Forum Literasi untuk Mereka yang Berseragam Merah Putih

Sumber foto http://www.gurusd.net

Sore itu murid-muridku terlihat berbeda, tidak ada senyum di wajah mereka dan tidak ada sambutan ketika aku tiba ke Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Biasanya mereka selalu menyambut kedatanganku, menyalami, dan menggandeng tanganku menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk belajar mengaji Al-Quran. 

Sebagian dari mereka masih mengenakan seragam merah putih, hanya jilbabnya saja yang diganti menggunakan jilbab yang lebih bewarna. Aku memberi salam kepada mereka dan dilanjutkan dengan pertanyaan pembuka yang biasa aku gunakan sebelum memulai mengajar. 

Apa kabar semua?” Mereka menjawab dengan serentak “Alhamdulillah, luar biasa, tetap semangat, Allahuakabar, yes”. Itu jawaban khas ala murid-murid TPA di tempatku mengajar. 

Akan tetapi, kali ini suasananya tidak semegah kalimat penyemangat yang diucapkan mereka. Tatapan mereka kosong, terlihat wajah lelah di muka mereka, salah satu anak yang bernama Zahwa meminta kepadaku supaya hari ini belajar mengajinya ditiadakan. 

Belum selesai Zahwa bicara, si Nasywa pun ikut menampali dengan berkata bahwa mereka baru pulang dari sekolah dan masih mengenakan seragam sekolah karena tidak sempat pulang ke rumah untuk mengganti baju. Murid lainnya yaitu Nafis, Rifa, Zahra, dan Najwa juga setuju dengan dua temannya itu supaya hari ini kelas mengajinya ditiadakan.

Aku sempat heran kenapa mereka terlalu melotot tidak mau mengaji, karena biasanya mereka anak-anak yang aktif dan berebut menjadi yang pertama untuk menyetor bacaan Al-Quran kepadaku. Tapi hari ini mereka tak ubahnya seperti burung kehilangan sayap, bahkan Najwa yang biasanya banyak ngomong menjadi pendiam. 

Tidak ada satu pun yang mengambil meja, apalagi mengeluarkan juz ‘amma dan buku tulis. Mereka duduk diam mengelilingiku dan meminta kembali kepadaku supaya hari ini tidak usah mengaji, tapi kali ini dengan sedikit rengekan Zahra merayuku. 

Aku menanyakan alasan mereka kenapa tidak mau mengaji hari ini. Aku mencoba menanyakannya dengan bahasa sehalus mungkin supaya mereka mau terbuka, rupanya pertanyaan itu memancing emosi Nafis. Dia menuangkan kekesalannya dengan kata-kata yang bernada tinggi, dilanjutkan Najwa yang juga kesal dengan banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan kepadanya. 

Sebenarnya jadwal hari ini adalah menyetor hafalan bacaan Al-Quran, tapi apa yang dijawab Zahra membuatku tersentak dan menjadi pertanyaan besar bagiku apa yang sebenarnya terjadi di sekolah mereka?

Umi, kenapa harus menghafal Al-Quran lagi? Umi tahu di kepala ku ini sudah banyak hafalan pelajaran di sekolah. Belum lagi ibu guru kasih PR, hampir semua pelajaran kami punya PR, ini ditambah lagi dengan hafalan Al-Quran. Sakit kepala kami banyak kali hafalan.” 

Aku pun mendapat benang merah dari masalah itu, rupanya mereka sedang kesal dengan tugas-tugas yang diberikan di sekolah. Mereka tidak bisa menyampaikan ke guru mereka karena tidak semua murid mendapatkan perhatian dari guru dan mengetahui permasalahan yang dilamai setiap murid. 

Aku sebagai guru mereka di TPA kadang menjadi tempat curhat mereka ketika ada permasalahan di sekolah atau pun di rumah. Di TPA satu kelompok ada lima sampai delapan orang anak yang diasuh oleh satu orang guru mengaji, mereka memanggilnya dengan sebutan ‘Umi’. Panggilan seperti itu supaya anak-anak bisa menjadi lebih dekat dengan pengajarnya. 

Jumlah murid di kelasku ada enam orang, sehingga memudahkan bagiku untuk mengetahui dan mengidentifikasi ketika mereka mempunyai masalah.

Ruang Komunikasi

Aku bukanlah profesional yang latar belakang keilmuannya keguruan, tapi aku berasal dari kalangan profesional kesehatan, yaitu perawat. Sejak masih kuliah aku sudah mulai mengajar di tempat ini, sehingga setelah selesai kuliah pun aku juga masih mengajar di tempat yang digunakan sebagai tempat belajar baca tulis Al-Quran untuk anak usia empat sampai 12 tahun.

Aku tidak mengetahui banyak hal tentang kurikulum pendidikan formal seperti di sekolah dasar. Kurikulum di TPA menekankan pada tiga aspek yaitu bermain, cerita, dan bernyanyi. Jadi, sebelum belajar mengaji, anak-anak diberikan kesempatan untuk bermain, kemudian dibawakan cerita kisah nabi dan dilanjutkan dengan menyanyikan shalawat dan lagu islami. 

Beda halnya dengan sekolah yang lebih menekankan pada pengetahuan umum dan pencapaian atas target kurikulum yang telah ditetapkan, sehingga memaksa anak-anak seperti Zahwa, Zahra, Nafis, Najwa, Rifa dan Nasywa untuk bisa menguasai berbagai mata pelajaran.

Aku memaklumi kondisi mereka, usia sekolah merupakan saat mereka dihadapkan dengan berbagai macam persoalan dasar tentang pengetahuan yang mengharuskan mereka untuk mengenal orang lain selain keluarga inti. 

Banyak pengalaman yang didapat di sekolah, namun terkadang ada anak yang menjadi beban pikiran ketika tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah dengan baik. Di lain sisi tuntutan orang tua dan guru agar anak tersebut bisa mengusai pelajaran sekolah membuat anak stres, sehingga mengganggu proses tumbuh kembang mereka. 

Saat kuliah dulu aku pernah mempelajari tentang teori perkembangan sosial yang dikemukakan oleh Erikson (1963). Masa ini disebut sebagai tahap industri dan inferioritas. Usia enam sampai 12 tahun seperti murid-muridku itu merupakan periode pematangan dalam hubungan sosial mereka dengan orang lain. 

Mereka mau terlibat dalam mengerjakan tugas dan aktivitas sampai selesai. Mereka juga belajar berkopetensi dan bekerjasama dengan orang lain. inilah yang disebut sebagai tahap industri, dimana anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna secara sosial. 

Akan tetapi jika terlalu banyak yang diharapkan dari mereka atau tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan orang lain kepada mereka, maka timbul rasa inferioritas yang membuat mereka menjadi rendah diri. 

Oleh karena itu perlu adanya ruang komunikasi antara orang tua, guru dan anggota keluarga lainnya dengan anak. Begitulah yang aku lakukan ketika murid-muridku mempunyai masalah di sekolah. Kami membuka ruang komunikasi dengan menceritakan masalah yang dialaminya di sekolah, baik itu karena pelajaran atau pun masalah dengan teman sebaya. 

Ketika mereka tidak mau mengaji berarti mereka butuh didengar tentang masalah yang sedang mereka alami. Kebetulan jadwal TPA dilakukan sore hari setelah pulang sekolah, banyak kejadian di sekolah berimbas pada suasana ruang kelas di TPA, karena mereka akan mengaitkan kejadian di sekolah dengan di TPA. Jadi, ruang komunikasi dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengetahui tentang perasaan mereka.

Forum Ekspresi Diri

Aku tidak mengetahui di tempat murid-muridku bersekolah apakah mempunyai forum untuk mengekspresikan diri. Mungkin ekstrakurikuler seperti pramuka, sanggar seni, musik, tari, dan lainnya bisa dijadikan tempat mengekspresikan diri. Biasanya itu berbentuk organisasi atau komunitas, namun forum yang lebih memfokuskan pada penuangan perasaan diri atau hobi seperti bercerita, menulis, bernyanyi jarang menjadi fokus utama di sekolah.

Zahra pernah bilang kepadaku bahwa di sekolah dia terlibat sebagai dokter kecil, berperan membantu teman-temannya yang sakit dan mengukur tinggi badan anak-anak kelas satu. Akan tetapi tidak ada tempat untuk mengasah kreatifitasnya dalam membuat dan membaca puisi, karena hobi Zahra membaca dan menulis puisi. 

Kembarannya yaitu Zahwa sangat senang menjadi presenter atau moderator, apalagi jika divideokan aksinya. Dia berlagak seperti pemandu wisata yang menjelaskan berbagai tempat, bahkan dia sering membuka video di Youtube untuk melihat berbagai acara yang menarik perhatiannya. 

Begitu juga dengan Nasywa yang sering sekali menggambar di sela-sela jadwal mengaji, namun di sekolah pelajaran seni jarang sekali membahas materi menggambar. Najwa yang hobinya bercerita dan menyanyi juga tidak mendaptkan tempat untuk mengekspresikan diri, atau Nafis yang suka ceramah dan Rifa yang sering diam-diam suka menulis. Mereka semua mempunyai hobi masing-masing yang sebenarnya itu bagian dari literasi. 

Sepintas pengamatanku bahwa saat ini pemerintah sedang mengupayakan membuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di berbagai jenjang pendidikan. Hal ini sesuai dengan temuan tentang rendahnyan literasi bagi para siswa di Indonesia. 

Hasil test Indonesian National Assessment Programme (INAP) yang mengambil sampel siswa kelas 4 SD di 34 propinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca, sains, dan matematika siswa masih sangat rendah. Sehingga adanya GLS ini sebagai upaya untuk menjadikan sekolah sebagai komunitas pembelajaran literasi.

Tentunya dalam hal ini harus ada forum untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa. GLS yang dimaknai sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai media aktivitas seperti membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara harusnya mempunyai kelas tersendiri sebagai implementasi gerakan literasi di sekolah dasar. 

Forum tersebut dibuat untuk memberikan ruang bagi murid untuk menampilkan bakat dan minatnya. Aku sering menerapkan hal ini kepada murid-muridku, biasanya aku membuatnya di hari Sabtu. 

Di forum tersebut masing-masing murid membawa bekal makanan dari rumah dengan porsi cukup dimakan untuk dirinya dan temannya. Aku pun juga membawa bekal makanan yang nantinya dibagikan kepada semua anak, begitu juga dengan masing-masing mereka akan membagi makanannya ke teman lainnya.

Cara ini berhasil membuat mereka saling akrab satu sama lainnya yang menurut Erikson usia ini sangat bagus untuk perkembangan psikososial mereka. 

Setelah itu kami sepakat untuk menetukan tema forum ekspresi diri pada hari itu. Jika sepakat untuk membaca dan bercerita, maka setiap anak akan memilih satu cerita untuk dibacakan yang kemudian teman-teman lainnya akan menyimak dan menanggapi cerita tersebut. Namun jika hari itu dipilih materi tentang pertunjukkan bakat, maka mereka akan menampilkan puisi, nyanyi, ceramah, atau pun lainnya yang menjadi bakat mereka. 

Forum ini juga bisa menjadi ajang untuk melatih mereka menuangkan perasaan yang mereka rasakan. Aku biasanya menyuruh mereka menulis tentang aktivitas mereka di sekolah, atau pun hal-hal yang mereka sukai. Cara ini secara tidak langsung melatih kemampuan literasi mereka dalam pemilihan kata yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan. 

Aku juga pernah menyuruh mereka menjadi komentator untuk melatih mereka berbicara. Ada satu anak yang mempraktikkan gerakan shalat, kemudian teman-teman lainnya memperhatikan dan memberikan komentar terhadap gerakan-gerakan yang tidak sesuai dengan gerakan shalat. 

Selain itu mereka juga dianjurkan untuk memberikan pujian kepada temannya yang benar mempraktikkan gerakan shalat. Rupanya cara seperti ini membuat mereka mempunyai tanggung jawab karena dipercayai sebagai orang yang telah mengerti gerakan shalat. Ternyata murid-muridku adalah komentator yang andal, karena mereka sudah bisa membedakan gerakan shalat yang benar dan yang tidak.

Beberapa cara seperti yang aku lakukan di atas bisa dijadikan sebagai implementasi gerakan literasi di sekolah dasar dengan membuka ruang komunikasi dan forum ekspresi diri. 

Meskipun aku bukanlah seorang yang berlatar belakang keilmuan keguruan, tapi aku belajar banyak hal tentang tumbuh kembang anak di jurusan keperawatan. Bagiku menjadi seorang pendidik itu tidak hanya dikalangan guru, tapi semua kita adalah pendidik bagi anak-anak kita. 

Bukan sekadar mengajarkan dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mampu menjadi mampu, tapi juga merawatnya dan memberikan haknya sesuai dengan masa tumbuh kembangmya.

Implementasi gerakan literasi di sekolah dasar menurutku bukan sebatas mengajarkan mereka membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara supaya kemampuannya meningkat. 

Akan tetapi juga membantu mereka dalam mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai media aktivitas sesuai dengan kebutuhan mereka, karena setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak mempunyai kapasitas masing-masing sesuai dengan masanya.

Adanya forum ini membuat Zahra, Zahwa, Najwa, Nasywa, Nafis, dan Rifa mempunyai tempat untuk mengekspresikan diri sesuai dengan bakatnya dan mempunyai tempat untuk menceritakan berbagai permasalahan yang mereka hadapi saat ruang komunikasi.

Aku, Zahra, Zahwa, Nasywa, Najwa dan Rifa di forum Ekspresi Diri.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar:

  1. Sayangnya lingkungan TPA di tempat saya tinggal tidak seperti itu. Semoga saja kedepannya kami bisa menyusul. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga saja TPA dapat dijadikan tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.

      Hapus
  2. nah itulah sekolah yang terllau membebani anak, aku kok kurang setuju, kalau sdh pulang sore maksimalkan apa yg ada di kelas, kasihan anak2 kecil yang hrsnya bisa bermain malah terbebabni pr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, PR yg terlalu banyak mengakibatkan kejenuhan bagi anak-anak.

      Hapus
  3. NAh, ini jarang saat ini Mbak..
    Apalagi di Jakarta. Sudah sekolah sampai jelang sore..PR numpuk..Jadi anak-anak sibuk. Jarang waktu santai :)
    Terima kasih ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama2 Mbak, semoga dengan cerita ini bisa mewakili perasaan anak-anak Indonesia.

      Hapus
  4. Bagus sekali kak tulisannya..
    Sangat menginspirasi bagi saya sebagai calon guru..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semangat ya, semoga jadi guru yang benar2 disukai oleh muridnya, dan selalu dinantikan.

      Hapus
  5. Bagus sekali kak tulisannya..
    Sangat menginspirasi bagi saya sebagai calon guru..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terima kasih, semoga menjadi guru yan menyenangkan bagi mridu-muridnya kelak :)

      Hapus
  6. kegiatan literasi emang asik dan bikin bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, tergantung kita juga bagaimana mengkreasikannya menjadi sesuatu hal yang menyenangkan.

      Hapus
  7. jangankan anak2, kita mahasiswa aja mumet kepala dikasih tugas banyak2, apalagi anak2 yg pnya batas maksimal waktu konsentrasi dlm belajar.. semoga pendidikan Indonesia semakin baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin,semoga saja semakin baik ke depannya.

      Hapus
  8. Iya, anak2 SD sekarang banyak kali bebannya. Ya beban pelajarannya, ya beban buku pelajaran yang mesti dibawa. Plus, nggak sedikit sekolah yang nggak memberi ruang bagi pengembangan minat anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kurikulum pendidikan sekolah ke depannya bisa lebih memperhatikn ruang ekspresi untuk anak sesuai dengan minat dan bakatnya.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !