Balik Arah Karena Banjir


Perjalananku menuju Banda Aceh yang menempuh waktu sekitar kurang lebih 9 jam, tidak semulus biasanya. Perjalanan kami harus terhenti lantaran banjir yang tidak kunjung surut.

Banjir yang terjadi di Kuta Trieng, Kec. Darul Makmur Nagan Raya

Aku tiba di Nagan Raya pukul 00.00 wib. Pada saat itu di Jalan Nasional Tapaktuan - Meulaboh, tepatnya di Kuta Trieng, Alu Bili sudah digenangi air setinggi pinggang orang dewasa. Arus airnya pun cukup kuat, sehingga tidak ada satupun kenderaan yang berani melintasi jalan tersebut.

Kamipun memutuskan untuk berhenti di salah satu warung nasi untuk menunggu banjir surut. Bukan hanya kami penumpang yang dari Aceh Selatan saja menunggu disitu, ternyata banyak penumpang lainnya baik itu dari Subulussalam, Singkil, Medan dan dari daerah pantai barat selatan lainnya ada disitu.

Dengan sekejab, antrian mobil sudah berderet di pinggir jalan. Tak ada yang berani melewati banjir tersebut, baik dari Arah Meulaboh, maupun dari arah Tapaktuan. Rupanya diujung sana, juga terdapat antrian panjang kenderaan bermotor. Tidak ada tanda-tanda air akan surut, bahkan air pun bertambah naik hingga mencapai dada orang dewasa karena Sungai Lamie yang semakin meluap.

Sekitar pukul 11.00 wib jalan tersebut masih digenangi banjir, tapi sudah bisa dilewati oleh mobil tranton besar. Sedangkan mobil-mobil kecil seperti mobil KIA yang saya tumpangi, sopirnya tidak mau mengambil resiko untuk menempuh banjir, takut mesin mobilnya tiba-tiba mati di tengah bajir tersebut.


Antrian mobil yang menuju Arah Meuloboh, Calang, Banda Aceh

Ibuku menghubungiku via telpon untuk menyuruh balik arah, karena banjir di Kuta Trieng akibat luapan sungai Lamie, tidak akan surut dengan sekejab. Meskipun keaadaan cuacanya panas, tapi air sungai terus meluap. Ibuku pernah mengalami kondisi itu pada banjir tahun lalu, yang mengakibatkan dia harus menunggu selama 2 hari untuk bisa melewati jalan tersebut.

Hampir setiap tahun kondisi yang sama terjadi akibat banjir. Entah kemanalah para petinggi daerah itu, sehingga tidak dilakukan peninggian jalan, atau pembuatan jembatan layang untuk menghindari banjir tahunan tersebut.

Kondisi di jalan raya

Aku yang bosan menunggu di dalam mobil akhirnya memberanikan diri untuk berjalan sekitar 200 m ke depan melihat kondis banjir. Awalnya air memang semata kaki, makin maju ke depan airnya semakin dalam, arusnya pun juga semikin deras.

Aku melihat rumah warga yang terendam banjir, menimbulkan rasa prihatin yang mendalam dengan kondisi mereka. Mungkin barang-barangnya tidak bisa diselamatkan lagi, karena kondisi air di dalam rumah setinggi dada orang dewasa.

Kondisi rumah dengan air setinggi dada orang dewasa

Aku terus berjalan ke depan, tidak peduli air sudah setinggi paha dengan arus yang cukup deras. Aku ingin memastikan apakah ada kemungkinan air akan surut, sehingga mobil bisa lewat karena aku harus tiba di Banda Aceh pada tanggal 9 Januari 2017.

Hanya mobil-mobil ukuran besar yang berani melewati arus tersebut. Sedangkan untuk sepeda motor diangkut menggunakan sampan.

Trasportasi darurat yang dibuat oleh warga

Aku berfikir untuk menumpang mobil besar tersebut untuk bisa sampai ke Banda Aceh, karena terakhir pengumpulan berkas yudisium tanggal 9 Januari, kalau tidak aku tidak bisa yudisium apalagi wisuda bulan 2. Ya Allah giimana iniAkupun cukup galau saat itu.

Aku meminta pendapat ke sopir mobil terhadap rencanaku itu. Rupanya ketika dihubungi temannya yang terjebak di ujung sana, Banjir tidak hanya di tempat itu saja, melainkan ada 3 titik lagi yang harus ditempuh.

Di Gunung Kulumbu tepatnya di kaki Gunung Tran, Air setinggi dada orang dewasa. Kemudian banjir di Simpang Empat Jram, dan banjir di Tunom. Jadi aku harus melewati 3 titik banjir lagi ke depan, tanpa ada kepastian apakah selepas dari banjir tersebut aku mendapatkan tumpangan untuk sampai ke banda Aceh, atau terjebak di dalam banjir.

Sopir tersebut tidak mau mengambil resiko bagi para penumpangnya. Apalagi aku seorang perempuan, dan pada saat itu kondisi batre HP ku mati total. Kemana hendak dihubungi jika aku kenapa-kenapa di perjalanan nantinya.

Ibuku pun tidak mengizinkanku untuk melanjutkan perjalanan menuju banda Aceh. Akhirnya kami sepakat untuk pulang kembali ke Aceh Selatan. Begitu juga dengan mobil-mobil lainya balik arah karena banjir tidak kunjung surut.

Semoga hari ini Senin, 9 Januari 2017, banjirnya sudah surut, dan aku bisa menuju Banda Aceh untuk menyelesaikan keperluanku.
SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar:

  1. Semogaa keadaan segera membaik seperti semulaa ya mbak. . Aamiin. .Hmmm banjir dmna" mbak ya 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banjir di Aceh, tepatnya di Kabupaten Nagan Raya. Alhamdulillah, banjirnya sudah surut mbak!

      Hapus
  2. Semoga banjirnya cepat reda ya mba, kalau udah banjir susah kemana-mana euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya., banjir tu udah jadi bencana langganan di kampungku mbak!

      Hapus
  3. wah banjirnya lumayan parah ya, semoga cepet reda & bisa kembali normal ya..

    www.jennitanuwijaya.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya., alhamdulillah sekarang sudah kembali normal mbak!

      Hapus
  4. kirain yang rawan banjir itu cuma daerah Jawa aja, ternyata Aceh juga. Ngeri. Tinggi banget genangan airnya mbak.

    Semoga dipermudah Allah buat yudisium & wisuda mbak...aamiin. selamat berjuang mengejar gelar Sarjana hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, banjir tu kayaknya semua tempat ada mbak, mungkin karena sistem drainase negri kita masih buruk kali ya!

      Alhamdulillah berkat doa orangtua, teman2, n juga mbak, aku bisa di yudisium, dan wisuda awal tahun ini, tapi untuk gelar Ners. Sarjana sudah dua tahun lalu mbak :D

      Hapus
  5. Hmmm, kira-kira kenapa ya bisa banjir seperti itu? Apa karena hujan deras yang turun tanpa berhenti? Apakah karena kondisi sungai yang dangkal? Apa tidak ada daerah resapan air seperti hutan di sekitar sana?

    Soalnya aku kira Aceh belum seperti Jakarta yang sama sekali minim daerah resapan air dan sungai yang dikelilingi pemukiman padat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, pada saat itu hujan sampai 1 minggu, parahnya hujan di hulu sungai, jadi meluap ke perkampungan warga. Hutan banyak, tapi sudah berganti dengan lahan sawit di kawasan itu, jadi nggk ada daya resapan oleh tanah.

      Hapus
  6. Syukurlah, kalo memang banjirnya sudah surut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Surut sih surut, tapi kejadian ini akan terulang lagi ketika musim hujan tiba. Begitulah seterusnya tanpa ada perbaikan.

      Hapus
  7. Duhh..ya Allah...semoga tidak terjadi apa apa banjirnya mba...hati-hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah nggk ada samapai menelan koraban jiwa, hanya saja banyak barang-barang warga yang terendam banjir, dan nggk bisa lagi digunakan.

      Hapus
  8. Wah cukup dalam juga ya, banjirnya. Rumah2 terlihat tinggal setengah. Mba BTW saya mau folbek blog-nya tapi kok ga nemu ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, begitulah keadaan banjir di Aceh. Nanti saya cek lagi templatenya ya mbak, soalnya template baru :D masih beradaptasi gitu :D

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !