Sensasi Menaiki Sampan Dayung Saat ke Pulau Dua Aceh Selatan

Dayung, ayo sampan di dayung...!

Pulau yang berada di Aceh Selatan ini, sedang lagi ramai dibicarakan di dunia maya. Sejak tulisanku tentang 10 Tempat Berfoto Paling Hits di Aceh Selatan, yang mana Pulau Dua termasuk salah satu di dalamnya, lebih dari 3000 orang mengunjungi tulisanku itu.


Aku tentu senang banget dong, karena sebagai newbie di dunia blogger, jarang-jarang tulisanku dikunjungi sebanyak itu. Tapi kali ini seperti ketimpa durian runtuh, blog ku banyak dikunjungi orang. Mungkin emang lagi hits banget tempat itu ya!

Tidak cuman di dunia maya, di dunia nyatapun para wisatawan yang datang ke Aceh Selatan semakin meningkat. 

Aku tahunya sih dari stalking di instagram, banyak banget foto-foto tempat yang ada di Aceh Selatan seperti yang ku sebutkan di tulisan blog ku itu, berselewiran di dunia maya. 

Ini membuktikan bahwa tulisanku ampuh untuk mempengaruhi orang untuk datang ke Aceh Selatan. 

Semoga dilirik oleh Pak Kadis Pariwisata Aceh Selatan ya, sebagai upaya untuk promosi daerah he he he. 

Karena tulisan itu ibarat bom atom loe pak, sekali meledak bisa mencapai radius ribuan kilometer, tulisanpun kalau ngenak di hati orang, dapat menggerakkan ribuan masa.

Komentar di halaman blogku, instagram, facebook, twitter, dan bahkan kontak personal melalui whats up, banyak dikepoin orang untuk nanya-nanya terkait tempat itu. Yang paling banyak nanya itu saat aku ke Pulau Dua Aceh Selatan.

Itu Pulau Duanya kalau dilihat dari tepi pantai.
Katanya sih terpisah dua karena ditabrak Naga

Nah, ini aku ceritain gimana sensasi naik sampan dayung ke Pulau Dua tersebut!

Jadi, aku pergi ke Pulau Dua bersama rombongan Himpunan Pelajar Mahasiswa Air Sialang (HIPMAS). Seperti biasa, setelah ramadhan, dan lelah mengajar anak-anak Taman Ramadhan, kita para panitiannya pergi traveling.

Tahun ini pilihannya jatuh ke Pulau Dua, karena memang lagi booming banget wisata ke tempat ini. Dari kampungku yaitu Kecamatan Samadua menuju ke Kecamatan Bakongan, membutuhkan waktu perjalanan 2 jam menggunakan bus.

Rombonga HIPMAS menuju PULAU DUA 

Setelah sampai disana, kita memang sudah menyewa kapal nelayan, atau yang biasa disebut boat. Biaya sewanya sekitar Rp500.000 untuk 30 orang penumpang. 

Bagi yang mau menyewa boat ke Pulau Dua, bisa menghubungi temanku ya! Dennis (0813 6282 1942). Nanti dia akan memandumu sampai kesana.

Padahal kita sudah sewa untuk satu rombongan HIPMAS, ehh., tiba-tiba ada yang mau nebeng sama kita, kan nggak bisa ditolak juga. Kasihan lihat mereka dari Medan jauh-jauh ke Aceh Selatan cuman untuk menikmati Pulau Dua.

Akhirnya ada sekitar 40 an orang di kapal itu termasuk pemilik kapal dan anak buahnya yang membantu pelayaran tersebut.

Sebenarnya resiko banget dengan penumpang sebanyak itu, tambahnya lagi kita tidak dilengkapi dengan pelampung. Bermodal nekat aja nih, kita lanjut menuju Pulau Dua. 

Kita berlabuh ke Pulau Dua

Memang sih rata-ratanya kita bisa berenang semua, tapi kemungkinan buruk itu bisa saja terjadikan. Alhamdulillah kita pergi dan pulang dengan selamat, tanpa ada kendala apapun.

Mungkin hal ini bisa menjadi perhatian bagi dinas periwisata setempat, potensi ada, namun minim fasilitas. Jika dioptimalkan potensi wisata bahari di Pulau Dua ini, aku yakin pasti Aceh Selatan menjadi destinasi wisata yang banyak diincar wisatawan.

Ketika pariwisatanya sudah bangkit, otomatis roda perputaran ekonomi masyarakat disitu juga meningkatkan! Jadi, Kecamatan Bakongan tidak menjadi salah satu daerah tertinggal dan termiskin lagi, seperti yang disebut-sebut selama ini.

Di tempat ini tidak ada pelabuhan atau dermaga untuk berlabuhnya sampan atau boat, yang ada cuman hamparan pasir. Jadi boat/ kapal yang agak besar tidak bisa menepi.

Bersiap menaiki Sampan Dayung!

Jadi, saat kita menuju ke boat besar harus menggunakan sampan dayung yang muat untuk 4-6 orang saja. Atau jika sampannya lagi tidak ada, terpaksa berenang menuju boat yang jaraknya sekitar 100 m dari pantai.

Saat menaiki sampan mau tidak mau kita harus basah, karena kita tidak bisa naik saat sampan berada di atas pasir. Naiknya saat sampan berada di dalam air, dan harus ada satu orang yang memegang pada bagian belakangnya, supaya sampannya tidak lari-lari karena ombak.

Saat berada di atas sampan, rasanya gimana gitu kayak dalam ayunan hehehe. Kita bisa menjangkau air laut dengan tangan, tapi harus tetap menjaga keseimbangan. Jika tidak hati-hati, sampan itu bisa saja terbalik karena tidak seimbang.

Harus ada yang mahir dalam menggunakan sampan ini, tidak bisa sembarangan orang. Saat berada di Pulau Dua, kami meminjam sampan nelayan yang kebetulan sedang nganggur disitu. 

Berkali-kali kami coba menaikinya, tetap tidak berhasil. Sampan terbalik sehingga diisi oleh air laut, dan kapalnya tenggelam. Kemudian kami tarik lagi ke pantai, dan membuang air yang ada di sampan tersebut. 

Ketika mau mulai berlabuh, ehh.., ternyata sampannya ke jauhan dari air laut, sampan tersebut tetap berada di atas pasir dan tidak mau bergerak. 

Akhirnya untunglah ada anak nelayan, yang umurnya sekitar 10 tahun. Jadi dia membantu kami untuk bisa menjalankan sampan tersebut. Kami pun berkeliling pulau menggunakan sampan berkat bantuan si adik.

Dayung-dayung, sampan di dayung

Begitulah penggalan lirik yang dinyanyikan oleh Adik yang saya lupa namanya siapa, hehehe, sorry dek, kakak lupa namamu!

Asyiknya bisa keliling pulau dengan sampan dayung

Dia sangat mahir mendayung sampan, padahal banyak batu karang di bawahnya. Dengan gesit dia menghindari batu-batu tersebut, dengan teknik dayung sampannya. 

Ternyata adik ini berasal dari Aceh Jaya, dan memang kesehariannya setelah pulang sekolah bekerja sebagai nelayan membantu orang tuanya yang berprofesi sebagi nelayan.

Setelah puas berkeliling pulau dengan sampan, kami pun menyelam. Memang nggak ada modal banget ya., nyelamnya secara bebas gitu tanpa ada kacamata renang, tabung oksigen dan sebagainya.

Perih banget mataku saat menyelam

Akibatnya perihlah mata karena asinnya air laut. Waduh, waduh Yell Saints, mentang-mentang anak kampung gitu, jangan sampai kampungan kalilah. LOL

Tapi ada juga loe, teman aku yang keren fotonya. Dia sanggup berlama-lama di dalam air sambil buka mata. Lebih kampunganya lagi menggunakan kacamata gaya bukan kacamata selam, aneh banget jadinya kan!.

Pemakaian kacamata yang tidak tepat, kwkwkw

Begitulah asyiknya saat traveling bersama teman-teman kampungku, meskipun emang kampungan banget sampai membahayakan keselamatan, tapi setelah kembali ke Kota Banda Aceh, kita bisa sesuaikan kok!. 

Ini kan karena fasilitasnya aja yang tidak ada di kampung. Coba aja kalau ada peralatan snorkeling dan diving disini, wuih.., mantap bangetlah. 

Perlengkapan begini maunya!
Spot menyelam di Lhok Reukam Aceh Selatan

Semoga ke depan fasilitas menyelamnya bisa disediain oleh dinas pariwisata setempat ya! Amin ya Allah.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar:

  1. Wuuuih kewreeen! SubhanAllah, Maha Besar Allah dengan ciptaanNya, ya. Beruntung banget deh yg bisa jelajahin Indonesia! Btw, itu yg satu nyelam ga pake kacamata yg satu salah kacamata wkwwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ntar ke Aceh lah mbak, biar kita ajak kemari. Hehehe, akibat fasilitas kurang memadai, tapi tetap paksain juga untuk nyelam, jadi begini jadinya mbak! :D

      Hapus
  2. Seumur hidup ga pernah naik ginian.. Hihi.. Padahal sana sini banyak sungai.. �� rame banget kayaknya ya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, itu di laut, hehehe

      Hapus
  3. Assiik buanget nih mbak traveling ke Pulau Dua. Oh gitu ya ceritanya gara2 si naga hehehe..Seneng ya naik kapal di tengah laut. Muat 40 orang pula hehee... Nyelam2 segala lagi mbak Yelli berani yach hehehe keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha., iya mbak, seru banget! Maklumlah anak kampung :D

      Hapus
  4. liat penumpang sampan sebegitu banyaknya, saya mah mendingan nggak jadi ikut deh...serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha., maklumlah Mas, anak muda semua, suka tantangan dan ambil resiko.

      Hapus
  5. penasaran pengen nyobain sampannya deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus bisa berenang dulu, jadi kalau sampannya terbalik bisa berenang hehehe :D

      Hapus
  6. Kebiasaan daerah wisata di indonesia ya, kurang memperhatikan keamanan para turis.. Pas aku ke telaga sarangan, naik boat di danaunya, padahl dalam banget, tp kita jg ga dikasih pelampung. Banyak yg msh begitu.. Belum pernah jatuh korban kali ya mba :( .

    Pulau dua ini bgs banget. Pdhl dulu aku lama di aceh 18 thn, di lhokseumawe sih tepatnya. Tp aceh2 lain yg prnh didatangin masih blm banyak.. Nyesel ih kenapa dulu ga bnyk traveling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, ayo datang kembali ke Aceh Mbak!

      Semoga dinas pariwisata di Indonesia segera berbenah, untuk memperbaiki fasilitas pariwisata Indonesia ya mbak.

      Hapus
  7. Naik sampan rasanya nger-ngeri sedap ya mba, mesti jaga keseimbangan supaya gak oleng :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, butuh kesimbangan dan orang-orangnya nggak boleh lasak, hehehe

      Hapus
  8. Waaah, seru banget ya mbak dayung sampannya. Jadi ingat waktu sekolah dulu, mau loncat dari sampan yg satu ke sampan di sebelahnya eh malah saya kecebur :D. Untung gak terlalu dalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, teringat kenangan masa lalu ya mbak? :D

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !