Menanam Edelweiss untuk Mengabadikan Cinta

Menanam edelweiss untuk mengabadikan cinta
“Mengabadikan cinta bukan dengan cara memetik bunga edelweiss dari habitatnya, tapi menanamnya supaya cinta itu abadi sesuai dengan nama bunganya yaitu bunga abadi,” Kata Mas Birama berkali-kali kepada kami, seolah kalimat itu sudah hafal di luar kepalanya. 
Mas Birama adalah penyuluh kehutanan dari Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Dialah yang menemani kami untuk mengunjungi desa wisata edelweiss, yaitu Wonokitri, Tosari, Pasuruan Jawa Timur. Di desa ini edelweiss dibudidayakan sehingga para pengunjung diberi kesempatan untuk menanam dan mengambil bunga edelweiss secara legal yang ditandai dengan sertifikat. 

Bahkan pada hari ini, 10 November 2018 sedang berlangsung Festival Land of Edelweiss sebagai launching Desa Edelweiss yang dijadikan objek wisata. Sayangnya aku tidak bisa menyaksikan secarang langusung festival ini karena aku kemari sebulan sebelumnya yaitu pada 10 Oktober 2018. 




Paling tidak aku dan teman-temanku sudah merasakan berkunjung ke tempat ini dan menanam pohon edelweiss sebagai wujud untuk mengabadikan cinta. 


Saat memasuki kawasan budi daya edelweiss kami pun disambut oleh kelompok tani Hulun Hyang yang berada di Desa Wonokitri. Mereka menggunakan seragam abu-abu yang bersimbolkan Balai Taman Nasional Tengger Semeru di dada sebelah kanan dan Hulun Hyang fdi sebelah kiri. 

Salah satunya Suherman, sekretaris kelompok tani Hulun Hyang. Dia menggunakan penutup kepala dari kain batik khas Jawa. Dari dialah kami diajarkan cara menanam edelweiss dan pembibitannya. 

Suherman, sekretaris kelompok tani Hulun Hyang
Kemudian juga ada Mike yang menjelaskan kepada kami tentang jenis edelweiss dan  pentingnya bunga ini bagi masyarakat Tengger Semeru. Menurut penjelasan Mike ada tiga jenis edelweiss yang dibudidayakan di kebun Hulun Hyang yaitu anaphalis javanica, longifolia, dan viscida

Bunga edelweiss ini oleh masyarakat setempat disebut tana layu yang berasal dari bahasa sansakerta artinya tan; tidak dan layu; layu. Jadi, tana layu berarti tidak layu atau abadi. 

Bunga Tana Layu (Edelweiss)
Mereka menggunakan bunga edelweiss sebagai kebutuhan adat untuk berbagai upacara seperti leliwet, entas-entas dan karo. Bunga-bunga ini dirangkai sedemikian rupa untuk pelengkap sesajen saat upacara adat berlangsung. 

Oleh karena itulah, bunga ini dianggap sebagai kebutuhan mendasar masyarakat Tengger Semeru maka edelweiss pun dibudidayakan. Sebelumnya masyarakat sekitar mengambil bunga edelweiss di wilayah konservasi TNBTS, sehingga tanaman yang dilindungi ini pun terancam punah karena habitanya terus berkurang. 

Edelweiss yang ditanam di pinggir jalan dan di depan rumah warga

Kini edelweiss yang berada di wilayah konservasi tidak lagi terusik kehidupannya karena sudah ada budidaya edelweiss di kebun Hulun Hyang, bahkan masyarakat Tengger Semeru pun disarankan untuk menanam edelweiss di depan rumah mereka. 

Belajar Budidaya Edelweiss 

Di kebun Hulun Hyang ini kami belajar cara pengambilan biji edelweiss dari bunga yang sudah tua dan kemudian disemaikan ke medium yang sudah disediakan. Kita bisa melihat bijinya dari bunga yang sudah tua berwarna hitam seperti biji bayam. 

Mencari biji edelweiss dari bunganya yang sudah tua
Medium yang disediakan untuk penyemaian biji ini yaitu tanah yang sudah dibasahi air sehingga tanah tersebut lembab, tapi tidak becek. Setelah satu bulan pembibitan, edelweiss yang tumbuh kemudian dipindah ke polybag kecil. Lalu setelah dua – empat bulan barulah di tanam di atas tanah. 

Aku dan teman-teman pemenang lomba vlog dan staf humas Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkesempatan menanamnya. Edelweiss yang kutanam di Wonokitri sebagai bukti bahwa aku pernah kemari dan cintaku kepada desa ini kutanam melalui bunga abadi. 


Berwisata di Desa Edelweiss 

Saat aku kemari sebulan yang lalu, kami belum diizinkan memetik bunga ini dan membawanya pulang. Pasalnya Desa Edelweiss, belum dilaunching oleh Mentri KLHK, Ibu Siti Nurbaya. Pada hari ini tentunya para pengunjung sudah bisa membawa pulang bunga edelweiss karena Bu Mentri sudah melaunchingnya. 

Mas Suherman pernah bilang kepadaku bahwa edelweiss yang kutanam akan dijaganya dan bila nanti berbunga akan dikirmkan ke tempatku di Banda Aceh. Semoga saja edelweiss yang kutanam subur dan menghasilkan bunga yang banyak sehingga aku bisa menikmati keindahannya walau ribuan kilometer dari habitatnya. 

Saat mengunjungi kebun edelweiss Hulun Hyang

Para wisatawan yang datang kemari kata Mas Suhermann juga bisa adopsi bunga edelweiss dengan cara menanamnya. Kemudian kelompok tani Hulun Hyang akan merawatnya dengan biaya perawatan Rp500.000 per batang. Kalau edelweiss tersebut berbunga, maka bunganya akan dikirim kepada pemiliknya. Bagaimana kamu tertarik? 

Selain itu, di desa ini juga menyajikan wisata petik bunga dan merangkainnya. Ini yang tidak bisa kunikmati saat berkunjung kemari, lagi-lagi karena aku keduluan datang sebelum desa ini dilaunching. 

Pengunjung berkesempatan untuk memetik edelweiss dan mendokumentasikannya tanpa dihujat oleh netizen di media sosial. Mereka akan mendapatkan lisensi berupa sertifikat untuk memiliki bunga edelweiss dan juga sebagai wujud terima kasih karena sebelumnya sudah melestarikan edelweiss dengan cara menanamnya. 

Buket bunga edelweiss yang dijual oleh warga setempat
Bunga – bunga tersebut nantinya akan dirangkai menjadi buket dan pengunjung bisa belajar membuat buket dari bunga edelweis hasil petikannya. Atau bisa juga membeli buket bunga yang sudah disediakan dan bisa digunakan sebagai suvernir untuk oleh-oleh. 

Jika sedang berlangsung upacara adat Tengger, para pengunjung bisa melihat atraksi upacara tersebut dan juga bisa belajar merangkai edelweiss untuk sesaji upacara. Tentunya banyak hal yang bisa dipelajari dan dinikmati saat berkunjung ke Desa Edelweiss. 

Hal yang paling penting saat datang kemari ialah menanam edelweiss untuk mengabadikan cinta. Sebagaimana tanaman edelweiss tumbuh, begitu pula cinta kita akan tumbuh menjadi abadi seperti bunga tana layu yang ada di Wonokitri.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

14 komentar:

  1. Waah seru kayaknya ya mbak.. saya baru tahu model pohonnya seperti itu, karena taunya cuma pas kering aja.. hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, seru banget coba saja kemari dan tanam satu bunganya.

      Hapus
  2. Lucu banget ya itu buket bunga Edelweis nya... kegiatannya keliatan seru sekali mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, lebih serunya lagi hari ini saat festival bunga edelweiss.

      Hapus
  3. Ak baru Tau edelweiss d budidayakan. Jd pengen ikutan nanam ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang sudah bisa dibudidayakan mbak, dan udah legal untuk mengambil bunganya, asalkan sudah menanamnya dulu.

      Hapus
  4. MaasyaaAllah cantik sekali ya mbak.. , itu kalau dijual sekitar berapa ya mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang dijual warga dari harga 25 ribu sampai ratusan ribu. Sesuai dengan besar buket bunganya.

      Hapus
  5. Akutu dulu nggak bisa bedain antara edelweiss ama sakura masak wkwkwk.. jd aku beranggapan klo mau lihat sakura ya ke sana ke Semeru wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya bunga sakura ada di Jepang mbak? :D

      Hapus
  6. dulu waktu smp pernah di kasih edelweiss ama cowok hahaha

    itu yang dijualin pake warna kah mbak edelweiss nya? setau sha cuma satu warna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sekarang mbak harus menanamnya kembali sebagai pengganti bunga yg dulu dipetik sama pacarnya hahaha.

      Itu diwarnain bunga nya mbak.

      Hapus
  7. Ooooh biji bunga edelweiss yang sudah tua itu seperti biji bayam ya? Baru tau aku hehehe. Adikku yang hobi naik gunung pernah metik dikiiit nih biar kita tau kayak apa bentuknya. Sudah langka ini harus dibudidayakan. Senang ya mb Yell bisa join seseruan di event ini :) Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, sekarang sudah dilegalkan memetik, tapi khusus di kawasan budidaya, tidak boleh metik di kawasan konservasi.

      Iya mbak, tapi saya datangnya kecepatan satu bulan sebelum desa ini di launching sebagai desa wisata edelweiss.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !