Peduli Lingkungan dengan Tidak Menumpuk Sampah

Mobil pengangkut sampah Desa Peulanggahan, Kota Banda Aceh

Apa jadinya bila sampah dibiarkan bertumpuk dan tidak dibuang? Tentunya jika itu sampah basah, maka akan mengeluarkan aroma yang mengganggu penciuman karena proses pembusukan yang dilakukan oleh bakteri.

Selain itu, sampah juga menjadi sumber penyakit bagi tubuh. Kok bisa? Ya, iyalah. Pastinya di rumahmu ada nyamuk kan? Nah, dialah perantara yang membawa kuman dan bakteri yang ada di tempat sampah ke kamu.

Kita nggak bisa menahan nyamuk untuk tidak hinggap ke makanan, tubuh, dan tempat-tempat lainnya di rumahmu. Dia ingin terbang bebas, kok dilarang-larang? Yang bisa kita lakukan ialah menjaga sumber penyakit itu supaya tidak dekat dengan kita. Salah satunya dengan tidak menumpuk sampah dapur di rumah.

Mungkin kita malas untuk membuang sampah ke tempat pembuangan sampah sementara, sehingga lebih memilih untuk menumpuknya dan kalau sudah banyak baru dibuang. Padahal sampah itu harus diangkut setiap hari dari rumah untuk meminimalisir terjadinya pembusukan.

Sampah di dapur rumahku

Bayangkan saja tubuh kita yang setiap hari makan, kemudian tidak buang air besar hingga beberapa hari. Bagaimana rasanya?

Sakit nggak perut itu? Tentunya ada panggilan alam untuk mengeluarkan segera sisa hasil makanan yang dicerna tubuh melalui kotoran (faces). Begitu juga sampah hasil rumah tangga yang tidak boleh dibiarkan lama-lama berada di rumah karena bisa menjadi sumber penyakit bagi anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.
Sampah Ditumpuk di Pinggir Jalan

Aku biasanya tidak membiarkan terlalu lama sampah dapur berada di kost-anku. Jadi sambilan pergi, aku membuangnya ke tempat pembuangan sampah sementara yang berada di pinggir jalan.

Masalahnya sampah-sampah itu tidak segera diangkut ke tempat pembuang sampah oleh mobil sampah. Akibatnya sampah tersebut bertebaran di pinggir jalan yang menimbulkan bau busuk di lingkungan sekitarnya.

Sampah yang bertaburan di jalanan

Lebih parah lagi kan kalau sudah begini? Apalagi datang hewan-hewan lainnya seperti kucing, kambing, anjing, atau lembu yang mengais-ngais tumpukan sampah itu untuk mencari makanannya. Jadinya sampah-sampah itu betaburan yang selain mengganggu penciuman, juga mengganggu pandangan.

Akibatnya apa? Sampah-sampah itu menjadi sumber penyakit bagi orang sekampung karena ditularkan oleh nyamuk yang menjadi perantara penularan penyakit. Sering kan kejadian orang satu kampung mengalami penyakit demam berdarah, diare, dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)? Itu tidak lain karena lingkungan yang tidak sehat.
Mobil Pengangkut Sampah

Untungnya sekarang sudah ada mobil kebersihan yang bertugas mengangkut sampah-sampah dari rumah-rumah warga. Mobil itu berkeliling ke kampung-kampung untuk mengambil sampah supaya dibawa ke tempat pembuangan akhir.

Mobil ini beroperasi setiap hari, kecuali hari Minggu. Biasanya sekitar pukul 10.00 WIB sudah ada para petugasnya yang meneriakkan “sampah-sampah” dengan mobil pickup yang bertuliskan Unit kebersihan Gp. Peulanggahan.


Aku pun sangat senang setiap hari mereka datang, karena aku tidak perlu lagi membuang sampah di pinggir jalan. Aku pun penasaran, kenapa hanya di Peulanggahan yang ada mobil pengangkut sampah ini, sedangkan di kampung lain sampah-sampah masih bertaburan di pinggir jalan.

Usut demi usut, ternyata mobil sampah yang ada di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh dibeli dengan dana gampong. Jadi, di kampung yang menjadi tempat tinggalku ini mempunyai mobil kebersihan sendiri, sehingga tidak perlu menunggu lama lagi agar sampah-sampah itu diangkut segera.

Menurutku ini suatu hal yang sangat berdampak positif bagi masyarakat, dibandingkan harus membangun ini dan itu yang muluk-muluk seperti membuat jalan baru, jembatan, gedung pertemuan dan sebagainya. Karena benda-benda mati itu hanya sebagaian orang yang bisa mengaksesnya.

Beda halnya dengan sampah yang setiap hari dihasilkan dari setiap rumah yang bila tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber penyakit. Harusnya Gampong Peulanggahan menjadi contoh buat kampung lainnya, karena dana desa itu tidak hanya melulu untuk pembangunan fisik semata.

Fasilitas penyedian tempat sampah dan mobil kebersihan merupakan hal yang mungkin bisa dibeli dari dana desa, mengingat jumlahnya mencapai 1M setiap desanya.


Andaikan semua kampung mempunyai mobil kebersihan sendiri, pasti tidak ada lagi sampah yang menumpuk di rumah-rumah penduduk atau pun di pinggir jalan. Sehingga lingkungan kita pun terbebas dari sampah yang merupakam sumber dari penyakit.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. Paling gerah kalau udah lihat sampah numpuk di rumah. Kayaknya jorok aja gitu. Biasanya setiap hari, sampah berusaha dibuang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, jadi sarang penyakit juga kalau dibiarkan menumpuk. Untung di daerahku mobil angkut sampah tiap hari menjemput sampah-sampah hasil rumah tangga, jadi terbantu juga dengan ada mobil sampah keliling ini.

      Hapus
  2. jadi ingat kebiasaan baik ibuku yang selalu buang sampah setelah masak.
    karena sampah sisa sayuran juga banyak terus kan kak, terus kalo ditumbuk bikin bau dan mengundang kecoa dan lalat.

    makasih buat artikelnya yang sudah kembali mengingatkan para pembaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sama-sama. Terima kasih juga sudah berkunjung kemari mbak. Semoga bermanfaat ya.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !