Ibuku Pengrajin KASAB

Ibuku yang sedang menjahit kasab

Kasab merupakan kerajinan dari benang emas dengan menggunakan teknik jahit timbul atau couching. Kegunaannya untuk dekorasi pelaminan dalam upacara tradisi seperti pernikahan, sunatan, dan kematian. Bagian-bagian dari kasab ini jika disatukan, dan ditata akan membentuk pelaminan kasab. 
   
Pelaminan Kasab Aneuk Jamee

Pelaminan kasab ini dihasilkan oleh tangang-tangan pengrajin yang trampil menjahit benang kasab di atas kain beludru bewarna merah, kuning, hijau atau biru. 
Melalui tangan pengrajin, keberlangsungan kasab bisa terjaga hingga digunakan sampai detik ini.

Hampir 30 tahun ibu menekuni profesi ini, siang dan malam dihabiskan untuk membuat kasab-kasab yang dipesan orang. Untunglah ada kasab ini yang membantu perekonomian keluraga kami, apalagi dulu pada masa konflik bersenjata Aceh yang mengharuskan Ibu bekerja keras untuk membiayai kehidupan keluarga kami.

Ayah tidak bisa bekerja dikarenakan konflik yang terlalu bahaya bagi seorang laki-laki untuk mencari nafkah di luar rumah. Pernah dulu saat Ayah hendak pergi ke tempat kerjanya, terjebak di tengah kontak senjata antara GAM, dan RI. 

Beruntung ayah  bisa selamat dari hujan senjata, dari kedua belah pihak itu. Ternyata Allah masih memberi umur, dan keselamatan untuk Ayah. 

Pasca konflik yang berakhir dengan perdamaian MoU Helsinki, keadaan ekonomi kami mulai membaik, namun Ibu juga tidak bisa melepaskan profesinya itu. Hal ini dikarenakan sudah banyak pelanggan tetap ibu, yang puas dengan hasil jahitan kasab buatannya. 

Ibu tidak hanya pandai menyulam kasab, tapi beliau juga bisa membilai dan merangkainnya menjadi sebuah pelaminan yang utuh.

Bagian Kasab yang sudah dibilai/dirangkai

Di kampungku tepatnya di Gampong AirSialang Hilir, Kec. Samadua, Kab. Aceh Selatan memang terkenal penghasil jahitan kasab dari pengrajin lokal
Kebanyakan mereka hanya bisa menyulam kasab, kalau untuk membilai dan merangkai menjadi pelaminan yang utuh jarang yang bisa. 

Ibu mempunyai ketiga keahlian tersebut, yaitu menyulam benang emas, membilai dan memasang pelaminan, sehingga pekerjaan ibu sering menumpuk yang membuatku kasihan melihat ibu.

Tak jarang Ibu bergadang untuk menyelesaikan jahitan kasab pesanan orang itu. Dengan menggunakan mesin jahit tua yang sangat dicintai itu, ibu sanggup duduk berjam-jam membilai kasab.

Mesin yang digunakan masih manual, hanya menggunakan tenaga kaki untuk menggoyangkan mesin, supaya bisa berjalan. Beberapa kali aku menyarankan Ibu untuk membeli mesin jahit listrik, tapi Ibu tetap tidak mau dengan alasan menjahit ini sebagai sarana olahraga baginya.

Ibu begitu gigih menekuni setiap pekerjaannya, biasanya pada siang hari ibu menjahit kasab dengan menggunakan tangan. Dan pada malam hari, Ibu membilai kasab yang sudah dijahit menggunakan tangan dengan mesin.

Walaupun demikian, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga juga dilakoni dengan baik. Bahkan makanan yang paling enak menurutku ialah makanan masakan Ibu, apa pun jenisnya itu. Begitu juga dengan Ayah dan saudara-saudaraku, Ibu adalah pahlawan bagi keluarga kami.

Penghasilan yang didapat ibu dalam menjahit kasab, tidaklah seberapa dibandingkan dengan usaha dan kerja kerasnya. Padahal penggunaan jahitan kasab di masyarakat Aneuk Jamee merupakan hal yang paling utama saat melaksanakan upacara adat.

Bayangkan jika tidak ada para pengrajin, penggunaan kasab sebagai adat bisa saja hilang yang tentunya akan menghilangkan sejarah keberadaan suatu daerah tersebut.

Menjahit kasab sudah menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat di kampungku, khususnya para perempuan. Mereka menjahit kasab untuk memenuhi kebutuhan konsumen, dan melestarikan kebudayaan kerajinan Aneuk Jamee.


Budaya menjahit kasab sudah menjadi kerajinan turun temurun

Sayangnya sekarang, banyak kendala yang dihadapi oleh pengrajin kasab ini. Terutama dalam penyediaan bahan baku kasab, seperti benang emas. Kesulitan dalam mendapatkan bahan baku, karena harus diimpor dari daerah lain, membuat para pengrajin berhenti untuk menjahit kasab,

Dan ini juga tentunya berpengaruh bagi perekonomian mereka. Selain itu, mahalnya harga bahan baku, ditambah kurangnya perhatian pemerintah setempat dalam memberdayakan para pengrajin ini, berdampak pada tersendatnya usaha kerajinan kasab sulam benang emas.

Padahal kasab sulam benang emas merupakan salah satu warisan budaya Aneuk Jamee yang harus dilestarikan. Tanpa mereka, hilanglah seni membuat kasab, sehingga akan menghilangkan kebudayaan dari sebuah peradaban.

Motif Kasab Aneuk Jamee yang digunakan di Kamar Pengantin
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

4 komentar:

  1. cantik kasab nya, baru tau kerajinan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kalau adat kami di Aceh, waktu acara Nikah, kami diharuskan menggunakan kasab sebagai tanda diadakannya kenduri pernikahan di rumah yang bersangkutan!

      Hapus
  2. salut dengan jerih payah ibunya mbak yelli. hasil karyanya bagus banget. ngebayangin bikin kasab pake mesin jadul...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak,begitulah cara beliau melestarikan budaya Aceh. Nggak tahulah apa aku bisa seperti beliau nantinya.

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !