Pesona Budaya Jawa di Gedung Sobokartti, Semarang

Perlahan tapi pasti, dia mengajarkanku memainkan alat musik Jawa yang disebut gamelan. Aku diajak kemari untuk mengenal budaya Jawa yang merupakan bagian dari program future leader sumit 2015 di Semarang.


Pesona Kabupaten Semarang
Pak Tjahjono Rahardjo sedang mengajarakan para peserta
Future Leader Sumit 2015 bermain gamelan.
Doc. Foto pribadi

Masih membekas diingatanku, saat seorang laki-laki tua yang berusia sekitar 70 tahun, bernama Tjahjono Rahardjo mengajarkan bermain gamelan. Masing-masing peserta diberi satu alat musik untuk dimainkan. Dia terlihat begitu bersemangat mengajarkannya, meskipun terdapat banyak kesalahan peserta ketika memainkan alat musik tersebut. 

Gamelan tidak hanya terdiri dari satu alat musik, tapi terdapat kumpulan alat musik yang dimainkan secara bersama-sama. Jadi, jika ada satu orang yang salah memainkan notnya, maka musiknya akan terdengar sumbang.

Bentuknya juga bermacam-macam, ada yang bulat seperti periuk disebut bonang, berbentuk pipih seperti belahan bambu disebut demung, saron dan peking. Ada juga berbentuk besi bulat besar seperti roda sepeda, disebut sebagai gong.

Selain itu juga terdapat alat musik lainnya, seperti gendang, slenthem, kethuk, kenong, gender, dan sebagainya.

Pesona Kabupaten Semarang
Aku sedang memainkan bonang yang dipandu oleh Pak Tjahjono Rahardjo Doc. Foto pribadi

Aku mendapat bagian untuk memainkan bonang. Ini kali pertamaku memegang langsung alat musik dari tanah Jawa ini. Di Aceh tidak ada alat musik gamelan yang ada hanya rapa-i, memainkannya juga ditabuh menggunakan tangan bukan diketuk seperti memainkan bonang. 

Aku diberikan selembar kertas yang bertulisakan lagu Jawa lengkap dengan not angkanya. Kemudian Pak Rahardjo memberikan instruksi untuk mengetuk alat musik sesuai dengan angka yang tertera di alat musik tersebut.

Tentunya aku agak lambat untuk bisa mengikuti instruksi Pak Rahardjo, toh lagunya juga menggunakan bahasa Jawa yang sama sekali tidak aku pahami. Berkali-kali musik harus terhenti karena kesalahanku mengetuk bonang yang tidak sesuai dengan not. Akhirnya aku dipandu khusus oleh asisten Pak Rahadjo. Spesial deh jadinya hehehe.

Setelah puas bermain gamelan para peserta diarahkan menuju tempat pembuatan wayang. Biasanya aku melihat wayang di TV dimainkan oleh dalang, tapi disini aku sendiri yang membuat wayangnya. Bahan wayang terbuat dari mika fiber yang kemudian diwarnai dengan menggunakan kuas.

Para peserta dibolehkan mewarnai wayang berbentuk warak ngendog sesuai dengan warna yang diinginkan. Tidak hanya sekadar aktifitas mewarnai, tapi juga ada penjelasan tentang budaya Jawa dan sejarah wayang, termasuk wayang berbentuk warak ngendog yang akan aku warnai ini.

Senang deh bisa mewarnai wayang warak ngendog Doc. Foto pribadi

Bentuk warak ngendog sangat unik menurutku, karena terdapat tiga bagian tubuh binatang yang semuanya berbeda. Kepalanya berbentuk naga, badannya berbentuk buraq, dan kakinya menyerupai kaki kambing. Di bawahnya juga terdapat telur yang dalam bahasa Jawa disebut ngendog.

Rupanya oleh masyarakat Semarang, warak ngendog dianggap makhluk rekaan yang menggambarkan persatuan dari berbagai golongan etnis di Semarang, yaitu Cina, Arab, dan Jawa.

Cerita tentang sejarah Kota Semarang dan budaya Jawa disampaikan lewat makhluk rekaan ini. Aku cukup menikmati kegiatan ini, meskipun terlihat seperti anak TK mewarnai gambar yang telah disediakan, tapi cukup efektif digunakan untuk mengetahui tentang budaya Jawa di Kota Semarang.

Pesona Kabupaten Semarang
Sumber foto http://hellosemarang.com

Bukan hanya itu, gedung ini sepertinya memang disediakan untuk orang-orang yang ingin tahu dan mempelajari budaya Jawa. Aku juga diajak membatik yang diajarkan oleh ibu-ibu dengan keahlian membatiknya luar biasa mahir.

Kami diberikan kain berukuran 20x30 cm yang sudah berpola, kemudian mengukirnya dengan chanting yang sudah berisi malam. Aku begitu menikmati proses membantik ini, meskipun hasil buatanku tidak serapi buatan ibu-ibu tersebut.

Aku belajar membantik seperti perempuan Jawa
Doc. Foto pribadi

Ada kesan tersendiri ketika aku berkunjung ke gedung Sobokartti yang juga merupakan salah satu Cagar Budaya di Kota Semarang. Aku tidak hanya tahu tentang pesona budaya Jawa yang ada di sini, tapi aku ikut melakukan aktivitas kebudayaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa.

Gedung kesenian Sobokarti yang dibangun oleh Insiyur Belanda, Herman Thomas Karsten pada tahun 1929 lalu, telah membuat gadis asal Aceh ini terpesona dengan budaya Jawa.

Suasana bangunan tua berkarakter jawa dengan akustik tata ruang berstandar Eropa ini begitu hidup, karena terdapat banyak aktifitas budaya Jawa yang dilakukan di dalam Gedung yang terletak di Jl. Dr Cipto, Semarang.

Sumber foto http://hellosemarang.com

Beda halnya ketika kita mengunjungi bangunan bersejarah atau cagar budaya di tempat lain yang biasanya hanya terdapat benda-benda mati. Sobokartti mampu mengeluarkan pesona budaya Jawa lewat aktifitas budaya yang ditampilkannya. Semoga suatu saat aku bisa kembali ke tempat ini untuk mempelajari dan menikmati budaya Jawa di Semarang.


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. what a very productive day ya mbak..aku juga paling seneng kalau bisa banyak belajar tentang budaya lokal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, bisa jadi cinta dengan budaya sendiri.

      Hapus
  2. Iiiih seneng banget bisa belajar seni yang unik begitu.... di bandung ada ngga yaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, ke Semarang aja kalau mau belajar kesenian Jawa. :)

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !