Tradisi “Malamang”


Tahukah apa itu Lamang, (lemang dalam bahasa Indonesia)? Lamang ialah makanan yang terbuat dari beras ketan, ubi atau pun sagu dengan santan kelapa yang di masukan ke dalam bambu, kemudian dibakar dengan kayu dan tempurung kelapa. Bambu yang biasa digunakan adalah bambu (Buluh) talang dan bambu hutan. Lamang merupakan makanan spesial di hari tertentu seperti lebaran, dan memnyambut bulan puasa. Namun di sebagian kalangan ada juga membuat Lamang pada saat panen padi di sawah sebagai rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan yang Maha Esa. 

Tradisi malamang sebenarnya merupakan tradisi yang berasal dari Sumatra Barat (Padang/urang minang). Namun juga bisa di temukan di Aceh, kususnya pada suku Aneuk Jamee. Karena suku Aneuk Jamee ini merupakan turunan dari suku Minang, sehingga ada tradisi dan kebudayaan Minang yang berlangsung sampai saat ini, salah satunya yaitu Malamang. Kebersamaan dapat terjalin pada saat memasak lemang, karena memasaknya membutuhkan waktu yang cukup lama 3-5 jam lamanya, jadi di butuhkan kerjasama untuk bisa menghasilkan Lemang yang sempurna.

Biasanya Melemang di laksnakan dua hari sebelum puasa atau lebaran, namun sebelum itu, kita harus menyediakan bambu sebagai tempat untuk memasaknya. Kalau bahasa kami Aneuk Jamee disebut dengan hari mangaek buluh (Hari Memotong Bambu). Pada hari itu bambu di potong-potong dengan panjang sekitar 50-70 cm, setelah itu di cuci bersih dan di diamkan selama satu malam, besoknya barulah di masak menggunakan bambu tersebut.

Ada yang unik dalam memasak lemang ini, karena ini sebuah tradisi biasanya hari Melemang dilaksanakan secara serentak satu kampung, jadi pada saat melemang antar tetangga dapat saling bertukar pikiran mengenai Lemang yang mereka masak. Dalam satu tungku ada sekitar 2-4 keluarga, karena melemang cukup menguras waktu dan tenaga memasaknya, jadi di butuuhkan banyak orang. 

Saat lebaran tiba, Lamang merupakan makanan utama yang disuguhkan kepada tamu yang datang. Ini telah menjadi tradisi di hari lebaran, rasanya tidak afdal bagi orang rumah jika tidak menyediakan Lemang untuk tamu-tamunya. 


SHARE

About Yelli Sustarina

Blogger Aceh - Suka Traveling - PeramuKata di perawattraveler - Aktif di Komunitas I Love Songket Aceh dan Griya Schizofren Aceh - biru warna favoritnya - "membaca untuk tahu, menulis abadikan bacaanmu".

    Blogger Comment
    Facebook Comment

6 komentar:

  1. Kampungku di Aceh Selatan, tapi aku belum pernah ikut ngerasain bakar Lemang, soalnya gak pernah pulang juga pas jelang Ramadhan atau lebaran awal :( Kayanya seru ya. Asap-asapan bakar lemang rame-rame :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak.,, seru banget pastinya, kebersamaannya dapat banget. Sekali2 pulanglah kak, di hari malamang, bisa ngerasain gimana sensasinya kena asap., hehehe

      Hapus
  2. Meulemang kalo dlm bahasa aceh_ sungguh bagus ceritamu adoe lon.
    Semoga tulisan sejarah nya bisa mengingatkan generasi akan tradisinya.. hingga cerita itu tak pernah hilang di kikis oleh masa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.., Terimakasih Adun, senang bisa berbagi :)

      Hapus
  3. Kalau di daerah asal orangtua saya, Bima, juga ada makanan yang sangat persis dengan Lemang ini, namanya Timbu. Sama sama dimasak di bambu, juga dari ketan yang diberi santan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. O.., berarti namanya aja yang beda, rasanya sama mbak :D
      Kan, Indonesia ini, beda2, tapi tetap satu :)

      Hapus

setiap komentar anda_ kebahagiaan bagi saya_ silahkan tulis komentar anda dibawah ini !