Ketika Gajah Mengamuk, Masih Pentingkah Konservasi Itu?

Puluhan gajah rusak kebun sawit warga di Pidie Jaya Aceh” (News.detik.com, 18/04/2017).


Kawanan gajah liar kembali mengamuk merusak perkebunan kelapa sawit masyarakat di Kota Subulussalam” (Serambi Indonesia, 22/03/2017).



Gajah liar di Aceh mengamuk dan merusak puluhan hektar kebun sawit” (Merdeka.com, 22/06/2016).


Gajah liar mengamuk ratusan warga desa di Aceh mengunsi” (BBC Indonesia, 29/10/2015).


Gajah Sumatera yang masih ada di Hutan Aceh. 
Foto: Junaidi Hanafiah, Sumber : www.leuserconservation.org

Sangat sering kita mendengar pemberitaan demikian di media masa tentang amukan gajah liar, seolah merekalah yang mengganggu kita.



Secara sepihak kita menyalahkan gajah-gajah tersebut tanpa merasa bersalah sedikitpun, bahwa kita telah menjarah ratusan hektar habitat mereka.



Hutan Leuser yang menjadi habitat gajah liar, dan ribuan jenis spesies flora dan fauna lainnya sekarang sedang diujung tanduk, akibat penjarahan hutan secara ilegal.

Semenjak pemerintah Aceh menetapkan Qanun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh No. 19 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh 2013-2033. Hal ini terkait dengan dimasukkannya nomneklatur “Kawasan Ekosistem Leuser” sebagai kawasan strategis nasional yang berada di Aceh, yang membuka pembangunan jalan aspal membelah kawasan Leuser.

Seiring dengan perluasan aspal yang mendekati wilayah Taman Nasional Leuser, kasus penebangan liar dan penggundulan hutan untuk lahan kelapa sawit di sekitar Leuser pun meningkat.

Menurut Global Forest Watch, 102.000 hektar (ha) hutan di Leuser raib sepanjang kurun 2006-2014. Keterangan lain yang saya dapat dari Junaidi Hanfiah seorang jurnalis lingkungan saat mengikuti acara Gathering Sosial Media yang diadakan oleh Lestari, pada 26 November 2016 menyebutkan bahwa dari 1.820.726 ha luas Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) pada Januari 2016, tinggal 1.816.629 ha lagi pada Juni 2016. Sedangakan 4.097 ha hilang entah kemana selama rentang 6 bulan tersebut.

Baca juga di Who Care Leuser ?

Perambahan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) untuk Perkebunan Kelapa Sawit 
Foto: RAN/ Nanang Sujana. Sumber: www.leuserconservation.org dari mongabay.co.id
TAPAL BATAS KAWASAN EKOSISTEM LEUSER di ACEH
Sumber : www.hijauku.com
Wajar jika gajah-gajah liar tersebut menyerang secara membabi buta, merusak perkebunan dan permukiman warga bahkan merusak rumah-rumah yang mengakibat korban fisik, maupun jiwa. 


Kenapa Kondisi Ini Bisa Terjadi? 

Gajah telah menjadi musuh bagi manusia, sehingga kita menganggapnya sebagai hewan pengganggu, dan perusak sehingga harus dimusnahkan.

Ilustrasi Gajah
Sumber Foto : Hasil Editing www.yellsaints.com 
Tidak ingatkah kita kisah Raja Aceh, dan Seribu Pasukan Gajah? atau Gajah Putih dan Kerajaan Linge di Gayo? 

Bahkan Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Kodam IM) menggunakan kepala gajah putih sebagai logo dan lambangnya.

Namun kenyataan sekarang gajah dan manusia sulit dipersatukan, saling menyalahkan serta susah untuk hidup berdampingan seperti dahulu.


Konservasi Bukan Hanya Simbol?

Beberapa kasus di atas tentang serangan gajah liar tidak akan terjadi jika kita tidak mengganggu habitat mereka. Jika hal itu pun terjadi sekarang, mana peran dari konservasi? Bukankah itu semua kesalahan manusia yang mengabaikan hakikat alam sebenarnya.

Serangan gajah liar ke permukiman penduduk salah satu bukti akan pentingnya konservasi. Kaidah konservasi yang tidak diindahkan akan menjadi petaka bagi manusia sendiri. 

Kawasan yang menjadi habitat satwa liar, dijarah oleh manusia. Hutan di tebang, dan dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit demi keinginan mendapatkan untung besar. Mereka lupa bahwa terdapat ribuan spesies fauna dan flora yang mendiami hutan tersebut, sehingga ketika tempat satwa liar tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat yang bukan semestinya, bukan sesuatu hal yang tidak wajar jika hewan-hewan tersebut marah dan merusak permukiman warga. 

Oleh karena itu, konservasi tidak hanya sebatas simbol payung hukum seperti yang tertera dalam UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tetapi bagaimana peraturan tersebut bisa benar-benar dilestarikan dan dijalankan sesuai dengan hukum yang mengatur konservasi.


Untuk Apa Konservasi?

Menurut wikipedia ensiklopedia bebas konservasi adalah pelestarian atau perlindungan. Sedangkan menurut ilmu lingkungan, konservasi adalah upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam.

Secara ilmiah, semua makhluk hidup di hutan saling bergantung satu sama lainnya. Seperti sebuah siklus, jika terjadi satu kepunahan maka akan berdampak bagi makhluk hidup lainnya. 

Misalnya Orang Utan, menurut informasi yang saya terima dari Pak Ivan Krisna yang sudah lama berkecimpung di Dunia Leuser, saat acara gathering mengatakan bahwa orang utan merupakan petani terbaik di Hutan Leuser. Hal ini karena biji yang dimakan orang utan akan menghasilkan tumbuhan yang lebih subur.

Ilustrasi Orang Utan sedang Makan Buah-Buahan di Aceh
Sumber Foto : www.acehterkini.com
Menurut Noos, dkk (2002), orang utan dapat menciptakan kestabilan ekosistem berupa permudaan tumbuhan hutan melalui penyebaran biji. Selain itu orang utan juga akan membantu pembukaan kanopi sehingga sinar matahari dapat masuk. Hal ini dapat membantu regenerasi pohon yang membutuhkan cahaya untuk tumbuh.

Jika tidak adanya konservasi berupa pelestarian dan perlindungan satwa liar seperti orang utan, tentunya siklus ini akan terganggu. Satwa liar seperti orang utan, gajah, badak dan harimau diburu, akibatnya perannya dalam menjalankan siklus ekosistem di hutan terganggu, sehingga ketika satu siklus terputus maka rusaklah tatanan ekosistem di hutan tersebut.

Pada akhirnya yang merasakan akibatnya juga manusia. Pohon-pohon yang sebenarnya bisa tumbuh mencapai ratusan tahun usianya kini sudah duluan mati. Ditambah lagi dengan penebangan pohon di hutan secara tidak terkoordinir mengakibatkan kebotakan hutan, sehingga menimbulkan banjir sepanjang tahun di berbagai wilayah di Aceh.

Baik serangan gajah, maupun banjir yang terjadi saat ini hendaknya menjadi refleksi bagi kita semua. Masyarakat sekarang masih banyak yang belum tahu tentang arti pentingnya konservasi, dan bahkan ada yang salah kaprah tentang konservasi itu hanyalah tugas dari seorang konservasionis. Padahal jelas bukan tugas konservasionis atau pun penggiat lingkungan saja, tapi tugas kita bersama karena kitalah yang tinggal, dan memanfaatkan hutan, khususnya Leuser secara bersama.



Jauh sebelum kita terlahir ke dunia ini, para orang tua kita dahulu telah hidup secara damai berdampingan dengan alam. Tidak ada serangan gajah liar seperti saat ini, justru gajah menjadi binatang kesayangan Sultan Aceh yang dikenal sebagai Sultan Iskandar Muda. 

Dulunya gajah diburu bukan untuk dibunuh dan diambil gadinngnya seperti sekarang ini, tapi untuk dijinakkan. Setelah jinak gajah tersebut dijadikan sebagai alat untuk membantu kebutuhan manusia seperti alat transportasi, mengangkat, atau menarik barang-barang besar. 

Perempuan Aceh bersama Gajah Putih disambut dengan Tari Guel Gayo Aceh
Sumber Foto : www.hack87.blogspot.co.id
Gajah yang paling baik dan terbesar dijadikan sebagai Gajah Sultan dan selebihnya untuk Armada Perang. Gajah pun menjadi kendaraan kebanggan sultan, dan kedudukannya paling tinggi dibandingkan tunggangan lainnya.

Kedudukan gajah semakin terangkat ketika Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahar yang sedang berkuasa saat itu menginginkan “Gajah Putih”. Sangeda yang dituduh telah membunuh ayahnya Raja Linge XIII, menangkap dan menjinakkan gajah putih liar di Hutan Gayo (Sekarang disebutkan sebagai Kabupaten Bener Meriah) yang sempat mengamuk. 

Berkat kepiawaiannya dalam menjinakkan gajah putih dan kejujurannya, Sangeda akhirnya diangkat menjadi Raja Linge ke XV menggantikan Raja Linge XIV yang berkhianat.

Hingga sekarang cerita tentang gajah putih dan Raja Linge ini menjadi kisah tradisi dalam syair gayo, dan sering ditampilkan dalam bentuk kesenian tarian gayo.

Jika cerita-cerita dalam syair gayo tersebut dipahami bukan sekedar dilihat dari keindahan tutur kata, dan keelokan penarinya, tapi juga makna tersirat yang disampaikannya, hal ini bisa dijadikan salah satu bentuk konservasi untuk melindungi gajah.

Ketika upaya konservasi disandingkan dalam tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka sangat mudah untuk menjalankannya. Sehingga masyarakat pun merasa bahwa konservasi itu penting sebagai sumber keidupan manusia. 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Saman Pengawal Leuser 2017 
yang diselenggarakan oleh USAID-Lestari, Tema "Merawat Tradisi Melalui Konservasi".
--------------------------------------------------------------------------------------

Referensi Bacaan,

  1. Nugroho., Y.A. (2016). Konservasi Milik Siapa? Diakses dari http://www.yudhaarif.com/2016/10/konservasi-milik-siapa.html. Pada tanggal 10 Juli 2017.
  2. Rogers, C. (2016). Masa Depan Hutan Leuser Sedang Dipertaruhkan di Jakarta. Diakses dari https://www.vice.com/id_id/article/vvdd8b/masa-depan-hutan-leuser-sedang-dipertaruhkan-di-jakarta. Pada tanggal 10 Juli 2017.
  3. Said, SM. (2016). Kisah Raja Aceh dan Seribu Pasukan Gajah. Diakses dari https://daerah.sindonews.com/read/1125692/29/kisah-raja-aceh-dan-seribu-pasukan-gajah-1469268530/13. Pada tanggal 10 Juli 2017.
  4. Sulyadie. (2016). Gajah Putih dan Kerajaan Linge di Gayo. Diakses dari https://sulyadiboyz.wordpress.com/2016/12/06/gajah-putih-dan-kerajaan-linge-di-gayo/ Pada tanggal 10 Juli 2017.
  5. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Konservasi. Pada tanggal 11 Juli 2017.
  6. Lomba Menulis Blog Saman Pengawal Leuser 2017


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

21 komentar:

  1. Ulasannya lengkap Yelli. Semoga hutan kita terus dilestarikan dan upaya-upaya yang bertolak belakang dgn pelestarian dapat terus dihambat. Sukses buat lombanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih bang, Amin ya Allah, semo9ga saja begitu, dan semoga yang konsent terhadap konservasi tidak hanya pengamat lingkungan saja, tapi kita semua.

      Hapus
  2. Sayang ya mbak yelli ... ketika manusia mulai serakah kepada alam .. ahhhh sungguh mengenaskan ...

    BalasHapus
  3. Iya Mas, begitulah akhirnya, dan sekarang apa kita patut menyalahkan mereka atas kesalahan yang kita buat?

    BalasHapus
  4. Wah lengkap sekali, Mbak. Kita memang harus memperhatikan kehidupan gajah, ya, dengan cara konservasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, benar benget! Konservasi sangat penting untuk dilakukan supaya alam tetap terjaga.

      Hapus
  5. Aduh mba, tiap kali aku baca tentang pengerusakan alam liar kaya hutan, atau berita-berita ttg fauna yang masuk ke pemukiman manusia, rasanya ingin marah banget. Ujung-ujungnya yang teraniaya dan disalahkan adalah hewan dan alam. padahal sebagai sbg makhluk yang diberi akal dan kesempurnaan oleh Tuhan, kita, manusia harusnya lebih bijaksana dan adil dalam mengelola alam. "Gajah liar merusak perkebunan" padahal sebenarnya jauh hari yang harus ramai di berita itu adalah "manusia merusak wilayah gajah".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mbak, maunya ada pemberitaan manusia merusak habitat satwa liar, jgn hanya diekspos saat hewan yg merusak permukiman atau perkebunan warga saja.

      Hapus
  6. Konservasi merupakan langkah penting, namun sikap manusia yang melestarikan alam jauh lebih penting sehingga binatang liar tetap dapat hidup berdampingan dan tak kehilangan sumber makanannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar banget mbak Muti supaya siklusnya tidak terhenti yang menyebabkan kepunahan suatu spesies.

      Hapus
  7. dalem banget mbak tulisannya.

    astaga! dalam jangka 6 bulan saja luas hutan yang hilang bisa sebanyak itu?
    kadang saya suka heran sama pemerintah, kok bisa - bisanya mereka memberi izin sama para pembuka lahan (apapun alasannya, untuk perkebunan, tambang, dsb), sementara kita semua tahu akibatnya bakal merusak hutan dan ekosistem didalamnya.

    semoga saja langkah konservasi yang digaungkan bisa benar-benar terealisasi untuk membantu kelangsungan hidup sang gajah, bukan sekedar campaign tak berjalan. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah, semoga langkah konservasi tidak hanya sebatas wacana dan ketetapan saja ya Mas, tapi juga realisasinya.

      Ya., begitulah Mas kondisi Leuser sekarang, jika pejarahan hutan ini terus terjadi sudah dipastikan bahwa Pulau Sumatra akan terancam kekeringan akibat alih fungsi hutan menjadi lahan kelapa sawit.

      Hapus
  8. Semoga, kita sebagai khalifah di muka bumi ini, bisa lebih bijak dalam menjalani kehidupan. Sehingga tidak ada yang tersakiti.


    Www.aulaandika.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah, semoga saja ya Pak Duta Baca! :)

      Hapus
  9. Semoga, kita sebagai khalifah di muka bumi ini, bisa lebih bijak dalam menjalani kehidupan. Sehingga tidak ada yang tersakiti.


    Www.aulaandika.com

    BalasHapus
  10. Wah mbak Yelli, bagus ulasannya. Aku sih setuju dengan adanya konservasi gajah beserta lingkungannya, juga untuk hewan2 yang dilindungi lainnya. Mereka kan behak hidup juga, berdampingan dengan manusia. Saling membutuhkan dan memang sudah seharuskan begitu kan. Manusianya aja yang serakah sih hhmm....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap dukung konservasi gajah untuk menyelamatkan satwa liar dan hutan! Makasih atas dukungannya mbak!

      Hapus
  11. gajah hewan teritorial, jadi selama habitatnya tidak terganggu atau rusak, pasti ia tidak mengganggu. Manusia kini seakan lupa bahwa gajah hewan yang punya sejarah besar dalam perkembangan peradaban besar manusia termasuk di aceh. Lestarikan hutan dan lindungi hewan di dalamnya, termasuk si raja rimba bernama gajah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget tu Iqbal, ayo kita lakukan konservasi gajah :)

      Hapus
  12. Yang saya takutkan ketika hutan semakin dijarah dan penghuninya semakin tersdutkan adalah, puluhan tahun kdpan kita cuma bisa melihat gajah dkk di kebun binatang. Bukan di habitat aslinya lg.

    BalasHapus
  13. Iya dek Mat, atau yang parahnya lagi hanya tinggal foto2 a aja kayak dinosaurs. Kasihan bangetkan!

    BalasHapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !