Kenangan Konflik di Ruang Memorial Perdamaian Aceh

Bekas senjata pada masa konflik


Siapa yang tidak terkenang bila melihat benda-benda yang berhubungan dengan konflik? Aceh yang didera konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia (RI) selama 32 tahun, meninggalkan luka dalam bagi masyarakat sipil yang hidup ditengah konflik.

Ketika konflik itulah aku lahir dan besar di negri yang sedang berkecamuk memperjuangkan status merdeka. Meskipun usiaku saat itu masih anak-anak, tapi aku merasakan bagaimana suasana mencekam ketika terjadi kontak senjata.

Aku sering kali harus libur sekolah, tiarap di bawah bangku bersama teman-teman dan guruku saat mendengar bunyi peluru dan granat yang menggelegar, pulang sekolah lebih cepat karena ada kerusuhan, dan bahkan pernah dihadapanku dilepaskannya senjata berlaras panjang ke udara. Aku hanya terpaku melihat kejadian itu sembari menutup kuping karena bunyi yang memekakkan telinga. 

Tidak hanya itu, aku dan penduduk sekampung juga harus rela meninggalkan tempat tinggal kami, kemudian mengunsi ke kampung orang lain. Ayahku pernah dihajar babak belur karena kesalahan kecil, dan yang paling memilukan ialah saat kakek angkatku ditembak mati di hadapan neneku oleh orang yang berkonflik itu.

Oh, Tuhan. Kenapa masyarakat sipil yang menjadi sasaran dari konflik ini? Begitulah kenangan pahit yang muncul saat memasuki ruang Memorial Perdamaian Aceh di Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh.

Aku dan teman-teman Gam Inong Blogger berkesempatan untuk mengunjungi tempat yang katanya sebagai ruang perdamaian itu. Kegiatan ini dalam rangka trip blogger dalam momentum perdamaian Aceh yang diperingati setiap 15 Agustus.

Ruang itu seolah mengembalikan ingatanku pada 15 tahun yang lalu. Apalagi setelah pintu pertama terdapat kotak kaca berukuran 1,5 x 1,5 m berada di tengah ruangan. Di dalamnya terdapat potongan senjata dari jenis M-16 dan AK 56. Dua buah granat manggis yang tentunya tidak ada lagi bubuk mesiu di dalamnya dijadikan sebagai pajangan bukti peninggalan konflik.

Pengunjung yang sedang melihat bekas senjat konflik Aceh yang dipajang

Bagian senjata yang terpotong-potong itu, sedikit mirip dengan senjata yang pernah aku pegang dulu saat bertemu bapak (adik dari ayahku) yang merupakan kombatan GAM.

Usiaku baru sepuluh tahun, ketika bapakku memutuskan angkat senjata dan bergabung dengan GAM. Ayah dan Ibuku juga tidak tahu hal itu, hingga dia memutuskan pergi meninggalkan rumah.

Akhirnya kami tahu dari orang-orang kampung bahwa dia sekarang sudah menjadi kombatan. Aku yang sudah terbiasa dengannya sejak kecil merasa kehilangan. Dua bulan tidak ada kabar darinya membuat ayah dan Ibuku cemas, tambahnya lagi aku sering bertanya keberadaannya yang membuat orang tuaku kehabisan cara untuk menjelaskannya kepadaku.

Suatu hari aku meminta untuk bertemu dengannya, untunglah ada satu orang yang tahu di mana tempat persembunyiannya dan menyampaikan kabar ini kepadanya. Jadilah kami bertemu di sebuah posko yang katanya tempat mangkal kombatan.

Ibu membawa barang kebutuhan pokok untuknya, sedangkan ayahku tidak ikut serta dengan kami. Rupanya saat itu bapakku tidak ada jadwal jaga di posko pinggir gunung itu, hanya ada beberapa temannya yang tidak aku kenal, lengkap dengan persenjataannya.

Aku menunggu di posko itu dengan ibu, sedangkan satu orang diantaranya menjemput bapak di gunung. Hampir satu jam aku menunggunya disitu, terlihat ekspresi ibuku yang harap-harap cemas bahkan mengurungkan niatnya bertemu bapak.

Tapi tidak denganku, aku tidak mau perjalanan ini sia-sia. Aku sudah pergi meninggalkan perkampungan berpuluh-puluh kilo meter menuju kaki gunung demi berjumpa dengan bapak. Masak hanya menunggu satu jam saja aku harus balik arah?

Akhirnya yang ditunggu pun tiba, dia datang dengan membawa senjata yang disandang di bahunya. Aku pun dipeluknya dengan kuat dan dia kemudian mencium tangan ibuku. 

Ibu sudah menganggap adik ayahku itu seperti anaknya sendiri, karena sejak umur dua tahun dia sudah tinggal bersama ibu dan ayahku. Begitu juga aku yang menganggapnya seperti abang kandung.

Pertanyaan demi pertanyaan aku ajukan kepadanya. Dia hanya bisa tersenyum dan mengatakan suatu saat dia akan kembali pulang. Fokusku pun beralih ke senjata yang ada di sampingnya. 

Aku mencoba mengangkatnya dengan tangan kecilku, meskipun bapakku berkata jangan. Sepertinya dia mengerti maksudku yang keras kepala ini, dia pun membantu mengangkatnya hingga aku bisa menggenggam senjata itu dengan kedua tanganku.

Hati-hati, jangan sampai jatuh”. Dia mengingatkanku.

Aku tersenyum kepadanya “wah ternyata berat juga ya Pak?” 

Itu bukan untukmu, ya tentu beratlah. Kalau nggak berat bukan senjata namanya

Kawan-kawannya tersenyum melihat tingkahku yang konyol itu. Supaya senjata itu aman dari jangkauanku, bapak menitipkan senjatanya ke temannya. Mulailah aku berceloteh dengannya, bercerita apa saja selama dua bulan tidak bersua dengannya.

Waktu pun berlalu, aku hanya diberi kesempatan 30 menit karena kami tidak boleh berlama-lama di posko itu. Jika ada orang melihat kami dan melaporkannya ke Tentara Nasional Indonesia (TNI), pasti kami akan dipanggil dan diproses.

Bapakku tidak mau terjadi hal itu kepadaku dan ibuku. Aku pun pulang dengan menyimpan rahasia, karena bapak berpesan jangan bilang ke siapa-siapa tentang pertemuanku denganya. 



****

Sepuluh menit pertama berada di ruangan ini, pikiran dipenuhi nostalgia konflik yang pernah aku lalui dulu. Setiap sudut ruangan dipenuhi dengan foto-foto konflik dan masa damai. Seolah ingin menyampaikan kepada pengunjung inilah proses panjang perdamaian Aceh.

Penjelasan tentang perjalanan konflik Aceh

Di dinding sebelah kanan terdapat infografis yang menutupi semua badan dinding mengenai informasi perjalanan konflik Aceh. Di ruangan sebelahnya terdapat rak buku yang berisi puluhan buku tentang konflik.

Ruangan inilah yang menjadi daya tarikku untuk datang kembali sewaktu-waktu, jika aku membutuhkan tempat yang tenang untuk membaca. Sofa panjang yang empuk, dan sejuknya air conditioner (AC) membuat betah berlama-lama di situ.

Betah banget lama-lama membaca di ruangan ini

Selain itu di ruangan sebelahnya juga disediakan meja dan beberapa kursi yang bisa digunakan untuk ruang diskusi. Disitu juga terdapat televisi yang menempel di dinding untuk menonton video dokumenter tentang konflik.

Sepertinya pendesain ruangan ini tahu betul kebutuhan pengunjung sehingga diatur sedemikian rupa. Mulanya ruangan ini hanya ruang kerja yang kemudian disulap menjadi ruang Memorial Perdamaian Aceh. 

Idenya dari Nazir Zalba yang pernah menjabat sebagai ketua Kesbangpol Banda Aceh. Beliau bermaksud supaya Kesbangpol ada berbuat sesuatu yang diberikan kepada masyarakat Aceh, terutama sebagai pusat informasi konflik dan perdamainan Aceh.

Tahun pertama menurut T. Nasruddin selaku Sekretaris Badan mengatakan mereka hanya mendapatkan dana sekitar Rp50.000.000 untuk membangun ruangan ini. Biaya ini hanya bisa untuk desain ruangan dan di tahun berikutnya dapat lagi namun tidak sekaligus diberikan sebanyak Rp200.000.000. Hingga akhirnya jadilah seperti ruangan ini ujar beliau.

Bapak T. Nasruddin sedang menjelaskan tentang ide terbentuknya ruangan ini

Pada tahun 2018 mendatang Bapak Gubernur Aceh Irwandi Yusuf akan menjadikan Kesbangpol ini menjadi sebuah pusat ilmu pengetahuan terkait penyelesaian konflik Aceh. Rencana alokasi anggaran sebanyak 1 milyar juga akan dikucurkan. Harapannya jika ada orang luar datang ke Aceh untuk belajar konflik langsung ruangan ini yang akan dituju.

Nanti akan banyak lagi tambahan konten untuk melengkapi koleksi rungan ini. Mungkin terlebih untuk memperbanyak konten visual berupa film dokumenter. Saat ini hanya sekadar infografis tentang perjalanan konflik, namun diharapkan nanti ada konten visualnya yang menjelaskan perjalan konflik Aceh, sehingga pengunjung tidak perlu lagi dipandu karena sudah cukup jelas dilihat dari visual yang ditampilkan.

Seragam asli GAM juga masih belum ada kata Pak T, jika ada yang mau memberikan kami akan bayar kepada mereka dengan harga sesuai kemampuan kami. Begitu juga dengan draft MOU yang dicoret-coret masih dalam pecarian untuk menambah koleksi di ruangan ini.

Ruang diskusi di Kesbangpol Aceh

Diskusi yang berlangsung 30 menit dengan bapak yang mengenakan peci dan kacamata itu memberi pengetahuan baru bagi para blogger Aceh. Namun ada satu kalimat yang menjadi perdebatan saat diskusi berlangsung, tentang sebuah kuitipan yang tidak dicantumkan penulisnya. 

“Senjata bukan tanda damai”

Empat kata yang mempunyai makna mendalam itu berhasil mencuri perhatian kami dan masing-masing punya asumsi yang berbeda dalam memaknai kutipan tersebut.

Terlepas dari itu, bagiku adanya ruangan ini sebagai bukti bahwa Aceh pernah dilanda konflik kemanusiaan yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Ribuan anak kehilangan Ayah, para wanita menjadi janda, penderitaan di mana-mana, dan yang paling parahnya mempertinggi angka kemiskinan serta keterpurukan pendidikan.

Jika bisa berdamai untuk apa bertikai?

Ruangan ini cukuplah menjadi alasan bagi para generasi mendatang untuk menghidari konflik. Senjata bukan satu-satunya cara untuk menyelasaikan konflik, sebagai masyarakat yang beradat kembalilah kepada mufakat ketika ada yang berdebat.

Meskipun ada yang bilang merdeka itu haruslah angkat senjata, bagiku untuk apa harus bertikai jika ada pilihan damai.

Foto bersama Gam Inong Blogger Aceh dan Pak T. Nasruddin
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar:

  1. Politik tingkat rendah adalah berperang... Tulisan yang bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti harus belajar politik dulu dong, biar levelnya menjadi lebiih tinggi. :D
      Terima kasih

      Hapus
  2. harus diakui perdamaian harga paling murah dan mudah dibandingkan mengangkat senjata. Semua aspek masyarakat terganggu karena perang dan kini kini merasakan makna perdamaian yang indah dan murah itu.
    Wah.. nyesal saya tak pergi, minimal bisa foto depan tumpukan laras panjang di dalam wadah kaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Damai itu lebih indah ya kan!
      Hehehe, makanya beruntung kami yang bisa ke mari.

      Hapus
  3. duh mbak, gak bisa mbayangin pas itu rasanya gimana
    memori konflik ini masih saya ingat ketika dulu lihat wartawan RCTI Ersa Siregar yg meninggal terseret konflik ini
    alhamdulilah ya sejak Perjanjian Helsinki Aceh sudah damai
    semoga bisa lebih makmur lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah, semoga Aceh bisa menjadi damai selalu.

      Hapus
  4. Pengalaman tak terlupakan yaa.... faktanya, orang lebih mudah mengingat kenangan pahit daripada kenangan indah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang namanya konflik, banyak pahitnya emang kak. Semoga jangan terulang lagi masa-masa pahit ini ya.

      Hapus
  5. Masuk ruangan ini debarnya beda,ada merinding-rindingnya gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang, yang merasakan konflik pasti merasakan debaran ini.

      Hapus
  6. Lihat senjata aja udh merinding apalagi lihat saksi bisu lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti bg Ubai nggak bisa masuk ke ruangan ini, karna nggak bisa manjha-manjha, hahaha

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !