Perempuan dan Kopi

Memetik kopi di Desa Agusen, Gayo Lues

Merahnya biji kopi sungguh menggoda tanganku untuk memetiknya. Aku memanjat dan berusaha mengambil satu-persatu biji kopi tersebut. Meskipun batangnya mencapai ketinggian empat sampai enam meter, tidak menyurutkan nyaliku untuk memanjat pohon kopi itu. 

Terkadang nenekku berteriak mengingatkanku agar tidak terlalu ke ujung dahan kopi, tapi justru aku lebih suka ke bagian ujung karena dahannya semakin rendah dan aku bisa bergelantungan di dahannya. Sesekali aku mencicipi kopi merah yang menggoda itu sebelum kumasukkan ke dalam keranjang. Rasanya manis-manis kelat dan lengket karena getahnya yang licin. Namun, aku sangat suka menjilati dan mengupas kulitnya pakai gigi. 

Pohon kopi yang tumbuh di samping rumah nenek sangat kuat, sehingga tidak mudah patah bila aku dan teman-temanku memanjatnya bersama-sama. Baru setelah dua puluh tahun, aku mengetahui jenis kopi yang ada di samping rumah nenek adalah jenis kopi robusta. 

Sesuai dengan namanya robust yang artinya kuat, maka wajarlah batang kopi tersebut bisa dinaiki oleh beberapa anak seusiaku yang dulu masih enam tahun. Setelah biji kopi tersebut terkumpul, maka nenek akan menumbuk dan menjemurnya sampai kulitnya terkupas dan menghasilkan beras kopi yang siap direndang. 

Pohon kopi

**** 

Sungguh masih lekat di ingatanku momen memanjat kopi dan mengumpulkan bijinya bersama teman-teman. Namun, ada satu lagi yang benar-benar kuingat sampai sekarang yaitu proses merendang kopi yang dilakukan oleh para perempuan di kampungku. 

Mereka mengolahnya secara tradisional tanpa menggunakan mesin. Beras kopi tersebut direndang atau digongseng di dalam kuali besar dengan menggunakan kayu bakar. Setelah hangus, kopi tersebut ditumbuk dan diayak (disaring) hingga menjadi bubuk kopi yang siap digunakan. Proses inilah yang disebut rendang kopi dan telah menjadi tradisi di kampungku Aceh Selatan. 


Proses pengolahan kopi secara tradisional

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, merendang kopi merupakan hal yang rutin dilakukan setiap bulan. Uniknya, tidak ada sedikit pun campur tangan laki-laki saat proses merendang kopi, walau penikmat kopi paling banyak ialah kaum laki-laki. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi kaum perempuan karena saat merendang kopi adalah cara perempuan ini bisa berkumpul dengan sesama perempuan lainnya. 

Proses merendang kopi tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, makanya butuh beberapa orang untuk bisa terlibat di dalamnya. Dulu ibu dan nenekku berpakat terlebih dahulu dengan beberapa tetangganya saat hendak merendang kopi. 

Mereka menentukan harinya agar bisa berkumpul di satu tempat. Orang yang diajak pun juga mempunyai beras kopi yang akan direndang, sama halnya dengan nenek dan ibu punya beras kopi juga. Kemudian beras kopi tersebut dikumpulkan menjadi satu yang nanti hasilnya, dibagi sesuai dengan jumlah beras kopi yang dikumpulkan. 

Saat proses merendang kopi, mereka mempunyai bagian pekerjaan masing-masing. Ada yang mendapat bagian membuat tungku api, merendang kopi, menumbuk, dan menyaring. 


Kegiatan merendang kopi di kampungku

Biasanya mereka menghabiskan waktu sekitar setengah hari untuk melakukan proses ini. Namun, bila beras kopi yang direndang banyak, bisa menghabiskan waktu seharian penuh. Serbuk kopi yang dihasilkan bisa digunakan untuk persediaan kopi satu bulan ke depan karena kopi adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Aceh Selatan. 

Begitu jaga saat ada kenduri seperti pernikahan atau sunat rasul. Biasanya di Aceh Selatan kenduri tersebut sampai beberapa hari dan persediaan kopi selalu harus ada karena para tamu yang hadir akan disajikan kopi hitam. 

Oleh karena itu, dua minggu sebelum hari H, orang rumah yang mengadakan kenduri, mengundang sanak saudara dan para tetangga untuk merendang kopi sebagai persediaan untuk acara kenduri. Mereka secara suka rela datang membantu untuk merendang kopi yang jumlahnya sampai berkilo-kilo. 

Kopi dan Kebersamaan Dulu dan Sekarang 

Ada bentuk kebersamaan yang didapat saat proses merendang kopi. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga banyak orang ini dapat dijadikan sebagai cara untuk bersilaturahmi antar sesama tetangga. Prosesnya yang lama memberi ruang dan waktu para perempuan untuk berbagi cerita sesama mereka, sehingga antara satu dengan yang lainnya saling mengenal karena sering bertemu. 

Dalam proses merendang kopi ini juga mempunyai nilai saling tolong menolong, terutama saat kenduri. Terdapat interaksi sosial di dalamnya karena unsur saling membantu sangat erat terjalin dengan adanya kegiatan merendang kopi ini. Tradisi merendang kopi sudah bertahun-tahun berlangsung di Aceh Selatan sampai akhirnya mesin giling menggantikan lesung dan jungki sebagai alat penumbuk beras kopi. 


Makan siang bersama setelah merendang kopi

Sekarang merendang kopi tidak seperti dulu lagi membutuhkan waktu yang lama dan banyak orang. Cukup satu orang yang merendangnya dan kemudian di antar ke tempat mesin penggiling beras kopi yang sudah direndang. Tidak ada lagi proses penumbukan dan penyaringan seperti dulu dan tradisi merendang kopi ini pun lama-lama akan tergeser. 

Sudah sangat jarang aku melihat kumpulan ibu-ibu yang duduk secara berkelompok melakukan proses merendang kopi. Begitu juga saat kenduri karena semuanya sudah digantikan dengan mesin sehingga tenaga manusia pun tidak diperlukan lagi. Memang tergolong praktis dan tidak menghabiskan waktu lama bila semua itu dilakukan oleh mesin. Namun, ada nilai yang hilang dari proses ini yaitu nilai kebersamaan dan tolong menolong. 

Rasa kopi yang diproses dengan digiling mesin dan ditumbuk secara manual pun berbeda nikmatnya. Kopi yang ditumbuk dengan tangan-tangan perempuan ini lebih nikmat rasanya ketimbang yang digiling menggunakan mesin. 

Ada rasa yang sulit diungkapkan ketika menikmati kopi hasil olahan para perempuan. Dulu aku sangat menyukai seduan kopi dari hasil olahan kopi yang dibuat secara manual ini. Rasa manis keasaman dan pahit berpadu menjadi satu hingga aku menjadi candu. Kopi nenek yang diseduhnya setiap pagi menjadi sasaranku meskipun aku sering dilarang untuk meminumnya. 

Puluhan tahun telah berlalu, aku tidak lagi menyukai kopi. Bukannya aku muak dengan kopi, tapi perutku tidak bisa menerimannya lagi, lantaran kadar asam lambungku yang terlalu tinggi. Namun, aku rindu dengan tradisi merendang kopi, bukan hanya rindu dengan suasananya tapi juga rindu akan kenikmatan kopinya. 
Cara perempuan milenial menikmati kopi di kedai kopi

Sekarang di zaman milenial ini, muncul tradisi baru yang disebut ngopi sebagai cara untuk berkumpul di kedai kopi. Bahkan yang dulunya perempuan tabu berada di warung kopi untuk menikmati kopi, kini menjadi trend yang digemari oleh kaum hawa. 

Tidak ada lagi tradisi merendang kopi karena semuanya sudah digantikan dengan alat super canggih pengolah kopi. Para perempuan yang dulunya duduk di depan tumpukan tungku api, berpeluh-peluh menahan panas bara api yang menyala saat merendang kopi, kini bisa duduk santai goyang-goyang kaki di kedai kopi. 

Tinggal pesan, kopi pun tersedia di atas meja. Berbeda dengan dulu di mana perempuan pelaku utama dalam pengolahan kopi yang disediakan untuk keluarga. Meskipun sekarang cukup praktis untuk mendapatkan bubuk kopi, tapi aku kehilangan momen masa laluku yang begitu alami dan menyenangkan. 

Semoga tradisi merendang kopi di Aceh Selatan ini bisa dibangkitkan kembali sehingga tradisi ini bisa menjadi cara untuk mengenang masa lalu.


Proses merendang kopi secara tradisional
SHARE

About Yelli Sustarina

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 komentar:

  1. hahahaaa, seru juga cerita me-rendang kopi.
    melelahkan tapi seru sih buat emak-emak jaman dulu,

    kdang yang bikin enak kopi itu adalah cerita dibaliknya.
    Story bikin memperkuat rasanya.

    Bule juga punya asam lambung, cuma memang gak bisa lepas dari kopi.
    Kuncinya yang penting perut sudah masuk makanan terlebih dahulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, ada cerita di secangkir kopi. Kalau di kampungku masih ada satu dua ibu2 yang buat kopi tradisional itu, terutama waktu mau acara.

      Aku bule, kalau sudah makan pun juga nggak bisa minum kopi entah kenapa. Padahal dulu asal terletak kopi nenek, langsung aku serubut habis, sempai kelihatan eek kopinya.😅

      Hapus
  2. Wah kenangan Mbak dan nggak bakal terulang kembali bahkan untuk anak-anak kita pun hehe

    aku juga penikmat kopi, tapi entahlah kini perut juga nggak sekokoh dulu, kalau minum kopi hitam bawaanya mual mag kambuh, jadinya minumnya kopi sachet yg dari warung kelontong.

    Filosofinya: Meskipun kopi rasanya nikmat, tetapi di setiap sruputan ada rasa pahit yg selalu mengikuti, begitu juga dengan kehidupan ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap filosofinya Mas, dalam banget kayaknya Hehehe.
      Iya, kenangan yang indah untuk ditulisakan, tapi tidak bisa dirasakan lagi.

      Hapus
  3. wah asyik ya pengalaman masa kecil, banyak sih dulu orang guyub, di desa2 juga masih terasa guyubnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, manis untuk dikenang. Terima kasih sudah mampir.

      Hapus
  4. Jadi ingat dulu waktu kecil juga suka memetik kopi di pekarangan rumah. Bahkan sampai sekarang ibu sy masih memproses kopi secara tradisional persis yg mbak ceritakan.. Jadi kangen kampung halaman..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, semoga tradisi ini tetap lestari ya supaya para generasi kita mengetahui bagaimana kopi yang diolah secara tradisional oleh ibu2 kita. Jangan cuma tahunya nikmati kopi saat di warung kopi saja 😁

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !