Belajar dari Film My Generation


Orang tua selalu ingin menjadi role model bagi anaknya, tapi bukan berarti mereka memaksa kita untuk menjadi seperti mereka.” (Orly)

Begitulah sekilas penggalan kalimat yang disampaikan Orly dalam film My Generation. Film yang bercerita tentang persahabatan empat anak remaja ini menjadi gambaran tentang kondisi anak zaman sekarang.



Cerita dalam film ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi orang tua yang mempunyai anak remaja, karena permasalahan yang dihadapi oleh generasi jaman now sangat kompleks. Lebeling nakal selalu disematkan oleh orang tua kepada mereka yang sebenarnya lebih cocok disebut kreatif.

Sehingga apa yang dianggap bertentangan dengan nilai dan keyakinan orang tua, dicap sebagai sesuatu hal yang salah. Padahal jika kreatifitas itu direspon dengan baik dan diberikan ruang untuk berekspresi bagi anak, tentu tidak akan ada kenakalan remaja seperti yang kebanyakan kita lihat di zaman sekarang.

Pembatasan terhadap kreatiitas anak oleh orang tua, justru mebuat dinding tembok komunikasi antara anak dan orang tua. Dinding ini lah yang menjadi penghambat diantara keduanya, sehingga sering sekali kita lihat terjadi konflik orang tua dan anak. 

Orang tua tidak bisa dijadikan tempat berkeluh kesah atau pun tempat bertanya sesuatu yang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Misalnya seperti membahas tentang seksualitas yang sebenarnya para remaja sangat butuh informasi tentang ini.

Namun kebanyak orang tua merespon negatif ketika ada pertanyaan tentang itu, sehingga para remaja pun lebih nyaman bercerita dengan teman atau sahabatnya yang juga mempunyai pengetahuan yang sama dengan hal itu.

Berbagai permasalahan yang terjadi di kalangan remaja diceritakan lewat film My Generation ini. Mbak Upi sebagai sutradara dalam film ini, sebelumnya telah melakukan riset social media listening selama dua tahun. Dia melihat komunikasi yang terjadi pada generasi jaman millinials dan memasukkan beberapa dialognya ke dalam film tersebut, sehingga karakter pemainnya sangat menggambarkan kondisi remaja zaman sekarang.


Tidak tanggung-tanggung, pengerjaan film ini menghabiskan waktu selama satu tahun, karena film ini dibuat berdasarkan riset intensive yang dilakukan oleh sutradara yang telah membuat film-film terbaik Indonesia.

Para pemainnya pun berasal dari kaula muda yang karakternya sama seperti anak muda pada umumnya di jaman sekarang. Dari situlah kita bisa melihat beberapa konflik yang terjadi anatara remaja dan orang tua mereka.

Orly misalnya, gadis bermata sipit ini mempunyai pemikiran yang kritis dan pintar. Dia melakukan pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal-hal yang negatif melebelkan kaum perempuan, salah satunya tentang keperawanan. Masalah pun datang dari ibunya yang seorang single parent dan mempunyai hubungan dekat dengan seorang pria yang lebih muda. Bagi Orly perilaku Ibunya tidaklah sesuai dengan kondisi pada umumnya.


Kemudian Suki yang merupakan remaja paling cool diantara teman-temannya. Wajahnya cantik, mempunyai rambut panjang yang dicat dengan warna pink. Akan tetapi dibalik gayanya itu, dia mengalami krisis kepercayaan yang berusaha ditutup-tutupinya terutama pada orang tuanya yang selalu berpikiran negatif pada dirinya.



Di film ini juga terdapat dua pemeran laki-laki yang bernama Zake dan Konji. Keduanya juga mempunyai masalah dengan orang tua mereka. 

Zake merasa kedua orang tuanya tidak mencintainya dan tidak menginginkan keberadaannya, sehingga ruang komunikasi antara dia dan orang tuanya nyaris tidak ada sama sekali. Hal itu membuat hatinya terluka, namun kemudian dia memberanikan diri mengkonfrontasi orang tuanya dan membuka pintu komunikasi yang selama ini terputus diantara mereka.




Sedangkan Konji mengalami dilema karena tekanan atas peraturan-pertaturan yang dibuat oleh orang tuanya. Dia kerap kali mempertanyakan tentang peraturan aturan tersebut yang menurutnya kolot dan over protective terhadap dirinya.

Berbagai permasalahan itu dapat kita lihat dari film Generation yang juga merupakan masalah kids jaman now. Para orang tua hendaknya bisa mengambil pembelajaran dari sebuah film yang menggambarkan kondisi para remaja generasi millineal.

Bagi kamu yang penasaran dengan filmnya, berikut cuplikan trailer-nya, sedangkan untuk filmnya sendiri akan tayang pada tanggal 9 November 2017.



SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !