Pertanyaan yang Sering Muncul Ketika Ingin Menulis Opini



Ketika seorang pemula ingin menulis opini, banyak pertanyaan muncul saat memulainya. Tak jarang tulisan tersebut tidak jadi ditulis dan ide yang sudah dapat diabaikan begitu saja. Padahal bila langsung ditulis, maka akan menjadi sebuah tulisan yang utuh. 

Berikut beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika ingin menulis opini yang aku rangkum dari kelas menulis online untuk para pembaca buku Bukan Catatan Kartini (BCK). Diskusi tersebut telah berlangsung pada tanggal 9 Mei 2020 lalu. 

Sebelum kelas tersebut dimulai, aku memberikan materi tentang menulis opini melalui video di channel Youtube milikku, yaitu; Cara Mudah Menulis Opini Part I dan Cara Mudah Menulis Opin Part II.

Tulisan opiniku yang pertama terbit di koran Serambi Indonesia

1. Pertanyaan dari Cut Meurah; 

ketika ingin menulis opini seringkali dibebani perasaan takut salah dalam memberikan analisis. Hal ini dikarenakan ada kemungkinan masih kurangnya wawasan atau ilmu kita tentang topik yang ingin dibahas yang nantinya berdampak pada terbentuknya opini publik. Adakah tips untuk mengatasi ini? atau apa yang mengindikasikan bahwa kita cukup amunisi untuk menulis opini? 

Jawaban dari saya; saya juga merasakan hal demikian sebelum membuat opini karena ada kalanya pendapat kita tidak semuanya bisa diterima orang karena keterbatasan ilmu yang dimiliki. 

Oleh karena itu, dalam menulis opini hendaknya disesuaikan dengan ranah keilmuan kita. Jangan sampai berbeda jalur, kita yang latar belakangnya ilmu pertanian coba menganalisis penyakit yang diderita seseorang. Kalau penyakit tanaman masih nyambung ya, tapi kalau analisis tentang Covid-19, bisa berabe persoalannya tu hehehe. 

Biasanya redaktur opini pun juga akan melihat background seseorang sebelum menerbitkan tulisannya. Apakah nyambung atau tidak. Seperti Yelli misalnya yang berasal dari ilmu keperawatan biasanya tidak jauh-jauh menulisnya tentang kesehatan. 

Pernah beberapa kali dulu saya masuk ke ranah politik dan waktu itu pihak Serambi Indonesia tetap menerbitkan tulisan saya yang berjudul Pengukuhan Wali VS Jeritan Rakyat. Saya menulis opini ini sebagai curhatan tentang ketidaksetujuan rakyat kecil atas pengunaan anggaran yang begitu fantastis. Tulisannya memang mewakili suara rakyat, tapi tahukah apa yang saya terima setelah tulisan itu diterbitkan? 

Tulisan lengkapnya baca di https://aceh.tribunnews.com/amp/2013/10/05/pesta-pengukuhan-wali-vs-jeritan-rakyat

Saya mendapat komentar yang saya duga dari elit politik marah terhadap tulisan saya tersebut. Tidak hanya komentar di akun SI, saya juga mendapatkan SMS dan email dengan nada mengancam. Salah satunya mereka bilang saya cuma anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa, "jangan sok-sok kritik pemerintah, nanti kamu tahu sendiri akibatnya". Cerita tentang ini ada saya tulis di buku BCK. 

Jadi, intinya semua tergantung kita, apakah siap dengan hal-hal seperti itu? Kalau saya kembali ke ranah latar belakang keilmuan saya yang menulis tentang kesehatan. 

2. Pertanyaan dari Dini D.H. Putri

Bagaimana sih caranya mengembangkan sebuah ide menjadi sebuah topik? Memangnya ide dengan topik itu apa bedanya? 

Jawaban dari saya; sebelumnya kita harus mengetahui dahulu perbedaan antara ide, tema, topik, dan judul. Ide merupakan gagasan atau rancangan yang tersusun dalam pikiran. Ide muncul dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. 

Tema merupakan pokok bahasan utama, sedangkan topik merupakan bagian-bagian dari tema yang menjadi masalah utama isi dari tulisan. Judul ialah bagian spesifik dari topik sebagai simbolik yang mewakili seluruh tulisan. 

Untuk lebih mudahnya saya contohkan cara mengembangkan ide menjadi topik. Misalkan kita sedang berjalan-jalan ke kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin, (Tasulsa) Banda Aceh. Di sana kita melihat 23 rumah anjungan adat yang mewakili setiap kabupaten/kota di Aceh. 

Kompleks Taman Sulthanah Safiatuddin

Kemudian terpikir oleh kita mau menuliskan tentang salah satu dari anjungan tersebut. Nah, ini disebut sebagai ide. Anjungan tersebut ada berbagai macam, ada Anjungan Aceh Selatan, Anjungan Banda Aceh, Anjungan Pidie, Anjungan Sabang dan sebagainya. Setiap anjungan itu kita sebut sebagai tema. 

Dari beberapa tema di atas, kita ambil satu tema yaitu Anjungan Banda Aceh. Nah, sekarang apa yang terbayang di pikiranmu tentang anjungan Banda Aceh? Pastinya kamu di sana akan melihat halaman depan bangunan, isi dalamnya, dapur, ruangan di dalam tersebut, dan sebagainya. Bagian-bagian inilah disebut sebagai topik. 

Dari berbagai topik itu, maka pilihlah salah satu topik yang akan dibahas, misalnya isi dalam Anjungan Banda Aceh. Sekarang fokus terhadap topik tersebut dan cari informasi apa saja yang berhubungan dengan topik yang dibahas. 

Di sini kamu akan melihat pintu anjungan dalam keadan tidak terkunci dan tidak ada penjaganya, kamu dapat melihat foto-foto wali kota Banda Aceh dari masa ke masa yang penuh debu, barang-barang khas Aceh yang tidak terawat, bentuk ukiran dari dinding-dindingnya yang sudah mengelupas, dan lantai bangunan yang sudah mulai pecah-pecah ubinnya. 

Hal itu, berbeda jauh saat kamu mendatangi anjungan ini waktu Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) dua tahun lalu. Di dalam tulisan, kamu bisa menjelaskan bagaimana perbandingan yang kamu lihat sekarang dengan yang dulu saat PKA. Kamu juga bisa menanyakan hal ini kepada pengurus Kompleks Tasulsa. Dari bagian-bagian spesifik isi dalam anjungan tersebutlah bisa dijadikan judul tulisan. Misalnya Anjungan Banda Aceh tanpa PKA. 

Nah, begitulah caraku dalam mengembangkan ide menjadi sebuah topik. Hal ini pernah saya lakukan dalam membuat tulisan opini yang berjudul Tasulsa Sebelum dan Sesudah PKA. Untuk membacanya, bisa cek di sini

Pembahasan tentang ide, topik, dan tema ini bisa juga dibaca ditulisanku yang berjudul 4 Cara Dasar Menulis Cerpen yang Harus Diketahui Pemula. 

3. Pertanyaan dari Aida 

Bagaiman cara bisa percaya diri dengan opini kita? Sebab, saya untuk mengirim ke media saja masih kurang percaya diri terhadap opini yang saya tulis. 

Jawaban dari saya; pada awalnya saya juga tidak percaya diri saat menulis, jadi saya menulis di blog pribadi. Dari situ saya berpikir, bila ingin tulisan-tulisannya berkembang, berarti harus ada masukan dari orang lain. 

Jadi, saya harus memberitahukan tulisan saya kepada orang lain supaya ada masukan. Tentunya saya harus menerima masukan sepedas apapun mengenai tulisan saya. Lalu saya menanyakan kepada teman-teman tentang bagaimana menurut mereka tulisan yang saya tulis. Setelah merasa percaya diri, barulah saya mengirimkan tulisan ke khalayak ramai. 

Namun, untuk tulisan opini saya dulu emang orangnya terlampau percaya diri, berkali-kali ditolak, tatap mengirimkan tulisan. Bahkan, waktu pertama mengirimkan tulisan opini cuma satu halaman dangan pembahasan yang sangat kacau. Tulisan saya tidak pernah diterbitkan sampai satu tahun lamanya penantian. 

Pernah saya ikut seminar menulis yang saat itu pematerinya Ihan Nurdin, seorang wartawati senior. Saya bertanya kepadanya kenapa tulisan saya tidak pernah dimuat di media masa. Kemudian dia mengatakan "Jangan menyerah, kirimkan terus tulisanmu sampai editornya muak dengan tulisanmu hingga dia akhirnya menerbitkannya." Petuah itu saya pegang teguh, hingga akhirnya tulisan saya terbit di SI. Tentunya selama itu saya belajar bagaimana menulis opini yg benar. Belajar dari kesalahan yang ada. 

5. Pertanyaan dari Rahmiana Rahman

Bagaimana mengelaborasi ide untuk menciptakan opini yang enak dibaca. Misalnya, kalau ke desa-desa, banyak ide yang kita dapat, banyak ngobrol juga dengan masyarakat, tapi bingung membuat ide-ide itu menjadi sebuah opini, bahkan dalam 1-2 halaman. 

Jawaban dari saya: Pertanyaanya hampir sama dengan pertanyaan nomor dua. Mungkin bisa diikuti alurnya seperti yang saya jelaskan di poin tersebut.

Untuk teknik penulisannya, itu tergantung keseringan kita dalam membaca. Bila kita banyak membaca akan banyak perbendaharaan kata yang bisa kita gunakan dalam menulis. Mungkin, akan muncul pertanyaan, saya sering membaca, tapi kok juga susah menulisnya? 

Nah, ini tergantung keseringan kita dalam menulis. Untuk terbiasa menulis, usahakan menulis yang simple-simple saja terlebih dahulu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kebiasan itu nanti akan memudahkan kita dalam menulis opini. Catat hal-hal apa pun yang kita temui dalam keseharian untuk memperkaya ide. 

6. Pertanyaan dari Fitriani

Kenapa ide bisa muncul di tempat yang tak terduga-duga? Kalau aku seringnya muncul saat sedang menyuci baju dalam skala banyak. Begitu pula ide paling banyak muncul kayak kemarin itu saat sedang musim menanam padi, terlebih lagi di sawah saat tubuh penuh lumpur.  Nggak kalah banyak juga sering muncul ide kalau lagi bawa motor. 

Pernah sih, tiba-tiba langsung berhenti ambil pulpen mau nulis, ehh abis itu malah buyar, pas ditulis nggak sesuai sama yang terlintas tadinya. Jadi bagaimana solusinya?

Jawaban saya: Nah, wajar kalau ide muncul saat-saat seperti yang disebutkan karena kita hanya fokus ke pekerjaan fisik sedangkan otak kita melayang2-layang terpikir yang macam-macam. Makanya, ide muncul saat ini. 

Kalau saya sendiri biasanya memang menyediakan kertas di kamar mandi dan pulpen. Kadang, waktu ide itu muncul berhenti dulu dan cepat-cepat cuci tangan dan lap tangan, bila sedang mencuci lansung tulis ide tersebut. Walau kadang nggak semua kita pikirkan dapat dituliskan. Kadang kita juga bingung memulainya dari mana. Namun, cobalah untuk menulis saja dulu. 

Kalau susah untuk menulis, cobalah merekam apa yg kita pikirkan menggunakan HP. Ntar di waktu santai, putar lagi rekaman kita. Biasanya kalau ide pertama itu sudah ada, nanti akan muncul ide-ide pendukung lainnya.

Nah, itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika ingin menulis opini. Apakah kamu merasakannya demikian, atau ada pertanyaan lain? Silakan tulis pertanyaannya di kolom komentar.
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

31 komentar:

  1. saking banyak pertanyaan yg muncul sampe bikin ga pede buat nulis opini huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba nulis dulu di blog sendiri, nanti lama2 juga PD. Intinya harus berani mencoba. Semangat ya. 😊💪

      Hapus
  2. Kece banget dirimu kak Yelli!
    Keep inspiring yaaa
    Memang latihan nulis di blog bisa bikin kita bertransformasi jadi penulis opini yg handal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tempat bermula tulisan-tulisan recehan itulah blog yang kemudian menjadi tulisan yang mengagumkan.

      Hapus
  3. Saya tuh juga belum berani nulis opini. Karena khawatir "diserang" komentar dari pihak yang enggak sejalan sama opini yang saya buat. Saya takut menerima sanggahan yang menyakitkan hati, hihi. Mentalnya belum kuat kayaknya nih saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya mba. Menulis opini memang harus tahan banting karena tidak semua yang kita opinikian sependapat dengan yang membacanya.

      Hapus
  4. Kalo saya sering jemu di tengah tulisan, khususnya di tulisan yang topiknya saya kuasai
    Saya butuh tantangan, misalnya ada tulisan mengkritik tulisan saya atau tulisan yang ngga sependapat, nah muncul deh semangat nulis :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, setiap orang beda-beda caranya ya mba. 😁

      Hapus
  5. Keren ilmu menulis opininya ini. Dulu sempat semangat mencoba juga, tapi kemudian menyerah di tengah jalan. Harusnya ikuti saran wartawan senior di atas ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai mau bertahan lebih lama, pasti berhasil membuat opininya.😄

      Hapus
  6. Setuju banget, banyak membaca dan rajin berlatih menulis. Untuk nulis memang harus dibiasakan agar enak dibaca.

    Keren ih uda ngasih pelatihan menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba, apa yang kita ketahui kita bagi lagi ke orang lain supaya ilmunya berkah. 😊

      Hapus
  7. Keren tipsnya mbak..
    Terima kasih sudah mau berbagi..
    Saya bisa praktrkkan di rumah, agar bisa mudah dan lancar menulis opini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat mencoba Mba Dee 😊, semangat 💪

      Hapus
  8. Terimakasih untuk tulisannya ini Mbak. Saya jadi banyak belajar juga meskipun tak ada niat untuk memasukkan tulisan ke media cetak. Aku setuju kalau banyak membaca dan terus latihan menulis akan banyak membantu mengembangkan tulisan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, bisa karena biasa. Yang penting terus mengasah kemampuan menulisnya di setiap kesempatan dan di mana pun itu.

      Hapus
  9. Mungkin opini termasuk yang belum pernah sy coba selama ini. Nggak pede, bisa jadi memang kurang pengetahuan soal apa yang mau dibahas ya, Mbak.. Terima kasih ya tipsnya :)

    BalasHapus
  10. Terima kasih tipsnya ya, Mbak. Saya sering maju mundur mau nulis opini baik di blog maupun di sosial media. Belum siap dengan respon yang nggak sesuai dengan harapan saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya harus kuat mental dulu sebelum dihujat nanti sama pembaca bila nggak sesuai dengan pendapat publik.

      Hapus
  11. Makasih yaa mbak. Dari sini saya jadi belajar tentang gimana membuat tulisan opini. Dulu tuh nulis, ya nulis aja...hahaha. Jadi kalau tulisannya saya baca lagi, ya gitu deh..ala kadarnya banget. Wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa mempraktikkan apa yang disampaikan.

      Hapus
  12. Tambah wawasan nih, saya pun maai takut beropini. Jd kadang opininya di halaman medaos sendiri aja hehe
    Sukses trus ya kak Yeli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Masih menunggu nih kapan diajak traveling sama Mas Kaki Lasak. 😆

      Hapus
  13. Terima kasih banyaak mbak sharingnyaa, cukup menjawab banyak pertanyaan yg selama ini saya pertanyakan. Masih terus berlatih dalam menuliskan opini skrng mbaak, kadang banyak ide yg tidak bsa tertuang dengan baik dalam tulisan. Jd harus diasah terus-menerus biar makin luwes dalam nulisnya hehehe ,😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mba, terus berlatih dan never ever give up. 😉

      Hapus
  14. Terima kasih sharingnya mbak. Sangat berguna bagiku yang baru mau belajar menulis opini. Sukses terus ya mbak :)

    BalasHapus
  15. Wah, saya melakukan semua itu nyaris otomatis. Ternyata enak kalau dicatat gini. Makasih catatannya Mbak.

    Terkait opini, iya, saya menulis sesuai ranah yang saya kuasai, dan biasanya saya tulis, "...menurut (pemahaman) saya." Jadi di situ saya menyatakan siap bertanggungjawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Susi karena kita akan lebih mudah menjelaskan sesuai spesifikasi ilmu kita.

      Hapus
    2. Iya mba Susi karena kita akan lebih mudah menjelaskan sesuai spesifikasi ilmu kita.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !