Begini Proses Tolak Bala di Aceh

Bendungan Tangan-Tangan, tempat dilaksanakannya acara tolak bala

Satu demi satu ibu-ibu berdatangan membawa berbagai macam makanan. Ada yang membawanya mengunakan rantang, ada juga yang membawa dengan talam yang ditupi koran.

Mereka menuju bendungan di sungai, tempat dilaksanakannya acara tolak bala. Di tempat itu terdapat dua teratak berukuran lima meter sebagai tempat dilaksanakannya acara.

Ibu-ibu membawa makanan untuk acara tolak bala

Para pemuda dan juga bapak-bapak sedang khidmat membacakan ayat suci Al-quran. Terlihat lebih banyak lelaki muda yang menyumbangkan suara ketimbang bapak-bapak yang hanya duduk menikmati bacaan Al-quran tersebut.

Suara mereka cukup merdu, bergetar hati ini ketika ayat demi ayat dibacakan dengan irama yang indah. Apalagi mereka masih sangat muda dan berwajah rupawan, tentunya akan membuat para gadis jatuh hati melihat dan mendengar suaranya.

Begitu yang dituturkan teman-temanku saat live in selama dua hari di Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Barat Daya (Abdya). Tujuan kami kemari untuk membuat video sebagai tugas belajar dari program perempuan peduli leuser, USAID Lestari.

Kebetulan waktu itu bertepatan dengan hari tolak bala yang mereka sebut sebagai Rabu Abeh, kami pun ikut berbaur dengan masyarakat Adan mengikuti proses tolak bala.

Acara tolak bala di Gampong Adan, Kecamatan Tangan-Tangan Abdya

Acara tolak bala masih ada di daerah barat selatan, walau tidak semua melakukan tradisi ini. Orang yang tingal di daerah Timur atau Utara seperti Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Sigli, dan sebagainya menganggap tolak bala suatu tradisi hindu yang dianggap syirik. 

Bahkan ada yang mengira dalam prosesnya terdapat ritual membuang makanan dan kepala kerbau atau sapi ke laut dan sungai. Tentu asumsi seperti ini perlu dicerahkan, supaya tidak salah kaprah memaknai tolak bala.

Sebagian orang meng-judge bahwa tradisi ini tidak lagi sesuai dengan konteks kekinian. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ini lah cara masyarakat mempererat tali persaudaraan, berkomunikasi dengan alam, dan bentuk syukur kepada Tuhan.

Beginilah proses tolak bala yang selama ini dianggap syirik oleh sebagian orang, bahkan ada yang mengira menghanyutkan makanan.

1. Mengaji membaca Al-Quran

Pada malam Rabu Abeh bulan Safar masyarakat melakukan ritual mengaji membaca Al-Quran di tepi sungai sampai masuk waktu subuh.

Suaranya cukup merdu, menggetarkan hati, menyejukan jiwa, dan menentramkan pikiran

Tujuannya supaya air sungai yang mengalir melalui irigasi menjadi berkah hingga ke persawahan. Selain itu tempat seperti sungai atau laut sangat rawan dijadikan sebagai tempat maksiat, sehingga akan mengundang bala jika dibiarkan begitu saja.

Oleh karena itu, tolak bala yang diadakan di tepi sungai atau pantai dapat menolak bala dan juga membuat tempat tersebut menjadi berkah. Segala sesuatu yang baik akan berefek baik pula bagi kita, begitu penjelasan dari Abu Saridin Sulsi sebagai pimpinan podok pesantren di kampung Adan.


2. Makan Siang Bersama

Pengajian pun dilanjutkan pada pagi harinya, mulai dari pukul 09.00 – 12.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Asyik ya, bisa makan bersama begini

Masyarakat membawa makanan dari rumah mereka masing-masing untuk dimakan bersama-sama. Tidak ada proses mengahanyutkan makanan ke sungai, justru suasana kebersamaan dan kekeluargaan terpancar dari setiap wajah ramah mereka.

Kami yang saat itu tidak membawa makanan, dipersilakan untuk makan bersama dengan warga. Mereka berbaik hati menawarkan berbagai macam menu makanan kepada kami, sangking banyaknya kami pun bingung memilih makanan yang mana yang harus dimakan.


3. Shalat Zuhur Berjamaah

Setibanya shalat zuhur, mereka melaksanakan shalat zuhur berjamaah dipimpin oleh Abu pesantren. 

Menghadap Sang Maha penccipta saat shalat zuhur

Mereka shalat dibawah teratak tempat acara tolak bala tersebut, sungguh pemandangan yang menyejukkan hati ketika mereka larut dalam kekhuyukkan menghadap Sang Maha Pencipta.


4. Azan Tolak Bala

Azan di sini bukan seperti azan sebagai tanda masuknya waktu shalat, tapi azan untuk menolak bala dan bencana. 

Azan tolak bala  yang menghadap keempat arah penjuru mata angin

Empat orang laki-laki berdiri saling bertolak belakang mengahadap empat sudut mengarah ke Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Cara ini sebagai isyarat untuk mengusir setan dan jin dari berbagai arah.

Bacaannya sama seperti azan pada umummnya, hanya saja dibawakan bersahut-sahutan antar sesama muadzin tersebut.


5. Membaca Surah Yasin

Setelah azan, dilanjutkan membaca surah Yasin secara bersama-sama. Masih dipimpin oleh Abu pesantren, semua orang khidmat dalam bacaan surah Yasin.


6. Zikir Tolak Bala

Kemudian dilanjutkan dengan membaca zikir tolak bala yang berisi thalil, thamid, dan ya latif. 

Zikir salah satu cara mengingat Allah swt

Mereka membacakannya dengan khusyuk dan bersungguh-sungguh, sampai saat membaca kalimat tauhid lailahailallah suara mereka meninggi, semakin lama semakin cepat.

Aku sempat bertanya kepada Abu pesantren tentang hal itu. “setiap orang mempunyai cara berbeda dalam mendapatkan kekhusyukan, ada yang menggunakan suara keras, ada juga yang lembut. Tergantung kita bagaimana menyikapinya”. Begitu yang disampaikan Abu.


7. Shalawat dan Doa

Sebagai penutup acara ini dibacakan shalawat dengan menggunakan bahasa Arab dan Aceh yang berisi puji-pujian kepada Allah swt dan Rasulullah Muhamamad saw.

Ibu-ibu mengikuti doa yang dipimpin oleh Abu

Doa yang dibacakan juga mempunyai gerakan isyarat yang pertama tangannya mengadah ke atas, tapi saat bacaan yang berisi doa tolak bala tangannya berubah posisi. Telapak tangan menghadap ke arah luar berlawanan arah dengan wajah seperti menolak sesuatu.

Hal ini sebagai isyarat, seperti halnya Nabi Muhammad menyampangkan sorbannya yang terjulai ke bawah, lalu diletakkan ke bahu pada saat melakukan doa di shalat istisqa (shalat meminta hujan). Begitu yang disampaikan Abu.

Acara tolak bala berakhir pada pukul 15.00 WIB, sebelum masukknya waktu shalat ashar. Proses tolak bala yang aku saksikan langsung di Gampong Adan ini, tidak ada satu pun menurutku yang mengarah ke perbuatan syrik.

Hanya saja aku sedikit menyesalkan saat mereka membuang plastik minuman dan makanan ke bendungan. Begitu juga dengan sampah plastik di sekitarnya dibuang begitu saja tanpa dikumpulkan. 

Andaikan proses tolak bala ini digandengkan dengan konsep menjaga lingkungan, tentu ini menjadi sebuah kearifan lokal yang patut dicontoh dan dilestarikan.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

8 komentar:

  1. Acara ini tujuannya baik, namun perlu dikaji juga panduannya sesuai syariat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan merupkan modifikasi dari budaya Hindu. Mereka pasti mempunyai dasar yang jelas.

      Hapus
  2. Tradisi yang ternyata masih lestari ya mbak. Kalau di daerah saya, biasanya buang sesajen ke laut tapi ini juga agak jarang dilakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulunya ada juga buang sesajen di laut, tapi sekarang tidak ada lagi yang seperti itu karena bertentangan dangan agama Islam, hanya zikir dan doa saja yang dilakukan.

      Hapus
  3. Kalau di rumah saya namanya mamaca mbak ....seneng ya melihat budaya kita tetap lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi mungkin bisa diterapkan dengan konsep menjaga lingkungan, karena untuk mengubah mind set masyarakat supaya tidak buang sampah sembarangan lebih mudah kita lakukan melalui pendekatan agama dan budaya.

      Hapus
  4. Kalau di rumah saya namanya mamaca mbak ....seneng ya melihat budaya kita tetap lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setiap daerah pasti ada yg beginian walupun tidak sama persis dan namanya juga beda2 ya.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !