Kasab Aceh Mengantarkanku ke Semarang


Pesona Indonesia sungguh luar biasa, bukan hanya kekayaan dan keindahan alamnya saja, tapi juga kesenian dan kebudayaannya yang beragam. Keberagaman ini ada karena Indonesia terdiri dari beberapa pulau, yang masyarakatnya masing-masing mempunyai kesenian dan kebudayaan sendiri. 

Ketika banyaknya keberagaman kadang kita kurang peduli, sehingga ada beberapa kesenian dan kebudayaan kita yang di claim oleh negara lain. Kalau sudah begini apa yang mau di kata? Teriakpun tiada guna.

Oleh karenanya perlu ada upaya pengenalan budaya bagi generasi muda, salah satunya dengan kegiatan forum kepemudaan. Future Leader Summit merupakan suatu konferensi yang melibatkan para pemuda-pemudi terbaik se-Indonesia, yang membahas isu-isu, memberi solusi perubahan ke arah yang lebih baik, dan turut berkontribusi untuk Indonesia.

Pada tahun 2015 lalu aku terpilih sebagai perwakilan dari Aceh. Kegiatannya bertempat di Semarang dengan temanya ialah “Aksi Nyata Untuk Indonesia”. Ada lima isu yang dibahas saat itu, dan Aku masuk ke Ruang Budaya yaitu tentang Kearifan Lokal.

Future Leader Summit 2015, "Aksi Nyata Untuk Indonesia" (Semarang, 19 September 2015) 


Perjuanganku menuju ke Semarang untuk mengikuti kegiatan ini, tidak semulus jalan tol. Apalagi pihak penyelenggara kegiatan tidak menanggung biaya transportasi peserta, jadi aku harus mencari biaya sendiri untuk keberangkatan ke Kota Semarang.

Tidak ada cara lain, aku harus mencari para donatur yang mau membiayai keberangkatanku. Salah satu caranya dengan menulis, menulis tentang Kearifan Lokal. Jadi, karena kebetulan keluargaku ialah pengrajin sulam benang emas (kasab), maka aku tertarik untuk menuliskannya.

Kasab merupakan kerajinan dari benang emas dengan menggunakan teknik jahit timbul atau couching. Kegunaannya untuk dekorasi pelaminan dalam upacara tradisi seperti pernikahan, sunatan, dan kematian (Barbara Light, 1989)

Tradisi membuat kasab sulam benang emas ini, sudah ada sejak lama dan turun temurun. Hampir semua kaum wanita yang ada di Desa saya yaitu Desa Air Sialang Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan melakukan pekerjaan ini. Dari anak-anak, hingga lansia bisa membuat kasab.

Pengrajin Kasab Sulam Benang Emas 

Hal ini dikarenakan kasab dijadikan sebagai alat penyampaian pesan saat dilakukannya upacara adat. Terdapat filosofi yang terkandung dalam motif yang ditampilkan kasab. Tapi sayangnya tidak banyak yang mengetahui makna yang terkandung di dalam kasab, sehingga kasab saat ini hanya dipakai sebagai untuk mempercantik ruangan.

Tertarik dengan hal itu, aku pun bermaksud untuk menuliskan tentang makna pelaminan kasab sulam benang emas. Mengingat kegiatan ini merupakan sebuah bentuk kearifan lokal masyarakat yang ada di kampungku.

Kearifan lokal diartikan sebagai pandangan hidup dan pengetahuan yang berwujud aktivitas, untuk menjawab permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat setempat (Hermana, 2006).

Kearifan lokal didapat dari kehidupan sekitar masyarakat yang diambil dari kondisi alam, maupun nilai-nilai budaya yang mempengaruhinya. Orang-orang yang hidup pada zaman dahulu memaknai suatu hal dari tumbuhan, hewan, bentuk geografis suatu daerah dan benda-benda yang terdapat pada masa itu. Kemudian mereka tuangkan melalui syair-syair, cerita, lukisan dan kerajinan tangan berupa motif dan bentuk. 

Selama ini belum ada yang menuliskannya secara mendetail, buku-buku terkait kasab ini pun sangat sulit untuk dicari. Oleh karena itu aku mencari orang yang paham dan mengerti tentang ini yang kemudian aku wawancarai, dan akhirnya terbuatlah 3 karya tulis tentang Kasab Aceh, dan 1 buah karya tulis tentang Asal Mula Bahasa Aneuk Jamee di Aceh. 

Karya Tulisku Sebagai Modal untuk Berangkat ke Semarang 
Inilah modalku untuk mencari para donatur yang mau membiayai keberangkatanku. Jika ingin mengetahui perjuangku untuk mendapatkan biaya Tiket Pesawat ke Semarang bisa di baca disini.

Berkat perjuanganku itu, akhirnya aku mendapakan biaya Tiket Pesawat gratis, dari para donatur yang baik hati. Aku terbang bersama Lion Air menuju Semarang. Namun karena baru pertama kali menaiki pesawat, ada sedikit kejadian lucu tapi penuh makna perjuangan di dalamnya. Jika ingin mengetahui pengalamanku itu bisa baca disini.

Sesampainya ke Semarang, Aku dipertemukan dengan para pemuda yang berasal dari berbagai macam daerah. Mereka mempromosikan kerajinan dan kebudayaannya masing-masing, begitu juga dengan aku yang mempromosikan tentang Kasab Aceh kepada mereka. Saat itulah rasa cintaku semakin bertambah kepada indonesia.

“Kulit kita boleh tak sama, asal kitapun juga berbeda-beda, tapi kita satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, #AkuCintaIndonesia”

Selain itu aku juga banyak belajar tentang kesenian dan kerajinan Jawa. Apalagi saat kami di bawa ke gedung kesenian “Sobokarti”, Semarang Jawa Tengah. Disini kami diajarkan membuat batik, bermain gamelan, dan membuat wayang. Bagiku kegiatan ini sungguh menyenangkan, karena bisa terlibat langsung dalam kegiatan mereka.


Saat Bermain Alat Musik Traditional Jawa Tengah di Gedung Kesenian Sobakarti 
Aku banyak belajar dari para seniman dan pengrajin yang menjadi pengurus gedung tersebut. Karena hal seperti ini tidak ada di Aceh. Biasanya kita hanya bisa melihat dan menyaksikan saja, tapi disini kita diajak terlibat di dalamnya. Maka terpikir olehku suatu saat Kasab Aceh mempunyai gedung seperti Sobokarti.

Dimana akan ada beberapa gabungan kesenian seperti rapai, tari saman, seudati dan para pengunjung bisa diajak manari bersamanya. Begitu juga dengan pengrajin kasab, akan menawarkan para pengunjung yang datang untuk membuat kasab sulam benang emas, yang nantinya akan dijadikan soevenir untuk mereka bawa pulang. Semoga saja impianku ini bisa terwujud untuk Aceh. Amin., ya Allah! Aku berharap suatu saat akan bisa ke kota Lumpia ini lagi untuk mempelajari kesenian dan kebudayaannya, supaya bisa dijadikan sebagai study banding untuk Aceh.

Begitulah kisahku dalam memperjuangkan seni dan kebudayaan Indonesia, seperti yang dikatakan pepatah Aceh ini 

“Mate aneuk meupat jirat, gadoh adat dan budaya pat tamita?”
(Mati anak tahu kuburannya, tapi kalau hilang adat dan budaya dimana hendak dicari?)

* Artikel ini diikutsertakan pada lomba blog Airpaz dengan tema "Aku Cinta Indonesia"



SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 komentar:

  1. Cerita yang luarbiasa..sangat ter inspirasi..sukses terus kampanyekan budaya bangsa... Aku Aceh Bangga Jadi Anak Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung, dan terinspirasi dengan tulisan ini. Insyaallah aku terus berusaha mengampanyekan budaya Aceh, supaya kita tidak lupa terhadap budaya kita.

      Hapus
  2. Inspiratif Yell. Terima kasih, memberi tambahan 'bahan bakar' utk kami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.., sama2.,, Terima kasih sudah berkunjung ke rumahku ;)

      Hapus
  3. Budaya Nusantara.. harus terus dijaga.. Mantap Ceritanya banyak Inspirasi yg kita dptkan.. #PesonaIndonesia #CahayaAceh #Airpaz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah menginspirasi., insyaallah kitalah penerus bangsa yang kaya dengan keberagaman ini!

      Hapus
  4. Budaya Nusantara.. harus terus dijaga.. Mantap Ceritanya banyak Inspirasi yg kita dptkan.. #PesonaIndonesia #CahayaAceh #Airpaz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya.., terima kasih sudah terinspirasi :)

      Hapus
  5. Tulisan menarik, terimakasih atas partisipasinya dalam lomba blog Airpaz!
    Semoga menang dapat tiket pesawat gratis dari Airpaz ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Allah.,, semoga saja ya!

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !