Pesona Ramadan 2018 di Kota Naga Aceh Selatan

Tugu Bundaran Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan. Kabupaten Aceh Selatan. Provinsi Aceh


Kota Naga, begitulah orang-orang menyebutnya. Daerah yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan ini memang dikenal dengan legenda Tuan Tapa dan sepasang Naga dari daratan Cina. Oleh karena itu pula, nama-nama di daerah ini dikaitkan dengan legenda tersebut seperti Tapaktuan, Air Pinang, Terbangan, Tepian Gajah, dan Air Berudang. 



Berjarak 500 km dari Kota Banda Aceh, Tapaktuan yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Aceh Selatan berada di pesisir Selatan Provinsi Aceh. Butuh waktu sekitar 10 jam dari Banda Aceh dengan kendaraan roda empat untuk sampai ke kota ini. Bila dari Kota Medan hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam. 


Kamu bisa mencari di Google Map lokasi penginapan dan rumah makan yang ada di Tapaktuan


Sesampainya di Tapaktuan, bukan hal yang sulit untuk mencari penginapan karena banyak hotel yang berada di pusat kota. Salah satu hotel yang sangat strategis berada di jalan T. Ben Mahmud, No. 225, Pasar, Tepi Air bernama Pante Cahaya. Hotel berlantai tiga ini dilengkapi dengan cafe di lantai atas dan mini market di lantai bawah. Namun, selain tempat ini masih banyak penginapan lain yang berada di pusat Kota Tapaktuan. 

Pesona Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan 

Hal yang bisa kamu nikmati selama bulan ramadan ini adalah wisata religi dengan mengunjungi Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan. Masjid ini berjarak 50 meter dari Hotel Pante Cahaya yang bisa kamu kunjungi setiap kali salat fardhu bila menginap di hotel ini. 

Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan. Kabupaten Aceh Selatan.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1930 ini, telah beberapa kali direnovasi dan kini menjadi masjid terbesar sekaligus termewah di Aceh Selatan. Bangunannya mirip dengan masjid yang berada di Timur Tengah dengan satu kubah utama yang diapit oleh empat menara. Sedangkan menara utamanya berada di halaman masjid dengan ketinggian sekitar 20 meter. 

Di atas menara ini kita bisa menyaksikan indahnya Kota Tapaktuan yang dijuluki sebagai Kota Naga. Hamparan Samudera Hindia terbentang luas di depan bibir pantai seolah air laut menjorok ke daratan. Maka kota ini sering juga disebut sebagai teluk yang dalam bahasa daerah setempat (Aneuk Jamee) disebut dengan taluak

Istilah taluak maimbau (teluk memanggil) pun sering menjadi jargon daerah yang didiami oleh suku Aneuk Jamee ini. Karena bila orang berkunjung ke daerah ini pasti akan terpanggil lagi hatinya untuk mengunjugi kembali tempat ini. 

Di halaman masjid juga terdapat delapan batang pohon kurma yang hidup subur dan sudah beberapa kali berbuah. Bila datang kemari, kita benar-benar merasakan sedang berada di wilayah Timur Tengah. 

Air Mancur di Bundaran Halaman Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan. Aceh Selatan.
Di samping kiri masjid dibangun Tugu Bundaran Masjid Istiqamah dengan pesona air mancur yang sangat indah. Di bawah tugu dengan ketinggian 20 meter itu, dibangun tempat duduk setengah lingkaran yang menghadap ke jalan Kota Tapaktuan. Kamu bisa berhenti sebentar di tempat ini hanya sekadar mengambil foto bila melintas di tempat ini karena letaknya memang berada di jalan lintas nasional Tapaktuan – Banda Aceh dan Tapaktuan – Medan. 

Di sekitar bundaran berjejer pedagang yang menawarkan berbagai menu berbuka puasa. Bila sore hari, bundaran ini disesaki oleh banyak pengunjung yang berburu takjil untuk makanan dan minuman berbuka puasa. Tempat ini telah menjadi wisata kuliner selama bulan ramadan. 

Aktivitas yang Bisa Dilakukan 

Kawan-kawan GenPI [Generasi Pesona Indonesia] pasti penasarankan ingin melihat langsung bagaimana keindahan sebenarnya. Bila kawan-kawan mempunyai kesempatan satu hari untuk menikmati pesona Kota Naga ini, bisa berkunjung ke tempat lainnya juga selain Masjid Agung Istiqamah. Jarak antara satu tempat wisata ke tempat lainnya tidaklah jauh karena masih berada di sekitaran Kota Tapaktuan. 

Di sana kamu bisa mengunjungi objek wisata tapak Tuan Tapa yang menjadi cikal bakal dari nama Kota Tapaktuan. Di situ terdapat tapak kaki manusia raksasa yang pernah mendiami daerah ini. Kamu bisa membaca kisahnya yang dituliskan di monumen berbentuk telapak kaki atau bisa bertanya langsung kisahnya pada warga setempat. 

Kamu bisa menyaksikan tapak kaki Tuan Tapa dari tempat ini


Tempat ini berada di bawah kaki Gunung Lampu yang menghadap langsung ke Samudera Hindia dan berjarak sekitar 1 km dari Masjid Agung Istiqamah. Sekitar 200 meter dari tapak tersebut, terdapat kuburan Tuan Tapa yang di depannya ada masjid yang berusia lebih seratus tahun bernama Masjid Tuo berada di Kampung Padang. Kecamatan Tapaktuan.



Makam Tuan Tapa [Tuan Tapa Meninggal di bulan Ramadan tahun 4 Hijriyah]
Sumber Foto : www.kluetrayanews.com



Mesjid Tuo Kampung Padang 

dibangun pada tanggal 10 Agustus 1108 Masehi oleh Syech Al-Jazirazi Farsyiah Bin Ibnu Mansyur

Sumber Foto : www.kluetrayanews.com




Selanjutnya kamu bisa pergi ke patung naga raksasa yang seolah keluar dari penggunungan Tapaktuan. Pantung ini dibuat hanya untuk memperkuat kesan legenda Tapaktuan yang dijuluki Kota Naga. 



Patung naga yang berada di samping Pondopo Bupati Aceh Selatan


Selain di tempat ini, juga terdapat patung naga yang sedang berdiri dengan lidah terjulur berada di depan Dinas Kesehatan Tapaktuan. Tingginya sekitar 8 meter, naga itu menghadap ke jalan raya. 


Bila ingin menikmati suasana pantai dan pegunungan, kamu bisa pergi ke RTH [Ruang Terbuka Hijau] Taman Pala. Objek wisata yang sedang digemari saat ini di sini ialah Jembatan Krueng Sarullah II yang dibangun di atas reklamasi pantai Tapaktuan. Jembatan dengan panjang kurang lebih 20 meter ini menjadi obyek wisata alam bagi swafoto dan fotografer. 

Perpaduan pesona alam dan pantai terlihat begitu menakjubkan ketika berada di atas sini. Bila cuaca sedang cerah, kamu bisa melihat sunset dengan sempurna yang tenggelam di Samudera Hindia. Bila beruntung, kamu juga bisa melihat kawanan penyu berenang di bawah jembatan yang menyatu dengan laut lepas. 

Ada perahu yang sedang melintasi pingiran laut dekat jembatan Krueng Sarullah II

Kondisi warga yang menikmati keindahan pantai sambil menunggu buka puasa
di Jembatan Krueng Sarullah II

Jarak antara satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya tidaklah begitu jauh, karena semua pesona masih berada di kota dengan luas 92.6 km2. Kita bisa meghabiskan waktu satu hari untuk mengeliling Kota Naga ini sambil merasakan suasan ramadan. 

Setelah menyaksikan pesonan Kota Naga, kamu masih bisa kembali ke penginapan untuk berbuka puasa atau berbuka di cafe di sekitar RTH. 

Pada malamnya kamu bisa merasakan suasana salat isya, tarawih, dan witir di Masjid Agung Istiqamah yang penuh dengan jamaah. Antara isya dan tarawih diselingi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh penceramah yang telah ditetapkan setiap malam oleh pengurus masjid, dengan orang yang berbeda di setiap malamnya. 

Jumlah rakaat salat tarawih di masjid ini ada 8 rakaat dan ada juga 20 rakaat. Mulanya semua jamaah salat isya dan tarawih seperti biasa. Setelah delapan rakaat salat tarawih, bagi jamaah yang ingin melaksanakan salat tarawih 20 rakaat mundur dulu untuk menunggu jamaah yang meneruskan salat witir 3 rakaat. Setelah itu mereka akan kembali melanjutkan salat tarawih dengan imam yang berbeda, sedangkan yang telah selesai melaksanakan salat tarawih dan witir keluar meninggalkan masjid. 

Atraksi air mancur di bundaran halaman Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan
Kamu masih bisa menyaksikan pesona masjid ini di malam hari karena keindahan air mancur di bundarannya. Atraksi air mancur ini sungguh mempesona karena liukan air setinggi lima meter dengan lampu bewarna warni ini, menarik setiap pasangan mata yang lewat untuk menyaksikannya. Beginilah pesona ramadan 2018 di Kota Naga ini, tertarikah kamu mengunjunginya?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Kreasi Konten Blog/ Web Pesona Ramadan 2018,
yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia 

SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 komentar:

  1. Benar-benar detail dan memesona Yel. Ingin juga singgah dengan keluarga kalau lewat nanti. Direncanakan dulu supaya tercapai nantinya. Hehe

    Selama ini kami pulang naik bus umum, sih. Makanya nggak mungkin singgah dan mengeksplorasi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar kak kalau pulang, singgah dulu ke rumah Yel, biar Yel bawa jalan-jalan.😁

      Hapus
  2. Aku belum pernah ke Aceh.. Baca tulisan Mbak jadi semakin pengen ke Aceh!!! Salam kenal Mbakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayuk ke Aceh, karena banyak destinasi yg bisa dikunjungi dan dipelajari di sini.

      Hapus
  3. aceh dan Lombok, dua daerah yang lekat dengan julukan serambi.. tidak perlu dipertanyakan perihal meriahnya ramadhan.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, benar sekali. Benar-benar terasa suasana Ramadannya.

      Hapus
  4. Wah mantap ya, Aceh selatan. Tapi tempat wisata di Aceh selatan kan bukan hanya di pusat kota Tapaktuan aja.
    Di Meukek kan ada juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups, nanti aku ulas pula tentang Meukek ya. Setelah benaran menjadi inongnya awak Meukek. 😆

      Hapus
  5. Mantab, keren banget ulasan lengkapnya, jadi ingin silaturahmi ke Aceh Selatan, eh kuliner yang khas di sana ada apa saja ya? Kak @Yelli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada manisan pala, gulai taleh, sambal kambie untuah, sambea tokok. Dan banyak lainnya.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !