Terima Kasih JNE yang Telah Mengembalikan Senyum Anak Sabang



Ketika aku memasuki ruangan yang ditempati oleh anak-anak itu, jiwaku terhenyuh. Tangisan bayi sesekali terdengar, wajah mereka pucat dan terlihat lemas. Mereka berada dalam proses penantian, menanti kapan tibanya jadwal operasi.

Awalnya aku sempat kesal, kok tiba-tiba jadwalnya berubah? Sedangkan menurut Itinerary perjalanan yang dikirimkan PT. Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), kegiatan operasi bibir sumbingnya berlangsung besok pagi (19 Agustus 2107), pukul 10.00 wib. Akhirnya kami harus bersegera menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Sabang pada malam itu juga.

Tanpa ada persiapan apa-apa kami langsung dibawa kesana untuk meliput kegiatan tersebut. Baju yang dari tadi dipakai belum sempat diganti, batre HP yang mulai low batt, power bank dalam keadaan kosong, dan kami tidak ada briefing apa pun bagaimana teknis saat meliput kegiatan tersebut. 

Bagiku yang berlatar belakang perawat, tentu punya tantangan tersendiri saat meliput kegiatan yang humanis ini. Tentunya tidak sembarangan ambil foto dan mewawancari mereka. Ada etika yang perlu dijaga dan peraturan yang harus dijunjung tinggi.

Sebagai seorang profesional kesehatan, kerahasiaan pasien sangat dijaga dan tidak boleh dipublikasikan kecuali untuk kepentingan tertentu. Tapi posisiku di sini bukanlah sebagai perawat, tapi sebagai seorang blogger yang diminta oleh PT JNE untuk meliput kegiatan yang mereka buat.

Lama aku berdiri memperhatikan kondisi ruangan tersebut, supaya aku bisa beradaptasi dan tidak membuat pasien risih dengan kedatanganku itu. Untungnya ada teman sejawatku yang sedang bertugas mendampingi pasien asal Banda Aceh di ruangan tersebut.

Aku menjelaskan maksudku kepadanya dan dia menyuruhku meminta izin kepada salah seorang dokter yang bertugas di situ. Dia termasuk salah satu dokter yang tergabung dalam Yayasan Smile Train. 

Tentunya kedatangan kami sudah diketahui olehnya, karena operasi celah bibir sumbing dan langit-langit mulut ini disposori oleh JNE, kerja sama dengan Yayasan Smile Train Indonesia dan Pemrintah Kota Sabang.

Mereka juga didukung oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Sabang. Aku disambut dengan ramah oleh seorang laki-laki yang bernama Rahmat. Dia juga merupakan salah satu mantan pasien yang pernah opersai bibir sumbing. Saat ini dia sebagai koordinator pelaksana operasi bibir sumbing untuk wilayah Aceh .

Sedikit aku mengobrol dengannya kemudian berlanjut kepada pasien dan keluarga pasien. Dia adalah seorang bocah berusia 6 tahun, terbaring lemas di tempat tidurnya. Aku mencoba menyapa dan bersalaman dengannya, bertanya siapa namanya. 

Dia hanya diam dan memandangi ayahnya yang berada di samping tempat tidur. Lalu dia membuka mulutnya seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, tapi tidak ada suara apa pun. Wajahnya merengut, sebuah ekspresi bahwa dia kurang nyaman.

Ayahnya menyembutkan namanya kepadaku dan dia mengatakan bahwa anaknya belum bisa berbicara. Aku sedikit terkejut mendengarnya anak umur enam tahun belum bisa berbicara. Ternyata dia tidak hanya mengalami celah bibir sumbing, tapi langit-langitnya juga berlubang sehingga menyulitkannya untuk berbicara.

Naluri seorang perawat muncul saat itu, ini di mana saatnya aku menggali lebih dalam informasi tentang pasien di hadapanku ini. Dalam ilmu keperawatan disebut sebagai tahap pengkajian yang merupakan tahap awal dalam proses keperawatan.

Setelah panjang lebar berbicara dengan keluarganya, aku pun diizinkan untuk mengambil foto anak tersebut. Dia sepertinya sudah mulai beradaptasi denganku, terlihat sesekali dia tersenyum manis kepadaku. Aku mencoba menyemangatinya, meskipun aku tidak tahu apakah dia mengerti dengan bahasaku.

Saat menghibur adek cantik yang akan operasi
celah bibir sumbing dan langit-langit mulut

Dia memandangiku, sepertinya dia sedang menyimak perkataan yang aku sampaikan. Dalam hati kecilku sedikit iba melihat anak kecil di hadapanku ini. Wajahnya cantik, putih, rambutnya ikal, tapi dia terlihat sedikit pucat karena sejak pukul 15.00 wib tadi harus berpuasa. 

Orang yang akan dioperasi haruslah berpuasa terlebih dahulu yang merupakan salah satu syarat untuk operasi. Sudah hampir 8 jam lamanya dia menahan lapar, tapi dia terlihat kuat dan sabar menunggu tiba giliran operasi.

JNE Memberi Senyum Baru untuk Anak Sabang

Aku pun bertolak menuju ruang operasi. Dari luar aku dapat melihat para dokter gabungan RSUD Sabang dan Yasan Smile Train sibuk menyiapkan persiapan operasi. Kami hanya bisa melihatnya dari luar, karena ruang operasi ialah ruang steril yang harus mengenakan pakaian khusus ketika masuk ke dalamnya.

Di ruang tunggu telah ada beberapa pasien yang mengantri giliran untuk operasi. Aku tahu betul pasti mereka harap-harap cemas menghadapi operasi ini. Salah satunya remaja putri yang berusia 13 tahun, bernama Zahara. 

Teman baruku yang akan operasi celah bibir sumbing,
supaya senyumnya dapat mendatangkan kebahagiaan buat orang tuanya.

Aku mencoba mengajaknya ngobrol santai layaknya seperti seorang teman. Ternyata ini merupakan operasi kelima baginya, operasi sebelumnya di lakukan di Medan. 

Sebagai seorang remaja tentu senyuman adalah modal utama dalam memulai pergaulan antar sesama mereka. Selain bernilai ibadah, senyuman juga memberikan kebahagian kepada orang lain. Begitu juga dengan Zahara yang sangat senang dan bahagia ketika ada operasi celah bibir dan langit-langit mulut gratis di Sabang yang dibiayai oleh PT JNE.

Ibu Zahara mengeluhkan dulunya Zahara harus di bawa ke Medan ketika usianya satu tahun untuk operasi, bahkan sampai empat kali operasi dilakukan di Medan. Mereka sangat kesusahan dengan biaya transportasi dan penginapan selama di Medan.

Untungnya kali ini ada operasi gratis yang dibiayai oleh PT JNE di Sabang. Tentu ini menjadi suatu kebahagian buat Zahara dan orang tuanya, karena celah bibir dan langit-langitnya harus kembali di operasi setelah operasi tiga tahun yang lalu.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mereka yang mempunyai masalah dengan celah bibir dan langit-langit mulut. Langkah JNE untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, salah satunya memberikan senyum baru bagi anak Indonesia telah terwujud. 



Dengan taglineConecting Happines” JNE mengembalikan senyum baru Zahara, begitu juga dengan anak-anak lainnya di Kota Sabang yang ikut dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) JNE ini.


Acara Seromonial JNE dengan Pihak RSUD Sabang dan Yayasan Smile Train 

Paginya kami diundang kembali untuk menghadiri acara seromonial JNE dengan Pihak RSUD Sabang dan Yayasan Smile Train. Kegiatan itu dihadiri oleh para pasien dan keluarga pasien yang sudah operasi semalam, sejak pukul 08.30 wib sampai 03.00 wib dini hari. 

Pihak Yayasan Smile Train Indonesia yang diwakili oleh Bapak Razali dalam sambutannya berterima kasih kepada pihak RSUD Sabang dan IDI atas terlaksananya kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikannya kepada PT. JNE yang telah membiayai operasi ini. 
Dr. Maria yang mewakili pihak RSUD Kota Sabang,
saat menyampaikan sambutannya

Dari pihak rumah sakit yang diwakili oleh dr. Maria mengatakan ada enam pasien yang dioperasi. Sebenarnya ada sepuluh orang, tapi ada empat orang lagi yang tidak memungkinkan untuk operasi karena satu dan lain hal. 

Pasien yang telah dioperasi diharapkan tidak ada komplikasi lanjut yang ditakutkan dan jika pun ada, nanti akan dikontrol lagi ke rumah sakit ujar dr. Maria. 

Edwina Yudianti selaku Head of Regional Sumatra PT. JNE dalam wawancara singkatnya, berharap bisa mengembalikan senyum anak Indonesia yang tentunya bisa mendatangkan kebahagian bagi orang tua mereka. 

Penyampaian Edwina Yudianti selaku Head of Regional Sumatra PT. JNE

Saat ini CSR JNE sangat banyak programnya, salah satunya bergerak di bidang kesehatan seperti operasi bibir sumbing ini. Dalam rangka 17-an Agustus ini dari Sabang sampai Merauke kita ada beberapa kegiatan, selain bergerak di bidang kesehatan kita juga peduli terhadap Unit Kreativitas Masyarakat (UKM) kata perempuan yang akrab disapa dengan Mbak Edwina. 

Untuk di Aceh sendiri nanti di bulan November akan ada pelatihan online untuk para UKM dalam rangka ulang tahun JNE yang ke 27. Pelatihan online ini diadakan di 18 kota di Indonesia ujarnya. 

Acara ditutup dengan pemberian plakat secara simbolis oleh PT JNE kepada Yayasan Smile Train Indonesia yang diwakili oleh Bapak Aji Suryanto. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian plakat kepada RSUD Kota Sabang. 

Penyerahan plakat sebagai ucapan terima kasih atas kerja sama
antara PT JNE dengan Yayasan Smile Train

Adanya kegiatan sosial berbasis kesehatan oleh PT JNE ini, sangat membantu para penderita celah bibir sumbing dan langit-langit mulut untuk mengembalikan senyum mereka. 

Para orang tua mereka pun sangat berterima kasih kepada JNE karena telah membiayai operasi ini sepenuhnya. Tentunya hal ini mendatangkan kebahagian dan semangat hidup buat mereka, seperti tagline-nya JNE “connecting happiness”.

Terima kasih JNE yang telah mengembalikan senyum anak Sabang
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

20 komentar:

  1. Lengkap sekali. Thanks sudah berbagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung :)

      Hapus
  2. Alhamdulillah, semoga bisa jadi ide buat yang lain yang mau berbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah, semoga menggerakkan hati yang lainnya untuk bisa berbagi seperti ini.

      Hapus
  3. wah.... awesome!! tulisannya lengkap dan menginspirasi kepada sesama. Salah satunya kerja sama Smile train dengan JNE pada pasien bibir sumbing yang membutuhkan uluran perhatikan dan bantuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, senang kerja sama dengan mereka, mengembalikan senyuman anak di Sabang :)

      Hapus
  4. Sangat inspuratif Yel, semoga mengembalikan senyum mereka ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, senyum bahagia untuk orang tua mereka dan untuk semua :)

      Hapus
  5. Wah... Bagaimana pula dapat job review ini.?

    Oh iya, aku perhatiin, sepertinya foto siadeknya gak di blur. Saran aku diblurkan aja, sebab usia anak.
    Itu menurutku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya gabung di komunitas dong, jangan sendiri aja nge-blog, hehehe.

      Foto2 di atas sudah mendapat izin oleh pemilik foto, dan mereka senang fotonya dimuat. :)

      Hapus
    2. Bukannya gak gabung. Tapi gak tahu kontak kemana.
      Dulu sudah pernah ku daftar melakui Google form Gam Ino g blogger, cuma ya. Gak ada kabar apa2.
      Di ABC juga demikian, sudah isi form di webnya tapi sama saja.
      Sama boongnya.
      Gak ada kabar apa-apa, ustilahnya digantung.

      Hapus
    3. Hahaha, nanti dikabari ya, kalau ada kegiatan GIB, ikut nimbrung aja, supaya diterima di group. :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. Terima kasih telah berkunjung :)

      Hapus
  7. salutt deh buat jne yang sudah berbagi dengan anak2 sabang
    semoga menjadi inspirasi untuk perusahaan lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika semua perusahaan swasta tergerak hatinya untuk berbagi, insyaallah rakyat Indonesia akan sejahtera :)

      Hapus
  8. Program yang menginspirasi. Ada banyak anak bibir sumbing lainnya di Aceh semoga mendapat bantuan seperti dilakukan JNE.

    Reportase bagus Yell.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bg, masih belajar banyak dari tulisan-tulisan safariku.com :D

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !