Selimut Polusi dan Keresahan Para Emak-emak

Cucian menumpuk karena cuacanya buruk

Ngerasa gak, sepertinya cuaca sedang mempermainkan penduduk bumi. Sebentar panas terus hujan, panas lagi, eh diguyur hujan lagi. Cuaca seperti ini sangat meresahkan emak-emak kerena cucian menumpuk, baju yang sudah dicuci pun gak kering-kering. Bahkan yang udah hampir kering pun jadi basah lagi karena diguyur hujan tiba-tiba. Huuuh, sakit hati gak tuh?

Itulah yang aku rasakan beberapa hari terakhir di Banda Aceh ini. Matahari bersinar tak menentu kayak hidup segan mati tak mau. Aku yang ngebet pengen nyuci karena cucian sudah menggunung harus bolak-balik angkat jemuran, lantaran matahari bersinar, lalu redup terus hujan. Terhitung 4-5 kali aku mengangkat dan menjemur kain dalam sehari.

Awalnya langit terlihat cerah, tiba-tiba saja mulai gelap terus hujan. Aku buru-buru mengangkat jemuran, takut kain yang sudah dijemur basah lagi, belum habis jemuran diangkat, eh udah cerah lagi. Bahkan sempat aku hitung, cuaca bisa berubah setiap 10 menit sekali. Bingungkan jadinya, kok bisa begitu ya cuaca sekarang ini?

Usut demi usut, ternyata bumi kita sedang ditutupi oleh selimut polusi. Aku baru tahu saat mengikuti online gathering Eco Blogger Squad pada Selasa, 18 Oktober 2022. Tema yang diangkat kali ini tentang Transmisi Energi dan Selimut Polusi yang disampaikan oleh Fariz Panghegar, Manager Riset Traction Energy Asia.


Bagaimana Selimut Polusi Itu?

Selimut polusi muncul karena aktivitas manusia yang mencemari bumi. Hasil dari asap kendaraan bermotor, pembangkit energi listrik berbahan batubara, kebakaran hutan dan lahan yang polutannya membentuk sebuah selimut yang menutupi bumi sehingga peningkatan gas rumah kaca (Penebalan selimut bumi).

Padahal sebenarnya gas rumah kaca inilah yang menjadi selimut bumi secara alami sehingga menjadi hangat. Jika tidak ada gas rumah kaca kita kedinginan dong, tapi kalau terlalu banyak bisa menyebabkan efek rumah kaca. Selain itu, juga berdampak pada perubahan iklim. Jadi, cuacanya sulit diprediksi seperti sekarang ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bahwa bencana terkait efek rumah kaca adalah bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Diantaranya yaitu banjir, tanah longsor, cuaca ekstrim, dan juga kebakaran hutan, bahkan di daerah-daerah tertentu mengalami kekeringan yang mengakibatkan gagal panen.


Lantas kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi selimut polusi? Terutama untuk emak-emak ini yang merepet karena cuaca gak menentu. Daripada mengeluh dan ngomel, yuk lakukan aksi sederhana penyelamatan bumi dengan cara-cara berikut.

1. Terlibat dalam pengumpulan limbah rumah tangga untuk bahan baku energi non fosil (biodiesel dan biogas)

Nah, Emak-emak bisa mengumpulkan minyak jelantah alias minyak sisa untuk dijadikan biodiesel. Bagaimana caranya? Bisa searching sendiri di internet inovasi minyak jelantah yang bisa diolah sesuai kebutuhan. Berikut beberapa inovasi biodiesel dari minyak jelantah yang sudah berhasil dikembangkan.


2. Ceritakan praktik baik inovasi pemanfaatan energi terbarukan/non fosil. Nah, di sini Emak-emak bisa sharing baik ke tetangga maupun ke sosial media tentang kegiatan pemanfaatan energi terbarukan. Misalnya emak sudah menggunakan panel surya di rumah untuk kebutuhan energi listriknya. Atau paling sederhananya bisa ceritakan tentang pengalaman emak menggunakan transportasi umum ketika berpergian, sehingga membantu pencemaran udara akibat asap kendaraan bermotor berkurang.


3. Menghemat penggunaan listrik. Meskipun listrik tidak menghasilkan asap dalam penggunaannya, tapi energi listrik yang kita gunakan itu sumber dari pembakaran batu bara. Nah, asap dari pembakaran batu bara inilah yang menjadi polusi. Jadi, kita jangan boros menggunakan listrik, semakin banyak kita menggunakan listrik, semakin banyak batu bara yang dibakar, artinya semakin banyak polusi yang dihasilkan.

4. Mengampanyekan penggunaan produk energi terbarukan. Salah satu yang bisa dilakukan ialah seperti saya ini, menulis tentang betapa pentingnya kita melakukan transisi energi ke energi terbarukan.

Transisi energi upaya pengurangan penggunaan energi fosil ke energi non-fosil karena energi non fosil karena lebih rendah emisnya dan menghindari efek rumah kaca. Khususnya di sektor transportasi dan listrik. Dengan begitu kita bisa membantu mengurangi selimut polusi yang menutupi bumi, bahkan bisa mengikisnya karena sumber polusi berkurang.

Jadi, emak-emak jangan sekadar resah saja melihat keadaan bumi yang ditutupi dengan selimut polusi. Ayo lakukan gerakan sederhana dalam upaya pengikisan selimut polusi. Memang terlihat kecil, tapi bila dilakukan bersama akan berdampak besar ke depannya.

Bangga Menjadi Bagian Masyarakat Adat yang Menjaga Alam dan Budaya


Di pertemuan online gathering #EcoBloggerSquad kali ini, kami diajak mengenal tentang masyarakat adat oleh kak Mina Setra, selaku Deputi IV Sekjen AMAN Urusan Sosial dan Budaya. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 12 Agustus itu mengangkat tema, “Indonesia Bikin Bangga: Masyarakat Adat yang Kaya Tradisi dan Budaya.”



Sebagai pengantar, Kak Mina yang berasal dari Wilayah Kalimantan Barat dan termasuk suku Dayak Kompang banyak mengisahkan tentang masyarakat adat yang ada di wilayahnya. Beberapa diantaranya mengenai kearifan lokal masyarakat dalam membuat kerajinan tangan, baik itu berupa kain tenun yang membalaut kulit mereka, maupun peralatan yang digunakan saat berladang dan berburu seperti keranjang, tas anyaman yang begitu kokoh, bahkan bisa digunakan untuk membawa hewan buruan sebesar babi hutan. Sungguh menakjubkan bukan?


Begitu pula dengan kain tenun yang mereka hasilkan dibuat dengan pola-pola indah dan begitu rumit kita pahami. Namun, mereka membuatnya dengan cukup lihai di sela-sela kegiatan bertani dan berladang. Buatnya pun bukan dengan teknologi modern, tapi dibuat secara manual dengan tangan.

“Salah satunya kain tenun yang sampai ke tangan kalian sekarang itu adalah hasil buatan masyarakat adat,” ujar Kak Mina sambil menunjuk kami yang tergabung dalam zoom meeting.

Masyarakat Adat di Aceh

Mendengar cerita Kak Mina, ingatanku langsung tertuju pada masyarakat adat suku Gayo yang ada di daerahku, Aceh. Mereka juga membuat kain indah yang disebut dengan Kerawang Gayo. Bahkan kain itu digunakan saat acara-acara sakral, seperti pernikahan, sunatan, dan juga digunakan oleh para penari Saman.

Tarian Saman sendiri merupakan tarian yang sangat terkenal di Aceh, bahkan sudah ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Budaya Tak Benda Warisan Manusia. Masyarakat adat Gayo menggunakan tarian saman sebagai cara untuk menyampaikan nasihat tentang alam kepada anak-anak keturunan mereka.


Tarian ini dimainkan oleh laki-laki dalam bilangan ganjil, menggunakan syair Gayo, memakai baju adat Gayo dengan motif kerawang. Setiap gerakan yang ditampilkan dalam tarian saman mempunyai makna dan filosofi tertentu. Begitu juga syair yang dilantunkan dalam Bahasa Gayo tersebut mempunyai pesan dakwah Islam dan nasihat untuk menjaga alam, khususnya hutan Leuser yang menjadi penyangga hidup bagi empat juta masyarakat Aceh dan Sumatera Utara.

Tidak hanya masyarakat adat suku Gayo, masyarakat adat suku Aceh juga mempunyai tenunan khas yang disebut dengan songket. Begitu pula dengan masyarakat adat suku Aneuk Jamee yang tinggal di Aceh mempunyai kain kasab yang disulam menggunakan benang bewarna emas. Hasil sulaman itu biasanya digunakan di upacara adat seperti pertemuan orang penting, pernikahan, sunatan, dan peringatan-peringatan khusus lainnya.

Pengrajin Kasab Sulam Benang Emas di Masyarakat Adat Aneuk Jamee

Uniknya motif-motih yang tergambar, baik itu di kerawang, songket, atau kasab, kebanyakan bermotif alam, dan tumbuh-tumbuhan, seperti awan berarak, pucuk rebung, bunga situnjung dan sebagainya. Setiap motif mempunyai filosofi yang mempresentatifkan kehidupan dalam bermasyarakat yang harus dijunjung tinggi. Semua telah diatur sedemikian rupa dalam masyarakat adat.

Walaupun Masyarakat Adat Beragam tapi Tetap Menjaga Alam

Seperti yang dijelaskan oleh Kak Mina bahwa tidak ada definisi khusus tentang masyarakat adat karena banyaknya budaya yang ada di Indonesia. Apa yang Kak Mina sampaikan itu berdasarkan wilayah tempat tinggalnya. Kemudian menjadi ikatan yang kuat sehingga terbentuklah hukum adat dan aturan yang berlaku. Dilaksanakan oleh perangkat adat yang erat kaitannya dengan spriritual dan kepercayaan masyarakat setempat.

Begitu pula apa yang aku tuliskan merupakan gambaran dari masyarakat adat yang ada di wilayahku. Keberagaman dari berbagai masyarakat adat yang ada di seluruh wilayah Indonesia ini mempunyai tujuan satu yaitu menjaga alam. Mereka menggunakan alam seperlunya, bukan mengksploitasinya layaknya pemerintahan dan perusahaan. Sebab, ada aturan khusus yang dibuat oleh masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan.

Aku bangga menjadi bagian dari masyrakat adat ini karena dengan tantanan seperti inilah alam bisa terjaga secara alami.




Dengar Alam Bernyanyi Tumbuhkan Kesadaran Diri


Pandanglah Indahnya biru yang menjingga

Simpanlah gawaimu hirup dunia

Sambutlah mesranya bisik angina yang bernada

Dengar alam bernyanyi……”

(Laleilmanino)



Coba jawab kapan terakhir kali kamu melihat indahnya langit biru yang terilhat begitu cerah seperti foto di atas? Dan ketika musim panas, langit selalu cerah?

Sulit rasanya sekarang kita melihat pemandangan seperti di atas, apalagi yang tinggal di daerah perkotaan yang selalu diselimuti dengan asap kendaraan bermotor. Penentuan musim tidak berlaku lagi sekarang. Dulu saat masih duduk di bangku sekolah, kita mengenal dua musim yaitu hujan dan panas.

Aku ingat betul dulu ketika masih sekolah dasar, saat memasuki bulan yang berakhiran “ber” seperti September, Oktober, November, dan Desember ditandai sebagai musim penghujan. Payung selalu sedia di dalam tas. Masuk di awal tahun mulai musim panas, waktu yang tepat untuk merencanakan piknik dan jalan-jalan.

Namun, saat ini patokan musim berdasarkan bulan tidak berlaku lagi. Bahkan kita tidak mengetahui kapan musim panas dan musim hujan. Sebentar panas, tiba-tiba saja hujan, dan panas lagi. Begitulah kondisi cuaca saat ini. Kenapa semua ini bisa terjadi?

Lihatlah Kondisi Bumi

Sumber foto : https://bobo.grid.id/

Perlu disadari bahwa bumi yang kita tempati ini sudah sepuh. Bila diibaratkan dengan manusia, bumi sudah bungkuk, rapuh, dan renta karena termakan usia. Kita tidak tahu kapan ia tutup usia. Namun, melihat perilaku manusia yang penuh sesak di atasnya sepertinya bumi mati dengan dipaksa.

Lihatlah hutan yang menjadi paru-paru dunia ditebas hanya untuk kepentingan manusia. Mereka lupa banyak satwa, flora, dan fauna yang tinggal di dalamnya. Dengan egonya manusia, pulosi udara saban hari terjadi merusak lapisan ozon yang melindungi bumi. Bahkan baru-baru ini tersiar kabar Arab Saudi akan membangaun gedung-gedung pencakar langit yang melintasi gurun sepanjang 120 km dan terbuat dari kaca cermin. Bagaimana nasib bumi ke depan bila ini terus terjadi?

Ilustrasi pembangunan kota di Arab Saudi. Sumber foto Sindonews.com


Sekarang saja keadaan cuaca sulit diprediksi akibat perubahan iklim bumi. Secara alami, iklim akan berubah terus menerus karena adanya interaksi antara komponen-komponen dan faktor eksternal seperti erupsi gunung berapi, variasi sinar matahari, dan kegiatan manusia seperti, perubahan penggunaan lahan, pembangunan, dan penggunaan bahan bakar fosil.

Kegiatan manusia yang sangat berkontribusi besar dalam perubahan iklim ialah efek rumah kaca. Keadaan di mana ketika panas bumi (radiasi matahari) terperangkap di atmosfer (lapisan atmosfer) sehingga membuat suhu permukaan bumi menjadi lebih hangat. Fenomena ini disebabkan oleh gas rumah kaca yang dihasilkan alam maupun aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan fosil, asap kendaraan bermotor, limbah pertanian dan peternakan, serta limbah gas industri.

Perubah Iklim Jadi Pemanasan Global

Mungkin sebagian orang menganggap hal biasa perubahan iklim karena kondisi bumi yang sudah tua. Tapi, wait…! Tahukah kalian bahwa perubahan iklim akan berdampak pada pemanasan global?

Bisa rasakan sendiri kan bumi ini semakin panas, bahkan  di daerah pegunungan saja tidak terasa lagi sejuknya. Es di kutub yang disebut sebagai es abadi (gletser) kini mulai mencair yang mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut sehingga banyak pulau-pulau yang berpotensi tenggelam. Di antaranya 115 pulau sedang dan kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam. Demikian yang disampaikan Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ini bukan untuk menakut-nakuti teman-teman semua, tapi inilah kenyataannya bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Bila bumi terancam, manusialah yang paling berdampak. Kita mau tinggal di mana kalua bumi tidak kondusif lagi untuk ditempati. Masak sih, hijrah besar-besaran ke planet lain yang belum tentu cocok untuk kita tempati.

Oleh karena itu, mari bersama kita jaga bumi dengan menjaga pondasinya, yaitu hutan demi mencegah dampak perubahan iklim yang semakin parah. Seperti lirik lagu yang dinyanyikan …. di atas, “……dengar alam bernyanyi….”

Dengan menjaga hutan dan membiarkannya tumbuh di alam akan mensterilkan polusi udara dan efek rumah kaca, sehingga langit pun akan terlihat indah dan biru. #EcoBloggerSquad


Dengarkan alam bernyanyi, ayo dengarkan lagu Dengar Alam Bernyanyi di platform music favorit teman-teman karena dengan mendengarkan lagu ini, bisa berkontribusi untuk bumi. Sebab, sebagian royalty akan disumbangkan untuk konservasi dan restorasi hutan adat di Kalimantan.




Haircare Scarlett Perawatan Rambut Anti Lepek



Bisa dikatakan aku salah satu orang yang paling malas keramas. Alasannya karena kepalaku terasa sakit setelah keramas, terlebih menggunakan sampo yang tidak cocok di kepala. Kedua, setelah keramas rambut yang basah terasa lepek di kepala.

Walaupun sudah dikeringkan pakai handuk, diapa-apain serba nanggung, mau diikat rambutnya masih lepek dan lembab, kalau diuraikan terasa gerah. Ketika rambutku sudah kering semua, bikin susah disisir dan diatur. Jadinya rambut bakalan rontok saat disisir karena terlalu kering.

Biasanya aku keramas jika butuh saja, seperti saat mandi junub atau selesai menstruasi, hehehe. Namun, dengan cuaca sekarang yang begitu panas ini, nggak tahan kalau lama-lama tidak keramas. Sebab, rambut semakin lepek akibat keringat berlebih di kepala. Selain itu, bau yang tidak sedap membuat kita tidak nyaman saat berada di samping orang lain, apalagi di samping suami, auto jauh-jauh deh. So, harus sering-sering keramas kalau ingin menciptakan kedekatan antara suami istri.

Perawatan Rambut dari Scarlett


Setelah mencoba paket bodycare dan facecare beberapa bulan yang lalu, aku jadi candu dengan produk Scarlett. Sebab wangi produk dan tingkat kecocokannya pada kulit membuatku bertahan untuk terus menggunakan produk ini.

Nah, rupanya sekarang ada produk terbaru yang baru saja launching, yaitu haircare terdiri atas shampoo dan conditioner. Aku baru menerima paketnya dua hari yang lalu dan langsung mencobanya saat itu juga. Maklumlah udara di Banda Aceh begitu panas yang membuatku ingin keramas setelah tiga hari yang lalu keramas di kampung. Kwkwkw.

Botol samponya berwarna biru dan conditioner berwarna merah jambu. Saat pertama kali melihat kemasannya, aku teringat model kotak sampo jaman dulu, kurang lebih begitulah tempatnya yang berbentuk kotak persegi panjang. Berbeda dengan sampo jaman now yang kebanyakan berbentuk silindris seperti tabung.

Di kemasan sampo tersebut tertulis Yordanian Sea Salt Shampoo dengan wangi Magnolia. Sedangkan di conditionernya dengan wangi Evening Primrose (bunga sedap malam). Wangi ini membuatku dejavu, sepertinya dulu pernah familiar dengan wangi ini. Terasa begitu sedap untuk dicium berlama-lama.

Saatnya Keramas


Hal yang paling aku nggak suka saat keramas ialah busa yang terlalu banyak. Apalagi sampai masuk ke mata dan membuatnya jadi perih. Waduh, kalau begini acara mandi pun jadi terganggu. Pengalaman itu membuatku menuangkan sedikit saja sampo dari Scarlett ini, takut nanti busanya melimpah. Eh, ternyata kok nggak ada busa ya? Justru wanginya yang semerbak.


Aku menuangkan sedikit lagi sampo, tapi busanya tidak seberapa, nyamanlah saat memijat-mijat kepala. Apalagi wanginya bikin kita rileks. Setelah itu, aku membilasnya pakai air bersih. Samponya benar-benar tidak membuat mata perih, jadi gak ada lagi drama kucek-kucek mata saat keramas, hahaha.

Lanjut menggunakan conditioner yang tak kalah wanginya dengan sampo. Setelah meratakannya ke seluruh rambut, aku diamkan beberapa saat. Sambil menunggu, aku membersihkan badan pakai sabun. Setelah itu, barulah aku bilas rambut pakai air bersih dan ritual mandi pun selesai.



Ketika aku keluar dari kamar mandi, semerbak wewangian pun mengikutiku. Bahkan wanginya bertahan sampai seharian. Rambut pun juga tidak lepek setelah keramas yang membuat diriku begitu nyaman setelah menggunakan sampo dari Scarlett ini. Aku suka banget memegang rambutku yang lembut dan mencium wanginya, begitu juga dengan Pak Su yang sebentar-bentar mencium kepalaku. Kalau begini, kayaknya setiap hari bakalan keramas deh. Kwkwkw.


Kandungan & Manfaat Yordanian Sea Salt Shampoo & Conditioner

  1. Menyerap minyak berlebih pada kulit kepala.
  2. Membantu mengatasi penumpukan kotoran yang melekat pada kulit kepala.
  3. Membantu membuka kutikula rambut sehingga perawatan selanjutnya akan menyerap dengan baik.
  4. Mengontrol kadar minyak pada kulit kepala.
  5. Menguatkan akar rambut.
  6. Memberikan volume pada rambut.
  7. Mencegah rambut rontok dan bercabang.
  8. Menyehatkan folikel rambut & kulit kepala.
  9. Membuat rambut lebih berkilau.
Nah, rupanya perawatan rambut dari Scarlett ini mengandung banyak manfaat seperti yang kutuliskan di atas. Wajar aja deh kita diberikan kenyamanan saat menggunakannya. Harga cukup menentukan kualitas ya, gak kaleng-kaleng rupanya. Terbukti dengan hasilnya. Selamat mencoba.

Bagi teman-teman yang menginginkan produk hair care Scarlett terbaru ini atau produk Scarlett lainnya bisa langsung beli di sini ya!