Menunggu Sunrise di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru

Pemandangan di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru
Malam begitu dingin mengiringi perjalan kami, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam saat aku menarik koperku menuju mobil. Aku tinggalkan penginapan di Jl. Raya Tulusayu 171 Tulus Besar Tumpang, Kota Malang itu tanpa berpamitan dengan pemiliknya. 

Berbeda dengan penginapan malam sebelumnya di Jakarta yang dikelilingi oleh gedung bertingkat dan cahaya lampu, penginapan bernama Rani Homestay ini dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan bunga-bunga. Penginapan ini milik salah seorang pegawai Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Berkat rekomendasi dari Kepala BTNBTS kami menginap di sini semalam, sebelum melanjutkan menuju Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru pada pukul 02.00 WIB. 

Kedatanganku ke Kota Malang ini merupakan hadiah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) karena menang lomba vlog. Seperti yang dijanjikan dalam lomba vlog #GreenRamadhan, empat orang pemenang akan dibawa berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Jadi, terpilihlah empat orang yaitu Mas Catur dari Jakarta, Melin dari Kalimantan Tengah, aku dari Aceh, dan Mas Saliyo dari Yogyakarta. 

Para pemenang lomba vlog #GreenRamadhan 2018
Selain para pemenang, juga ikut serta bersama kami dua orang pegawai KLHK yaitu Mas Yuda dan Mas Onggo. Merekalah yang menemani perjalanan kami selama dua hari menjelajahi kota yang terkenal dengan Apelnya ini. 

Perjalanan Menuju Bukit Cinta 

Dua mobil yang disediakan oleh BTNBTS sudah menanti kami di halaman Rani Homestay, lengkap dengan sopirnya. Aku menaikkan koperku ke dalam mobil double cabin yang bertuliskan Polisi Kehutanan itu. Begitu juga Melin dan Mas Saliyo, meraka membawa semua barang-barangnya karena malam berikutnya kami tidak lagi bermalam di tempat ini. Kami berada di mobil yang sama sedangkan Mas Yuda, Onggo, dan Catur berada di mobil satunya lagi. Perjalanan menuju bukit cinta pun dimulai. 

Kami menempuh perjalanan sekitar dua jam lamanya untuk tiba ke Bukit Cinta. Di jalan yang begitu gelap tidak satu pun yang bisa kulihat dengan jelas, hanya berkas cahaya lampu mobil yang memperlihatkan jalan di depannya. Kantuk pun mulai menyerangku karena jam segitu waktu paling enak untuk memejamkan mata. Namun, aku tidak bisa tertidur karena tanjakan jalan yang membuat goncangan-goncangan kecil sehingga tubuh kecilku ikut terguncang. Tambahnya lagi udara dingin mulai menyelinap menembus jaket tebalku yang membuat badanku tidak tahan menahan gigil. 

Perjalanan menuju Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru
Pukul 04.00 WIB akhirnya kami tiba di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru. Kerumunan orang terlihat memadati tempat ini. Mereka semua menggunakan jaket tebal, lengkap dengan sarung tangan dan penutup kepala yang berbahan rajut. Saat aku membuka pintu mobil, udara dingin langsung menyeruak tubuhku seolah jaket dan pakaianku tidak berdaya menahan dinginnya alam Bromo. 

Dunia masih gelap, sunrise yang kami tunggu kedatangannya belum memunculkan wajahnya. Namun, orang-orang sudah ramai menanti bahkan semakin lama kian bertambah jumlah orang yang datang ke tempat itu. Aku hanya bisa melihat beberapa orang dalam jarak dekat berkat pencahayaan lampu senter yang di bawa mereka dan cahaya lampu dari kios-kios kecil di sekitar tempat itu. 

“Uhh, dingin banget,” kataku pada Melin dengan suara tercekat. Kaki dan tanganku mulai gemetar menahan gigil, begitu juga dengan Melin. 

“Mbak, mbak, sarung tangannya mbak, syal, topi. Silakan mau warna apa, cuma Rp10.000 untuk sarung tangan,” teriak seorang perempuan dengan membawa keranjang yang berisi benda-benda yang disebutkannya tadi. 

Aku mendekatinya dan mulai memilih-milih sarung tangan karena benda itulah yang kubutuhkan saat ini. 

“Silahkan dipilih mbak, syal dan topi juga ada. Harganya Rp25.000 satu, di sini dingin banget nanti mbak hipotermi kalau nggak kuat,” ujar perempuan itu kepadaku sambil menyenter barang dagangannya. 

Aku membeli satu sarung tangan, topi, dan syal dengan total harga Rp70.000. Benda-benda itu berbahan dasar rajut dan cukup membantu untuk menghangatkan tubuhku. Apalagi ada tulisan Bromonya dan bisa dijadikan oleh-oleh untuk kubawa pulang nanti sebagai kenangan-kenangan. Pikirku dalam hati. 

Rupanya Melin juga tertarik untuk membelinya. Dia pun langsung memakainya dan dibantu oleh perempuan penjual yang bernama Evi itu memasangkan syal ke leher Melin. 

Melin dengan pakaian lengkapnya menggunakan topi, syal, dan sarung tangan
“Kelihatannya keren menggunakan topi dan syal itu, kayak di luar negeri saja.” kataku kepada Melin. 

“Iya Kak, Aku rencana mau menyewa jaket juga karena nanti di atas sana dingin banget kata mereka.” Dia pun pergi ke tempat penyewaan jaket. 

Selain Mbak Evi, ada puluhan penjual lainnya yang menenteng dagangannya. Mereka berasal dari warga sekitar Bromo Tengger Semeru. Ada juga yang menawarkan jasa penyewaan jaket tebal, kebanyakan mereka dari kaum laki-laki. 

Melin pun kembali dengan jaket merah tebalnya, lengkap dengan topi, syal, dan sarung tangan. Sekilas ia mirip seperti perempuan China dengan mata sipit, berkulit putih, dan rambut lurus tergurai berwarna kecoklatan. 

Aku pun tertarik menyewa jaket tebal tersebut, supaya lebih lengkap dan terlihat seperti sedang berada di China. Akhirnya aku mengeluarkan uang Rp20.000 lagi untuk sewa jaket dan langsung kugunakan untuk membungkus tubuhku yang sudah berlapis-lapis menggunakan baju. Namun, rasa dingin masih tetap terasa dan kami pun pergi ke kios untuk mencari makanan hangat. 

Makan dulu sebelum kedatangan sunrise
Aku memesan indomie rebus pakai telor dan Melin memesan Pop Mie. Rasa dingin pun sedikit berkurang setelah makanan itu masuk ke lambung karena mulai terjadi proses metabolisme di dalam tubuh. Setelah 30 menit duduk bersantai di kios kecil itu, kami pun bersiap untuk menyaksikan kedatangan sunrise dengan pemandangan Gunung Bromo di depannya. 

Akhirnya Kau Keluar Juga 

Seberkas cahaya kuning kemerahan mulai kelihatan, semakin lama kian terang. Titik-titik cahaya putih berasal dari pemukiman penduduk mulai tampak di kaki pegunungan yang menjulang tinggi. 

Detik-detik kemunculan sunrise
Orang-orang mulai beramai-ramai menaiki anak tangga untuk melihat kemunculan bola lampu dunia. Tangga ini dibuat dari semen dan berpagarkan kayu, sekilas mirip dengan Tembok Besar China apalagi dengan pakaian tebal yang digunakan orang-orang di sini. Inilah spot terbaik untuk melihat sang surya keluar dari tempat persembunyiannya yang bahasa kerennya disebut sunrise. 

Itu tangga untuk melihat spot sunrise. Foto ini diambil saat matahari sudah terbit
Selain di tempat ini, bisa juga mendaki bukit yang ada di depan tangga. Namun, jalannya lebih susah karena menanjak dan tanahnya yang berpasir. Aku lebih memilih menaiki tangga karena lebih mudah dan tentunya bisa selfie di kerumunan orang-orang yang berjaket tebal ini. 

Bisa juga mendaki menggunakan jalan di bukit yang berada di belakangku itu.
Sesampainya aku di atas Bukit Cinta, matahari pun keluar dengan gagahnya dan membentuk bulat sempurna. Aku takjub melihat keindahan ciptaan Tuhan yang tiada tandingannya ini. Bulat seperti angka nol merangkak di balik gunung, bidikan kamera pun tak henti-hentinya mengabadikan sang surya. 

Sebenarnya bulat, tapi kameramennya saja yang kurang pas ngambilnya.


Kulihat oarang-orang di sekelilingiku sibuk dengan kameranya untuk menangkap moment indah ini. Banyak juga yang menatapnya dengan lekat tanpa memperdulikan orang hilir mudik di belakangnya. Aku memilih untuk mengabadikannya beberapa kali, selebihnya menikmatinya sambil berdoa suatu saat aku bisa kembali lagi ke tempat ini dengan kekasih hatiku. 

Setelah matahari keluar dengan sempurna, barulah terang alam semesta menampakkan wajah dunia. Di sina berdiri gagah Gunung Bromo dengan puncaknya yang menganga bekas letusan ribuan tahun yang lalu. Di sampingnya terdapat gunung berbentuk kerucut yang disebut Gunung Batok. Mereka berdiri berdampingan memperlihatkan kegagahannya kepada setiap mata yang memandang. 

Gunung Bromo Tengger Semeru
Pernah lihat foto ini di mana? 
Pemandangan ini biasanya kulihat di foto, majalah, lukisan, dan di internet, tapi sekarang bisa kusaksikan langsung pemandangan yang menakjubkan ini. Tak heran banyak orang jauh-jauh datang kemari untuk menyaksikan pemandangan indah ini, bahkan harus bangun lebih pagi untuk menunggu sunrise di Bukit Cinta Bromo Tengger Semeru. 

Gimana, sudah kayak di China belum?
Ketika berada di daerahku, setiap hari kulewatkan sunrise dengan mata terpenjam tanpa mau melihat kedatangannya. Namun, di daerah orang aku menunggunya datang jauh-jauh dari pukul 02.00 WIB. Padahal benda yang kulihat objeknya sama, hanya tempat yang membedakannya. 

Di sini aku sadar bahwa ketika suatu tempat difasilitasi dengan baik dengan suasana yang berbeda, tempat itu akan lebih asyik meskipun yang dilihat benda yang sama. 


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 komentar:

  1. wah menyenangkan banget ya mba jalan-jalannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Alhamdulillah mbak. Dan enaknya lagi ditanggung semua biaya perjalanannya. :D

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !