aceh membuat diriku nggak sanggup ketawa. “Aceh sangat jauh dari ekspektasiku, ujar Desti yang begitu senang melihat keindahan alam yang ada di Puncak Geurute, Aceh Jaya. 

Pernah juga teman-temanku yang lainnya ketika datang ke Aceh merasa takut dan was-was saat berkunjung ke Negeri Syariat Islam ini. Dalam presepsi mereka Aceh adalah daerah yang tidak aman karena terlalu mengekang hak asasi manusia dalam bingkai syariat. Benarkah seperti itu? 


Berikut lima hal yang ditakuti orang luar ketika datang ke Aceh versi Yell Saits. 

1. Takut dicambuk 

Pemberitaan media tentang hukuman cambuk bagi pelaku zina, judi, dan minuman keras di Aceh menimbulkan penafsiran beragam dari orang luar Aceh. Mereka menganggap penetapan hukum cambuk begitu gampang, berdasarkan azas praduka langsung dikenai hukuman cambuk. 

Seperti halnya mbak Sella dan teman-temannya menolak untuk diantarkan oleh Bang Azhar sebagai guide karena takut dicambuk karena lawan jenis. Mereka mengira Aceh begitu sakral sehingga perempuan dan laki-laki tidak boleh berada dalam satu mobil, meskipun beramai-ramai. 

Mereka juga terkejut ketika banyaknya perempuan di warung kopi duduk satu meja dengan laki-laki. “Aku pikir bila ada laki-laki dan perempuan duduk satu tempat langsung dicambuk,” ujar mbak Desti sambil ketawa. 


“Kalau duduknya berdua-duaan, di tempat gelap, dan melakukan zina ialah dicambuk. Ini kan kita duduknya ramai-ramai dan di tempat umum. Bahkan mereka yang ada di warung kopi itu kebanyakan komuintas anak muda yang berdiskusi untuk menghasilkan sebuah karya atau para mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas. Di sini warung kopi dilengkapi dengan fasilitas wifi dan suasana yang nyaman sehingga membuat orang betah melakukan diskusi di warung kopi, jelasku kepada mereka. 

2. Takut makanannya ada ganja 

Dua tahun lalu, temanku Mifta mengajakku untuk membawa temannya yang dari Manado jalan-jalan ke Aceh. Saat kami makan mie di salah satu warung terkenal di Banda Aceh, temannya itu terlihat pucat karena mengira mie yang disajikan terdapat ganja. 




Memang saat video DR Khalid Basalamah yang beredar di media online tentang orang Aceh senang menggunakan ganja di dalam masakannya, banyak yang terpengaruh. Padahal itu hanya asumsi dan akhirnya Doktor itu meminta maaf kepada masyarakat Aceh karena menarik kesimpulan yang salah. 

3. Takut salaman dengan lawan jenis 

Banyak juga lelaki yang merasa was-was saat bersalaman dengan gadis Aceh. Khususnya bagi mereka yang berasal dari luar Aceh menganggap cewek Aceh tidak mau berjabat tangan saat bersalaman (bukan muhrim). Padahal tidak semua cewek Aceh demikian karena selama tidak menimbulkan syahwat, tidaklah menjadi masalah. 



Yang jangan ialah lama-lama pegang tangannya sambil mencuri kesempatan, lansung ditabok tu oleh cewek Aceh. Lol :D. 

4. Takut tidak menggunakan jilbab 

Ini yang paling ditakuti oleh kaum hawa saat datang ke Aceh, kalau tidak menggunakan jilbab langsung dicambuk dan dihakimi. 

Aku harus menjelsakan di sini bahwa semua perempuan Aceh dewasa menggunakan jilbab. Dan ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat Aceh, bahkan dari kecil pun sudah dipakaikan jilbab karena sebagai identitas perempuan Aceh. 

Bila ada orang luar Aceh datang ke Aceh tidak menggunakan jilabab akan terasa asing. Jadi, dibandingkan menjadi pusat perhatian orang banyak mending kamu menggunakan jilbab kan? 

Misalkan saja kamu menggunakan kaos dan celana pendek ke pesta pernikahan temanmu, bagaimana pandangan tamu undangan kepadamu? Atau ke pantai menggunakan kebaya lengkap dengan kondenya. Tentu aneh jadinya kan? 

Maka, berlakulah pepatah Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.



Jadi, bagi kamu yang berpikiran aneh-aneh tentang Aceh, datang dululah ke Aceh dan buktikan sendiri bagaimana kondisi Aceh sebenarnya.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. WAH benar banget mbak, mayoritas pertanyaan begini, apalagi yang terkhir :D

    BalasHapus
  2. Aceh ga semengerikan itu :p. 18 thn aku tinggal di aceh dulu, kota ini malah slalu bikin kangen. Malah ga sabar pgn ksana lg mba. Dulu pas aku msh di sana, syariat islam memang blm ada. Tp kebiasaan jilbab di sana udh ada dr dulu. Makanya aku ga ngerasa ribet ato apapun saat hrs pakai jilbab di aceh :)

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !