Saman Pengawal Leuser


Sebentar lagi akan berlangsung pergelaran tari saman masal yang melibatkan 10.001 penari. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada tanggal 13 Agustus 2017, di Stadion Seribu Bukit, Kota Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. 

Untuk menyemarakkan kegiatan tersebut, United States Agency for International Development (USAID) Lestari Leuser juga menyelenggarakan Pra Event Tari Saman 10.001, dengan tema Merawat Tradisi Melalui Konservasi. 

Pra Event Tari Saman diadakan pada tangal 5 Agustus 2017, di Taman Sari Banda Aceh. Pada event ini juga dibuat berbagai kegaitan menarik lainnya seperti lomba blog, video dan melibatkan berbagai komunitas kreatif, untuk membuat stand pemeran yang bertemakan konservasi. 

Tujuannya tidak lain untuk mengajak masyarakat ikut melakukan perlindungan dan pelestarian lingkungan, khususnya Leuser yang merupakan paru-paru dunia.


Sepintas ada yang menilai kegiatan ini pemborosan karena menghabiskan banyak anggaran daerah. Terdengar kabar bahwa kegiatan ini menggunakan biaya sebesar 10,8 milyar. Wajar ada beberapa pihak baik dari kalangan masyarakat, maupun mahasiswa melakukan aksi penolakan pergelaran tari saman masal tersebut. 

Alasannya karena Gayo Lues masih butuh perhatian untuk meningkatkan mutu perekonomian, pendidikan dan kesehatan. Sebelumnya Pemerintah Gayo juga pernah membuat acara yang serupa pada tahun 2014, dengan melibatkan 5.057 penari.

Tari saman juga sudah ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia, pada November 2011 yang lalu. Lantas apa yang membuat Pemerintah Gayo Lues sangat berambisi untuk membuat tari saman masal yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan sebelumnya?

Saman di Mata Dunia

Setelah ditetapkannya tari saman sebagai Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia, orang beramai-ramai mempelajari tari ini. Gerakannya yang lincah dan energik membuat mata para penonton susah untuk berkedip, karena tampilan yang memukau. 

Di sejumlah negara pun tari saman sudah diajarkan kepada anak-anak dan menjadi pelajaran ekstrakurikuler sekolah, termasuk di Ibu Kota Jakarta. 

Tak heran sekarang kita melihat banyak bule-bule atau pun orang luar Aceh menarikan tari yang disebut sebagai Saman. Bahkan para perempuan pun juga ikut menarikan Saman, asal penarinya duduk, menepuk paha, dan dada mereka menyebutnya dengan Saman. Yang anehnya lagi kita bangga melihat mereka menarikan tarian yang mereka sebut dengan Saman tersebut, padahal itu tari ratoeh duek.

 

Alangkah sedihnya masyarakat Gayo ketika tari yang mempunyai filosofi di setiap gerakan, dan lantunan syair berbahasa gayo, diperagakan dengan tidak sesuai pada tempatnya. Kita sudah salah kaprah memaknai tari saman selama ini, apakah masyarakat gayo mau membiarkan hal itu terus berlanjut, tanpa ada pengoreksian yang benar terkait Saman itu sendiri?


Menurut hemat penulis, alasan pemerintah Gayo Lues dalam membuat pergelaran tari saman masal tersebut untuk mengenalkan kepada dunia, ini Saman sebenanrnya. Ini merupakan salah satu bentuk konservasi dari tari saman itu sendiri, supaya tidak ada yang mengklaim di suatu hari nanti bahwa Saman bukanlah berasal dari Tanah Gayo.

Makna Saman Bagi Leuser

Tari saman adalah sebuah tarian dari suku Gayo yang dimainkan oleh sekelompok laki-laki dalam bilangan ganjil, menggunakan syair dalam bahasa gayo, memakai baju adat gayo dengan motif kerawang, dan biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Selain itu tarian ini juga ditampilkan dalam acara maulid Nabi Muhammad saw. Seiring waktu tarian ini semakin populer dan sering ditampilkan dalam piasan seni kebudayaan Aceh.

Setiap gerakan yang ditampilkan dalam tari saman mempunyai makna dan filosofi tertentu. Begitu juga syair yang dilantunkan dalam bahasa gayo tersebut mempunyai pesan dakwah Islam dan nasehat untuk menjaga alam, khususnya hutan Leuser di Gayo Lues. 



Kota yang dikenal sebagai seribu bukit ini juga termasuk salah satu daerah yang mempunyai hutan Leuser. Namun kekayaan itu demi hari terus dijarah oleh tangan-tangan manusia perusak.

Kenyataannya sekarang, tutupan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dilaporkan terus berkurang. Menurut laporan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) periode Januari sampai Juni 2017, KEL kehilangan 12 ribu hektar setiap tahunnya akibat ilegal hutan (Harian Rakyat Aceh, 20/07/2017). 

Keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya terancam punah, begitu juga dengan satwa langka seperti, gajah, harimau, orangutan, kehilangan habitatnya. 

Leuser pun menjerit meminta tolong untuk diselamatkan, dari para penguasa yang sedang mengambil kekayaan di dalamnya. Saman yang merupakan salah satu warisan budaya, harus dijadikan benteng utama untuk menyelamatkan hutan Leuser ini.


Pergelaran tari saman yang nantinya diadakan, janganlah hanya sekedar pertunjukan seni dan untuk mendapatkan rekor muri semata. Tapi juga harus ada nilai sosialisasi bagi masyarakat untuk menjaga dan melindungi hutan Leuser. 

Seperti halnya masyarakat Gayo dulu yang sangat menjaga alam, lewat syair dari Saman itulah mereka menyampaikan pesan tentang hutan leuser sebagai paru-paru dunia, tentang hutan leuser sebagai rumah berbagai flora dan fauna, dan yang tidak kalah penting tentang hutan leuser sebagai sumber mata air yang mengaliri rumah-rumah, tempat ibadah, serta sawah dan kebun masyarakat dari dulu sampai sekarang. 

Jika syair itu dilantunkan dalam bahasa Gayo, ada baiknya nanti diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di lembaran kertas untuk dibagikan kepada pengujung yang ikut menyaksikan pergelaran tersebut. Dengan begitu semua orang tahu apa maksud yang disampaikan dalam syair itu dan Saman pun bisa berfungsi sebagai pangwal Leuser.

SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. Saman memang gak akan pernah hilang dari peradaban.
    Karena ia bagiankan dua sisi mata uang.

    Begitu juga Leuser.

    Salam
    Www.aulaandika.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, makanya kita harus tahu makna yang disampaikan oleh syair saman itu sendiri, supaya kita bisa jaga leuser.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Hehehe, terinspirasi dari tulisan Hikayat Banda.

      Hapus
  3. Acaranya kemarin, ya? Saya tunggu liputannya, ah. Kelihatannya menarik banget acaranya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin itu cuma pra saman, acara saman sebenarnya tanggal 13 nanti di Gayo Lues.

      Hapus
  4. Gimana mba? Tari Saman itu ternyata aslinya dimainkan oleh laki2 ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, laki-laki dalam bilangan ganjil.

      Hapus
  5. Enggak cukup di taman sari, harus ke Gayo Lues ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, maunya quota untuk blogger ditambah lagi ya bg ke Gayonya hehehe.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !