Wisata Air Terjun Talago Batu di Negeri Para Penambang

Wisata Air Terjun Talago Batu di Negeri Para Penambang
Air Terjun Talogo Batu di Menggamat
Foto doc. pribadi

Tahukah kamu di mana negeri para penambang itu?

Negeri yang kaya akan sumber daya alam, tidak hanya air dah hutan tapi juga isi bumi lainnya seperti emas, mineral berupa bijih besi dan tembaga.

Selama sepuluh tahun terakhir tercatat ada enam perusahaan tambang resmi yang menguasai kawasan ini. Lain lagi para penambang liar, baik yang dikelola oleh warga setempat atau pun warga dari daerah lain yang datang kemari untuk menambang.

Hutannya pun juga dijarah, tidak tanggung-tanggung tahun 2016 lalu pemerintah Aceh kembali memberi izin usaha industri primer hasil hutan kayu (IUIPHHK) jenis sawmill dengan kapasitas produksi 2.000 m3 per tahun (Serambi Indonesia, 22/05/2017). 

Sungainya pun juga dieksploitasi dengan menggunakan mesin penyedot pasir. Berton-ton batu diangkat dari sungai ke daratan untuk diolah menjadi emas. 

Jalanan menuju area  tambangFoto doc. pribadi

Semua kekayaan alamnya sedang dikuasai oleh para penambang di daerah yang bernama Menggamat Kluet Tengah, Aceh Selatan. Sehingga pada 22 Mei 2017 lalu, muncul sebuah tulisan di halaman Serambi Indonesia yang berjudul Menggamat Menanti ‘Kiamat’.

****


Hujan terus turun menyambut kedatangan kami, 10 menit perjalanan dari desa Kotto ke hilir sungai Talogo Batu cukup membuat baju kami basah kuyup.

Niat kami sudah bulat pergi ke air terjun Talogo Batu, meski hujan tidak ada tanda-tanda berhenti. Awan hitam menyelimuti hutan Menggamat, burung-burung masuk ke sarang mereka, suara kodok menjadi-jadi meminta hujan ditambah lagi.

Kami terpaksa harus berteduh di pondok salah satu penambang emas. Ada belasan pondok kecil yang didirikan penambang sebagai tempat mereka berteduh.

Di pondok tersebut dilengkapi dengan kompor dan peralatan masak lainnya. Sayangnya di samping pondok itu bertaburan sampah plastik.

Kami dipersilakan untuk masuk ke pondok kayu yang diatapi dengan terpal plastik. Lantainya menggantung seperti rumah panggung Aceh, tapi tidak terlalu tinggi. 

Mereka sangat ramah dan semuanya laki-laki, ada yang berasal dari warga setempat tapi banyak juga orang daerah lain yang bekerja sebagai penambang di tempat itu. 

Untungnya Eva salah satu temanku yang juga warga kampung itu, kenal dengan beberapa penambang. Dia bercakap-cakap menggunakan bahasa Kluet, setelah 15 menit sambil menunggu hujan reda, salah satu dari mereka menghubungi temannya untuk menemani kami ke air terjun Talago Batu.

Wajar mereka mau menemani kami, karena kami perempuan semua, sangat berisiko jika kami pergi tanpa ditemani oleh warga setempat, bisa-bisa kami tersesat di dalam hutan.

Hujan mulai sedikit reda, awan hitam pun beranjak pergi ke daerah lain, cahaya matahari mulai terlihat terang. 

Pukul 13.16 WIB, kami pun makan siang di salah satu pondok penambang yang tidak berpenghunyi. Pondok penambang yang semula kami singgahi terlalu banyak asap rokok dari penambang yang merokok. Jadi kami memutuskan untuk pindah ke pondok di depannya.

Suasana makan siang di pondok penambang
Foto doc. @susi_gayo11

Untungnya Eva sudah menyediakan nasi bukus untuk kami semua, akhirnya kami makan bersama di pondok penambang emas itu.

Setelah makan siang kami mulai melanjutkan perjalanan menuju air terjun Talago Batu. Kami ditemani oleh dua orang pemuda gampong, dua orang anak laki-laki berusia 8 tahun, dan satu orang lelaki paruh baya yang berumur sekitar 40 tahun.

Mereka yang akan menunjukkan jalan dan menjadi guide kami, terlebih dahulu mereka menjelasakan medan yang akan kami lalui berupa sungai, gunung, dan bebatuan.

Kami siap dengan kondisi apapun, ya jelas dong karena kami perempuan peduli leuser. Di antara kami sudah terbiasa mendaki gunung karena berasal dari komunitas pencita alam seperti Mapala, Tim Patroli Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Heperologer mania yang semuanya sering main di hutan.

Kami harus menelusuri sungai sampai ke hulu Talago Batu
Foto doc. pribadi

Hanya aku blogger nyasar ikut-ikutan dengan mereka. Tapi enam tahun yang lalu aku juga pernah mendaki gunung untuk mengambil buah durian bersama Oom ku, meskipun aku tidak mau lagi untuk mendaki yang kedua kalinya. 

Tapi kali ini rasa penasaranku mengalahkan rasa lelahku, kami melangkah dengan percaya diri melewati sungai, mendaki gunung dan bebatuan untuk sampai ke air terjun Talago Batu. 

Pertama kami harus melewati sungai kecil yang masih dangkal, aku dan teman-temanku sengaja tidak membuka sepatu supaya mempercepat gerakan kami karena ada beberapa sungai lagi yang harus ditempuh. 

Kemudian kami melewati perkebunan kopi dan kembali menemukan sungai yang sedikit dalam. Sepuluh menit kami berjalan lalu kami menemukan para penambang batu emas di kaki gunung Menggamat.

Mereka masih menggunakan alat seadanya untuk menambang, sayangnya tidak ada satu pun alat pelindung diri yang mereka gunakan seperti sarung tangan atau pun masker.
Penambang yang sedang mengambil batu emas
Foto doc. @siska_aidarahmi

Dari jauh kita bisa melihat gunung itu seperti longsor, rupanya ini jalan menuju ke atas gunung yang digunakan penambang untuk mengambil batu yang bermaterial emas.

Kami sempat bercakap-cakap sebentar dengan para penambang, Aku mengenali dua diantaranya. Keadaan ekonomilah yang mengharuskan mereka mengeruk isi perut gunung Menggamat ini.

Perjalanan kami berlanjut, hingga akhirnya sampai ke air terjun paling bawah. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, tapi pohon yang mengeliling tempat itu membuat suasana sejuk sekitarnya.

Kami kembali mendaki menemukan air terjun berikutnya, Ini sedikit lebih tinggi dari yang pertama. Air nya keluar diantara bebatuan gunung yang licin. 
Air terjun tingkat keenam
Foto doc. pribadi

Perjalanan pun dilanjutkan, hingga akhirnya kami menemukan air terjun buatan dikarenakan kayu besar yang tumbang melintangi sungai. Sehingga membentuk pancuran seperti air terjun.
Di bawah pohon yang membentuk air terjun itu ada batu yang mirip kura-kura, benarkan?
Foto doc. pribadi

Target kami ialah air terjun teratas yaitu tingkat pertama, jadi kami harus melalui tebing setinggi lima meter. Tanah yang lembab membuat jalannya menjadi licin, perlu konsentrasi dan kehati-hatian untuk bisa sampai ke atas.

Untungnya beberapa temanku yang sudah terbiasa mendaki mempunyai teknik tersendiri untuk membantu teman-teman lain untuk sampai ke atas. Ini bukan medan yang sulit bagi teman-teman ku yang sudah terbiasa menjelajah alam, hanya lima menit kami bersembilan sudah sampai ke atas.

Rupanya ada air terjun yang keempat, walau tidak tinggi tapi asyik untuk berenang karena di bawah air terjun terdapat lubuk yang membendung air sehingga terlihat seperti kolam. Dengan sigap teman-temanku langsung mengambil pose untuk bergaya di sekitar air terjun ini.
Air terjun tingkat keempat
Foto doc. pribadi

Setelah puas berpose kami harus melewati batu di samping air terjun tersebut. Batunya lumayan licin, kurang lebih setinggi 4 meter. Temanku yang duluan sudah di atas mengulurkan akar kayu sebagai tempat pegangan. Akhirnya kami bisa melewati batuan licin itu.

Di atas sana ada air terjun ketiga dan kedua yang tidak terlalu tinggi. Jalannya tidak terlalu mendaki lagi seperti sebelumnya, tapi kita perlu menempuh beberapa sungai yang sedikit lebih dalam.

Hampir satu jam lamanya perjalanan kami, hingga akhirnya kami menemukan air terjun tingkat atas yaitu air terjun Talago Batu. Air terjun itu jatuh dari ketinggian 7 meter yang diapit oleh dua batu besar, seolah air terjun itu berada di gua.

Ini dia air terjun tingkat atas
Foto doc. pribadi

Sengguh menakjubkan, rasa lelah karena perjalanan satu jam digantikan dengan pesona keindahan Talgo Batu.

Sebenarnya jika kita tidak banyak berhenti cuma membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai kemari, tapi karena kami selfie-selfie dulu setiap bertemu dengan air terjun, jadinya butuh waktu satu jam untuk sampai kemari.

Semoga tempat ini menjadi pilihan destinasi wisatamu berikutnya.

Lihatlah negeri para penambang ini masih banyak hal positif yang bisa meningkatkan taraf perekonomian masayarakat selain menambang. Salah satunya dengan menghidupkan konsep ekowisata di tempat ini.

Ada minat mau kemari?

Sudah cukup gunungnya dikeruk, batu sungainya diangkut untuk mendapatkan emas dan hutannya ditebang untuk diambil kayunya. Jangan sampai Menggamat benar menjadi kiamat karena ulah mereka uyang rakus dalam mengelola alam.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

18 komentar:

  1. Menuju tingkat pertama aja sulit banget ya mbak Yelli. Apalagi mesti ke tingkat empat wkwkkwkw...Kalau belum terbiasa, serem juga naik2 gitu tanah lembab dan licin ngeri terpeleset. Salut deh semangat travelingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ini karena teman-temanku juga yang sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Untung ada mereka yang saling membantu supaya kita bisa sampai ke atas 😀

      Hapus
  2. Huhu sedih mbak baca paragraf2 awal, sedih juga begitu tau alasan penambang lokal itu akhirnya nambang karna ekonomi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, begitulah Mbak nasib peduduk di daerah itu. Penambang berskala besar yang mendapatkan banyak untung dan kaya raya yang bukan dari daerah itu.

      Hapus
  3. Banyak tempat yang masih belum terexplore di indonesia
    banyak surga tersembunyi di dalamnya
    hanya saja kadang akses menuju kesananya yang memang masih sulit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebenarnya sulitnya akses ke sana menunjukkan betapa asrinya alam itu.

      Hapus
  4. Ngomongin tentang penambang, kadangan aku bertanya ke diri sendiri, kira - kira upah penambang ini cukup nggak ya buat memikul ekonomi keluarganya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut salah satu istri penambang yang kami wawancara, sejak suaminya menambang mengakibatkan kebangkrutan kedai kelontong yang mereka kelola, karena suaminya itu mengajak teman nya untuk menambang yang mengharuskan nya menanggung makanan teman yang diajaknya menambang. Jadi kebutuhan pokok sehari-hari diambil di gedai itu yang mengakibatkan kedai nya bangkrut. Sedangkan emas yg diharapkan tidak lah seberapa. Dan banyak kisah pilu lainnya dari keluarga penambang ini.

      Hapus
  5. Aksesnya lumayan menantang yaa, enak itu mah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, harus kuat fisik saja lah kalau mau kemari :D

      Hapus
  6. Seharusnya pemerintah daerah lebih perduli, kerusakan alam ini lo yang nanti akan membahayakan masyarakat sendiri. LEbih baik wisata yang digalakan, alam terjaga dan roda ekonomi juga akan berputar disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu juga yang menjadi pemikiran ku Mas, nggak tahu lah pemerintah di sini menggunakan otak nya di mana. Lebih tertarik dengan kilauan emas dari pada jernihnya sumber mata air.

      Hapus
  7. Perempuan yang tangguh, tidak takut pada segala medan dan rintangan yang ada di depan. :)

    BalasHapus
  8. Inilah perempuan Aceh yang sejak dulu memang tangguh dalam segala bidang bahkan di medan peperangan seperti Laksamana Malahayati.

    BalasHapus
  9. Ngelihat medan jalan yang diawal sudah membakar semangat, tapi kalau yang enggak suka jalan jauh mungkin udah shock diawal ya. Wkwkkwkw..
    Btw air terjun emang enak kalau dijadikan objek slow speed shutter :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini emang buat yang suka wisata alam

      Hapus
  10. Wah kalo ditempatku ada yang mirip gini,, wajar sih Bogor terkenal banyak air terjunnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi, Bogor dan Aceh Selatan, hampir-hampir mirip dong, karena selain Air terjun Talago Batu, banyak lagi Air Terjun lainnya yang terdapat di Aceh Selatan. Semoga saya bisa pergi ke Bogor dan melihat air terjun yang di sana.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !