Ketika Handphone Hilang di Pelabuhan saat Menuju Sabang


Baru saja lima menit yang lalu aku update status di Instagram bahwa aku akan ke Sabang, tapi handphone (HP) jenis ADVAN S5E keluaran tahun 2014 itu, tidak ada lagi ditanganku.

Aku berlari menuju toilet umum wanita yang ada di pelabuhan Ule Lheu, berharap menemukan HP yang sudah tiga tahun setia menemaniku. Sayangnya cuma ada gayung dan air dalam timba, di tempat pembuangan kotoran manusia itu.

Ngapain pula HP ku nangkring di kamar mandi, kan aku nggak main HP saat buang air kecil tadi?” pikiranku bermain, mengira-ngira di mana posisi HP ku.

Tidak ada salahnya memeriksa toilet itu, siapa tahu terjatuh dari tas saat aku menggantungkannya di dinding kamar mandi. Sayangnya asumsi itu tidak benar sama sekali, tidak ada ditemukan HP berjenis Android di sini. 

Aku mencoba bertanya kepada setiap orang yang keluar dari kamar mandi tersebut, namun tidak ada satu orang pun yang tahu dan melihat HP itu.

Dugaan pun mengarah pada tas ranselku, mungkin ada terselip di kantong diantara barang-barangku. Alangkah terkejutnya diriku ketika melihat ada salah satu resleting tas tidak dikancingkan, alias menga-nga begitu saja.

Di tempat itulah biasanya aku meletakkan HP itu, tapi sekarang HP nya tidak ada, hanya meninggalkan beberapa alat tulis dan kartu namaku.

Oh, Tuhan. Cobaan apa yang Kau berikan kepadaku? Meskipun HP nya butut dan sudah usang, tidak bisakah hilangnya setelah aku pulang dari Sabang?” Aku berarap dalam hati supaya Tuhan mengabulkannya.

Posisiku sangat terjepit saat itu, hanya HP itulah satu-satunya penghubung komunikasi dengan Kak Farah. Tapi HP itu tidak tahu di mana kebaradaannya dan aku berharap cemas berputar-putar, sambil menunggu kedatangan Kak Farah.

Kami ditugaskan untuk mendata fasilitas penunjang pariwisata terkait penginapan, rumah makan, dan sovenir yang ada di Kota Sabang. Proyek ini kerjasama dinas pariwisata Aceh dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Aceh yang dalam hal ini ditugaskan kepada kami berdua.

Biaya transportasi dan akomodasi selama di Sabang ditanggung oleh pihak dinas, tapi masalahnya uangnya dipegang oleh Kak Farah dan aku tidak membawa duit sepersen pun saat ini. 

Aku tetap berusaha mencari HP butut itu dan berharap Kak Farah menemukanku di pelabuhan. Aku menelusuri jalanan yang kulalui sejak tadi, yaitu dari tempat antrian motor ke toilet wanita.

Jaraknya tidak jauh hanya 200 meter, hampir empat kali aku bolak-balik melewati jalan yang sama. Aku yakin HP ku itu pasti jatuh disekitaran sini, karena tas ku saat itu terbuka atau mungkin ada orang yang sengaja membuka dan mengambil HP ku. Pikiran paranoidku pun mulai muncul.

Aku bertanya ke setiap orang yang ada di sekitar itu, tapi tidak ada seorang pun yang melihat ada HP yang jatuh. Aku memberanikan diri untuk bertanya sama tukang becak, penjual asongan, dan gerombolan anak-anak laki-laki ABG yang sedang menunggu kedatangan kapal menuju Sabang. Sepertinya mereka ingin pergi berlibur ke Sabang. Tapi satu pun tidak ada diantara mereka yang melihatnya.

Di situasi ramai seperti di pelabuhan, tentu sulit untuk melacak barang-barang yang jatuh, jika pun ada mungkin sudah raib diambil orang. Aku menuju tempat informasi, berharap ada CCTV dipasang di pelabuhan. 

Ternyata tidak ada satu pun CCTV di pelabuhan. Mereka tidak bisa membantu banyak dan hanya menyehatiku lain kali harus berhati-hati lagi.

Aku sedikit kecewa karena pelabuhan penghubung yang merupakan gerbang menuju pulau paling barat Indonesia ini, tidak dilengkapi dengan fasilitas CCTV. Aku yakin dipelabuhan Sabang yang katanya mau dijadikan sebagai Pelabuhan Hub Wisata Bahari Internasional juga tidak ada CCTV.

Mungkin mereka belum merasa penting penggunaan CCTV di pelabuhan, tapi sebentar lagi di bulan November akan ada event besar berskala internasional di Sabang, yaitu Sail Sabang 2017. Masak tidak ada CCTV sih untuk pengamanan di pelabuhan?

****

Aku semakin cemas, “Kenapa kejadian buruk ini terjadi di saat aku ingin menikmati keindaahan alam kota Sabang?”

Setelah tahun 2012 lalu aku pergi ke Sabang hanya dalam waktu semalam saja, inilah kesempatan kedua pergi menuju daerah pulau terindah di Indonesia ini.

Untungnya ada seorang laki-laki muda yang mau membantuku untuk menelpon ke nomor HP ku. Ciee, akhirnya pangeran datang juga, hahaha. 

Meskipun bukan aku, mungkin laki-laki itu juga mau membantu. Karakter orang Aceh kan memang begitu, sangat ringan tangan memberi bantuan bagi orang yang kesusahan, Semoga saja terus begitu ya.

Dia menelpon nomor HP ku berkali-kali, berharap ada terdengar nada deringnya. Aku mengajaknya menelusuri jalanan yang aku lalui dari tadi, mutar-mutar keliling pelabuhan bahkan berkali-kali pergi ke toilet wanita.

Untungnya dia sabar mengekoriku sambil mendekatkan HP nya ke telinga, berharap nomor yang dituju ada yang mengangkat dan berkata “Aku menemukan HP jenis Andoroid, di mana aku bisa mengembalikannya.” Sebuah harapan yang tidak pernah kesampaian, hanya menjadi hayalanku saja.

Aku terduduk lemas di bawah pohon cemara dekat antrian motor yang sebentar lagi akan memasuki badan kapal. Di tempat ini lah satu jam yang lalu aku sibuk chating dan update status di berbagai akun media sosialku.

Sekarang hanya tatapan kosong memandang motor yang berjejer di hadapanku. Sebentar lagi motor-motor itu bergerak memasuki badan kapal, begitu juga dengan motorku yang sudah berada diantara motor lainnya.

Pemuda yang dari tadi mengekori membantu mencarikan HP ku, mengingsut-ingsut di antara motor-motor laiannya. Sambil memegang HP yang terus mencoba menghubungi nomorku, dia mendekatkan telinganya di setiap motor yang ditelusurinya.

Melihat dirinya yang begitu bersungguh-sungguh mencari HP ku, lalu aku mendekatinya dan bertanya apa yang sedang dia lakukan. 

Dia bilang mendengar suara yang diyakininya suara nada dering HP. Aku pun memfokuskan pendengaranku dan ternyata benar itu adalah nada dering HP yang biasa aku pakai.

Dengan gerak cepat aku melewati barisan motor, menuju satu motor Honda Spacy yang tidak lain adalah motorku sendiri. Ternyata HP ku berada dia dalam tas kecil yang aku gantungkan di depan motor.

Oh Tuhan., betapa pelupanya aku sampai-sampai barangku sendiri lupa aku taruh di mana. Apa ini tanda gejala Alzhaimer

NOTE:

Semoga cerita singkatku ini jadi pengalaman buat teman-teman semua yang akan menuju ke Sabang. Apalagi di akhir November dan awal Desember nanti padat banget pelabuhannya, karena ada Sail Sabang 2017.

Nggak lucukan, kalau kamu harus menghabiskan masa liburanmu di pelabuhan lantaran kehilangan barang. Jadi, jaga sendiri barang bawaannya, jangan berharap kamu bisa melihat dari CCTV, karena tidak ada CCTV yang terpasang di pelabuhan.

Hati-hati juga bagi yang membawa pasangannya, jangan sampai tercecer atau kehilangan pasangan, karena tidak ada CCTV yang memantau pasanganmu. Hehehe.

Sampai jumpa di tulisan cuhat berikutnya. 
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

20 komentar:

  1. Saat kamu bilang posisi lagi terjepit. Kira-kira terjepit apa ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terjepit keadaan Mas, :D Galau tingkat 'dewa' deh jadinya, hehehe

      Hapus
  2. Hehe ceritanya lucu,endingnya itu bikin pengen ketawa hehe... bisa sy bayangkan bila dalam keadaan seperti mbak pasti saya panik banget, apalagi nggak bawa uang dan cuma mengandalkan smartphone yg keberadaannya entah dimana hehe untung saja Tuhan mengirim pangeran eh laki2 itu yg nggak patah sangat mencari tahu androidnya mbak dan syukur juga androidnya nggak hilang cuma terlupa di tas kecil yang tertinggal di motor. Ya jadi pengalaman ya mbak lain kali barang penting kayak smartphone harus diperhatikan baik2 jg sampai dilupa. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, ini pengalaman beharga banget buat aku. Jadi sekarang setiap kali mau ke Sabang atau pun ke mana, aku sandangin tas ke mana-mana sebagai tempat HP ku.

      Hahaha, laki-laki itu hanya kutahu namanya dan sampai saat ini nggak pernah ketemu lagi. Semoga dia mendapat kebaikan dari Allah swt.

      Hapus
  3. wah, tragis juga....semoga bisa terganti dengan yang baru ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah dapat yang baru, tapi yang lama masih tetap setia menamani. :)

      Hapus
  4. HP sudah ketemu, pangeran sudah ketemu.
    Bukan alzhaimer itu mbak yelli tapi pertanda yang lain kali 😁
    Salam kenal, perdana mampir di sini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,pertanda apa ya?
      Baik, Mas Juanda, akan segera dikunjungi rumahnya :)

      Hapus
    2. Mungkin jodoh mbak sudah dekat, jodoh aku yang masih jauh ga keliatan. Eh kok aku malah curhat. hihi

      Hapus
  5. Pengalaman yang mengajarkan kehati-hatian ya Yel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, sekarang jadi teliti banget kalau pergi2.

      Hapus
  6. Duh mbaaaakkk... Awalnya aku ikut mengkhawatirkanmu.. setelah tau di spd motormu lha kug rasane antara ngakak dan jengkel yak.. wkkkk... Tapi ada hikmahnya.. bisa bertemu dengan pangeran berkuda putih.. ciyee ciyeee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, bisa dibayangkan betapa panik a aku, untung sang pangeran tiada lelah mencari, hingga akhirnya menemukan HP butut yang duduk manis tergantung di motorku.

      Ini pengalaman nyebelin sekaligus jadi pelajaran berharga buatku mbak.

      Hapus
  7. Semoga gak terjadi gini lagi ya, Teh,, sekalipun dapet yang baru, tapi smartphone lama suka masih pengen dipake, karena banyak knangannya..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya dapat lagi HP butut itu dan sekarang masih setia menemani hariku, meskipun sudah ada yang baru, tapi yang lama tetap aku bawa kemana pun pergi.

      Hapus
  8. setiap perjalanan yang dilalui pasti ada cerita unik dan menarik yang dialami, berbagai macam ragam cerita menjadi menarik apa di ingat dan ditulis, sehingga yang membaca nya pun ikutan menikmati perjalanan. terus berbagi cerita dengan menulis. #KitaBerjalan salut dan menarik ceritanya, apalagi diakhir cerita ada himbauan bagi penyuka traveling agar berhati - hati dalam menjaga barangnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya, semoga kita berjalan nanti bisa menemani petualangan Yell Saints di hari-hari berikutnya.

      Hapus
  9. Kirain hilang beneran, sampai miris bacanya, ternyata endingnya waaauuuuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung ada pangeran berkuda yang datang menemukan Hp ku, hehehe

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !