Thalasemia “Han Sep-Sep” Darah

Ilustarasi: Tranfusi darah
Thalasemia, penyakit yang belum populer dan dikenal banyak orang, tapi sudah mempunyai banyak penderita. Aceh merupakan prevalensi tertinggi penderita thalasemia di Indonesia. Dari 180 orang penderita thalasemia pada tahun 2013, meningkat menjadi 255 orang di tahun 2014. Kebanyakan penderitanya berusia 2-5 tahun (Serambi Indonesi,28/08/14).
Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan kenyataan sebenarnya. Fenomena thalasemia ini ibarat gunung es yang hanya tampak sedikit di permukaan, tapi mempunyai akar yang besar dan dalam. Yang dapat terdata hanya sebagian kecil, namun masih banyak anak-anak lain yan menderita thalasemia tapi tidak mendapatkan penanganan yang tepat, sehingga sering menjadi sebuah permasalahan sosial di masyarakat akibat kondisi si anak yang tidak normal dan perkembangannya tidak sesuai dengan usia tumbuh kembangngnya.
Thalesemia terbagi menjadi dua macam, mayor dan minor.  Penderita Thalasemia mayor harus mendapatkan tranfusi darah rutin setiap bulan. Hal ini terkadang sering dipertanyakan oleh masyarakat awam, sehingga muncul istilah “Penyaket han sep-sep darah”, karena setiap 14 atau 20 hari sekali si penderita harus mendapatkan tranfusi darah.
Ketidaktahuan terhadap thalasemia ini terkadang menjadi stigma di masyarakat bagi para penderita thalasemia, malah ada yang beranggapan bahwa ini ialah penyakit kutukan karena tidak bisa disembuhkan. Hanya dengan mendapatkan tranfusi darah rutin setiap bulan lah mereka bisa bertahan hidup. Seperti seorang vampir yang tidak pernah puas menghisap darah manusia, penderita Thalasemia Han sep-sep (tidak pernah cukup-cukup) menerima tranfusi darah dari orang lain.

Apa itu Thalasemia?
 Thalasemia merupakan penyakit yang diturunkan dari kedua orang tuanya yang mengidap penyakit thalasemia baik mayor maupun minor (carier). Penyakit ini disebabkan oleh kelainan darah yang ditandai dengan sel darah merah mudah rusak dan umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia seperti pusing, pucat, lemas, susah tidur, dan berkurangnya nafsu makan. Untuk mengatasi masalah tersebut, si penderita harus mendapatkan tambahan darah melalui tranfusi darah setiap 14 atau 20 hari sekali.
Faktor penyebab thalasemia disebabkan oleh penyakit keturunan dari gen orang tua yang memiliki latar belakang penyakit thalasemia, Jika kedua orang tuanya carier (pembawa sifat genetik thalasemia), kemungkinan 50% anaknya akan lahir normal, 25% carrier, dan 25% menderita thalasemia. Jika salah satunya carrier maka anak yang dilahirkan juga menderita carrier/thalasemia minor.
Penderita thalasemia minor hanya mengalami penurunan jumlah kadar hemoglobin yang bersifat ringan, namun bisa diantisipasi dengan menjaga makanan dan aktivitas fisik. Mereka bisa hidup normal tanpa harus tranfusi darah dan pengobatan khusus, tapi mereka bisa membawa sifat dari thalasemia yang bisa diturunkan kepada anak-anak mereka. Terkadang sering mereka tidak menyadari hal itu karena tidak menunjukkan gejala apapun, namun sebenarnya sangat berisiko terhadap keturunannya apalagi jika menadapatkan pasangan yang juga menderita thalasemia mayor ataupun minor.
    Berbeda dengan thalasemia minor, thalasemia mayor menunjukkan gejala yang lebih spesifik dan harus mendapatkan pengobatan khusus. Gejalanya utamnya yaitu anaemia akibat ketidakmampuan sumsum tulang dalam membentuk protein yang dibutuhkan dalam memproduksi hemoglobin (zat pengikat oksigen dalam darah). Pada beberapa kasus terjadi penebalan dan pembesaran tulang, terutama pada tulang kepala dan wajah. Selain itu tulang-tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah. Hal ini karena sumsum tulang yang berperan penting dalam menghasilkan hemoglobin tersebut.
    Tranfusi darah membantu memenuhi kebutuhan hemoglobin lewat paket sel darah yang diterima dari si pendonor, namun kadar zat besi yang ada dalam darah disetiap kali tranfusi akan mengalami kelebihan zat besi dan mengendap dalam otot jantung, sehingga dapat mengakibatkan gagal jantung. Penderita yang terkena thalasemia sejak kecil maka pertumbuhannya akan lebih lambat dibandingkan anak normal lainnya.

Cegah Thalasemia
Dikarenakan thalasemia merupakan penyakit keturunan maka pencegahannya dengan cara skrining darah terhadap penyakit thalasemia. Skrining dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gen pembawa sifat thalasemia, terutama pada pasangan yang akan menikah. Skrining pra nikah harus menjadi sebuah kewajiban jika ingin memutuskan rantai thalasemia.
Pasangan yang keduanya menderita thalasemia minor, hendaknya perlu diedukasi lagi terhadap kemungkinan resiko yang dapat diturunkan kepada anak-anaknya. Pasangan tersebut memiliki peluang 25% anaknya menderita thalasemia mayor. Pastinya diperlukan kesiapan mental, fisik dan dana dalam merawat anak tersebut. Karena merawat anak dengan thalesemia mayor memerlukan waktu, usaha dan biaya yang besar. Selain setiap bulan harus mencari pendonor untuk tranfusi darah, obat-obat untuk mengurangi gejala thalasemia juga tergolong cukup mahal.
Ciri-ciri Penderita thalasemia yang tidak dirawat

Selain itu, anak thalasemia juga mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, jika tidak dirawat dengan baik maka tanda dan gejala anak thalasemia akan terlihat dengan jelas seperti, hidung pesek, kulit hitam, pembesaran pada hati dan limpa dan keterbelakangan mental. Kebanyakan masyarakat awan yang tidak mengenal penyakit ini, sering beranggapan penyakit kutukan karena tidak bisa disembuhkan. Pengetahuan tentang thalasemia ini sangat diperlukan untuk mengurangi menuculnya tanda dan gejala tersebut.
Untung kalau orang tuanya mempunyai pengetahuan dalam merawat anak thalasemia dan juga mampu secara finansial dan fisik. Namun jika tidak hal ini akan menjadi masalah sosial dan tak jarang perceraian dan pengabaian anak terjadi akibat tidak matangnya keluarga dalam mempersiapkan diri menhadapi masalah ini. Oleh karena itu, perlu dipikirkan lagi sebelum mengatakan cinta dan siap menerima apa adanya saat akan menikah, karena cinta bukan membuat orang menderita.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !