Penjual Bendera Penyambung Kemerdekaan

Penjual bendera yang sedang menjajalkan dagangannya.
Sumber foto 
http://www.kliksangatta.com

Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Kalimat itu berdengung di telingaku, semakin jelas saat mengingat masa-masa sekolah yang hampir setiap hari Senin dibacakan di teks pancasila saat upacara bendera.

Kalimat itu semakin bergema ketika mulai mendekati bulan kemerdekaan, apalagi kalau bukan bulan Agustus. Atribut kemerdekaan mulai muncul, warna merah putih menghiasi jalanan, termasuk juga para pedagang yang sibuk berjualan bendera.

Anak kecil tanpa alas kaki itu mengejutkan lamunanku yang sedang menunggu lampu merah menjadi hijau. Padahal aku sedang asyik memperhatikan anak-anak lainnya yang sedang menawarkan bendera ke pengguna mobil di depan sana.

Sapaan dan senyumannya cukup ramah, dia menawarkan bendera kepadaku. Aku pun menggeleng dan dia pindah ke pengendara lainnya sambil menenteng tumpukan bendera kecil itu.

Lampu hijau pun menyala dan aku melanjutkan perjalanan. Walapun tangan di stang sepeda motor dan mata memperhatikan jalan, tapi pikiranku menerawang mencari makna akan sila kelima dari pancasila itu.

Melihat fenomena tadi di jalan, dimana anak-anak usia sekolah harusnya belajar di kelas mendengarkan materi dari gurunya, namun harus berjualan bendera di lampu merah. 

Mungkin bisa saja ada yang berfikir bahwa mereka ikut memeriahkan kemerdekaan dengan berjualan bendera. Akan tetapi siapa sangka mereka melakukannya demi menyambung hidup di negara yang sudah merdeka hampir 72 tahun ini.

Aku berfikir di mana pemerintah selama ini? Apa sih makna keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia itu? Toh, masih ada anak yang berjualan simbol kemerdekaan demi menyambung perut.

Ini bukan saja cerita tentang anak-anak penjual bendera, tapi juga penjual simbol kemerdekaan lainnya yang datang dari berbagai usia. Tidak hanya pria, tapi juga wanita bahkan ada yang usianya separuh baya. 
Seorang ibu yang sedang berjualan bendera di pinggir jalan.
Sumber foto http://palpres.com

Mereka menjajalkan simbol kemerdekaan yang bewarna merah putih itu dalam bentuk berbagai macam pernak pernik kemerdekaan. Kalau menurutku itu sih kreatif, hanya saja tempatnya yang kurang strategis. 

Diperempatan jalan, di lampu merah dan di pinggir jalan merupakan tempat mangkal mereka. Seolah simbol kemerdekaan itu seperti lapak jual beli murahan yang didapat di jalanan.

Tidak ingatkah bagaimana perjuangan bangsa Indonesia ini meraih kemerdekaan, hingga menumpahkan darah dan mengrobankan jiwa demi mendapatkan kata merdeka. 

Maka saat tiba hari kemerdekaan itu, dinaikanlah selembar kain bewarna merah putih ke tiang bendera sebagai simbol kemerdekaan. Dari situ kita tahu bahwa Indonesia merdeka.

Kini simbol kemerdekaan itu dijual oleh rakyatnya untuk menyambung hidup dengan memanfaatkan momentum kemerdekaan. Apakah para elit pemerintahan ini tidak tahu? 

Mustahil tidak tahu, karena setiap hari mereka menyaksikan fenomena itu. Hanya saja gerakan hati tidak sampai ke gerakan tangan untuk merangkul dan bekerjasama dengan mereka. 

Padahal apa salahnya untuk menyediakan lapak yang lebih layak dan terhormat untuk menjajalkan atribut kemerdekaan itu. Entah itu dengan membuka stand pameran, atau pun mengakomodir mereka menjadi sebuah usaha kreatif.

Maka dari itu kerja sama masyarakat dengan pemerintah haruslah disinergikan, sehingga 72 tahun kemerdekaan RI ini tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tapi juga bisa membangun ekonomi masyarakat. 

Karena dari tangan-tangan kreatif merekalah kemerdekaan setiap tahun ini bisa kita nikmati dengan suasana meriah. Termasuk di tahun ke 72 kemerdekaan Indonesia.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Karena andil mereka juga, Bendera merah putih terus berkibar, menyemarakkan kemerdekaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, merekalah penyambung kemerdekaan sebenarnya yang tidak terlihat oleh mata, terasa oleh hati, dan teraba oleh jemari.

      Hapus
  2. ini yang buat lomba hari itu yaa? eh, tema kita sama ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, HEHEHE, awalnya Yel mau pasang foto yang sama Rahmat tu juga, tapi fotonya udah terhapus :D

      Hapus
  3. Dikala Indonesia dibilang merdeka... mereka masih berjuang untuk tetap hidup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar sekali. Merdeka hanya untuk sebagian orang.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !